Jejak Langkah Perjalanan Tzu Chi
≡ Tahun 1937 – Kelahiran.
Pada tanggal 04 Mei 1937 (Tanggal 24 Bulan 03 penanggalan lunar) Master Cheng Yen dilahirkan di Qingshui, Kabupaten Taichung, Taiwan, dengan nama Wang Chin-yun. Pada usia 4 tahun, ia diangkat menjadi putri angkat pamannya, Wang Tian-song dan bibinya, Wang Shen Yue-gui. Sejak kecil, Chin-yun sangat handal dan cakap membantu kedua orangtuanya dalam banyak hal. Karena sikap baktinya, orang-orang menjulukinya “Putri yang berbakti”.
≡ Tahun 1943 – Pemahaman konsep berpakaian dan tata krama.
Ketika Chin-yun kecil duduk di bangku sekolah dasar, ia sangat terkesan dengan penampilan dan sikap seorang gurunya yang bernama Tamagawa Harue, yang selalu kelihatan rapi dan bermartabat. Kesan yang mendalam dari ibu gurunya inilah yang mempengarui Master Cheng Yen dimasa mendatang memiliki konsep berpakaian rapi dan menekankan pentingnya sikap dan tata krama.
≡ Tahun 1944 – Bodhisatva Kuan Im menangis.
Perang Dunia II meletus dan tiba di Taiwan, kondisi perang yang mengerikan membuat kesan yang sulit dilupakan dalam ingatan beliau. Ia menyadari, bencana yang diakibatkan manusia sungguh mengerikan. Sementara itu, penduduk desa banyak yang mengeluh pada Bodhisatva Guan Yin karena tidak melindungi mereka sehingga terkena serangan udara. Saat itu, ada seorang kakek tua yang menyela keluhan penduduk dengan berkata, “Kalian jangan menyalahkan Bodhisatva Guan Yin, Beliau sudah menangis hingga airmatanya kering. Karena manusia tidak patuh pada ajaran, kita sendiri yang membuat karma buruk sehingga Bodhisatva Guan Yin tidak berdaya dan sudah meneteskan airmata darah”. Kata-kata ini sangat membekas dalam ingatan Chin-yun kecil, dan ia pun berpikir, “Saya harus menjadi orang baik, saya harus menjadi anak yang patuh”.
≡ Tahun 1952 – Berikrar vegetarian selamanya.
Ibu angkatnya sakit parah (lambung berdarah) dan dirawat di rumah sakit. Karenanya, beliau pun bersujud di hadapan Bodhisatva Guan yin berikrar selamanya bervegetaris agar ibunya tidak perlu dioperasi dan panjang umur, bahkan merelakan umurnya sendiri untuk ditambahkan pada sang ibu sehingga memperpanjang umur ibu. Setelah itu, selama tiga hari berturut-turut, beliau bermimpi diberikan 2 pil obat oleh seorang wanita berjubah putih di sebuah vihara. Setelah kejadian mimpi tersebut, penyakit ibunya membaik, tidak perlu dioperasi dan diijinkan keluar dari rumah-sakit. Setelah bervegetaris sejak saat itu membuat beliau mulai mendekati Buddha Dharma.
≡ Tahun 1954 – Melihat indahnya budaya humanis kedokteran.
Adik keduanya menderita meningitis. Di rumah sakit Taichung, beliau merawat dan menjaga sendiri adiknya selama 8 bulan. Selama itu pula beliau menyaksikan ketidak-kekalan di rumah sakit, juga pelayanan humanis para tim medis. Sebagai keluarga pasien, beliau merasakan kesan mendalam atas pelayanan tim medis disana, terutama seorang dokter anak bermarga Zhang yang menangani adiknya, tutur katanya lemah lembut, terhadap keluarga pasien juga selalu memberi rasa tenang. Menangani adiknya yang saat itu baru berumur 7 tahun, dokter Zhang sangat sabar dan menggunakan cara yang membuat anak-anak nyaman, sehingga adiknya tidak takut sedikitpun malahan sangat patuh terhadap dokter. Adiknya juga gembira setiap kali dokter Zhang datang memeriksanya. Saat disuntik atau diambil darahnya tentu saja menangis, tapi adiknya bukan teriak memanggil-manggil papa atau mama, tapi memanggil dokter itu. Terhadap keluarga pasien, dokter ini selalu memberi penjelasan dengan sangat ramah dan penuh senyum. Dokter ini memberi kesan yang sangat mendalam baginya. Karena dokter Zhang inilah, membuat beliau sangat mengagumi profesi seorang dokter. Pengalaman ini jugalah yang mempengaruhi beliau kelak dalam konsep misi kesehatan dan pendidikan yang berbudaya humanis.
≡ Tahun 1958 – Pertama kali meninggalkan rumah.
Sejak mendalami sutra-sutra Buddha di Vihara Ci Yun setelah ayahnya meninggal, sejak itu juga Master Cheng Yen memantapkan hatinya untuk meninggalkan keduniawian. Bulan November 1958, setelah 100 hari kehilangan ayah tercinta, beliau pergi meninggalkan rumah untuk pertama kalinya ke Vihara Jing Xiu di Xizhi, Taipei. Tapi baru hari ketiga sudah ditemukan dan dibawa pulang oleh ibunya kembali ke Fengyuan, Taichung. Meski demikian, keinginannya untuk menjadi biksuni tidak luntur sedikitpun.
≡ Tahun 1958 sd 1960 – Tiga benih penting dibalik berdirinya Tzu Chi.
Pertama :
Tanggal 25 Juli 1958, akibat pendarahan di otak, ayah angkatnya mendadak meninggal. Ini membawa kesedihan teramat dalam baginya. Beliau merasa tidak rela dan mencari-cari jawaban, kemanakah ayahnya pergi setelah meninggal. Dalam pencariannya itu akhirnya membawanya melakukan ritual pelimpahan jasa selama 7 hari di Vihara Ci Yun di Fengyuan. Di Vihara itu, beliau menghafalkan Sutra Pertobatan Kaisar Liang. Dari sutra itu, beliau mempelajari bahwa hidup ini sangat pendek dan tidak kekal, tapi manusia malah melakukan banyak karma buruk sehingga menyebabkan penderitaan. Ada hukum sebab-akibat dari setiap tindakan, ucapan, ataupun pikiran kita. Mengetahui hal itu, beliau pun berniat mengedukasi orang-orang agar tahu hal ini sehingga dapat terhindar dari penderitaan. Sejak itulah, beliau terus berpikir bagaimana mewujudkan niat ini ?
Kedua :
Suatu hari, Master Cheng Yen bertanya pada Kepala Biksu di Vihara Ci Yun, di dunia ini wanita seperti apakah yang paling bahagia. Biksu itu menjawab, wanita yang bertanggung-jawab atas keranjang sayur adalah yang paling bahagia. Pulang dari sana, dia setiap hari menenteng keranjang sayur sangat sibuk belanja namun rasanya tidak tenang, dimanakah sisi bahagianya ? Esoknya saat belanja ke pasar dan hendak membayar, ia lalu sadar apa yang dimaksud oleh Kepala Vihara itu. Namun setelah itu, dia merenung kembali, sama sekali tidak ada kebahagiaan dari menguasai uang belanja, sama-sama manusia tetapi mengapa wanita selalu dibedakan dengan pria, apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan wanita ? Beliau berpikir, jika dia bisa berbuat sesuatu yang merupakan sumbangsih untuk masyarakat luas, bukankah juga adalah seorang “pria”? Dari sana beliau pun bertekad untuk itu.
Ketiga :
Saat itu, Master Cheng Yen sering keluar masuk Vihara Ci Yun (1959 – 1960). Ia pun mengetahui tiap awal tahun di Vihara itu diadakan kebaktian Sutra Teratai. Sesekali, ia pun ikut kebaktian tersebut. Saat melantunkan Sutra Teratai itu, beliau merasakan hatinya penuh sukacita. Rasa sukacita itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena didalam Sutra Teratai itu memberi petunjuk bagaimana menapak di jalan Bodhisatva, yang penuh dengan liku-liku, namun harus bertekad teguh, ulet, dan penuh keyakinan, juga dijalani dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Isi sutra ini membuat benih Bodhisatva dalam dirinya mulai tumbuh.
≡ Tahun 1959 sd 1960 – Pertama kali mengenal Sutra Teratai.
Selama 2 tahun ini, Master Cheng Yen sering datang ke Vihara Ci Yun, belajar Dharma dan kadang-kadang menginap dalam satu jangka waktu yang lama, ikut menjalani kehidupan di sana. Bangun pagi jam 3 subuh, mulai dari menanam padi, cuci baju, simpan baju dilipat rapi, menyiapkan sarapan, makan siang, snack, dan mengantar snack ke sawah. Kehidupan beliau di sana tidaklah ringan, satu orang melakukan pekerjaan yang tidak sedikit, namun beliau melakukannya dengan sukarela, sukacita, dan penuh dengan rasa syukur.
Satu hari saat berada di Vihara Ci Yun, ada seorang umat datang ke Vihara dan berkata pada Biksuni Xiu Dao bahwa ia menemukan sebuah Kitab Sutra Teratai di antara buku-buku yang dijual orang sebagai kertas bekas, dan menanyakan apakah sebaiknya dibeli saja dan ditaruh di Vihara Ci Yun. Kitab Sutra Teratai itu sudah kuno, sampulnya terbuat dari kulit kayu dan kertasnya pun sudah termakan usia. Mendengar Kitab Sutra Teratai, hati Master Cheng Yen bergejolak, ada rasa sukacita saat mendengar nama Sutra Teratai. Master Cheng Yen lalu menyela dan berkata, “Saya saja yang beli !”. Sejak memiliki Kitab Sutra Teratai itu, Master Cheng Yen menganggapnya sebagai harta pusakanya. Dari Sutra Teratai inilah akhirnya beliau memahami dengan sangat jelas arah hidupnya, beliau juga yakin jalan inilah yang akan ditujunya selama hidupnya di masa mendatang. Sejak itu, beliau bertekad dan mulai menyusun rencana untuk memasuki pintu Dharma dan meninggalkan keduniawian. (Sutra Teratai adalah Sutra yang membimbing jalan Bodhisatva).
September 1959, pasca banjir besar di tanggal 07 Agustus 1959 yang melanda hampir seluruh wilayah Taiwan, Master Cheng Yen mendampingi Biksuni Xiu Dao menuju Beitou. Sepanjang jalan beliau menyaksikan kehancuran dan porak-porandanya negara pasca bencana, membuat beliau merasakan “rapuhnya bumi”, juga tercium bau busuk mayat. Beliau merasakan “hidup ini tidak kekal”. Dan teringat ayah-angkatnya yang meninggal tahun lalu, beliau merasakan “hidup ini hanya ada pada tarikan nafas”.
≡ Tahun 1960 – Asal mula nama “Jing Si”.
Ditengah “pelarian” mencari tempat melatih diri meninggalkan keduniawian, Master Cheng Yen dan Biksuni Xiu Dao saat sedang menunggu bus di Kaoshiung, di sekitar halte itu ada orang yang menjual majalah. Karena tertarik pada judul sebuah majalah, Master Cheng Yen lalu mengambil majalah itu dan membukanya. Didalam majalah itu ada sebuah artikel mengenai cerita Buddhis, ada satu kalimat berbunyi “Sang Buddha menduduki singgasana di bawah pohon Bodhi melakukan perenungan bening (Jing = hening, Si = perenungan)”. Membaca dua kata ini, Jing Si, sangat memikat hatinya, sejak itu beliau pun mengganti namanya dari Jinyun menjadi Jing Si.
≡ Tahun 1960 – Kedua kalinya meninggalkan rumah.
Bulan September 1960, dengan membawa serta Kitab Sutra Teratai yang dimilikinya, bersama Biksuni Xiu Dao berdua pergi meninggalkan Vihara Ci Yun, Fengyuan, Taichung. Dalam perjalanan meninggalkan rumah itu, mereka hanya mengikuti arah kereta ataupun bus yang mereka temui, belum ada tujuan hendak kemana. Setelah naik kereta ke Kaoshiung, sambung naik bus ke Taitung. Sempat menetap beberapa waktu di Taitung. Bulan Oktober 1960, keberadaannya di Taitung diketahui keluarga yang berada di Fengyuan, sehingga mereka melanjutkan “lari” dengan kereta api menuju Luye, Taitung. Turun dari kereta, mereka bejalan kaki menaiki pengunungan yang panjang dan berliku-liku serta banyak bebatuan, dan akhirnya tiba di sebuah kuil kecil bernama Wangmu. Oleh penduduk desa, mereka disambut dengan baik dan dipersilahkan untuk tinggal di sebuah ruangan kecil di samping kuil kecil itu. Disanalah pertama kalinya Master Cheng Yen merasakan dingin dan ketidak-nyamanan karena selimut yang tersedia sudah tidak layak pakai. Itulah sebabnya mengapa saat pembagian bantuan Tzu Chi, beliau berprinsip keras untuk memberikan selimut yang hangat dan terbaik.
Di desa itu, mereka menetap selama 60 hari. Mereka mengajarkan tata cara doa dan kebaktian Buddhis untuk penduduk desa. Sejak meninggalkan rumah, Master Cheng Yen sudah berpegang teguh pada prinsip tidak menerima persembahan dari umat. Sehingga di sini beliau pernah merasakan hidup susah tidak memiliki makanan dan hanya makan kacang-kacangan dan daun-daunan yang tumbuh liar di desa tersebut. Beliau juga harus mengambil air sendiri dari tempat yang cukup jauh, saat lelah istirahat sejenak dibawah pohon. Makanya dalam hidupnya, beliau sangat menghargai air dan hemat menggunakannya. Selama hidup susah di sana, batin beliau sempay bergejolak, apakah harus pulang ke rumah atau lanjut mengejar tujuan hidupnya.
Desember 1960, Master Cheng Yen menetap di Vihara Qing Jue, Taitung. Saat itu, keluarga di Fengyuan telah mengetahui keberadaannya dan datang mencarinya. Namun melalui diskusi dan penjelasan akhirnya ibu beliau merelakan beliau meninggalkan keduniawian.
≡ Tahun 1961 – Pertama kali ke Hualien.
Dalam pencariannya bersama Biksuni Xiu Dao, pada Februari 1961 mereka pindah lagi ke Vihara Yu Chuan di Yuli, lalu ke Vihara Dong Jing di Hualien. Pertama kali menginjakkan kaki di Hualien, mereka disambut ramah oleh seorang umat senior di Vihara Dong Jing, mereka dikenalkan dengan Bapak Xu Cong-min. Bapak Xu Cong-min ini sangat baik, bersedia menampung mereka di rumahnya. Bentuk rumahnya pun mirih Vihara tempat mereka melatih diri. Bapak Xu ini umat yang taat, dan melakukan kebaktian secara rutin di rumahnya. Merekapun tinggal di rumah Bapak Xu untuk beberapa waktu.
≡ Tahun 1961 – Bertemu Sutra Makna Tanpa Batas.
Oleh umat senior di Vihara Dong Jing itu, mereka diminta berceramah Sutra Buddha di sebuah Perkumpulan Buddhis di Taitung. Disana mereka menetap dari Maret 1961 hingga September 1962. Di sana, Master Cheng Yen yang belum menjadi Biksuni mempelajari macam-macam Sutra Buddha, disanalah pertama kalinya beliau bertemu dengan Sutra Makna Tanpa Batas (Wu Liang Yi Jing) dalam versi Bahasa Jepang. Kemudian beliau menyalinnya dalam Bahasa Mandarin. Sutra Makna Tanpa Batas ini kelak menjadi panduan bagi Master Cheng Yen dalam menjalankan Tzu Chi, bahwa ajaran Buddha adalah jalan Bodhisatva yang bisa ditapak dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
≡ Tahun 1962 – Jalinan jodoh dengan Vihara Phu Ming.
Bapak Xu Cong-min di Hualien memberitahu mereka bahwa Vihara Ksitigarbha Phu Ming baru selesai dibangun dan segera diresmikan, dan menanyakan apakah mereka berdua mau ikut serta. Master Cheng Yen bersama Biksuni Xiu Dao lalu kembali ke Hualien dan melakukan kebaktian Sutra Ksitigarbha di Vihara Phu Ming. Tiba di Vihara Phu Ming, Master Cheng Yen melihat vihara ini sangat familiar, ternyata ini vihara yang ada di mimpinya 10 tahun lalu saat ibunya sakit keras. Merasa heran karena mimpinya sudah 10 tahun sedangkan vihara ini baru selesai dibangun, beliau merasa mungkin disinilah jalinan jodohnya, dan sudah saatnya mengakhiri pencariannya. Dan sejak itu, beliau pun memantapkan batinnya menetap di Hualien. Bulan Desember 1962, Master Cheng Yen melakukan ritual pelepasan rambut menjadi samaneri, namanya menjadi Xiu Chan.
≡ Tahun 1962 – Belajar dari keteladanan Bapak Xu Cong-min.
Bapak Xu Cong-min dan istrinya, berdua adalah umat Buddha yang taat, tulus, dan baik hati. Suami istri ini menjadi sebuah gambaran ideal seorang perumah-tangga di mata Master Cheng Yen. Kehidupan mereka dari pakaian, makanan, pola hidup sehari-hari sangatlah sederhana. Bapak Xu ini sehari-harinya mempunyai bisnis. Dan uangnya dipergunakan dengan bijaksana, yakni membantu sesama yang membutuhkan, membangun vihara-vihara, termasuk Vihara Phu Ming. Kehidupan sehari-hari di rumah ini tidak jauh beda dengan kehidupan bhikku/bhikkuni di vihara. Tiap pagi bangun sebelum jam 4, Master Cheng Yen ikut mereka melakukan kebaktian pagi dan malam. Bagi Master Cheng Yen, Bapak Xu Cong-min ini adalah seorang pelindung Dharma dan juga adalah gurunya.
≡ Tahun 1962 – Menjadi murid Master Yin Shun.
Bulan Maret 1963 berangkat ke Vihara Lin Cie di Taipei mendaftarkan diri untuk ditahbiskan menjadi biksuni, namun karena belum memiliki guru sehingga dirinya ditolak. Saat itu beliau berpikir sebelum kembali ke Hualien, terlebih dahulu mau membeli kitab koleksi lengkap Master Tai Xu untuk dibawa pulang dan dipelajari. Untuk mendapatkan kitab ini, beliau pun mendatangi Aula Pembabaran Dharma Hui Ri, disinilah pertama kalinya beliau pertama kali bertemu dengan Master Yin Shun. Dan ditengah jalinan jodoh dalam kondisi istimewa ini, beliau lalu diterima menjadi murid Master Yin Shun, mendapat nama visudhi yaitu “Cheng Yen” dan ikrar “Demi Ajaran Buddha, Demi Semua Makhluk”.
≡ Tahun 1963 – Melatih diri di gubuk kayu sederhana.
Karena tidak mungkin terus menerus tinggal di rumah orang, Master Cheng Yen meminta bantuan Bapak Xu Cong-min untuk membangun sebuah gubuk kayu kecil sebagai tempat tinggalnya di belakang Vihara Phu Ming. Sekembalinya dari Taipei, dari bulan April sampai Oktober 1963, beliau melakukan pelatihan diri di gubuk kayu ini dengan mendalami Sutra Teratai dan berikrar untuk membaktikan dirinya di jalan Bodhisatva seumur hidup. Karena tidak memiliki uang untuk beli buah maupun bunga, maka beliau memberi persembahan kepada Buddha dengan cara menyalin satu Kitab Sutra Teratai setiap bulannya. Karena tidak memiliki apa-apa selain tubuh pemberian orang tua, setiap tanggal 24 (di penanggalan Lunar; di tanggal lahirnya) Master Cheng Yen membakar diri dengan cara menyalakan dupa di lengannya sebagai lambang persembahan kepada Buddha dan balas budi kepada orang tua.
Oktober 1963, Master Cheng Yen meninggalkan gubuk kayu dan pergi ke Vihara Ci Shan untuk memberi ceramah Sutra Ksitigarbha dan Sutra Amitabha selama 8 bulan. Makin mendalami Sutra Ksitigarbha, beliau makin menyadari hendaknya keluar dari pelatihan diri dan dengan berani terjun bersumbangsih ke masyarakat, seperti Bodhisatva Ksitigarbha yang berikrar masuk ke nerakan untuk membimbing makhluk disana. Dan sejak berceramah Sutra Ksitigarbha inilah, Master Cheng Yen mulai menjalin jodoh baik dengan banyak umat dan mulai dikenal masyarakat. Dari sini juga beliau bertemu dengan beberapa murid yang kelak tinggal bersama di Griya Jing Si, yaitu Shao Wei, Shao Wen, Shao En. Mereka bertekad mau menjadi murid Master Cheng Yen, meski awalnya Master Cheng Yen berikrar tidak mau menerima murid dan juga tidak memiliki tempat tinggal untuk mereka.
≡ Tahun 1964 – Menerima murid pertama.
Bulan Mei 1964, Master Cheng Yen resmi menerima Shao Wei (Shifu De Ci), Shao Wen (Shifu De Rong), dan De Zhao menjadi muridnya. De Rong dan De Ci lalu mendampingi Master Cheng Yen berangkat ke Vihara Hai Hui di Badu untuk mengikuti retret Sangha.
Bulan Oktober 1964, mereka kembali ke Vihara Phu Ming, Hualien. Shifu De Ci, De Rong, De Zhao, dan De En mendampingi Master Cheng Yen menjalani pelatihan diri bersama-sama. Selama 5 tahun (1964-1969) mereka tinggal di belakang Vihara Phu Ming, tidur berhimpitan 5 orang di ruang yang terbatas . Mereka mulai hidup dengan prinsip “Satu hari tidak kerja, satu hari tidak makan”. Untuk bertahan hidup, mereka menanam kacang dan sayuran di sepetak tanah yang ada di belakang vihara, juga membuat kantong dari kertas semen, membuat lilin, dan sepatu bayi. Siang hari bekerja, malam hari mendalami sutra ajaran Buddha.
≡ Tahun 1966 – Tiga peristiwa yang mendorong didirikannya Tzu Chi.
Pertama :
Bulan Februari, atas permintaan gurunya Master Yin Shun, Master Cheng Yen akan pindah ke Vihara Miao Yun di Chiayi dan meninggalkan Hualien, tapi 30 umatnya memohon kepada beliau untuk tetap tinggal di Hualien, juga menanda-tangani petisi dan mengajukan permohonan kepada Master Yin Shun agar membiarkan Master Cheng Yen menetap di Hualien lagi selama 3 tahun. Mereka juga berikrar untuk sama-sama menggalang dana melalui celengan bambu.
Kedua :
Saat itu, Master Cheng Yen menjenguk seorang umatnya di rumah sakit. Usai menjenguk, saat hendak menapak keluar pintu rumah sakit, beliau melihat bercak darah dari seorang wanita yang mengalami pendarahan dan harus pulang karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Mengetahui hal itu, Master Cheng Yen sangat sedih.
Ketiga :
Master Cheng Yen mendapat kunjungan dari tiga Suster Katolik. Mereka berbincang mengenai agama dan kepercayaan. Para Suster lalu bercerita bahwa agamamereka sudah tersebar ke banyak negara di seluruh dunia, menolong mereka yang tidak mampu, juga membangun sekolah dan rumah sakit. Lalu Suster itu pun bertanya apakah dalam agama Buddha ada hal seperti itu ? Master Cheng Yen menjawab bahwa umat Buddhis tidak melekat pada nama jika sudah berdana. Lalu Suster itu bertanya lagi, jika kalian mengumpulkan kekuatan dari banyak orang bukankah juga bisa melakukan sangat banyak hal ? Ucapan Suster inilah yang menginspirasi Master Cheng Yen dan memberinya keyakinan bahwa hal itu dapat dilakukan.
≡ Tahun 1966 – Tzu Chi resmi berdiri di Hualien, Taiwan.
Tanggal 14 Mei 1966 (penanggalan Lunar 24, Bulan 3) di Vihara Phu Ming, “Perkumpulan Amal Buddha Tzu Chi” resmi didirikan. Agar memiliki dana untuk membantu orang, Master Cheng Yen dan 5 pengikutnya, masing-masing membuat tambahan sepasang sepatu bayi setiap hari. Selain itu, dana juga didapat dari celengan bambu 30 ibu rumah tangga yang menyisihkan 50 sen setiap harinya dari uang belanja, karena Master Cheng Yen berharap berdana jangan sampai mempengarui ekonomi keluarga mereka. Tiap kali berbelanja, 30 ibu rumah tangga akan meminta sayuran dikurangi sedikit, sehingga lebih murah sedikit, selisih uang itulah yang dimasukkan ke dalam celengan bambu. Pedagang sayur yang heran pun bertanya, bagaimana mungkin bisa menolong orang dengan uang yang sedikit itu. Namun setelah dijelaskan, pedagang tertarik juga menjadi donatur.
Cerita celengan bambu lalu tersebar dari pedagang ke pembeli, dari pembeli ke ke pedagang lain lagi, sehingga donatur pun akhirnya meluas di pasar-pasar tempat mereka berbelanja. Master Cheng Yen berharap, jika terkumpul 500 donatur maka memiliki 1.000 tangan, ibarat Bodhisatva Avalokitesvara bertangan seribu yang bisa menolong orang yang membutuhkan.
≡ Tahun 1966 sd 1967 – Penerima bantuan pertama.
Di masa awal Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya turun langsung melakukan survei dan kunjungan kondisi para penerima bantuan.
Bulan Mei 1966, penerima bantuan pertama Tzu Chi adalah nenek Lin Ceng yang hidup sebatang-kara dan tidak mempunyai keluarga di Taiwan. Tzu Chi menjaga dan merawatnya hingga mengurus pemakaman nenek ini saat meninggal tahun 1970. Ketulusan dan perhatian relawan Tzu Chi saat itu menginspirasi seorang dokter sehingga akhirnya tidak mau menerima bayaran dan secara rutin datang memeriksa kesehatan nenek tanpa dipanggil ralawan. Begitu pula tetangga nenek Lin Ceng yang melihat insan Tzu Chi yang selalu mengunjungi dan membawa makanan untuk nenek ini, akhirnya juga bersemangat bersedia menyiapkan makanan dan membersihkan rumah nenek Lin Ceng.
Bedah rumah pertama, yaitu rumah Li Apao. Master Ceng Yen dan pengikutnya mensurvei rumah Li Apao, seorang tua sebatang kara, rumahnya kumuh dan tidak layak tinggal. Tzu Chi memberikan bantuan rumah bata permanen untuknya. Tanggal 19 Oktober 1967dilakukan survei lokasi. Tanggal 01 November 1967, Master Cheng Yen sendiri saat itu melakukan peletakan batu pertama dan rumah mulai dibangun. Pada tanggal 15 Desember 1967, rumah selesai dibangun dan ditempati oleh Li Apao.
≡ Tahun 1967 – Buletin Tzu Chi pertama.
Pada tanggal 20 Juli 1967, Buletin Tzu Chi terbit untuk pertama kalinya. Didalamnya berisi informasi seputar kegiatan Tzu Chi, penerima bantuan, dan nama-nama donatur.
≡ Tahun 1968 – Griya Jing Si dibangun, kampung halaman batin Tzu Chi.
Wang Shen Yue-Guei, ibu angkat Master Cheng Yen, mendonasikan sebidang tanah sebesar 1,5 hektar untuk Tzu Chi. Akhirnya Master Cheng Yen dan murid-muridnya memiliki tempat tinggal sendiri. Di atas tanah itu, didirikan Griya Jing Si dan kebun untuk bercocok-tanam. Peletakkan batu pertama Griya Jing Si dilakukan pada tanggal 05 Februari 1968 dan resmi digunakan pada tanggal 10 Mei 1969 (Penanggalan Lunar 24, bulan 3). Hingga kini, Master Cheng Yen dan para bhiksuni pengikutnya tetap hidup mandiri di Griya Jing Si dengan bercocok tanam maupun menjalankan industri rumah tangga. Mereka tidak menerima sumbangan.
≡ Tahun 1969 – Bantuan musim dingin pertama.
Pada tanggal 09 Februari 1969, untuk pertama kalinya, pembagian bantuan musim dingin diadakan di Vihara Phu Ming. Karena cuaca sangat dingin, ada satu umat yang membeli selimut berkualitas bagus dan dikirim ke Vihara Phu Ming agar dapat digunakan Master Cheng Yen dan murid-muridnya. Karena Master Cheng Yen berprinsip tidak menerima persembahan materi, terlebih dahulu mengingat nasib kaum tua miskin sebatang-kara yang kedinginan dan kesepian, Master Cheng Yen merasa tidak tega sehingga selimut itu disalurkan untuk membantu kaum miskin tersebut. Master Cheng Yen kemudian memutuskan mengadakan bakti sosial pembagian bantuan musim dingin di setiap tahunnya. Selain selimut, juga ada pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya. Master Cheng Yen berprinsip, memberikan bantuan haruslah barang yang berkualitas baik, karena beliau mengganggap para penerima bantuan yang berumur tua adalah orang tuanya, yang lebih muda adalah anak-anaknya, yang seumuran adalah kakak adiknya, semuanya adalah satu keluarga. Pada hari itu juga, disediakan makanan vegetarian sebanyak 15 meja sebagai acara makan bersama malam Tahun Baru Imlek yang lebih dini untuk 40 keluarga penerima bantuan saat itu.
≡ Tahun 1969 – Tanggap bencana skala besar untuk pertama kalinya.
Pada tanggal 04 Oktober 1969, Tzu Chi untuk pertama kalinya menyalurkan bantuan bencana dalam skala besar untuk 148 keluarga yang merupakan korban kebakaran di Desa Dan An, Taitung. Kondisi kebakaran sangat mengenaskan, seluruh desa habis terbakar, lebih dari 40 orang meninggal dunia, 50 orang terluka berat, dan 148 keluarga kehilangan tempat tinggal. Master Cheng Yen sendiri turun melakukan survei melakukan pertemuan dengan relawan membahas jenis bantuan yang akan diberikan, hingga membagikan bantuan secara langsung di lokasi.
Saat itu, Tzu Chi masih dalam masa-masa sulit, untuk kehidupan sehari saja masih kesulitan. Namun untuk menolong penduduk desa itu, sedikit pun Master Cheng Yen tidak ragu, dan kemudian menggerakkan insan Tzu Chi untuk meggalang dana dari pintu ke pintu. Dan akhirnya bisa memberikan bantuan kepada 148 keluarga, masing-masing diberikan sebanyak NTD5.000 dan sebuah selimut berkualitas bagus.
Proses tanggap bencana ini mulai dari survei, pengadaan bantuan, hingga proses pembagian bantuan ini menjadi model dalam tata cara tanggap bencana Tzu Chi di masa mendatang.
≡ Tahun 1972 – Cikal bakal pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi.
Beberapa tahun menjalankan misi amal, Master Cheng Yen heran mengapa orang yang sakit dan miskin sangat banyak, apakah gerangan penyebabnya. Beliau juga melihat di daerah Hualien dan Taitung (Taiwan bagian timur) banyak orang miskin yang tidak punya uang untuk memeriksakan diri ke dokter ketika sakit, akibatnya dari penyakit kecil yang dibiarkan seringkali menjadi penyakit berat. Master Cheng Yen menyadari jika dalam satu rumah ada satu orang saja yang sakit maka sekeluarga akan ikut menderita. Karena penyakit sehingga menjadi miskin, karena miskin sehingga menjadi sakit. Sakit dan miskin, dua hal ini bagai lingkaran yang tiada ujung. Karenanya, beliau pun memikirkan bagaimana untuk mulai mengadakan bantuan pengobatan (Misi Kesehatan).
Atas dukungan beberapa ahli medis dari RS Hualien, maka pada 10 September 1972 didirikan “Klinik Gratis Khusus Kaum Miskin” di jalan Ren Ai, Hualien. Klinik ini beroperasi 2 kali seminggu, dan selama 15 tahun melayani 140 ribu pasien, kemudian ditutup pada saat RS. Tzu Chi berdiri. Melalui klinik ini pula, Master Cheng Yen menyadari pelayanan medis di bagian timur Taiwan sungguh sangat kekurangan, pasien dengan penyakit lebih berat seperti gangguan jantung atau liver harus dirujuk ke Taipei. Ini pula yang membuat beliau bertekad untuk mendirikan Rumah Sakit Tzu Chi di Hualien.
≡ Tahun 1973 – Prinsip utama tanggap darurat bencana.
Pada bulan Oktober 1973, Topan Nora menerjang Taiwan mengakibatkan kerusakan parah di bagian selatan hingga Taiwan timur. Dana amal yang ada di Tzu Chi saat itu hanya NTD 100 ribu. Akhirnya semua insan Tzu Chi yang jumlahnya masih tidak banyak itu bergerak menggalang dana dari pintu ke pintu. Dan akhirnya tergalang NTD620 ribu, bantuan tersalurkan ke 671 keluarga di Yuli dan Taitung. Semua pelaksanaan dari mulai survei, galang dana, pengadaan barang bantuan, penataan dan penditribusian barang mengikuti dan menyempurnakan dari tata cara tanggap bencana kebakaran di Desa Danan tahun 1969. Tanggap bencana Topan Nora yang berlangsung di Oktober 1973 hingga Januari 1974 ini menerapkan pedoman Langsung-Prioritas-Menghormati, dan menjadi prinsip dasar tanggap bencana relawan Tzu Chi kemudian hari di seluruh dunia.
≡ Tahun 1974 – Asal mula Muda Mudi Tzu Ching.
Awal tahun 1974, sekelompok siswa/i dari Hualien Normal School (Akademi Keguruan Hualien) ikut terlibat dalam pelayanan di Klinik Gratis Khusus Kaum Miskin Tzu Chi di jalan Ren Ai, Hualien. Mereka juga mengikuti aktivitas sosial Tzu Chi lainnya bersama insan Tzu Chi, seperti mengunjungi dan memberi perhatian pada para lansia, dengan membersihkan rumahnya, mengunting rambut opa oma, mencuci rambut mereka, menggunting kuku, dll. Mereka bergabung dengan nama “Muda Mudi Cahaya Obor”. Namun pada tahun 1989, bibit Tzu Ching muncul kembali dari Universitas Tsing Hua dan Universitas Chiao Tung, mereka kerap mengikuti insan Tzu Chi menjadi relawan pemerhati pasien. Sejak tahun itu, grup muda mudi Tzu Chi barulah benar-benar berkembang dan pada Mei 1992, perkumpulan Muda Mudi Tzu Ching resmi dibentuk dengan jumlah anggota sebanyak 170 orang.
Tahun 1975, jumlah insan Tzu Chi baru mencapai 50-60 orang. Sedangkan penerima bantuan jangka panjang yang ditangani sudah lebih dari 277 keluarga. Master Cheng Yen menemukan bahwa kondisi rumah para penerima bantuan ini banyak yang tidak terawat dengan baik, terutama masalah higienitas yang harus segera ditangani. Lebih dari 50 siswa/i muda mudi dari Hualien Normal School (Akademi Keguruan Hualien) menjawab masalah itu. Menggunakan hari liburnya, mereka membantu para lansia, yang sebatang kara, ataupun yang sedang sakit dengan membersihkan tempat tinggalnya. Model kegiatan ini menjadi ciri khas kunjungan relawan Tzu Chi di kemudian hari.
≡ Tahun 1979 – Penggalangan dana Rumah Sakit Tzu Chi.
Bulan Juli 1979, Master Cheng Yen bekerja sama dengan Asosiasi Persahabatan Taiwan secara resmi menginisiasi pembangunan rumah sakit. Saat itu, Tzu Chi hanya memiliki 100 lebih insan Tzu Chi, sedangkan donatur belum sampai 10 ribu orang. Sedangkan angaran untuk 600 tempat tidur diperkirakan membutuhkan NTD 800 juta. Bukan hanya insan Tzu Chi saja yang merasa tercenggang dengan angka itu, namun orang-orang di luar Tzu Chi juga menggangap hal itu mustahil terwujud, bagai mimpi di siang bolong.
Demi menggalang dana untuk pembangunan rumah sakit, Master Cheng Yen melakukan perjalanan keliling ke bagian utara Taiwan. Menggunakan rumah insan Tzu Chi secara bergiliran untuk mengadakan pertemuan minum teh, pertama untuk menjelaskan lebih detail sehingga tidak ada keraguan dari donatur, kedua menjelaskan konsep pembangunan rumah sakit Tzu Chi agar para donatur dengan gembira hati dan hati tenang mendonasikan uangnya.
Selama beberapa tahun itu penggalangan dana juga menyebar luas di tengah masyarakat dan mendapat simpati dari berbagai kalangan dan sebagian dari mereka akhirnya juga bergabung menjadi relawan Tzu Chi.
≡ Tahun 1980 sd 1984 – Perjuangan membangun Rumah Sakit Tzu Chi.
Tantangan membangun rumah sakit bukan pada pendanaan saja, namun juga dalam pencarian tanah untuk lokasi pembangunan rumah sakit, perencanaan, arsitek, desain, dll. Master Cheng Yen harus pergi ke banyak tempat untuk meninjau lokasi dan melakukan negosiasi. Bertepatan dengan masa-masa ini, kondisi kesehatannya mengalami penurunan, namun beliau berpikiran justru tidak boleh istirahat, karena pembangunan rumah sakit ini adalah demi kepentingan orang banyak.
Setelah dengan tidak mudah mendapat tanah sesuai harapan di Guofuli, maka pada tanggal 27 September 1981 dibentuk komisi pelaksana pembangunan rumah sakit. Bulan April 1982 dilakukan pemilihan arsitek dan penentuan desain rumah sakit, dan peletakan batu pertama pada tanggal 05 Februari 1983.
Sehari setelah peletakan batu pertama, tiba-tiba mendapat kabar bahwa lokasi itu tidak mingkin digunakan karena masih dibutuhkan oleh pihak militer. Susah payah selama bertahun-tahun pun sirna, membuat Master Cheng Yen kuatir hingga tidak berselera makan dan tidur, Karena berprinsip teguh pada jujur dan tulus, beliau mulai berpikir untuk mengembalikan setiap sen donasi yang saat itu sudah mencapai NTD 30 juta, apabila rumah sakit benar-benar tidak menemukan jalan lagi.
Akhirnya dengan bantuan pihak pemerintah dan militer, kembali ditemukan sebidang tanah yang cocok, dan setelah melewati serangkaian prosedur yang rumit, akhirnya peletakan batu pertama diadakan pada tanggal 24 April 1984. Atas kerja keras para relawan yang bermunculan di masa itu, dalam waktu 2 tahun dana yang berhasil digalang pun mencapai NTD 797 juta.
≡ Tahun 1986 – Peresmian Rumah Sakit Tzu Chi pertama di Hualien.
Rumah Sakit Tzu Chi pertama berdiri di Hualien dan diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1986 setelah berhasil mengumpulkan niat-niat baik para budiman dari segala penjuru. Berdasarkan prinsip “Menghormati Kehidupan”, maka selain membebaskan pasien dari uang jaminan dan tidak ada klasifikasi kamar pasien, juga membantu pasien miskin mendapatkan bantuan sosial, dan berusaha secara berkesinambungan meningkatkan mutu pelayanan melalui peralatan dan teknologi medis. Tanggal 07 Desember 1986, Tim Relawan Pemerhati Rumah Sakit terbentuk.
≡ Tahun 1989 – Awal dimulainya misi pendidikan.
Tanggal 17 September 1989, Universitas Keperawatan Tzu Chi resmi dibuka. Ini menjadi awal dimulainya Misi Pendidikan Tzu Chi. Dengan tujuan membina kelembutan dan memperlakukan pasien bagai keluarga sendiri. Merupakan satu-satunya sekolah keperawatan di Taiwan yang dibangun pihak swasta. Namun untuk membiayai pengeluaran sekolah ini, pada tahun 1996 telah mendapat persetujuan Departemen Pendidikan sehingga dapat merekrut penduduk asli setempat untuk belajar gratis (uang sekolah gratis, dan ditanggung biaya hidup juga). Impian untuk menjaga penduduk asli setempat pun terwujud.
Master Cheng Yen memiliki harapan agar anak didik di sekolah ini semuanya kelak bisa menjadi seorang wanita tangguh yang bermoral di manapun mereka berada kelak. Karena itu dibentuklah Asosiasi Mama & Kakak Tzu Chi pada tanggal 25 Oktober 1989. Sebanyak 36 relawan wanita yang dipilih untuk bergabung dalam asosiasi ini adalah yang berbudi luhur dan bisa menjadi teladan bagi anak-anak yang mereka dampingi. Di kemudian hari juga ada Papa Tzu Chi yang bergabung untuk mendampingi murid pria, sehingga berubah nama menjadi Asosiasi Orangtua Tzu Chi.
Pada upacara pembukaan tersebut, karena akan hadir sebanyak 20.000 orang, maka Master Cheng Yen berpikir harus ada relawan yang bertugas menjaga ketertiban dan keamanan di sekolah ini. Maka dibentuklah “Tim Keamanan” yang terdiri dari relawan pria. Karena tim ini cukup solid dan sangat berdedikasi, maka bulan Juli tahun berikutnya, tim ini resmi menjadi “Tim Tzu Cheng” (Relawan Komite Pria).
≡ Tahun 1989 – Buku Jing si Aphorism terbit untuk pertama kali.
Kata perenungan Master Cheng Yen pertama kali diperkenalkan dalam bentuk suvenir untuk 20.000 lebih hadirin di Acara Peresmian Universitas Keperawatan Tzu Chi sekaligus HUT ke-3 RS. Tzu Chi Hualien, Taiwan. Tanggal 30 September 1989, Buku Jing Si Aphorism (Kata Perenungan Master Cheng Yen) untuk pertama kalinya terbit dalam Bahasa Inggris, Jepang, dan Mandarin.
≡ Tahun 1989 – Sejarah Tim Dokumentasi Tzu Chi.
Untuk memperkaya dan meningkatkan jumlah artikel di Buletin Tzu Chi, maka pada tanggal 15 Oktober 1989 dibentuklah “Tim Penulis”. Bulan Februari 1990, tim ini sudah mulai meliput kegiatan relawan.
Bulan Desember 1995, karena dimulainya program televisi bertajuk “Dunia Tzu Chi”, relawan mulai melakukan liputan untuk mengisi televisi. Selain itu, juga melakukan kelas-kelas pelatihan dengan mengundang tenaga profesional, tim ini disebut “Tim Gambar” (foto dan video). Karena kedua tim ini berjalan masing-masing, maka pada akhir tahun 2002, Master Cheng Yen menggabungkan mereka menjadi 3 ini 1, yaitu teks, foto, dan video. Pada Februari 2003, mereka resmi disebut Relawan Humanis Zhen Shan Mei.
≡ Tahun 1990 – Langkah awal Misi Pelestarian Lingkungan.
Tanggal 23 Agustus 1990, melalui pidatonya pada acara Wu Zunxian Public Charity Talk di hadapan ribuan masyarakat Taichung, Master Cheng Yen menghimbau pelaksanaan pelestarian lingkungan. Saat itu, setelah hadirin mendengar ceramah Master Cheng Yen yang berkesan, mereka pun tepuk tangan meriah. Master Cheng Yen lalu berkata “Gunakanlah tangan kalian yang bertepuk tangan untuk melakukan pemilahan sampah”.
Dua bulan setelah itu, seorang wanita muda bernama Yang Shunling datang menemui Master Cheng Yen untuk menyerahkan uang yang ia dapat dari hasil penjualan barang daur ulang. Barang daur ulang itu dia kumpulkan dari rumah ke rumah warga sekitarnya. Saat Master Cheng Yen akan membuat tanda-terima untuknya, wanita muda ini menolak dengan alasan barang itu bukan miliknya, dia hanya mengumpulkannya. Dan akhirnya sepakat didonasikan atas nama “Pelestarian Lingkungan” (Huan Bao). Berawal dari sana, maka istilah ini dipakai hingga saat ini sebagai tanda dimulainya Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.
≡ Tahun 1993 – Donor Sumsum Tulang.
Tanggal 24 Oktober 1993 di Baguasan, Changhua, pertama kalinya dilakukan pengetesan darah calon pendonor sumsum. Berpegang pada semangat ajaran Buddha bahwa “kepala, mata, dan otak dapat didonorkan pada orang lain”, dan sejumlah penelitian yang membuktikan bahwa donor sumsum tulang dapat “menolong satu nyawa tanpa merugikan diri sendiri”, Master Cheng Yen pun merintis kegiatan donor sumsum tulang. Dengan rekomendasi dari Dinas Kesehatan dan beberapa rumah sakit besar di Taiwan, Tzu Chi mendirikan Bank Data Donor Sumsum Tulang.
Tshun 2002, Pusat Donor Sumsum Tulang Tzu Chi berkembang dan diresmikan menjadi Pusat Stem Sel Sumsum Tulang Tzu Chi. Bank darah tali pusat Tzu Chi pun resmi dibentuk. Rumah Sakit Tzu Chi Hualien berhasil melakukan transplatansi stem sel yang bersumber dari sel darah tepi pertama bagi orang dewasa.
≡ Tahun 1994 – Silent Mentor.
Akademi Kedokteran Tzu Chi memulai tahun ajarannya. Master Cheng Yen mengharapkan para calon dokter ini kelak memiliki ketrampilan bidang akademis dan memiliki budi pekerti luhur. Akademi ini juga mendorong mahasiswa agar lebih banyak ikut dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Pada saat bersamaan, proses penanganan yang manusiawi dan penuh hormat terhadap “Silent Mentor” (pendonor jasad untuk praktik bedah) oleh pihak akademi, serta imbauan Master Cheng Yen bahwa “kita hanya memiliki hak pakai, namun tidak memiliki hak milik atas kehidupan”, telah membangkitkan semangat masyarakat Taiwan untuk mendonorkan jasadnya setelah meninggal.
≡ Tahun 1996 – Tiga peringatan Hari Besar Tzu Chi.
Tanggal 07 Mei 1996, Master Cheng Yen menetapkan hari minggu kedua bulan Mei setiap tahunnya sebagai Hari Ibu, Hari Waisak, Hari Tzu Chi Sedunia.
Untuk membuat lebih banyak orang mengenal tiga hari besar yang sangat istimewa dan bermakna membalas budi luhur Buddha, orang tua, dan semua makhluk, dan sekaligus agar dapat menggarap 3 ladang berkah yang besar, yaitu “ladang kehormatan, ladang budi luhur, dan ladang belas kasih”, sejak 2007 Tzu Chi menyelenggarakan perayaan Waisak di Chiang Kai-Shek Memorial Hall, Taipei. Perayaan ini menarik perhatian lebih dari 20.000 pengunjung. Selain itu, insan Tzu Chi di 24 negara, 242 lokasi di dunia, juga mengadakan perayaan Waisak. Secara keseluruhan, jumlah peserta mencapai 250.000 orang.
≡ Tahun 1996 – Pengembangan komunitas dan kerelawanan.
Topan Herb menyebabkan banjir terbesar selama 30 tahun terakhir di Taiwan. Berpedoman pada prinsip “datang paling awal, pulang paling akhir”, Tzu Chi menggerakkan puluhan ribu orang untuk terjun dalam kegiatan pemberian bantuan. Master Cheng Yen juga menggerakan konsep “Relawan Komunitas” pada tanggal 22 Desember 1996, dimana insan Tzu Chi dikelompokkan berdasarkan tempat tinggalnya. Tujuan agar semangat saling menjaga dan saling membantu di antara sesama tetangga dapat terwujud.
≡ Tahun 1997 – Pengembangan misi Tzu Chi.
Tanggal 06 April 1997, Master Cheng Yen menetapkan pengembangan 4 misi menjadi 8 Jejak Dharma. Dari Misi Amal, Misi Kesehatan, Misi Pendidikan, dan Misi Budaya berkembang dan bertambah 4 lagi yaitu : Bantuan International, Donor Sumsum Tulang, Misi Pelestarian Lingkungan, dan Relawan Komunitas.
≡ Tahun 1998 – DAAI TV & Majalah Rhythms Monthly.
Tanggal 01 Januari 1998, DAAI TV mulai mengudara di Taiwan. Sebuah stasiun televisi dengan motto mengalirkan aliran jernih mengelilingi seluruh dunia. Sebelumnya, program mengenai kegiatan Tzu Chi sudah ditayangkan sejak 01 Desember 1995 di Channel U2 (Taiwan) dengan judul “Dunia Tzu Chi” dengan durasi 1 jam setiap hari. Sejak DAAI TV berdiri, seluruh dana hasil penjualan daur ulang yang mana sebelumnya dipakai untuk amal, dialihkan untuk DAAI TV. DAAI TV adalah sebuah stasiun TV yang tidak menerima penghasilan dari iklan komersil.
Majalah Rhythms Monthly mulai terbit dan beredar. Di tahun itu juga, Master Cheng Yen menerima “Penghargaan Hak Asasi Manusia” dari Organisasi Bangsa dan Rakyat yang Tidak Terwakili (The Unrepresented Nations and People Organization / UNPO), sebagai penghargaan terhadap kegiatan bantuan kemanusiaan Tzu Chi di dunia international selama ini.
≡ Tahun 2004 – Budaya Humanis Tzu Chi.
Melihat kondisi masyarakat dewasa ini yang telah terjangkit berbagai penyakit moral seperti halnya fenomena para remaja yang suka menindik hidung dan lidah, berpakaian tidak rapi dan tidak pantas, tren yang justru dianggap modern dalam berbudaya, Master Cheng Yen mengganti Misi Budaya menjadi Misi Budaya Humanis dan mendorong semangat insan Tzu Chi untuk membangun “teladan moralitas” agar jejak langkah umat manusia yang benar, bajik, dan indah dapat menjadi sejarah yang harum sepanjang masa.
≡ Tahun 2009 – 20 tahun Buku Kata Perenungan.
Penerbitan Buku “Kata Perenungan” genap berusia 20 tahun. Buku berisi kumpulan ajaran Master ini telah menyatukan keyakinan agama, keluarga dan tata-krama hubungan kekeluargaan, membuat orang menemukan kembali keyakinan atas nilai-nilai sebuah tradisi, dan juga membangun kembali jembatan antar sesama manusia, mempengaruhi hati manusia ke arah positif. Buku ini telah diterbitkan lebih dari 3.450.000 buah. Dewasa ini, selain terbitan berbahasa Mandarin tradisional dan yang disederhanakan, buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Perancis, Spanyol, Indonesia, Thailand, Vietnam, Korea dan 10 bahasa lainnya. Buku perenungan ini sudah didistribusikan ke seluruh dunia.
≡ Tahun 2010 – Penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Economic and Social Council (ECOSOC) menganugerahi Status Konsultatif terhadap Yayasan Buddha Tzu Chi, sebuah pengakuan dari organisasi amal dan medis di seluruh dunia. ECOSOC merupakan salah satu dari enam badan utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penghargaan ini diterima oleh Ketua Yayasan Tzu Chi New York yaitu Bapak Zhang Zongyi mewakili Master Cheng Yen.