Sanubari Teduh

[ST-013] Air Jernih Dapat Memantulkan Cahaya Bulan

Saudara se-Dharma sekalian, Setiap hari di waktu yang sama, kita berkumpul di sini dan merasakan ketenangan, merasakan berkah kedamaian dalam kehidupan. Namun, rasa tenang dan damai ini apakah sepanjang hari dapat terus dipertahankan? Sulit. Perasaan terus berubah ketika kita menghadapi kondisi luar.

Pikiran kita ini, kemarin seharian bekerja keras menghadapi banyak orang dan masalah. Lalu semalam selama beberapa waktu telah beristirahat sejenak. Baik karena bekerja keras maupun karena beban mental, kita baru dapat beristirahat pada malam hari. Bagi praktisi spiritual, ketika tubuh dan batin dapat beristirahat, itu sudah cukup. Istirahat selama beberapa jam membuat kita dapat menenangkan batin yang diliputi kerisauan menjadi kembali jernih dan murni.

Jadi, ketika bangun di pagi hari, kita mengikuti kebaktian pagi dengan tulus, dan juga bermeditasi untuk menyelaraskan tubuh dan batin. Maka, perasaan kita saat ini menjadi sangat damai dan terasa tenteram serta bahagia. Namun, ada pula orang yang setelah menghadapi masalah kemarin, meski telah tidur di malam hari, hatinya tetap tak dapat tenang dan terus bergejolak.

Saat bangun di pagi hari, ia tak dapat melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan kemarin maupun hal-hal yang dikhawatirkan kemarin. Begitu membuka mata, ia langsung teringat hal-hal yang telah terjadi. Batin seperti ini bagaikan air danau yang mudah bergejolak ketika tertiup angin. Air danau itu tak pernah tenang. Inilah noda batin. Makhluk awam terus diliputi noda batin, tak mampu merasa tenang, dan sering berada dalam kerisauan, tak mampu mencapai kondisi hati yang seperti air tenang memantulkan cahaya bulan, tak bisa mencapai kondisi tersebut.

Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar melatih batin kita agar senantiasa tenang. Hati sungguh bagaikan air, namun air ini hendaknya adalah air yang tenang. Jika hati kita tenang, dengan sendirinya pikiran kita menjadi terang dan juga jernih. Karena itu, ada ungkapan yang mengatakan, “Ribuan sungai memantulkan ribuan cahaya bulan.” Inilah keadaan ketika air tenang dan tidak bergejolak. Air itu akan memantulkan kejernihan. Hati bagaikan air di danau. Jika dapat tenang tak beriak, tidak bergejolak akibat noda dan kegelapan batin, maka bagaikan bayangan bulan yang terpantul pada permukaan danau, segala hal akan dapat terlihat jelas. Namun, bagi makhluk awam tidaklah mudah untuk menenangkan hati. Karenanya, dikatakan bahwa semua makhluk diliputi kebodohan.

Jadi sebagai praktisi Buddhis, kita mempelajari bahwa karena kebodohan, timbul ketamakan, tamak akan kecantikan atau nafsu sesaat. Jadi dikatakan, makhluk awam tak tahu bertobat, tak bertobat meski telah melakukan kesalahan, hingga sering bergaul dengan teman yang buruk. Tidak adanya niat untuk bertobat dikarenakan masih adanya kekeruhan. Dan dalam keadaan seperti ini, segala sesuatu yang kita lakukan semakin membawa pada ketersesatan, kegelapan batin, dan juga pandangan keliru. Ini semua disebabkan karena kita memilih terus melakukan kesalahan. Sesungguhnya batin makhluk awam diliputi kegelapan sejak masa tanpa awal. Sampai terlahir di kehidupan ini pun, ketika kembali bersentuhan dengan dunia luar, kita terus-menerus menciptakan kehidupan yang semakin diliputi kegelapan. “Mabuk dalam minuman keras, tidak memiliki kebijaksanaan.” Dalam batin makhluk awam sering timbul ketamakan dan kemelekatan akibat kebodohan. Mereka pun tak memiliki niat bertobat, bagai air yang keruh, yang tak dapat memantulkan bayangan bulan. Saya melihat sebuah berita, ada sepasang pria dan wanita yang menenggak minuman keras hingga mabuk dan ingin merampok para tunawisma di jalan. Tunawisma itu sendiri tidak memiliki tempat tinggal dan tak memiliki apa pun. Namun, pria dan wanita yang mabuk ini malah mengancam para tunawisma itu, meminta mereka menyerahkan uang yang ada. Tetapi, pria dan wanita itu tak membawa senjata, tidak memegang pisau, senjata api, maupun tongkat.

Mereka tak membawa apa pun, hanya mengepalkan tangan dan mengancam orang agar memberikan uang pada mereka. Para tunawisma berkata, “Kami tak punya apa-apa.” “Mengapa kalian mengancam kami?” Tentu saja mereka tak dapat memberikan uang. Pria dan wanita itu mengancam, “Jika kalian tidak mau berikan, kami akan menulari kalian.” “Apa yang akan kalian tularkan?” “SARS.” Ketika orang-orang mendengar kata SARS, mereka langsung lari berceraian dan melapor kepada polisi. Polisi pun datang dan menemukan bahwa mereka hanya mabuk. Sungguh tak tahu harus tertawa atau marah, mereka pun akhirnya dibawa ke kantor polisi. Setelah diinterogasi, ternyata mereka adalah sepasang suami istri yang kehilangan pekerjaan.

Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, mereka merasa galau, lalu minum hingga mabuk dan mengancam orang. Kehidupan seperti ini sungguh patut dikasihani. Lihatlah, mengapa orang bisa kehilangan pekerjaan? Seharusnya mereka mengintrospeksi diri, apakah tak memiliki keahlian atau mungkin tidak sungguh-sungguh belajar untuk meningkatkan keahlian. Mungkin juga karena tidak memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Saat ini perekonomian sedang tidak baik, terutama kondisi ekonomi global. Jika kita tak memiliki kelebihan, maka sangat sulit untuk memperoleh pekerjaan. Karena mencari pekerjaan itu sulit, kita hendaknya lebih menyayangi diri dan berhemat bersama anggota masyarakat yang lain melewati masa-masa sulit ini.

Namun, mereka yang gelap batin dan kurang arif, merasa gelisah ketika tak memperoleh pekerjaan. Karena gelisah, mereka dapat bertindak tak bijak. Seperti sebuah berita yang beredar di luar negeri, pekerja tambang minyak berupah rendah melakukan mogok massal di sebuah penambangan minyak lepas pantai. Karena terjadi mogok massal di dermaga, ratusan pekerja di tengah laut yang berasal dari berbagai negara terjebak. Karena adanya mogok massal di dermaga, kapal para pekerja lepas pantai tak dapat menepi. Kondisi ratusan orang di tengah laut itu sangatlah kritis, karena mereka tak dapat menepi akibat adanya mogok massal ini. Peristiwa ini berdampak serius pada perekonomian setempat dan mengancam jiwa para pekerja di lepas pantai.

Lihat, inilah tindakan manusia. Di dunia ini, pasti akan ada masa-masa yang sulit. Namun, karena kegelapan batin, tindakan yang dilakukan manusia mengakibatkan masyarakat semakin resah. Ini yang disebut tidak memiliki kebijaksanaan, hati yang kehilangan kebijaksanaannya. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar sewaktu menghadapi kesulitan, sikap apa yang harus diambil untuk dapat mengatasinya. Kebijaksanaan.

Kebijaksanaan harus dimiliki setiap orang, dan juga merupakan sifat dasar semua orang. Hanya saja makhluk awam terus diliputi kegelapan batin, sehingga kebijaksanaan ini tak dapat memancar. Setiap orang, pada dasarnya memiliki kebijaksanaan di dalam batinnya. Hanya saja ia tertutup oleh kegelapan batin sehingga tak dapat memancar. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika hati berada dalam ketenangan, kita akan dapat melihat segala hal dengan jernih, bagai ribuan sungai memantulkan ribuan bulan. Ke mana pun kita pergi, di langit hanya terdapat satu bulan. Jika Anda meletakkan air jernih di mana pun, bayangan bulan akan tercermin di sana.

Demikian pula, jika kita mengaduk airnya hingga keruh, meski di langit terdapat bulan yang bersinar terang, bayangannya tak akan tercermin di air tersebut. Sama halnya di dunia ini, banyak harapan yang tak terbatas di hadapan kita. Jika batin kita diliputi kekacauan, betapa pun cerahnya harapan di hadapan kita, kita tak akan dapat mengetahuinya. Kita diliputi kegelapan. Karenanya, kita harus bersungguh-sungguh menenangkan air dalam batin ini, barulah kita dapat melihat kondisi dengan jelas. Jika tidak, kebijaksanaan yang kita miliki tak akan dapat memancar. Dengan demikian,  kita akan terus diliputi kegelapan batin dan kebodohan sebagai makhluk awam. Kegelapan batin ini bagaikan awan yang menutupi cahaya mentari maupun rembulan.

Sebelum awan merebak, mentari atau rembulan tak akan terlihat. Demikian pula dengan batin kita. “Tidak memiliki kebijaksanaan, melakukan pelanggaran dan menyalahi disiplin moral bersama mereka yang gelap batin.” Kita sering bersama mereka yang gelap batin melakukan pelanggaran dan menyalahi disiplin moral.

Seperti kasus yang kita bahas tadi, mogok massal para pekerja di luar negeri ini juga merupakan kegelapan batin. Mencari pekerjaan dan penghasilan amatlah sulit, upah yang diperoleh pun sedikit. Namun, jika semua orang bekerja lebih keras, sehingga masyarakat menjadi aman dan tenteram, maka pekerjaan pun menjadi lancar, setiap orang hidup dengan tenang, dan setiap negara dapat bekerja sama dengan baik. Dengan begitu, tak perlu takut tak ada pekerjaan. Jika kebijaksanaan semua orang dapat terbuka, bukankah segala hal dapat menjadi lancar? Kegelapan batin membuat masa depan dan harapan kita terhalang. Pada dasarnya, dalam batin kita terkandung kearifan seterang matahari dan bulan, hanya saja ia tertutup oleh awan gelap. Karena itulah, kita sering berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran dan tidak sesuai tata susila. Ini semua disebut pelanggaran.

Jika dapat selaras dengan prinsip kebenaran, kehidupan manusia dengan sendirinya akan tenteram. Melakukan pelanggaran berarti melawan sesuatu yang seharusnya diikuti. Dengan demikian, berarti tak mematuhi peraturan dan menyalahi disiplin moral. Menyalahi disiplin moral artinya segala tata susila dan moralitas manusia tidak kita patuhi. Kita bukan hanya harus menyayangi diri sendiri, tetapi juga harus mencintai orang lain. Kita harus menghormati orang yang lebih tua, dan menjaga tata susila. Kita harus membangkitkan cinta kasih, mencintai bumi beserta isinya. Terlebih lagi, kita harus menyayangi segala bentuk kehidupan.

Namun, makhluk awam tak memiliki rasa hormat dan cinta kasih. Ini merupakan suatu pelanggaran. Karena itu, mereka menyalahi banyak disiplin moral. Karena tak memiliki rasa hormat dan cinta, mereka membunuh makhluk hidup semata-mata untuk kesenangan sesaat. Mereka tak mau melepas kemelekatan, tak dapat mengendalikan dirinya sendiri, dan terus tenggelam dalam ketamakan. Demi kepuasan mulut sesaat, mereka membunuh banyak makhluk hidup. Dalam batin manusia pada dasarnya terkandung kebijaksanaan seterang mentari dan rembulan. Namun karena tertutupi awan kegelapan batin, manusia tak mematuhi tata susila dan tak memegang teguh aturan serta disiplin moral, sehingga mencelakai makhluk lain. Demi mencukupi kebutuhan hidup, demi kesenangan sesaat, manusia tidak memedulikan apa pun dan menutup sifat hakikinya sendiri.

Dengan kejam mereka membunuh makhluk hidup dengan berbagai cara. Kita lihat orang yang beternak ayam, babi, atau yang lainnya. Para peternak ini beternak segala jenis hewan maupun unggas tak lain untuk memenuhi permintaan manusia. Karenanya, digunakanlah berbagai cara untuk meningkatkan produksi ternak. Lahan yang digunakan pun berkondisi buruk. Inilah salah satu bentuk penganiayaan makhluk. Akhirnya, hewan-hewan itu pun disembelih. Hal ini sesungguhnya sangat menyedihkan. Manusia disebut sebagai yang terpandai di antara semua makhluk, namun malah melukai makhluk lain. Inilah yang paling menyedihkan dalam kehidupan. Manusia tidak menghormati sesama dan tidak menyayangi kehidupan. Manusia juga disebut “makhluk”, sama seperti yang lainnya. Kita harus memahami bahwa pelanggaran disiplin moral bermula dari pikiran sebagai awal dari niat buruk hingga membawa pada terciptanya karma buruk.

Segala pelanggaran di masa lampau dan segala kejahatan di masa kini, saat ini setulus hati aku bertobat atas semuanya. “Segala pelanggaran di masa lampau dan segala kejahatan di masa kini.” “Segala pelanggaran di masa lampau” adalah karma yang kita buat di kehidupan lampau. Dari kehidupan yang lampau, kita telah membawa banyak benih karma buruk.

Karma buruk ini terus-menerus terakumulasi. Kita tak membawa apa pun dari kehidupan lampau, kecuali kekuatan karma yang terus terakumulasi hingga ke kehidupan sekarang ini. Karenanya, kita membawa tabiat buruk. Benih karma yang dibawa dari masa lampau inilah yang disebut pelanggaran masa lampau, telah tertanam menjadi benih karma. “Segala kejahatan di masa kini” adalah berbuat jahat dan menciptakan karma buruk tanpa menyadari benih karma terus terakumulasi. Siapa yang berbuat jahat tetapi tak menciptakan karma? Setelah setiap orang berbuat jahat, benih karma buruk ini akan terus ada. Inilah kebodohan kita makhluk hidup di masa kini. Pelanggaran di masa lampau maupun kejahatan di masa kini, adakalanya kita lakukan sendiri, adakalanya kita mengajari orang lain melakukannya.

Jika dilakukan sendiri disebut pelanggaran. Jika mengajari orang lain disebut kejahatan. Pelanggaran yang kita buat sendiri, harus kita tanggung sendiri akibatnya. Apalagi jika mengajari orang lain melakukannya, akibatnya sangatlah mengerikan. Jadi, yang dilakukan sendiri disebut pelanggaran, mengajari orang lain melakukan disebut kejahatan. Karenanya, disebut “pelanggaran” dan “kejahatan”. Apakah kita menyadari perbuatan kita baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tanpa sengaja karena pengaruh orang? Jika kita melakukan kesalahan dengan sadar, karma yang diakibatkan akan sangat berat. Kita tak mungkin dapat menghindarinya. Kalaupun kita mungkin dapat menghindari jeratan hukum pada kehidupan ini, namun tidak mungkin menghindar pada kehidupan mendatang.

Pada kehidupan ini Anda dapat menghindar, itu pun karena pada kehidupan lampau selain melakukan kejahatan, Anda juga pernah berbuat sedikit karma baik. Jadi, berkah karma baik tersebut habis digunakan pada kehidupan ini, namun karma buruk yang dibuat di kehidupan ini akan terbawa ke kehidupan mendatang. Mungkin tempat lahirnya nanti, lingkungannya tidak sebaik saat ini. Ia mungkin terlahir di daerah terpencil, terbelakang, dan penuh penderitaan. Atau mungkin begitu dilahirkan, tubuh fisiknya tak sempurna, kondisi keluarganya penuh kesulitan, atau orang-orang di sekitarnya tidak berjodoh baik dengannya.

Ia mungkin mengalami banyak penderitaan dan berbagai kesulitan di kehidupan mendatang. Hal-hal tersebut mungkin terjadi. Manusia terlahir ke dunia dengan membawa benih karma yang terakumulasi dari kehidupan lampau. Pada kehidupan ini, manusia terus menciptakan karma yang baru. Karenanya, mereka terbelenggu oleh pelanggaran masa lampau dan kejahatan masa kini. Jangan berpikir bahwa hari ini kita hidup tenteram, dan tiada yang tahu kesalahan kita di masa lalu, atau berpikir, “Tahun ini kita baik-baik saja.” “Dalam hidup ini hingga usia lanjut saya telah berusia begitu lanjut, tak ada yang tahu perbuatanku di masa lalu.” Sesungguhnya, meski orang lain tidak tahu, hati nuraninya sendiri pasti mengetahuinya. Karenanya, kita harus tahu bertobat. Pertobatan adalah pemurnian.

Di masa lalu,  kita telah melakukan banyak kesalahan. Kita harus bertobat atas semua ini. Baik kesalahan yang dilakukan sendiri maupun mengajari orang lain melakukannya, jika sekarang kita menyadarinya, tak peduli apakah hidup kita tinggal sehari lagi ataupun tinggal sebulan lagi, kita harus segera bertobat selagi masih hidup. Dengan bertobat selama setahun, kita dapat membersihkan kesalahan setahun. Dengan bertobat selama sebulan, kita membersihkan kekeruhan untuk sebulan. Bahkan di hari terakhir kita hidup, jika timbul benih pertobatan dalam diri, kita masih berkesempatan untuk terselamatkan.

Jadi, dalam kehidupan ini, kita hendaknya segera bertobat. semakin awal kita bertobat, maka semakin awal pula kita dapat mengumpulkan benih pertobatan yang murni. Karma buruk dan kegelapan batin kita pun dapat lebih cepat terkikis.

 

Untuk itu, mulai hari ini kita hendaknya menyadari untuk tulus bertobat atas segala kesalahan kita. Kita harus dengan senang hati bertobat atas kesalahan kita di masa lalu maupun kesalahan di masa kini. Kita harus sungguh-sungguh bertobat dengan tulus dari lubuk hati terdalam. Bertobat berarti mengakui, “Saya salah.” “Saya mengaku salah.” Kesalahan kita kemarin, kesalahan kita hari ini, maupun perkataan salah yang baru terucap, semua merupakan kesalahan. Jika kita dapat segera mengakuinya, inilah yang disebut bertobat. Yang disebut “pertobatan adalah pemurnian” yaitu segera bertobat mengakui kesalahan dengan ketulusan dari lubuk hati terdalam sehingga mengakumulasi benih kemurnian. Pertobatan dapat mengikis kegelapan batin.

Jadi, Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang terpenting adalah bertobat. Saya sering berkata, Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Kita makhluk awam diliputi kegelapan batin dan tidak bijaksana. Sesungguhnya, bukan tak memiliki kebijaksanaan. Ada, pada dasarnya kita memiliki kebijaksanaan, hanya saja ia tertutup oleh kegelapan batin sehingga tak dapat memancar. Kita harus yakin bahwa kita terlahir membawa banyak karma masa lalu, dan dalam kehidupan ini, baik sengaja maupun tidak, kita masih terus menciptakan karma buruk.

Karenanya, kita harus lebih mawas diri, segeralah perbaiki diri bila melakukan kesalahan, segeralah bertobat mengakui kesalahan. Dengan demikian, kesalahan ini baru akan terkikis perlahan-lahan. Saudara sekalian, dengan mengikis sebagian rintangan karma, berarti menumbuhkan sedikit kebijaksanaan.

Untuk itu, harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment