[ST-038] 除滅三障的七種心(三) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Ketiga)
Saudara se-Dharma sekalian, sudahkah kita menjaga pikiran dengan baik? Sejak waktu yang sangat panjang, Untuk waktu yang sangat panjang kita terus terombang-ambing dalam enam alam kehidupan dan tak berdaya untuk menemukan cara terbebas darinya. Belakangan ini,//kita telah mempelajari bahwa kita terus menjadi makhluk awam karena pikiran kita dipenuhi noda batin. Noda batin terus-menerus bertambah sehingga mengakibatkan cahaya kebijaksanaan hakiki kita yang cemerlang tidak dapat memancar keluar. Karena itulah,//kita harus mempelajari ajaran Buddha. Kini kita telah memasuki gerbang ajaran Buddha, dan setelah mempelajari ajaran Buddha, kita telah mengetahui urutan cara untuk melenyapkan noda batin. Buddha telah mengajarkan cara dan urutan prosesnya kepada kita.
Jadi, urutan Tujuh Kondisi Pikiran Maka, urutan dari Tujuh Kondisi Pikiran ini harus kita ketahui. harus kita pahami. Tujuh Kondisi Pikiran untuk mengikis Tiga Rintangan: – Rasa malu – Rasa takut – Berpaling dari keburukan – Membangkitkan Bodhicitta – Memandang setara semua makhluk – Rasa syukur pada Buddha – Pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan Pertama, kita harus memiliki rasa malu, barulah dapat membangkitkan rasa takut. Jika tidak memiliki rasa malu, kita tidak akan mampu mengecilkan ego kita, tidak akan mampu memahami permasalahan antarmanusia di sekeliling kita, dan kita tidak akan dapat memahami akibat dari perbuatan buruk, bahwa perbuatan buruk yang dilakukan akan mendatangkan buah dan akibat.
Dahulu, kita tidak mengetahui semua ini. Setelah mengetahuinya sekarang, kita harus membangkitkan rasa takut, takut karena tahu bahwa kelahiran kembali takut karena menyadari bahwa kelahiran kembali membawa penderitaan. di 6 alam merupakan suatu penderitaan. Enam alam kehidupan: Alam dewa, alam manusia, alam asura, alam binatang, alam setan kelaparan, alam neraka Jika kita dapat lebih sungguh-sungguh memperluas pandangan dan pemahaman, maka dengan sendirinya kita akan menyadari bahwa penderitaan dalam kehidupan sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di alam manusia saja begitu banyak penderitaan yang tak terlukiskan, apalagi di luar alam manusia, seperti di neraka, alam setan kelaparan, seperti di alam neraka, alam setan kelaparan, dan alam binatang.
Di enam alam, alam surga dan alam manusia hanyalah dua di antara enam alam, sedangkan empat alam lainnya penuh penderitaan. sedangkan sebagian besar sisanya adalah empat alam yang penuh penderitaan. Apalagi jika pikiran manusia terus bergejolak penuh kebencian bagai di alam asura. Kalian tentu dapat membayangkan jika dalam satu hari kita selalu merasa tidak suka akan semua hal dan mudah untuk terbawa emosi, dan mudah terbawa emosi, ini tentu sangat menderita, tentu akan terasa sangat menderita, apalagi alam neraka, alam setan kelaparan, apalagi penderitaan di alam neraka, alam setan kelaparan, dan alam binatang. Singkatnya, di dalam enam alam kehidupan, meski makhluk alam surga diliputi kenikmatan, namun ketika berkahnya habis, ia akan terjatuh lagi ke alam-alam rendah dan tidak dapat terbebas dari siklus ini. dan tetap tidak terbebas dari kelahiran kembali.
Di alam manusia, suka dan duka silih berganti, Namun, manusia yang sangat beruntung pun namun manusia yang sangat beruntung pun tetap tidak merasa puas. Terlebih lagi, dunia ini diliputi Lima Kekeruhan dan Tiga Bencana. Meski seseorang memiliki harta dan kedudukan, ia tetap harus memiliki rasa takut karena sesungguhnya di alam manusia ini banyak kesempatan bagi terciptanya karma buruk ada banyak kesempatan bagi terciptanya karma dan kesempatan melatih kebajikan lebih sedikit. Jadi, kita harus memiliki hati yang berpaling. Jadi, kita harus memiliki hati yang berpaling, yakni berpaling untuk terbebas dari enam alam. yakni berpaling dari 6 alam ini. Dengan memiliki hati yang berpaling, kita baru dapat berlatih sesuai ajaran Buddha. Untuk itu, kita harus mengembangkan Bodhicitta.
Dengan memiliki Bodhicitta, kita akan memahami kesalingterkaitan semua makhluk di dunia. bahwa semua makhluk di dunia saling bergantung. Jika ingin memperoleh ketenteraman, kita pun harus menenteramkan semua orang. Jika ingin mendapat kebahagiaan dalam Dharma, kita harus melenyapkan penderitaan orang lain dan memberi mereka kebahagiaan. Ini disebut memandang setara semua makhluk. Kondisi pikiran keenam adalah bersyukur kepada Buddha. Tanpa ajaran Buddha, Tanpa ajaran dari Buddha, bagaimana kita mengetahui begitu banyak kebenaran? bagaimana kita dapat mengetahui begitu banyak kebenaran? Bagaimana kita memahami bahwa 4 dari 6 alam dipenuhi penderitaaan, 1 alam diliputi suka dan duka yang bercampur, dan 2 lainnya, yang satu diliputi suka-duka dan 1 lagi dipenuhi kebahagiaan sementara? dan satu lagi dipenuhi kebahagiaan sementara, Tidak ada yang layak diingini dan dilekati. sehingga tetap saja tidak perlu dilekati. Kita seharusnya sudah tahu kebenaran ini.
Kebenaran ini telah kita ketahui. Setelah mengetahuinya, kita harus Setelah itu, kita harus menenangkan hati, meneguhkan pikiran kita. Saya berbicara begitu banyak Semua pembicaraan panjang ini, semata-mata agar semua orang tahu semata-mata agar semua orang mengetahui urutan dari Tujuh Kondisi Pikiran. tidak terlalu melekat pada pandangan kita, serta tidak sombong, barulah kita bisa membangkitkan rasa takut. agar kita bisa membangkitkan rasa takut. Dengan adanya rasa takut, barulah kita bisa memiliki hati yang berpaling. Dengan hati yang berpaling, barulah kita dapat melihat kita akan dapat menyadari keterkaitan semua makhluk// dengan batin yang seimbang. kesalingtergantungan semua makhluk dan memandang semuanya dengan setara.
Setelah melihat keterkaitan semua makhluk, Setelah melihat keterkaitan semua makhluk, barulah kita dapat memandang setara terhadap semuanya dan merasa bersyukur kepada Buddha. Untuk mewujudkan rasa syukur itu, Untuk melakukan itu, kita harus menjadi kita harus sungguh-sungguh menjadi seorang siswa yang baik dari Sang Buddha seorang siswa Buddha yang baik. Ini merupakan suatu langkah maju yang jelas dan lurus. Ini merupakan suatu alur yang sangat sederhana. Ini merupakan suatu alur yang sangat lugas. Ketika seseorang telah mencapai keadaan dimana Sesungguhnya ketika seseorang tiba di tahap sungguh-sungguh ingin membalas budi Buddha, ia dapat sungguh-sungguh membalas jasa Sang Buddha, jiwa dan raganya ia sangat dekat dengan keadaan Kebuddhaan telah sangat dekat dengan kebuddhaan. dimana “tubuh” yang dimiliki seseorang Dengan demikian, tubuh yang dimiliki adalah“Tubuh Dharma”yang murni telah menjadi “Tubuh Dharma” yang murni.
Pada titik ini, seseorang akan Maka, pada saat itu, ia akan menyadari kosongnya hakikat kejahatan. Sesungguhnya, ketika noda batin lenyap, kita berhenti menciptakan karma negatif. karma buruk pun tak akan tercipta, begitu pula tiada lagi buah karma. Di atas adalah urutan dari tahapan ini Inilah urutan tahapan yang kita lewati. Marilah sekarang kita menelaah lebih jauh Jadi, sekarang kita menelaah lebih jauh apa yang dimaksud dengan rasa malu. Kitab Penyesalan Air mengatakan: Syair Pertobatan Air Samadhi mengatakan, Yang Pertama adalah rasa malu. Aku merenungkan bahwa aku dan Buddha Sakyamuni pernah sama-sama menjadi makhluk awam, namun kini, sejak Yang Dijunjung mencapai kebuddhaan, banyak kalpa yang bagaikan butiran pasir telah berlalu.
Sedangkan aku masih terbuai enam objek indra, berputar-putar dalam lingkaran kelahiran kembali dan tak pernah terbebas darinya. Sesungguhnya, ini adalah hal yang sangat memalukan di dunia. (to Hendry: yang di bawah ini tolong croscek dengan teks mandarinnya ya) “Yang Pertama adalah rasa malu.” “Aku merenungkan bahwa aku//dan Buddha Sakyamuni namun kini,//sejak Yang Dijunjung mencapai kebuddhaan, banyak kalpa yang bagaikan butiran pasir telah berlalu.” “Sedangkan aku masih terbuai enam objek indra, berputar-putar dalam lingkaran kelahiran kembali dan tak pernah terbebas darinya.” Sesungguhnya, di dunia, ini adalah hal yang memalukan dan menyedihkan.”
Dengan melihat pada kalimat dari sutra ini Bukankah sangat berterus-terang? Bukankah isinya sangat lugas? Hanya dengan membaca kalimat-kalimat ini, Siapa pun yang membacanya akan dapat memahami artinya, Maka, tidak banyak yang perlu dijelaskan tidak ada lagi yang perlu dijabarkan. Namun, setelah membaca kalimat-kalimat ini, Namun, sesungguhnya setelah kita melafalkan syair ini, seberapa banyak kita terpengaruhi? seberapa jauh kita tersadarkan? Jika kata-kata seperti ini tidak mempengaruhi kita sama sekali, Kita sungguh sulit tersadarkan. Itulah yang harus membuat kita merasa malu Inilah yang menjadi alasan kita merasa malu. Mengerti ini berbeda dengan Bisa membacanya,// tetapi belum tentu memahaminya. Untuk memahami Dharma setelah membacanya, masih memerlukan proses yang sangat panjang.
Kata “merenungkan” dalam syair ini mengatakan kepada kita bahwa kita harus dengan hati-hati memeriksa diri kita bermakna kita harus berintrospeksi diri, dan melakukan refleksi tentang bagaimana merenungkan tentang diri kita sendiri mulanya, kita tidak berbeda dengan Sang Buddha bahwa kita sesungguhnya setara dengan Buddha. Lama berselang, Sang Buddha Pada sekian waktu lampau, Buddha juga juga seorang manusia biasa, merupakan seorang makhluk awam sama seperti kita. Namun, sekarang kita adalah murid Sang Buddha Namun, sekarang kita adalah murid Buddha Namun, sekarang kita adalah murid Buddha.
Sakyamuni Buddha telah Buddha Sakyamuni telah mencapai kebuddhaan mencapai pencerahan untuk waktu yang lama sekali Sakyamuni Buddha telah mencapai kebuddhaan sejak waktu yang sangat lama. Berapa lama yang lalu? Sejak berkalpa-kalpa yang tak terhitung//bagaikan debu dan pasir. Waktunya tak terukur dalam satuan tahun, abad, ataupun milenium, namun telah tak terhitung dengan satuan angka. Demikian lamanya telah berlalu sejak saat sang Buddha mencapai Kebuddhaan saat Buddha mencapai kebuddhaan, namun Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan Dunia Saha yang penuh derita ini. Beliau terus-menerus kembali ke dunia atas dasar cinta kasih terhadap semua makhluk.
Sejak saat Beliau mencapai kebuddhaan, beliau telah kembali ke dunia banyak kali Beliau telah berulang kali kembali ke dunia. Anda dapat membayangkan berapa banyak kehidupan Bayangkan,//sudah berapa kehidupan yang Beliau lalui. telah beliau habiskan di dunia ini Bayangkan sudah berapa kehidupan yang beliau lalui. Jika kita menghitung satu kehidupan sebagai 100 tahun, Jika rata-rata satu kehidupan adalah 100 tahun, maka pikirkanlah betapa panjangnya waktu sejak Buddha Sakyamuni mencapai kebuddhaan hingga saat Beliau datang ke dunia untuk menunjukkan delapan fase. Buddha yang kini kita sebut Sakyamuni hidup di masa lebih dari 2.000 tahun lalu. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, beliau mencapai Kebuddhaan Lebih dari 2.000 tahun lalu,// Beliau menjadi Buddha di India. dan juga lebih dari 2.000 tahun yang lalu di India ketika beliau wafat Beliau parinirvana (wafat) di India.
Pada saat itu, Sang Buddha telah hidup sampai usia 80 tahun di dunia ini Beliau hidup di dunia ini sampai usia 80 tahun, maka, beliau belum mencapai 100 tahun tetapi hanya 80 tahun bahkan belum mencapai 100 tahun. Beliau hanya hidup di dunia ini selama 80 tahun. Dan dari saat itu sampai sekarang, lebih dari 2.000 tahun sudah berlalu. dan dalam lebih dari 2.000 tahun Dalam waktu 2.000 tahun lebih ini, setelah Beliau wafat, apakah Beliau tak pernah kembali ke dunia ini? Tidak benar. Beliau masih terus kembali ke dunia ini. Ketika Beliau datang ke dunia ini, wujud-Nya selalu sebagai seorang murid Buddha yang membimbing kita lewat teladan nyata. Entah berapa kehidupan yang telah dilalui-Nya. Latar belakang beliau dalam setiap kehidupan, Latar kondisi kelahiran-Nya, cara beliau hidup, kehidupan yang dilalui-Nya, metode yang beliau gunakan untuk mengajar dan metode yang Beliau gunakan untuk mengajar tidak mungkin dihitung sungguh tidak dapat dihitung.
Anda lihat bahwa bahkan Bodhisattva Avalokitesvara Seperti juga Bodhisattva Avalokitesvara, dapat bermanifestasi dalam 32 wujud demi membimbing semua makhluk sesuai dengan sifat dan kemampuan mereka. Terlebih lagi dengan Buddha Sakyamuni. Jadi, dikatakan bahwa Buddha Sakyamuni telah mencapai kebuddhaan// sejak masa yang sangat lama dan tak terhitung bagai butiran pasir. Jadi, masa di mana Buddha Sakyamuni datang ke dunia sebagai Pangeran Siddhartha adalah hanya bagaikan “sebutir pasir” hanya merupakan salah satu butiran pasir dalam jangka waktu yang tak terhitung bagaikan di antara hamparan pasir itu. (jumlah butiran pasir di Sungai Gangga) Kita pun memahami bahwa Jika kita menggunakan satu butir pasir untuk mewakili karena satu kalpa diumpamakan//sebagai sebutir pasir, satu kalpa, maka telah ada maka dalam syair dikatakan, “sejumlah kalpa sebanyak” “jumlah pasir atau debu” “Banyak kalpa yang bagaikan butiran pasir// telah berlalu.”
Ini untuk mengatakan bahwa waktunya tak bisa dihitung, Ini pun menggambarkan panjangnya waktu itu tidak mungkin untuk menyatakan dalam bentuk bilangan tak dapat lagi dinyatakan dengan angka. Kalimat dalam syair ini menyatakan bahwa sebelum Sakyamuni mencapai kebuddhaan, jauh berkalpa-kalpa sebelumnya, beliau sama seperti kita— Beliau juga sama seperti kita, merupakan makhluk awam. Mungkin saja kita pun sama dengan Beliau, telah bersumpah untuk mengembangkan diri berniat untuk melatih diri. Namun, kini Beliau telah mencapai kebuddhaan sedemikian lama. Adalah mungkin bahwa (ketika kita berniat untuk melaksanakan) Mungkin saja saat itu kita hidup// pada masa yang sama dengan Beliau, kita juga belajar dan melaksanakan bersama beliau sama-sama melakukan latihan dan praktik, namun hingga kini kita masih terombang-ambing di alam makhluk awam ini.
Kita harus merasa malu yang mendalam terhadap diri sendiri Maka, kita sungguh harus merasa malu. Sama-sama sebagai manusia, manusia biasa yang memiliki sama-sama memiliki tekad, cita-cita yang sama untuk mengembangkan diri sama-sama menjalani pelatihan diri, Namun, Sakyamuni Buddha namun kini Buddha Sakyamuni telah telah mencapai Kebuddhaan sudah lama sekali mencapai kebuddhaan untuk waktu sangat lama, dan telah kembali ke dunia Saha tak tebilang kali tak henti-hentinya kembali ke Dunia Saha untuk menyelamatkan makhluk kasat mata lainnya untuk membimbing semua makhluk, Kita menyebut beliau guru agung kita sedangkan kita masih merupakan murid-Nya.
Kita pastilah telah menjalin jodoh dengan Sang Buddha dalam kehidupan yang lampau dengan Beliau dalam kehidupan yang lampau dan inilah mengapa ketika kita sehingga ketika kita mendengar ajaran Buddha, mendengar ajaran Sang Buddha, sehingga ketika kita mendengar ajaran Buddha suatu kegembiraan luar biasa muncul dalam diri kita. Kita bahkan muncul rasa sukacita dalam hati kita. Kita memilih menjadi murid Buddha, dengan gembira menjadikan diri sebagai siswa Sang Bddha Dan menyatakan berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha. berlindung pada Buddha, Dharma, dan Sangha.
Jika kita tidak merasa suatu jalinan tertentu dengan Jika hal ini tidak didasari jalinan jodoh, ajaran Sang Buddha, maka di antara begitu banyak agama di dunia, mengapa kita tidak memilih agama lain saja? mengapa kita tidak memilih untuk mengikuti keyakinan lain? Diantara semuanya, dengan Buddha-Dharmalah kita Kita malah merasa cocok dengan ajaran Buddha, merasakan memiliki jalinan merasa berjodoh dengannya hingga memilih beragama Buddha. Ada orang yang mempraktikkan ajaran Buddha sebagai umat perumah tangga. Umat perumah tangga perlu menjalankan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan. dan melaksanakan Sepuluh Kebajikan Sebagian yang bahkan lebih rajin Ada sebagian lagi yang lebih teguh memilih meninggalkan kehidupan perumah-tangga mengikuti jejak Buddha dengan Para viharawan menjadi biarawan/biarawati mengikuti jalan Sang Buddha dan mengikuti jalan yang pernah dilalui Buddha. dan sebagaimana umat perumah-tangga, juga melaksanakan Sila Mereka pun harus menjalankan sila dan melaksanakan Sepuluh Kebajikan. Para viharawan memiliki Sila yang lebih keras Para biarawan/wati menjalankan lebih banyak sila, Namun dengan tinggal dalam komunitas vihara, namun dalam kehidupan biara apakah kita selalu melakukan refleksi terhadap diri kita apakah sila-sila dan aturan ini dan ingat untuk melaksanakan Sila? telah dipenuhi dengan sungguh-sungguh? Apakah kita mengambil Sila sebagai pedoman kita Apakah kita telah menjadikan sila dan aturan sebagai pedoman menjaga keselarasan? “Sila” merupakan panduan dan batasan yang mencegah kita melakukan kesalahan yang mencegah kita melakukan keburukan Kita perlu melaksanakan jalan kebajikan sehingga dapat melaksanakan kebajikan. Sila mengatakan pada kita perbuatan salah apa Sila mengarahkan tentang keburukan apa saja yang tidak patut kita lakukan.
Kita harus menjadi contoh bagi yang lain Kita harus menjadi teladan dan membuat yang lain mengetahui untuk menahan diri dari tindakan demikian agar orang lain mengetahui hal-hal buruk yang tak patut dilakukan. Ini merupakan pendisiplinan diri kita dan orang lain Ini berarti mendisiplinkan diri dan orang lain. Sementara “aturan” adalah tata tertib yang harus dipatuhi. Sudahkan kita memegangnya dengan penuh keyakinan? Sudahkah kita mematuhinya? Ini tidak cukup hanya dilakukan sekali saja. Kita harus senantiasa mematuhinya. Apakah kita telah sungguh-sungguh//berpegang pada sila dan aturan? Jika sudah, kita tidak akan tersesat dari jalan Jika sudah, maka kita tak akan menyimpang dari jalan ini. Menjalankan sila berarti mencegah keburukan; dengan teladan nyata, mendisiplinkan diri sendiri dan orang lain. Mematuhi aturan berarti menaati tata tertib.
Dengan mematuhi sila dan aturan, jalan kita tidak akan menyimpang. Sebagai manusia biasa, Karena kita semua merupakan makhluk awam, kadang-kadang kita “naik”— saat sedang bersemangat, Ini ketika kita melaksanakan dengan rajin kita akan melaksanakan ajaran dengan rajin, Namun suatu ketika rintangan kita muncul lagi, namun saat noda batin muncul, pikiran kita untuk mengembangkan diri tenggelam kembali tekad melatih diri akan tenggelam lagi. Pada saat tekad melatih diri tenggelam, dan kita menghadapi rintangan, maka begitu noda batin muncul dengan sedikit penyimpangan dari jalan dan kita menyimpang sedikit saja, kita akhirnya tersesat jauh dari jalan kita kita akan jauh tersesat. (Karenanya kita tetap sebagai manusia biasa, terus berlanjut) Ini karena kita semua adalah makhluk awam. (muncul dan tenggelam di lautan kelahiran kembali) Ketika kita “muncul” Ketika semangat muncul, kita bertekad, kita dengan senang hati bercita-cita untuk mengembangkan diri merasakan sukacita, dan berikrar.
Dan membaktikan diri kita untuk melaksanakan Kita dapat berbuat bajik melakukan segalanya dengan penuh keinginan dan dengan kegembiraan dengan penuh keikhlasan dan kegembiraan, Namun ketika pikiran yang tertutupi kebodohan atau ketika pikiran keliru muncul, namun saat kegelapan batin muncul keinginan kita untuk mengembangkan diri tenggelam tekad melatih diri kembali tenggelam dan kita menjadi buta oleh ketidak-tahuan dan kita dibutakan oleh kegelapan batin ini dan menjadi seorang manusia biasa yang tidak mengembangkan diri lagi serta kembali menjadi makhluk awam. Inilah alasan kita tidak bisa membuat kemajuan, dan tetap di tempat yang sama seperti sebelumnya terus berjalan di tempat.
Waktu terus berlalu, namun pikiran kita tetap namun pikiran awam kita tetap saja terlibat dalam rintangan manusia biasa terbelenggu dalam tataran makhluk awam. Kasihan sekali! Hal ini sungguh memprihatinkan. Jadi, Buddha Sakyamuni sudah lama sekali mencapai kebuddhaan, namun kita tetap masih sebagai manusia biasa sementara kita tetap menjadi makhluk awam. (Hen, yang di bawah ini juga tolong dicek ulang dengan teks mandarinnya) Karena itu, dalam Sutra Bunga Teratai kita juga melihat penggalan yang berkata bahwa sejak Buddha mencapai kebuddhaan, waktu yang sangat lama telah berlalu. Bukan hanya Syair Pertobatan Air Samadhi yang menyebutkan bahwa Buddha telah mencapai kebuddhaan sejak berkalpa-kalpa lalu, dan namun kita tetap terperangkap dalam sedangkan kita masih diliputi kegelapan batin kebodohan manusia biasa— sebagai makhluk awam, Ini adalah sesuatu yang disebutkan dalam kedua-duanya Sutra Bunga Teratai dan juga Sutra Lotus dan Sutra Boddhisatca Kesitigarbha Sutra Bodhisattva Ksitigarbha mengungkapkan hal yang sama.
Secara ringkas, inkarnasi Sang Buddha sebagai Pangeran Siddhartha emanasi agung Buddha sebagai Siddhartha yang terjadi lebih dari 2.000 tahun yang lalu pada lebih dari 2.000 tahun yang lalu merupakan hanya satu dari banyak kehidupan saat beliau datang ke bumi hanyalah salah satu emanasi-Nya pada kalpa ini. Saat datang sebagai Pangeran Siddhartha, Beliau datang pada kita dalam kehidupan itu agar kita mengetahui Beliau berkata, “Aku terus kembali ke dunia Saha.” bahwa beliau selalu tetap dalam dunia Saha, “Saya terus kembali ke dunia Saha.” bahwa inilah tempat beliau mengajar “Dunia Saha adalah tempat bagi-Ku memberi ajaran.” Bahwa para makhluk kasat mata di dunia Saha ini “Semua makhluk di Dunia Saha ini adalah, bagi beliau, seperti putranya sendiri, bagaikan anak-anak-Ku sendiri, para siswanya dan merupakan murid-murid-Ku.”
Maka, kita harus bersyukur atas keluhuran Sang Buddha Maka, kita harus bersyukur pada Buddha, Tak peduli betapa panjangnya waktu telah berlalu yang tak peduli berapa lama pun sejak pencerahannya, Beliau selalu hadir di antara kita beliau selalu tetap di dalam dunia Saha di Dunia Saha ini. Karena itu, kita sungguh harus merasa malu Kita harus berjuang untuk seperti Sang Buddha dan berupaya memahami hati Buddha. Dengan kita tetap menghadapi rintangan Karena kita sekarang masih terbelenggu sebagai seorang manusia biasa yang diliputi kebodohan dan rintangan bathin di tengah penderitaan dan noda batin, kita sesungguhnya harus merasa malu dan menyesal kita sungguh harus merasa malu dan bertobat.
Enam objek indria Enam objek indra terus-menerus terus-menerus menggoda kita menjadi godaan bagi kita, enam indra kita terus terpengaruh enam objek. memuaskan diri dalam enam bentuk objek indria enam indra kita terus merespon enam objek indra. Kontak antara enam indra dan enam objek ini Dalam pada itu, kesadaran pikiran muncul menimbulkan enam kesadaran. Kebanyakan fungsi dari kesadaran kita Saat enam kesadaran mulai muncul, Ternoda oleh keserakahan, kebencian, dan ketidak-tahuan maka timbullah//ketamakan, kebencian, dan keboodohan. Maka, kita melakukan perbuatan keliru, Dengan begitu, kita pun akan terus yang membawa banyak akibat karma memetik banyak sekali buah karma, sebab sebagai makhluk awam kita menciptakan keduanya karma baik dan buruk kita menciptakan karma baik maupun buruk. Jika terdapat lebih banyak karma buruk dibandingkan dengan karma baik, Namun, yang menakutkan bila karma buruk hasilnya akan menakutkan lebih banyak dibanding karma baik.
Enam indra: Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran Enam objek: Rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek-objek pikiran Enam indra bersentuhan dengan enam objek sehingga timbullah enam kesadaran– kesadaran melihat, kesadaran mendengar, kesadaran mencium, kesadaran mengecap, kesadaran menyentuh, kesadaran berpikir– dan terciptalah berbagai karma yang tak terhingga. Saudara-saudara, kita harus selalu waspada dan giat senantiasa meningkatkan sikap mawas diri karena enam objek dunia luar terus-menerus memengaruhi enam indra kita. Enam indra ini membangkitkan enam kesadaran Ketika kesadaran pikiran memnuculkan tindakan, yang kemudian mewujudkan reaksi tindakan, karma tercipta hingga kemudian terciptalah benih karma. dan benih akan terbentuk Benih karma pun tertanam.
Terdapat banyak akibat yang mengerikan Hal ini sungguh menakutkan. Konghucu suatu ketika berkata tentang Maka, Konfusius pun pernah berkata, dua jenis manusia “Ada dua jenis manusia, mereka yang dungu dengan mereka dengan kemampuan tajam yang berkemampuan tumpul dan yang tajam.” Mereka yang berkemampuan tajam//adalah yang bijak, memahami banyak kebenaran dari satu ajaran, dan teguh dalam tekad melatih diri. Mereka pastinya tidak akan terombang-ambingkan Mereka pasti tidak akan terpengaruh atau dirusak oleh lingkungan mereka atau tercemar oleh kondisi luar. Sakyamuni Buddha tergolong dalam jenis manusia seperti ini Buddha Sakyamuni tergolong jenis manusia ini. Sekali beliau menyadari kebenaran, Setelah Beliau menyadari kebenaran, tekadnya tidak pernah hilang tekad-Nya sangat teguh.
Tak peduli kondisi luar yang seperti apa yang beliau hadapi, Bagaimana pun kondisi lingkungan di luar, tekad-Nya tetap tak tergoyahkan. Inilah tentang “pikiran yang berkemampuan tajam” Inilah yang disebut//manusia berkemampuan tajam. Sementara itu, terdapat mereka yang “dungu” Jenis lainnya adalah yang berkemampuan tumpul. Mereka sangat melekat pada (cara-cara duniawi) Meski telah diberi tahu berulang-ulang, Tidak ada yang bisa mempengaruhi mereka untuk kemelekatan mereka tetap sulit diubah. membuang kemelekatan Manusia seperti ini sukar diselamatkan Manusia seperti ini sulit disadarkan. Terdapat juga manusia yang berada di tengah-tengah Ada juga orang yang berkemampuan sedang, yang juga sukar diselamatkan dan orang ini pun sangat sulit disadarkan, Mereka adalah yang terus-menerus sebab mereka seperti yang saya katakan, tekad mereka timbul-tenggelam.
Pada saat mendengar ajaran, mereka berpikir: Saat mendengar ajaran,//mereka berpikir, ”Benar juga. “Sesungguhnya, berputar-putar dalam siklus di enam alam (samsara)” Hidup di 6 alam sungguh menderita dan menakutkan, “adalah mengerikan” “Saya harus dengan cepat mengembangkan diri” saya harus segera melatih diri.” Namun dapatkah niat untuk mengembangkan diri ini Namun, apakah niat ini dapat tetap teguh? tetap stabil dan teguh? Tidak, ketika berbagai keadaan muncul, Ketika berbagai keadaan muncul, kembali, ketidak-tahuan dan pikiran yang tertutupi maka kegelapan batin mulai menyelubungi akan mengambil alih dan mereka juga akan dan mereka mulai menciptakan karma. melakukan kesalahan dan menciptakan karma buruk Begitulah jalan manusia biasa Demikianlah yang disebut makhluk awam. Saudara-saudara, sementara kita masih di Samsara.
Saudara sekalian, semoga kita semua Saudara-saudara, sementara kita masih di Samsara dalam kehidupan di tengah alam Samsara ini kita harus cepat-cepat meningkatkan kesadaran kita dapat membangkitkan kesadaran diri. kita harus berjuang untuk menjadi Kita harus menjadi seorang manusia berkemampuan tajam karena kita memiliki hakikat dasar yang sungguh setara dengan Buddha. Kita juga mampu memiliki Kita juga memiliki welas asih seperti Buddha. kasih-sayang yang sama dengan yang Sang Buddha miliki Sesungguhnya sama, Perbedaannya hanyalah bahwa Sang Buddha hanya saja Buddha telah menyadari banyak kebenaran dengan satu ajaran sehingga Beliau dapat mencapai Kebuddhaan jauh dahulu kala mencapai kebuddhaan sejak dahulu kala, Sementara, kita masih sementara kita masih (terhanyut di lautan kebodohan) terperangkap di alam manusia. Pembandingan ini haruslah membuat kita Karena semua inilah, kita harus merasa malu terhadap diri sendiri.
Saudara-saudara, kita tidak boleh meremehkan Saudara sekalian, jangan meremehkan diri sendiri. tindakan sekecil apapun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari Dalam tindakan sekecil apa pun setiap hari, Lebih lanjut lagi, kita bahkan tidak boleh membiarkan satu pemikiran yang tersesat tak boleh kita biarkan ada niat yang menyimpang. muncul dalam pikiran kita Ketika kita memiliki pemikiran yang tidak semestinya, Jika kita memiliki pikiran yang salah, kita harus dengan cepat memperingatkan diri kita sendiri akan hal ini kita harus segera mengingatkan diri Sekali kita menyingkirkannya dari pikiran kita, untuk membuang pikiran yang tidak patut itu. kita tidak boleh membiarkannya muncul kembali untuk membuang pikirang yang tidak patut itu. Ketika kita mendengarkan ajaran, Saudara sekalian, saat mendengar Dharma, kita harus sungguh-sungguh membawanya ke dalam hati kita juga harus meresapinya.
Jika kita tidak demikian, tak peduli seberapa banyak yang kita dengar, Bila tidak diresapi,..sebanyak apa pun kita mendengar, Kita tetap masih “bodoh” tetap saja tidak dapat memahaminya. Kalimat-kalimat pada hari ini nampaknya mudah dimengerti Kalimat dalam syair ini sangat lugas, namun kita harus menyerapnya ke dalam pikiran dan benar-benar merenungkan dengan penuh kewaspadaan dengan sungguh-sungguh. Saudara-saudara se-Dharma, jika kita tidak melakukan refleksi diri Jika kita tidak melakukan introspeksi diri, atau memeriksa diri kita dan tidak merenungkan secara mendalam ajaran dan tidak merenungkan ajaran secara mendalam, maka setelah membaca kita hanya akan berkata, maka kita mungkin “mengetahui” ajaran “Saya sudah tahu,” namun tidak pernah benar-benar mengerti atau menyadari artinya. Jadi, harap semua selalu bersungguh-sungguh.