[ST-019] 法髓入心耕福田 Menyerap Intisari Dharma dan menggarap Ladang Berkah
Saudara se-Dharma sekalian, tekad kita untuk mendalami ajaran Buddha hendaknya dipelihara dengan baik karena pikiran terus berubah-ubah. Jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik, maka kebenaran yang akan kita peroleh bersifat mutlak dan abadi. Kebenaran yang abadi ini haruslah dijaga dan dipelihara. Jika kita tidak memiliki keteguhan tekad dan tidak memiliki ketulusan, meski telah memperoleh kebenaran abadi, kemurnian kita akan segera tertutup kembali.
Maka, sebagai praktisi Buddhis, sangatlah penting untuk menjaga pikiran. Kita telah membahas sebelumnya bahwa manusia diliputi oleh noda batin. Sering kali, niat baik yang timbul segera tertutupi noda batin. Setiap kali noda batin muncul, setiap kali itu pula batin kita tercemar. Jadi, kita perlu bertobat setiap hari.
Setiap saat, pikiran kita akan bersentuhan dengan dunia luar. Baik ketika menghadapi masalah di luar maupun dalam keluarga, jika pikiran kita melekat, noda batin akan terus bertambah. Jadi, kita harus bertobat setiap saat. Untuk bertobat, kita harus memiliki hati yang murni, barulah memiliki rasa hormat kepada Tiga Permata. Jika kita memberi penghormatan dengan hati yang penuh noda, kita tidak akan dapat bertobat dengan tulus. Kedua hal ini pada dasarnya saling berkaitan. Bertobat haruslah dengan hati yang murni.
Setelah bertobat, kita harus menjaga ketulusandan rasa hormat. Meski kekuatan Tiga Permata sangat besar, jika pikiran kita tidak mendukung, tetap tak akan berpengaruh. Maka, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, Tiga Permata merupakan mitra yang baik dan ladang berkah bagi semua makhluk. Sebagai manusia, jika kita dapat menggarap ladang batin dengan baik dan terus menaburkan benih kebajikan, maka inilah ladang berkah. Setiap orang memiliki ladang di dalam batin, hanya saja kita tak memahami cara menggarapnya, sehingga kita menggunakan benih yang buruk dan merusak kualitas dari ladang tersebut.
Bertobat dengan hati yang murni, barulah bisa memelihara keyakinan yang tulus. Demikian barulah Dharma akan meresap ke dalam batin dan kita dapat menggarap ladang berkah dengan baik. Buddha datang ke dunia untuk menunjukkan bahwa hakikat hati kita adalah sama dengan-Nya. Buddha memiliki sebidang ladang berkah yang suci, begitu pula dengan kita. Buddha mengajarkan pada kita cara untuk menggarap lahan batin kita, sampai akhirnya menumbuhkan hutan kebajikan.
Demikian pula, jika kita mengikuti cara yang Buddha ajarkan dan menanam benih-benih yang baik, benih-benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon dan kelak juga akan menjadi hutan kebajikan. Inilah ajaran Buddha yang membuka selubung noda batin kita selapis demi selapis, dan kemudian memberi petunjuk kepada kita sehingga kita tahu bahwa ternyata kita juga memiliki sebidang ladang berkah. Bagaimana cara menggarap ladang berkah ini? Buddha dengan sungguh-sungguh membimbing dan mengajarkan pada kita cara meningkatkan kualitas sebidang tanah ini. Setelah kualitas tanah membaik, Buddha mengajarkan benih apa yang harus ditanam. Inilah yang disebut “memberi petunjuk”.
Sebagaimana sering kita katakan, “Mohon Guru memberi petunjuk bagi kita. Mohon Buddha memberi petunjuk.” Ini berarti membuka dan membangkitkan, agar semua orang menyadari bahwa ternyata kita semua memiliki ladang berkah yang sama dengan Buddha di dalam batin. Buddha membabarkan Dharma satu demi satu agar kita memahaminya. Inilah yang disebut “memberi petunjuk”. Setelah mendapatkan petunjuk, apakah diri kita sudah tercerahkan? Petunjuk berasal dari Buddha, Dharma, Sangha, namun apakah diri kita sendiri sudah tercerahkan?
Jika kita telah tercerahkan, kita baru dapat menyelami, masuk ke dalam pintu kebenaran yang abadi. Jadi, pikiran kita harus terhubung dengan Dharma. Jika tidak, meski Buddha, Dharma, dan Sangha terus memberi petunjuk kepada kita, kita tetap tak dapat menerimanya dan tak mampu merealisasikannya. Kita sungguh tidak berdaya.
Oleh sebab itu, Buddha dengan penuh welas asih memerhatikan semua makhluk. Ini menunjukkan bahwa Buddha sangat berharap semua makhluk dapat memperoleh pembebasan. Namun, sangat disayangkan, makhluk hidup diliputi kebodohan. Buddha terus-menerus kembali dan tidak meninggalkan Dunia Saha. Tetapi, makhluk hidup tetap tidak mau berubah. Maka, dengan cinta dan welas asih-Nya, Buddha mengamati semua makhluk. Beliau pun tak dapat melakukan apa-apa. Sebelumnya kita telah membahas bahwa Tiga Permata adalah mitra yang baik dan ladang berkah bagi semua makhluk. Meski Tiga Permata begitu dekat dengan kita, tetapi terasa sangat jauh.
Walaupun sangat dekat dan dapat terjangkau, kita malah membuat jarak yang sangat jauh dengan-Nya. Jadi, baik sebagai mitra maupun sebagai guru, jika kita tidak dapat menerima ajaran-Nya, Tiga Permata pun tak mampu berbuat apa-apa. Jadi, sebagai manusia, jika kita hendak menanam ladang berkah, kita harus tulus berinteraksi dengan Dharma. Ini disebut ajaran yang mengena. Kita harus memiliki interaksi yang tulus dengan Dharma.
Mereka yang kembali dan berlindung kepada-Nya akan mengikis karma buruk dan menumbuhkan berkah yang tak terhingga. Mereka yang mempraktikkannya akan terbebas dari penderitaan tumimbal lahir, serta memperoleh kebahagiaan dari pembebasan. Dikatakan bahwa mereka yang kembali dan berlindung kepada-Nya akan mengikis karma buruk. “Kembali dan berlindung” di sini berarti hati kita harus tulus mengambil perlindungan.
Mengenai perlindungan, dalam bahasa mandarin, kata “berlindung” (gui) terdiri atas huruf “putih” (bai) dan “kembali” (fan). Artinya, dari hitam kembali menjadi putih. Namun, pengertian “kembali” di sini adalah bagaikan seorang pengembara bodoh yang pergi meninggalkan rumah melawan orang tua dan keluarga, melawan orang tua dan keluarga, dan melakukan berbagai kejahatan di luar. Jika mengerti untuk bertobat, kita dapat segera menyadari kesalahan. Ada pepatah mengatakan, “Kepulangan anak yang membangkang lebih berharga dari emas.” Maksudnya adalah jika berniat mengubah diri, kita harus lebih dulu memperbaiki kesalahan, baru dapat kembali pada yang benar.
Maka dalam teks dikatakan, “Mereka yang kembali…” Jika memang kita dapat kembali, hendaknya kita kembali secara utuh. Jangan kembali lalu “keluar” lagi dan mengulangi perbuatan buruk, lalu setelah kehilangan arah, barulah berkeinginan untuk kembali lagi. Jika terus demikian, maka selamanya orang ini tak akan berubah dan tak akan memperoleh pencapaian. Demikian pula halnya, karena kita adalah praktisi Buddhis, kita harus berlindung dengan sepenuh hati. Hati kita hendaknya tetap selaras dengan ajaran Buddha. Kita tahu bahwa sejak masa tanpa awal, sebagai makhluk hidup kita telah menimbun banyak karma buruk. Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat. Segala sebab dan kondisi pasti akan mendatangkan akibat. Berlindung pada Buddha Dharma bukan berarti bahwa setelah menyatakan perlindungan, maka kita pasti akan terselamatkan, dan dapat bertindak semaunya, atau segala keinginan kita akan terkabul; ingin sehat maka akan sehat, ingin harta maka dapat harta, meminta anak maka dapat anak, ingin kedudukan maka dapat kedudukan, bukan seperti itu.
Jika Anda mengharapkan kekayaan, kesehatan, anak, dan kedudukan, namun di kehidupan lampau Anda tidak menanam benih ini dan tidak menghimpun berkah, bagaimana pun Anda memohon tak akan berguna. Kecuali, mulai saat ini kita segera memahaminya, lalu segera menciptakan berkah. Setelah menanam benih kebajikan ini, barulah kita dapat memetik hasilnya. Jadi, kita harus paham bahwa saat ini, kejadian hari ini adalah buah dari perbuatan masa lampau. Penderitaan yang kita alami pada kehidupan ini adalah akibat dari perbuatan kita di masa lalu.
Jadi, hukum sebab dan akibat harus kita pahami dengan jelas. Janganlah berkata, “Saya telah berlindung, mengapa penyakit saya tidak juga sembuh?” “Hari ini saya telah berlindung, mengapa saya tidak panjang umur?” “Hari ini saya telah berlindung, sekarang saya ingin membeli lotre. Setelah saya berlindung, mengapa masih tidak menang?” “Mengapa tidak menang berjudi?” Tidak seperti itu. Jika kita berlindung dengan pemikiran demikian, ini tidaklah sesuai dengan Dharma dan keliru. Ini tidaklah benar.
Sesungguhnya, maksud dari berlindung akan mengikis karma buruk adalah kita menerima buah karma secara sukarela. Jika dapat menerimanya dengan sukarela, maka batin kita tak akan merasa tersiksa karenanya. Kita tak akan terjerumus pada pandangan salah, tak akan menciptakan lebih banyak karma buruk. Hal inilah yang terpenting. Sebagaimana benih yang ditabur, demikianlah buah yang akan dituai. Hati kita hendaknya kembali pada kebenaran dan mengerti untuk menerima buah karma dengan ikhlas; tidak lagi mengalami siksaaan batin karenanya serta tidak lagi menciptakan karma buruk baru. Di ruang rawat paliatif, ada seorang nenek. Ia bukan beragama Buddha, ia memiliki keyakinan lain. Ia pun sangat taat. Ia memiliki banyak anak, enam anak laki-laki dan perempuan. Ketika ia mulai sakit, anak-anak ini sangat berbakti, merawat dan menjaganya.
Lama-kelamaan, mereka pun berubah. Jalinan kasih lambat laun mulai memudar. Sesungguhnya, ia juga beragama, namun ia juga merasa sangat kesal. Ia tetap berdoa, Tetapi, biarpun terus berdoa, anak-anaknya tak kunjung datang. Pada suatu waktu, ia sempat patah semangat. Berselang beberapa lama, karena di rumah sakit ada begitu banyak dokter yang baik dan juga relawan, ia pun mulai dapat menerima. Ia membuka hatinya. Setiap hari ia terlihat gembira. “Bergembiralah! Salam sejahtera!” Kepada setiap orang, baik perawat, relawan, maupun dokter, ia akan menyapa demikian. setiap kali bertemu muka dengan orang lain kepada setiap orang yang ditemuinya, ia menyapa, “Bergembiralah! Salam sejahtera!”
Mulanya ia merasa sangat tertekan, tidak suka berbicara, membuat orang merasakan adanya jarak. Namun, saat ia telah dapat menerima keadaan, berpikiran terbuka, dan tiada lagi tuntutan, ia gembira bertemu dengan orang lain dan mendoakan siapa saja yang ditemuinya. Ia membuat setiap orang yang ditemuinya gembira. Sekarang ia tak lagi memikirkan apakah anak-anaknya akan datang menjenguknya. Suatu kali relawan kita berkata kepadanya, “Nek, jika Nenek menjaga fisik dengan baik, Nenek dapat segera pulang.” “Hendak pulang ke mana?” “Di sinilah rumah saya.” “Saya sudah pulang.” “Di sinilah rumah saya.” Ia telah menganggap RS seperti rumahnya sendiri. Sebelum hatinya terbuka, ia terus menyalahkan anaknya tidak menjenguknya dan tidak membawanya pulang.
Setelah hatinya terbuka, ia berkata, “Apa bedanya di sini dengan di rumah?” “Di sinilah rumah saya.” Di sinilah tempat hatinya bernaung. Ada relawan yang bertanya kepadanya, “Nek, belakangan ini adakah anak-anak datang menjengukmu?” Ia menjawab, “Ada, setiap hari datang menjenguk.” “Bahkan sekarang ada 6 yang berdiri di sini.” Siapakah keenam orang itu? Ada dokter, perawat, dan relawan. Semuanya berjumlah enam orang, mereka berdiri di hadapannya, Ia telah menganggap semua orang di dunia ini seperti anaknya sendiri. Untuk apa hanya melekat dengan anak kandung? Anak yang ia besarkan dan rawat sendiri dengan banyak pengorbanan, apakah hanya mereka yang disebut anak-anaknya? Tidak perlu begitu.
Sesungguhnya, semua orang di dunia dari segala usia bisa menjadi anaknya. Ia juga menganggap mereka sebagai anaknya. “Pulang atau tidak sama saja.” “Di sinilah tempat saya bernaung sekarang.” “Di sinilah rumah saya sekarang.” Lihatlah nenek ini. Dulu ia selalu dihinggapi kerisauan. Ia pun merupakan orang yang beragama dan telah dibaptis. Artinya sama dengan mengambil perlindungan. Ia juga berdoa, berdoa dengan tulus, “Semoga anak saya datang menjenguk.” “Bisakah saya lekas sembuh?” “Bisakah saya lebih cepat pulang ke rumah?”
Selain ia tak berhenti berdoa, batinnya juga penuh pertentangan dan merasa tidak bahagia. Ia menjaga jarak dengan orang lain. Lihatlah, ketika kerisauan hilang, ia menjadi bahagia dan gembira. Orang-orang yang menyayanginya, merawatnya, mendampinginya, tidak ada bedanya dengan anak sendiri. Ia merasa gembira. Meski akhirnya meninggal dunia, ia telah melalui sepotong waktu yang membahagiakan dan menggembirakan. Di hari-hari terakhirnya, orang-orang tetap menjenguknya. Ia mengucapkan selamat tinggal dengan gembira. mereka mengucap salam perpisahan dengan gembira, Berselang 2 hari kemudian, ia pun meninggal dengan tenang. Dari sini dapat kita lihat bahwa berlindung akan mengikis karma buruk.
Di mana letaknya akar keburukan ini? Ada dalam hati kita masing-masing. Karena karma buruk kita telah berbuah, kita harus menerimanya dengan sukacita. Jangan membungkus benih karma ini dengan noda batin hingga ia terus tumbuh dan menjadi semakin besar. Maka, sebagai praktisi Buddhis, kita benar-benar harus memiliki pandangan yang melampaui hal-hal duniawi.
Kita juga mendengar berita, di RS Tzu Chi Dalin ada seorang pahlawan kehidupan yang berani. Usianya masih terbilang muda, tidak seperti nenek tadi yang berumur 70–80-an. Ia baru berusia 40–50-an, masih tergolong usia produktif. Waktu muda, ia sangat giat bekerja, memikul tanggung jawab, dan membesarkan anak. Meski dalam kondisi sakit, ia hanya memikirkan keluarga dan anak-anaknya, sehingga ia tidak menghiraukan penyakitnya, sampai didiagnosis menderita kanker payudara.
Tetapi, ibu yang satu ini sungguh seorang pemberani. Setelah mengetahui kondisinya, meski sudah agak terlambat menjalani pengobatan, ia menerima semuanya dengan rela. Tetapi, secara fisik ia berusaha sekuatnya untuk sembuh, meski secara batin ia menerima dengan ikhlas. Maka, karena berusaha sekuat mungkin, ia memutuskan untuk datang ke RS Tzu Chi Dalin untuk menjalani perawatan dengan terapi listrik dan kemoterapi.
Setelah beberapa waktu, lukanya melebar seperti kuncup bunga yang mekar, terlihat sangat menakutkan. Secara perlahan, berselang beberapa bulan, lukanya yang terbuka itu pun sembuh. Di masa-masa itu, seperti kita tahu, kemoterapi sangat menyakitkan. Bahkan ketika sel kankernya menjalar hingga ke paru-paru dan tulang, ia tidak putus asa dan tetap berusaha untuk sembuh. Dokter Jian, wakil kepala RS berkata, “Apakah Anda tahu sel kanker di bagian tulang sangat menyakitkan.” “Di sini tempat saraf-saraf berkumpul.” Tetapi, sedikit pun ia tidak merasa cemas, sama sekali tidak mengernyitkan dahi.
Ia sama sekali tidak mengerutkan kening. Setiap bertemu orang, ia selalu tersenyum. Ia sangat menyenangkan, terlihat cantik dengan dua lesung pipit di wajah, dan sangat berani. Ia bukan saja berani demi dirinya sendiri, melainkan juga menjadi seorang relawan. Dengan mengenakan pakaian pasien, ia mendatangi setiap kamar pasien dan memberi semangat kepada mereka. Bahkan, ia ikut membagi-bagikan makanan. Bahkan, bila ada sebagian pasien yang tidak mampu membersihkan diri sendiri, ia pun tidak segan-segan membantu. Menggosok kepala dan menyisir pun ia lakukan. Meski penyakitnya sudah sampai stadium akhir, ia tetap seorang pemberani.
Tak lama, dengan tersenyum ia mengucapkan selamat tinggal pada semua orang dan meninggal. Inilah yang tadi kita sebut “Berlindung akan melenyapkan benih karma”. bahwa benarlah bila kita berlindung, “Berlindung akan melenyapkan benih karma”. maka akan mengikis karma buruk. Jika kita dapat melakukannya, karma masa lampau akan terkikis, namun benih karma yang telah kita tanam tetap harus kita terima buahnya.
Namun, dari sisi batin, penderitaan akibat karma ini telah lenyap. Ia tak akan melakukan karma buruk lagi, jadi ia dapat menumbuhkan berkah tak terhingga. Banyak orang yang mendoakannya. Ia meninggal dengan membawa berkah tak terhingga. Mereka yang kembali dan berlindung kepada-Nya akan mengikis karma buruk dan menumbuhkan berkah yang tak terhingga. Mereka yang mempraktikkannya akan terbebas dari penderitaan tumimbal lahir, serta memperoleh kebahagiaan dari pembebasan.
Contohnya, nenek dan wanita pemberani yang kita bahas tadi. Cobalah renungkan, bukankah mereka telah terbebas dari penderitaan akan kelahiran dan kematian? Batin mereka telah mendapatkan kebahagiaan dari pembebasan. Inilah yang disebut pembebasan. Inilah yang dinamakan mengikis karma buruk. Dalam kehidupan manusia, pada saat-saat terakhirlah kita baru dapat mengetahui apakah diri kita benar-benar tulus, apakah batin kita benar-benar murni, dan apakah noda batin kita telah lenyap. Semua ini harus dilihat di saat-saat terakhir.
Saudara sekalian, saya harap saat kita semua masih bernapas, janganlah kita membiarkan niat dan pikiran kita lengah. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah setiap saat.