[ST-030] 謹言慎行隨緣消舊業 Waspada Dalam Perbuatan Demi Mengikis Karma Buruk
Saudara se-Dharma sekalian, apakah setiap orang dari kita telah menjaga kondisi hati dengan baik? Mengenai noda batin, tentu semua orang sudah tahu dengan jelas. Kini kita akan membahasnya tahap demi tahap agar semua semakin mengerti apa yang dimaksud noda batin dan dari manakah asalnya. Dalam jalan pelatihan diri, mengapa kita menemui rintangan? Noda batin berawal dari pikiran. Karma tercipta melalui tubuh dan ucapan, dan semuanya berawal dari pikiran yang penuh ketamakan, kebencian, kebodohan, sehingga menimbulkan banyak kekotoran atau 84.000 noda batin. Maka, tentu saja karma dari tubuh dan ucapan juga tak terhingga banyaknya. Menerima akibat karma berarti menuai buah karma. Karma baik akan mendatangkan berkah, dan karma buruk akan mendatangkan akibat buruk. Hukum karma tak akan menyimpang sedikit pun.
Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berhati-hati, berhati-hati terhadap setiap niat yang timbul, berhati-hati terhadap segala perbuatan kita, sebab semua ini menimbulkan karma. Karena itu, kita harus mawas diri. Akibat batin yang belum sadar, semua makhluk menciptakan karma buruk yang tidak terhingga banyaknya. Jika dapat menyadari setiap niat yang timbul dan waspada dalam setiap perbuatan, maka karma buruk lama akan terkondisi untuk terkikis dan karma buruk baru tak akan tercipta.
Ada tiga hal yang merintangi Jalan Mulia. Kejahatan akan menghalangi//kelahiran di alam manusia ataupun dewa. Karena Anda melakukan kejahatan, maka bukan saja tak lagi terlahir sebagai manusia dan kelak tak dapat terlahir di alam dewa, melainkan juga dapat jatuh ke alam neraka. Inilah kejahatan. Kejahatan dapat mengakibatkan kita jatuh dari alam manusia//dan terperosok ke alam neraka. Karena itu, sebagai manusia kita harus hati-hati. Sulit untuk terlahir sebagai manusia, sulit pula untuk bertemu ajaran Buddha. Terlahir sebagai manusia, barulah berkesempatan mendengar ajaran Buddha. Jika diri kita tidak menjaga lima sila dan sepuluh kebajikan, maka tak akan terlahir di alam manusia atau dewa. Maka boleh dikatakan, Jadi, kejahatan akan menghalangi diri kita untuk terlahir di alam manusia atau dewa kelak. Karena itu, dikatakan bahwa kejahatan// menghalangi kelahiran di alam manusia atau dewa. Selain itu,//kebajikan juga dapat menghambat pembebasan. Mengapa perbuatan baik malah jadi penghalang?
Karena setelah berbuat kebajikan, kita selalu menyimpannya dalam hati, selalu memperhitungkannya, terus berpikir telah banyak berbuat baik. terus berpikir telah banyak berbuat baik.”Saya mampu berbuat baik, saya mampu berdana.” “Saya telah berdana demikian banyak.” “Saya telah demikian banyak berbuat baik.” Dari pagi hingga malam pikiran kita hanya dipenuhi rasa bangga telah berbuat kebajikan, sehingga timbullah kesombongan. Ini juga penghalang dalam pelatihan diri. Karena itu, dikatakan bahwa//kebajikan pun bisa menghambat pembebasan. Ini karena setelah berbuat kebajikan, manusia terus menyimpannya dalam hati. Ini disebut rintangan karena membuat kita tidak dapat terbebas dari 6 alam, atau tak mampu terbebas dari lingkaran kelahiran.
Kita harus menjaga//agar tetap terlahir sebagai manusia. Jika terlahir di alam dewa yang penuh kenikmatan, maka tiada kesempatan mempelajari Dharma. Jadi, sebagai praktisi pembina diri, kita tetap berharap terlahir sebagai manusia. Jika terlahir di alam dewa, kenikmatan mungkin akan menyesatkan kita, sebab di sana sulit untuk mendengar Dharma. Karena itu, kita berharap//untuk tetap terlahir sebagai manusia.
Di alam manusia//kita baru dapat mendengar Dharma dan dapat melakukan kebajikan, karena di alam manusia ini banyak sekali penderitaan. Karena itulah, dunia ini disebut Dunia Saha, dunia yang makhluknya harus menahan derita. Maksudnya adalah di dunia ini banyak sekali orang yang menderita.
Sesungguhnya, penderitaan apa? Pertama, 3 Bencana dalam kurun 5 Kekeruhan. Ini membuat semua makhluk menderita. Lima Kekeruhan meliputi: – Kekeruhan pandangan – Kekeruhan usia – Kekeruhan noda batin – Kekeruhan kalpa Kekeruhan yang banyak ini bergabung dalam satu masa. Kekeruhan sama dengan kekotoran. Jika pada satu masa yang sama kekeruhan pandangan, usia, makhluk hidup, dan noda batin muncul bersamaan, maka terjadilah kekeruhan kalpa. Lihatlah, banyak penderitaan terjadi di masa ini akibat bencana alam dan ulah manusia. Dalam Sutra Buddhis disebutkan bahwa pada masa kemunduran Dharma akan muncul Tiga Bencana Besar dan Tiga Bencana Kecil. Tiga Bencana Besar: Bencana akibat air, api, dan angin Tiga Bencana Kecil: Peperangan, wabah penyakit, kelaparan Tiga Bencana Besar terus terjadi di dunia, ditambah dengan kelaparan, wabah penyakit,//dan peperangan.
Inilah penderitaan manusia. Hidup dalam dunia yang dirundung Tiga Bencana dalam kurun Lima Kekeruhan, semua makhluk tentu sangat menderita. Akan tetapi, justru karena adanya penderitaan, manusia perlu membangkitkan cinta kasih dan memberi pertolongan. Melihat begitu banyaknya penderitaan, manusia hendaknya membangkitkan kesadaran. Bukankah saya pernah berkata bahwa setelah bencana yang menggemparkan terjadi, semua makhluk harus membangkitkan kesadaran. Dalam masa di mana penderitaan dan kebahagiaan silih berganti ini, kita dapat menyaksikan banyak penderitaan dan membuktikan ajaran Buddha bahwa kehidupan tidak kekal dan bumi sangat rentan.
Setelah membuktikan ajaran ini, maka pada saat ini kita harus membangkitkan cinta kasih banyak orang. Lihat ketika gempa 21 September 1999 terjadi, para Bodhisattva (relawan) bagai muncul tiba-tiba//dari dalam tanah. Ini menunjukkan bahwa ketika ada bencana, datang kesempatan menginspirasi banyak orang sehingga orang-orang memiliki kesadaran akan kekuatan alam setelah melihat bencana yang terjadi. Jadi, kita berada di Dunia Saha di mana suka dan duka silih berganti. Ada orang yang menderita, ada pula yang berkemampuan lebih. Orang yang berkemampuan lebih dapat menolong orang yang menderita. Inilah keuntungan menjadi manusia dan berkesempatan belajar ajaran Buddha. Sebagai manusia, jika tak memanfaatkan waktu untuk belajar Dharma, maka sungguh disayangkan.
Jadi, dalam mengembangkan kebajikan, jangan sampai kebajikan ini menjadi penghalang. Jangan pula kita terbuai dan melekat pada alam manusia atau dewa. Kita harus menghargai kelahiran sebagai manusia. Manfaatkanlah tubuh manusia ini untuk segera berlatih di jalan pembebasan. Jalan pembebasan adalah jalan untuk terbebas dari kelahiran kembali, merujuk pada jalan yang harus ditempuh manusia sesuai ajaran Buddha tentang Jalan Bodhisattva. Jalan pembebasan adalah jalan untuk mengakhiri kelahiran kembali di 6 alam. Meski alam dewa penuh kenikmatan, namun berkah suatu saat juga akan habis. Meski manusia dapat mengembangkan kebajikan, namun di dunia yang diliputi Lima Kekeruhan ini, terutama kekeruhan makhluk hidup, untuk menjaga niat baik dan pikiran murni, adakalanya sangatlah sulit. Melatih jalan pembebasan adalah yang terbaik. Jalan pembebasan inilah yang kita ambil saat kita bertekad mempelajari ajaran Buddha. Mempelajari ajaran Buddha/bertujuan mencapai kebuddhaan.
Mencapai kebuddhaan adalah tujuan akhir kita. Meski harus kembali ke dunia ini// untuk menyelamatkan semua makhluk, para Buddha dan Bodhisattva tak akan lagi tercemar oleh kondisi suka maupun duka dunia. Contohnya, dalam sebuah rumah sakit besar banyak terdapat pasien berpenyakit menular. Seorang dokter yang baik dan penuh cinta kasih harus memiliki cukup kebijaksanaan. Ia harus melindungi diri sendiri dengan persiapan yang baik. Ia harus tiada gentar menghadapi pasien dengan penyakit menular, karena ia harus menolong mereka. Demikian pula, banyak makhluk di dunia telah berada dalam kondisi sakit. Kita membutuhkan para Buddha dan Bodhisattva untuk membimbing kita menyembuhkan, bukan hanya menyembuhkan penyakit orang lain, namun yang terpenting adalah menyelaraskan kondisi batin sendiri.
Jadi, mempelajari ajaran Buddha adalah terus mengendalikan kondisi batin kita, tidak membiarkan lingkungan sekitar memengaruhi tekad kita dalam melatih diri. Meski kita telah berbuat banyak kebajikan, namun jika timbul kesombongan dalam batin, merasa telah menolong orang dan merasa telah banyak bersumbangsih, maka kemelekatan ini akan menjadi penghalang dalam pelatihan diri menuju pembebasan. Saya sering mengatakan bahwa saat kaki depan melangkah,//ikutilah dengan kaki belakang. Benar sekali, lakukan yang harus dilakukan. Arah kita tidak boleh menyimpang. Setelah mengetahui arah yang tepat, kita harus maju selangkah demi selangkah. Kaki depan melangkah, kaki belakang dilepaskan. Dengan demikian, barulah bebas dari rintangan. Jika timbul kemelekatan setelah mengembangkan kebajikan, maka batin akan mengalami rintangan.
Tanpa kemelekatan, barulah manusia dapat benar-benar bertekad melatih diri. Ketiga, kondisi tak tergoyahkan//juga dapat menghalangi Jalan Bodhi. Apa yang disebut kondisi tak tergoyahkan? Yakni saat tingkat pelatihan diri kita sangat tinggi atau sudah memasuki tingkat Dhyana ke-4, yang artinya kondisi batin kita berada dalam keheningan yang tak tergoyahkan. Tiada suka maupun duka pada kondisi ini. Penderitaan apa pun di dunia ini dirasa tiada hubungan dengan dirinya. Kebahagiaan apa pun di dunia, juga dirasa tiada hubungan dengan dirinya. Ini karena batinnya tidak lagi terpengaruh oleh suka maupun duka. Kondisi batinnya sudah sangat stabil, tidak lagi merasa menderita maupun bahagia. Suka dan duka tak dapat menggoyahkan batinnya. Kondisi batin pada tingkatan ini dapat menghalangi Jalan Bodhi, karena semua penderitaan di dunia ini tidak mampu lagi menggoyahkan batinnya. Ia tentu tak lagi goyah oleh kesenangan.
Namun, jika penderitaan di dunia tidak mampu menggugah hatinya, maka Jalan Bodhi tentu akan terhalang, karena ia tak dapat membangkitkan welas asih. Dalam jalan menuju kebuddhaan, Buddha mengajarkan kita untuk berbelas kasih kala melihat makhluk menderita. Karena itu, kita sering membahas cinta kasih, welas asih, sukacita,//dan keseimbangan batin— Cinta kasih tanpa penyesalan, welas asih tanpa keluh kesah, sukacita tanpa kerisauan, dan keseimbangan batin tanpa pamrih. Bukankah sering saya katakan bahwa insan Tzu Chi harus berlatih sampai taraf ini? Cinta kasih tanpa penyesalan— Demi kebahagiaan umat manusia, kita rela bersumbangsih. Bila manusia sehat, bahagia, dan berkecukupan, kita pun turut berbahagia.
Bila semua manusia cinta kasihnya dapat dibangkitkan sehingga dapat berjalan di Jalan Bodhisattva, kita juga turut berbahagia. Meski bersumbangsih dengan susah payah, kita tidak akan pernah merasa menyesal. Saat melihat manusia yang menderita, kita pun turut merasa pilu dan berempati. Demi mereka yang menderita, kita rela menempuh bahaya untuk menolong. Kesulitan apa pun akan kita hadapi untuk dapat bersumbangsih meringankan penderitaan mereka. Kita tidak mengeluh sedikit pun, maka saya sering menyebut relawan//sebagai Bodhisattva. Suatu ketika, saya mengunjungi RS Tzu Chi Dalin. Ada seorang pria berdiri di koridor ruang pasien. Ketika saya melewatinya, ia terus berdiri di tempatnya. Melihat sorot mata dan sikapnya, saya pun berbalik dan berjalan mendekatinya. Saya bertanya, “Ada apa?” “Siapa yang Anda jenguk?” Ia segera menyahut, “Master!” “Siapa yang dirawat?” Ternyata yang dirawat adalah istrinya. Istrinya dirawat karena kecelakaan lalu lintas.
Saya mengikutinya masuk melihat istrinya. Belakangan saya baru tahu bahwa suami istri ini adalah relawan daur ulang Tzu Chi, juga merupakan penggalang dana. Meski suami istri ini belum dilantik menjadi anggota komite, namun mereka telah bergabung di Tzu Chi selama sepuluh tahun. Sejak misi pelestarian lingkungan dimulai, mereka telah bergabung. Mengapa sang istri bisa terkena kecelakaan? Ini karena sebagai penggalang dana, ia pergi mengumpulkan dana dari para donatur. Setelah mengumpulkan dana, ia hendak berangkat dari Yuanlin ke Zhanghua. Saat ia mengendarai sepeda motor di jalan, seorang wanita pengemudi mobil sedan berhenti dan membuka pintu mobil//hingga membentur sepeda motornya dan membuat relawan ini terjatuh.
Tulang belakangnya pun mengalami cedera. Pihak rumah sakit di Yuanlin mengatakan bahwa ia perlu segera dioperasi. Mendengar kata operasi, mereka langsung memutuskan untuk pindah ke RS Tzu Chi Dalin. Setibanya di RS Tzu Chi Dalin, dokter menyatakan tidak perlu dioperasi, hanya perlu berbaring selama beberapa hari dan mengenakan penyangga tulang belakang. Hanya itulah petunjuk dokter. Saat saya mengunjunginya, ia berbaring di ranjang dan menceritakan kejadiannya. Suaminya berdiri di samping dan terus berkata, “Kita harus bersyukur.” Istrinya menjawab, “Benar, saya juga sangat bersyukur.” “Jika bukan sedang mengumpulkan dana amal, dan hendak membawa dana itu ke Zhanghua, mungkin saja kejadiannya lebih parah lagi.” Saya bertanya,//”Apakah si pengemudi mobil datang menjenguk?” Sang istri pun mulai mengomel.
Ia berkata, “Ya, ia datang dengan pakaian mewah dan membawa tas bermerk.” Saya bertanya, “Lalu?” Ia menjawab, “Ia tidak bilang apa-apa.” Suami membalas, “Jangan berkata begitu, kita harus berterima kasih padanya.” “Beruntung, ia hanya membentur dengan ringan.” “Beruntung, saat itu tidak ada kendaraan lain yang melintas.” “Jika benturannya lebih kuat sedikit atau saat itu ada kendaraan yang melintas, apakah akibatnya akan seringan ini?” “Master berkata ini berarti mengikis karma buruk.” “Kita jangan perhitungan lagi.” “Jangan marah lagi.” “Kita harus berterima kasih padanya.” Saya pun berkata padanya, “Kamu benar.” Ia melanjutkan, “Master, saya ingin mengunjungi dan menginspirasinya.” Ini karena istrinya mengatakan bahwa wanita itu hanya datang sebentar saja dengan pakaian yang mewah dan membawa tas bermerk.
Wanita itu hanya datang sekali, setelah itu tidak pernah muncul lagi. Suaminya berkata, “Saya ingin menginspirasinya.” Saya bertanya, “Bagaimana caranya?” Ia menjawab,// “Saya akan berkunjung agar ia tenang.” “Mungkin hatinya tidak tenang,//maka tidak berani datang.” “Saya akan menenangkannnya dengan mengatakan tidak apa-apa, menyatakan syukur atas jalinan jodoh ini, dan bilang bahwa jalinan ini harus dilanjutkan.” “Saya ingin mengajaknya menjadi donatur.” Lihatlah, ia tak menyimpan dendam sama sekali. Istrinya mengatakan pada saya, “Master, tak apa jika saya terbaring di sini, saya tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya khawatir jika suami saya terus di sini, ia tak bisa mencari nafkah untuk makan.” Suaminya menjawab, “Jangan berpikir begitu, biarkan saya istirahat beberapa hari sekaligus menemanimu di sini.” Lihat, ia begitu penuh pengertian. Lihatlah suami istri ini, sungguh memiliki welas asih tanpa keluh kesah//dan cinta kasih tanpa penyesalan.
Sungguh pasangan yang penuh welas asih. Lihat, inilah Bodhisattva. Mereka bersumbangsih dengan sukacita//tanpa mengharapkan pamrih. Inilah ajaran Buddha yang benar-benar kita cari di dunia. Kita bukan hendak melatih diri hingga tak peduli akan suka maupun duka. Bukan begitu. Batin kita memang harus stabil, tidak ternoda oleh berbagai noda batin duniawi. tidak ternoda oleh noda batin duniawi. Namun, kita harus tetap memiliki cinta kasih, welas asih, sukacita,//dan keseimbangan batin. Penderitaan dan kebahagiaan semua makhluk pasti berhubungan dengan diri kita. Jika kita berlatih hingga tahap//tak tergoyahkan oleh suka maupun duka, tentu akan menghalangi Jalan Bodhi. Kejahatan menghalangi//kelahiran di alam manusia maupun dewa. Kebajikan dapat menghalangi//jalan menuju pembebasan. Kondisi tak tergoyahkan dapat menghalangi Jalan Bodhi.
Kejahatan menghalangi kelahiran di alam manusia maupun dewa. Kebajikan dapat menghalangi jalan menuju pembebasan. Kondisi tak tergoyahkan dapat menghalangi Jalan Bodhi. Tiga penghalang ini akan menghambat jalan menuju pembebasan dan usaha kita mengembangkan kebajikan. Karena itu, para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan kepada kita untuk mempertahankan kelahiran baik di alam manusia dan dewa. Mereka terus membimbing kita untuk mempertahankan kelahiran di alam manusia atau dewa. Mereka membimbing kita agar tak terhalangi kebajikan, kejahatan, dan kondisi tak tergoyahkan. Semua ini adalah penghalang bagi kita. Saudara sekalian, dalam banyak Sutra dijelaskan bahwa tiga jenis penghalang ini adalah hambatan besar dalam mempelajari ajaran Buddha. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh.
Yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha adalah meski harus berlatih hingga tidak terpengaruh oleh suka maupun duka, tak goyah karena memperoleh atau kehilangan, namun kejernihan batin ini bukan berarti tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di dunia. Jangan pula saat mendapat sesuatu yang disukai, kita lalu berharap untuk mendapat lebih banyak atau merasa takut kehilangan. Janganlah risau akan kondisi// memperoleh maupun kehilangan. Namun, cinta kasih, welas asih, sukacita,//dan keseimbangan batin tetap harus ada di dalam batin, barulah tidak akan ada Tiga Rintangan yang menghambat pelatihan kita dalam Jalan Bodhi sesuai ajaran Buddha. Jadi, harap semua orang senantiasa bersungguh-sungguh.