Menyelamatkan Bumi dengan Mengubah Pola Makan

Sejak awal Tzu Chi berdiri, setiap relawannya dihimbau untuk bervegetarian, terutama pada saat mengenakan seragam relawan. Namun seiring waktu, Master Cheng Yen pun mulai meminta relawan Tzu Chi untuk mempertahankan pola makan vegetarian tidak hanya saat mengenakan seragam saja, tetapi juga dalam keseharian. Untuk itulah Master Cheng Yen menyerukan aksi vegetarian ini, agar setiap orang dapat membangkitkan welas asih terhadap semua makhluk, melindungi bumi, dan menjaga kesehatan diri. Seruan Master Cheng Yen pun disambut dengan positif dan penuh antusiasme. Segenap insan Tzu Chi bergerak menyosialisasikan nilai penting dan manfaat vegetarian. Sepanjang bulan Mei 2008, di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta, sering terlihat relawan Tzu Chi membagikan makanan vegetarian kepada para pengunjung pusat perbelanjaan. Mereka membagikannya sebagai menu makan siang. Setiap hari selama bulan Mei itu, relawan Tzu Chi membagikan 1.000 paket kotak makan. Tugas memasak digilir berdasarkan He Qi (komunitas relawan Tzu Chi) masing-masing.

Selain itu kegiatan lainnya pun dilakukan, seperti Bazar Vegetarian yang pertama kali diadakan pada tanggal 3 Agustus 2008 di kantor pemasaran Bukit Golf, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Melalui kegiatan ini insan Tzu Chi mengenalkan masakan vegetarian sekaligus mengajak setiap orang untuk ikut bersumbangsih. Dana yang terkumpul dari bazar ini digunakan untuk biaya pembangunan gedung SMK Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng. Sejak saat itu bazar serupa pun kerap kali diadakan, seperti pada 10 April 2011 yang berlokasi di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bazar vegetarian ini tidak hanya menggalang dana, namun juga menggalang doa. Relawan dan pengunjung diajak untuk menghentikan sementara kegiatan mereka dan berdoa bersama untuk dunia yang aman, damai, dan terhindar dari bencana.

Memilih Hidup dan Pola Makan Ramah Lingkungan

Pada tahun 2014, Master Cheng Yen berkeliling Taiwan dan secara pribadi mengunjungi lokasi-lokasi daur ulang, di mana ia melihat banyak sekali sampah yang tidak dapat didaur ulang. Terpikirkan akan aspek kesehatan para relawan, Master Cheng Yen lalu memutuskan untuk menguatkan aspek pendidikan ramah lingkungan, dengan harapan dapat menanamkan nilai-nilai bahwa daur ulang untuk bisa dilakukan dan terapkan di rumah. Dengan membersihkan dan memilah sampah sebelum dikirim ke depo daur ulang, warga dapat mencegah tercampurnya sampah-sampah yang dapat didaur ulang serta non daur ulang, sehingga dapat meningkatkan kualitas usaha dalam mendaur ulang.

 

Master Cheng Yen juga menekankan selain mendaur ulang sampah, yang tak kalah penting adalah menjalani hidup yang sederhana dan membangun jalan pikiran yang harmonis. Relawan Tzu Chi tidak hanya membawa peralatan makan sendiri ketika berpergian, mereka juga mempraktikan cara berpikir penuh perhatian dalam keseharian untuk mengurangi emisi karbon, dan bervegetarian untuk melindungi kehidupan dan Bumi. Dengan melakukan daur ulang secara fisik, maka mereka dapat mendekat kepada praktik daur ulang pikiran (menyucikan pikiran).
PBB telah menugaskan wakil-wakil dari berbagai negara tentang Perubahan Iklim (IPCC) untuk memberikan laporan ilmiah tentang status perubahan iklim. Dalam sebuah studi yang berlangsung selama enam tahun, temuan ini mengkonfirmasi banyak faktor yang berkontribusi terhadap pemanasan global, di mana 90 persennya merupakan hasil dari aktivitas manusia. Jika negara tidak dapat mencapai kesepakatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka dan ketika suhu bumi naik empat derajat Celcius, itu akan memiliki dampak yang membawa bencana dan tidak bisa dibalik pada lingkungan kita.
Pada November 2015, lebih dari 190 negara ambil bagian dalam COP21 yang diselenggarakan di Paris, Perancis, dimana Tzu Chi juga turut berpartisipasi. Dalam pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, negara-negara sepakat untuk bekerja menuju target pengurangan karbon. Namun, Master Cheng Yen merasa bahwa memiliki kesepahaman bersama saja tidak cukup, dan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk konsensus dan tindakan terpadu. Hanya dengan mengurangi kebutuhan materi kita, mempraktikkan cinta kasih, dan menumbuhkan cinta untuk orang lain dan lingkungan, kita baru dapat benar-benar membantu menyelesaikan krisis lingkungan ini.
Semakin banyak konsensus diantara banyak ilmuwan dan peneliti lingkungan bahwa vegetarian adalah cara yang efektif untuk mengurangi emisi. Ketua Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim PBB, Dr Rajendra Pachauri, juga mengimbau kepada orang-orang di seluruh dunia untuk menanggapi seruan mendesak untuk mengurangi emisi dengan “tidak makan daging, mengendarai sepeda, dan hidup hemat (tidak konsumtif). Banyak relawan Tzu Chi bervegetaris dengan tujuan awal untuk melindungi kehidupan; hari ini, bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa mengadopsi gaya hidup vegetarian secara luas dapat mengurangi emisi dari makanan. Karenanya, kita semua memiliki “tiga peluang” setiap hari untuk membantu menyelamatkan planet ini. Dalam menanggapi konferensi perubahan iklim Paris, Tzu Chi telah meluncurkan kampanye global berjudul “Ethical Eating Day 111”, yang menyerukan kepada orang-orang untuk menjadi vegetarian untuk membantu menyelamatkan Bumi, dengan tujuan utama mendorong setiap orang untuk hanya makan makanan vegetarian saja pada setiap waktu makan, setiap hari. Yayasan Buddha Tzu Chi berharap dapat mengajak setidaknya 1.110.000 orang di seluruh dunia untuk menanggapi seruan ini pada 11 Januari setiap tahunnya, dengan demikian diharapkan dapat menghimpun kekuatan kolektif untuk pengaruh positif.
Planet biru kita yang indah, Bumi, adalah rumah kita bersama dan satu-satunya di alam semesta. Kami dengan tulus mengundang Anda untuk bergabung dengan kami dalam upaya melindungi planet rumah kami dengan cinta. Mari kita hidup berdampingan secara harmonis dengan Bumi Pertiwi dan lingkungan kita!