[ST-021] 心靈的境地 Kondisi Batin
Saudara se-Dharma sekalian, kita setiap hari selalu mengatakan, Dharma bagaikan air. Hati setiap orang hendaknya dibersihkan setiap hari. Untuk membersihkan hati, kita harus senantiasa mempraktikkan Dharma. Ajaran Buddha adalah air Dharma yang terjernih. Karena kita semua adalah makhluk awam dan batin kita diliputi noda, maka apa pun status sosial kita, kita pasti memiliki timbunan karma buruk. Sejak masa tanpa awal, kita terus-menerus membiarkan noda menutupi batin kita. Karena itu, setiap saat kita harus sungguh-sungguh membersihkan lahan batin kita. Aku yang bertobat saat ini, terlahir di dunia sejak masa tanpa awal, apa pun status sosialku, telah melakukan karma buruk yang tak terhingga. Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra. Mengenai tiga pintu karma dikatakan, “Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma.” Tiga pintu karma adalah tubuh, ucapan, dan pikiran. Dari ketiganya, dapat tercipta 10 kejahatan. Jika noda batin dikatakan tiada batas, maka karma buruk pun demikian, bagai butiran pasir dan debu di dunia. Lalu mengapa dikatakan hanya tiga jenis karma dan sepuluh kejahatan? Ini hanyalah pengkategorian. Maka, kita harus menyadari bahwa karma tercipta melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Ada tiga jenis karma melalui tubuh. Perbuatan/karma melalui tindakan, ucapan, pikiran menciptakan sepuluh kejahatan. Sepuluh kejahatan meliputi Karma buruk melalui tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila Karma buruk melalui ucapan: Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing Karma buruk melalui pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan. Mengenai pembunuhan, membunuh merupakan karma yang paling berat. Karena kegelapan batin manusia, demi kelangsungan hidupnya ia memakan makhluk lain yang bernyawa dan membunuh banyak makhluk hidup di bumi ini. Ini adalah akibat kegelapan batin Demi tubuh fisik ini, secara langsung maupun tidak langsung manusia terus-menerus melakukan tindak pembunuhandan berbagai pelanggaran bahkan sampai ke medan perang, Ini semua menciptakan karma kolektif. Saat karma kolektif tercipta dan mengakibatkan terjadinya bencana, maka dampaknya tidak terbayangkan.
Jadi, melalui tindakan membunuh, sejak masa tanpa awal entah berapa banyak karma buruk yang kita perbuat baik secara langsung maupun tidak. Tubuh kita adalah sarang kejahatan. Dengan tubuh ini, kita terus-menerus Dengan tubuh ini, kita terus-menerus menciptakan karma buruk yang tak terhingga. Tubuh dan mulut merupakan pintu karma. Lihatlah, selain membunuh, melalui tubuh kita juga melakukan pencurian dan perbuatan asusila. Pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila berawal dari pikiran. Perbuatan asusila membawa keresahan. Baik membunuh karena hawa nafsu, maupun karena asmara atau dendam, ini semua sangatlah menakutkan.
Tiga kejahatan dari karma melalui tubuh: Membunuh: Menghilangkan nyawa Mencuri: Mengambil benda yang tidak diberikan Berbuat asusila: Melakukan tindakan asusila Empat kejahatan dari karma melalui ucapan: – Bertutur kata kasar – Berdusta, – Berkata-kata kosong – Bergunjing Selanjutnya adalah karma melalui ucapan.
Ada empat jenis karma buruk melalui ucapan. Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, dan bergunjing. “Ucapan hanya di mulut saja, “Saya hanya salah bicara, apa ini juga termasuk karma buruk?” “Saya cuma bicara lebih keras sedikit, apa juga termasuk melakukan kesalahan?” “Saya hanya tidak sengaja menyampaikan perkataan yang ia sampaikan kepada orang lain, apa ini juga merupakan masalah yang serius?” “Meskipun di hati saya sangat marah dan sangat membencinya, tetapi saat berhadapan dengannya, saya selalu bertutur kata yang enak didengar, apa ini juga menciptakan karma buruk?” Ya. Mengenai kata-kata kasar, kata-kata kasar dapat melukai hati orang lain. Dalam hubungan antarsesama manusia mengapa timbul banyak masalah? Semua berawal dari tutur kata yang tidak baik. Perkataan kasar yang kita ucapkan bertujuan melukai orang lain, Ketika kita memaki orang lain, itu dapat membuat berbagai pekerjaan menjadi tak terselesaikan. Orang yang dimarahi merasa tidak senang, sedangkan yang memaki semakin emosi dan hatinya menjadi tidak tenang.
Selain menciptakan karma buruk bagi diri sendiri, juga melukai perasaan orang lain. Perkataan buruk merugikan kedua belah pihak dan membuat orang-orang berselisih. Setiap hari kita melihat siaran berita dan menyaksikan keadaan sekitar bahwa sekelompok orang selalu tak dapat mengerjakan tugas dengan baik karena mereka terus saling berselisih. Berkata kasar akan melukai diri sendiri dan orang lain. Terlebih lagi, berkata-kata kasar sama dengan terus mengutuk, mengutuk diri sendiri dan orang lain. Kehidupan seperti ini menyebabkan manusia tak dapat hidup harmonis dan masyarakat tidak tenteram. Lagi pula, ini sama saja dengan terus mengutuk orang lain dan diri sendiri. Jadi, ucapan buruk sungguh menakutkan. Sebagai praktisi Buddhis, kita bukan hanya tak boleh berkata kasar, melainkan harus bertutur lembut. Kita harus dengan tulus menghibur orang yang batinnya terluka.
Jadi, kita harus sungguh-sungguh melatih diri untuk tidak berkata kasar. Kita harus belajar bertutur kata lembut. Mengatakan hal yang tidak benar, berdusta, yang tiada dibilang ada, yang ada dibilang tiada, memutarbalikkan fakta, dengan demikian keadilan tak dapat ditegakkan. Jika berhubungan dengan orang seperti ini, mana yang benar dan mana yang salah menjadi tidak dapat dibedakan dengan jelas. Semua ini akibat tutur kata tidak benar. Kata-kata yang diucapkan orang ini apakah masih bisa dipercaya? Kata-kata yang mereka ucapkan, berapa persenkah yang dapat dipercaya? Dengan demikian, antarsesama tiada rasa saling pecaya dan integritas tak dapat dibangun. Jika kita menaruh curiga pada orang lain, orang lain pun merasakan hal yang sama terhadap kita. Dengan saling mencurigai, karakter kedua belah pihak akan menjadi rusak. Orang yang sering berdusta tak akan dipercaya orang lain. Orang lain tak dapat memercayai ucapannya. Berikutnya adalah bergunjing. Bergunjing berarti suka menyebarkan gosip. Bila ada orang merasa gundah di hati dan menganggap Anda sebagai sahabat sehingga ia menceritakan kegundahannya terhadap seseorang, kita hendaknya menjadi penengah dengan tutur kata yang penuh kasih agar kesalahpahaman di antara mereka dapat terselesaikan dengan baik dan hubungan saling percaya terbangun kembali. Inilah yang harus dilakukan.
Namun, tanpa berpikir panjang, kita kerap mengatakan lagi kepada orang lain tentang semua yang orang tadi ceritakan. Orang yang mendengar ini mungkin menyampaikan lagi pada orang yang dimaksud, “Orang ini berkata bahwa Anda begini begitu.” Mungkin orang yang menyampaikan ini memiliki niat yang baik, menyampaikannya dengan tujuan agar setelah mendengar ceritanya, lawan bicaranya dapat mengintrospeksi diri. Namun, jika disampaikan dengan terlalu lugas, maka bagi yang mendengar, meski yang berbicara tiada maksud tertentu, namun yang mendengar memasukkannya ke dalam hati. Dengan begitu, bertambah pula satu luka batin. Jadi, ketika kita berbicara dan ingin menjadi penengah, dan ingin menjadi penengah, kita harus menggunakan kebijaksanaan. Jangan menyampaikan langsung tanpa berpikir, baik dengan tujuan bergunjing maupun dengan niat membantu mencairkan kondisi agar hubungan mereka membaik kembali. Jika kita kurang hati-hati, maka akan mudah menciptakan karma buruk, karena pergunjingan bisa menimbulkan lebih banyak masalah, membuat kerisauan di kedua belah pihak semakin bertambah. Kebencian dan dendam pun semakin menebal. Anda mengadukan kemarahan salah satu pihak, pihak yang lain pun marah setelah mendengarnya. kemudian Anda mengadukannya kembali, inilah yang disebut bergunjing. Ini adalah kesalahan yang disengaja. Ketika seseorang menganggap Anda sahabat dan mencurahkan isi hatinya, namun Anda malah menyebarkannya sehingga ketegangan bertambah dan kebencian semakin dalam, inilah yang disebut bergunjing. Kita harus bertindak sebagai penengah, menjadi jembatan dengan kata-kata penuh kasih, dan mencairkan kesalahpahaman dengan kebijaksanaan. Jika tidak hati-hati, kita akan mudah menciptakan karma buruk. Jika kita berkeinginan untuk membantu menyelesaikan masalah ini, kita harus memiliki kebijaksanaan tinggi. Jika kita kurang hati-hati, akan dapat terjerumus ke dalam pergunjingan. Karma bergunjing ini sangatlah menakutkan. Bukan hanya diri sendiri kehilangan integritas, bahkan kedua belah pihak pun dapat terluka. Bukan hanya itu, orang lain pun dapat menyebarkannya hingga semakin meluas. Ketika gosip ini menyebar, mungkin saja akan berakibat pada timbulnya kekacauan dalam masyarakat. Selanjutnya adalah berkata-kata kosong. Kata-kata kosong ini disampaikan dengan lemah lembut dan diucapkan dengan senyuman sehingga orang-orang mudah memercayainya. Maka, Anda pun memercayai setiap ucapannya. Tetapi, ketahuilah, ada orang yang lain di mulut lain di hati. Madu di mulut, namun pedang di hati. Dalam hatinya bagai ada pedang yang tajam. Ia mengucapkan kata-kata manis kepada Anda, namun sesungguhnya semua itu menyesatkan. Ini mungkin sulit disadari oleh banyak orang. Kita harus menggunakan kebijaksanaan.
Dikatakan bahwa bagi orang bijak, hubungan adalah bagaikan air. Dalam hubungan antarsesama sekarang ini, Dalam hubungan antarsesama sekarang ini kita harus berusaha agar dibutuhkan setiap orang bagai manusia membutuhkan air. Setiap orang tak dapat kekurangan air. Bila diminum, air memang terasa hambar. Meskipun begitu, semua orang membutuhkannya. Demikian pula kita terhadap semua orang. Ketika orang lain membutuhkan kita, kita harus membantu sekuat tenaga. Jika kita tak memiliki ketulusan dan hanya ingin mengucapkan kata yang enak didengar, maka ini merupakan omong kosong. Jadi, ada empat karma buruk melalui ucapan: berkata kasar, berdusta, bergunjing, dan berkata-kata kosong. Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal ini dapat kita lakukan tanpa sengaja. Kadang ketika orang lain bicara terlalu keras, kita merasa tidak senang dan membalasnya dengan kata-kata yang kasar hingga akhirnya saling melukai. Janganlah pernah berdusta. Dusta akan merusak integritas kita. Bergunjing dan bergosip membuat antarmanusia tak dapat bersatu hati. Sifat suka bergunjing seperti ini adalah yang paling berbahaya bagi organisasi. Dalam organisasi dengan banyak anggota, janganlah ada sifat suka bergunjing seperti ini. Manusia tentu harus memiliki ketulusan dalam menghadapi orang lain.
Jika kita memiliki hati yang tulus, kita tak akan berkata kasar. Dengan adanya hati yang tulus, kita dapat membangun kepercayaan. Dengan adanya ketulusan, kita tak akan berdusta. Dengan adanya ketulusan, kita pun tak akan bergunjing. Kita dapat menggunakan kebijaksanaan untuk membangun jembatan cinta kasih. Berkata kasar, berdusta, berkata-kata kasar kosong, dan bergunjing dapat dilakukan tanpa sengaja. Hanya dengan memiliki ketulusan, barulah kita tak akan berdusta maupun bergunjing. Sebaliknya, dapat membangun jembatan cinta kasih dengan kebijaksanaan. Jadi, ucapan juga merupakan pintu karma dan dapat menciptakan karma buruk. Seperti yang dikatakan dalam Sutra Ksitigarbha, sepatah ucapan yang keluar dari mulut dapat menciptakan karma buruk. Ini memengaruhi diri sendiri, orang lain, masyarakat, keluarga, maupun hubungan kita dengan orang lain. maupun hubungan kita dengan orang lain. Jadi, sesuatu yang terlihat sederhana, sesungguhnya dapat menjadi yang paling rumit. Jika kita dapat menghadapi orang lain dengan sikap yang paling sederhana dan tulus, semuanya akan menjadi indah. Jadi, apa yang kita dengar tak perlu dimasukkan ke dalam hati. sebab bila dimasukkan ke dalam hati, kita akan sering dilanda kerisauan. Dengan begitu kita menciptakan karma pikiran. Baik karma melalui tubuh, yakni membunuh, mencuri, berbuat asusila, maupun karma ucapan berdusta, omong kosong, bergunjing, berkata kasar, semuanya berawal dari pikiran. Dalam pikiran kita terakumulasi banyak noda sehingga batin menjadi tertutup dan kekurangan kebijaksanaan untuk membedakan.
Karena itu, kita tak dapat membedakan benar salah dan segala tindakan yang kita lakukan dilandasi kegelapan batin. Ini bagai virus yang terus berkembang. Semakin berkembang virus itu, karma buruk yang diciptakan semakin banyak. Jadi, noda batin meliputi ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Mengenai ketamakan, bukankah saya sering mengatakan bahwa segala kejahatan muncul dari ketamakan? Semua dimulai dari ketamakan dan nafsu. Ada orang tamak akan kecantikan, reputasi, keuntungan, kedudukan, dan sebagainya. Lihatlah ke seluruh dunia, baik dalam skala besar seperti peperangan maupun skala kecil seperti hubungan asmara antarmanusia, ketika keinginan salah satu pihak tak terpenuhi, ia kadang dapat melukai diri sendiri. Ada sebuah berita tentang sepasang kekasih yang menjalin asmara dan berjanji untuk selalu bersama. Namun, tak berapa lama kemudian, hubungan mereka menghadapi masalah. Salah satu ingin melanjutkan hubungan, yang lain ingin mengakhirinya. Suatu hari, mereka berbicara lewat telepon. Sang wanita tidak rela ketika sang pria ingin berpisah, maka mereka pun bertengkar di telepon dan tak kunjung menemukan kata sepakat.
Merasa hubungan mereka tak dapat diperbaiki lagi, sang wanita hanya mengatakan, “Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini.” Itulah yang ia katakan terakhir kalinya. Satu jam kemudian, ia naik ke atas gedung berlantai dua puluh dekat rumah sang kekasih yang posisinya lebih rendah, dan melompat dari sana. Ia terjatuh di atap rumah sang kekasih lalu tewas seketika. Ia tewas di rumah kekasihnya. Jika dilihat, ini adalah akibat kegelapan batin dalam asmara. Lihatlah, cinta asmara yang membuta menghasilkan kekuatan karma yang besar, sehingga ia berani melompat. Lihatlah, ini akibat kegelapan batin. Mulanya, saat masih saling mencintai, mereka berjanji untuk terus bersama, selalu mengeluarkan kata-kata yang manis. Mereka saling tergila-gila. Namun, kehidupan tidaklah kekal. Demikian pula perasaan cinta tidaklah kekal karena pikiran kita mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap.
Ketika melihat seseorang, timbul rasa suka dan jatuh cinta. Ketika jatuh cinta, manusia akan mengatakan hal yang manis-manis dan menjadi buta akan segala hal. Namun, begitu kondisi berubah, rasanya akan sangat menderita. Akhirnya, karena kegelapan batin, seseorang memilih bunuh diri. Bunuh diri tentu merupakan karma buruk dan lebih berat daripada membunuh orang lain. Karena saat bunuh diri, pertama, orang meninggal dengan kegelapan batin dan juga membawa kebencian dan penyesalan yang sangat kuat. Karma dan kegelapan batin dari kebencian dan dendam ini sangatlah kuat. Ditambah lagi, dengan bunuh diri berarti menghancurkan darah daging orang tua karena tubuh kita ini berasal dari orang tua. Ini juga melukai hati orang tua. Tubuh ini merupakan pemberian orang tua.
Tubuh ini merupakan pemberian orang tua. Dengan bunuh diri, kita merusak darah daging dan melukai hati orang tua. Karma buruk ini sungguh berat. Bunuh diri bukan saja merupakan yang terberat dari sepuluh karma buruk, melainkan juga merupakan sikap durhaka yang menyakiti hati orang tua. Terlebih lagi, hatinya menyimpan kebencian dan dendam. Bayangkan betapa beratnya karma buruk ini. Manusia diliputi kegelapan batin yang terus-menerus bertambah. Seperti yang baru saja kita bahas, virus batin sungguh menakutkan. Karena itu, harap semua lebih bersungguh hati. Untuk membersihkan lingkungan, dibutuhkan air. Demikian pula, kita membutuhkan air Dharma untuk membersihkan batin kita. Jadi, bersungguh-sungguhlah setiap saat.