Kegiatan Internasional

Para Pemulung dari Patayas, dan para Penyandang Disabilitas Menerima bantuan Tahap Ketiga

Sebanyak 932 pemulung dari Patayas berkumpul di halaman Balai Kota Quezon, Filipina, pada tanggal 12 Desember untuk menerima bantuan tahap ketiga sekaligus terakhir berupa beras dan kebutuhan pokok lainnya dari Yayasan Tzu Chi. 

Lebih dari 900 orang pemulung dari Patayas menerima bantuan beras dan kebutuhan pokok lainnya dari Yayasan Tzu Chi.
Para penerima bantuan memberi tanda Jempol.

Rose Marie Araba bersyukur atas bantuan dari Yayasan Tzu Chi. Menikah dengan seorang pemulung, dia harus berjuang keras selama masa pandemi. Dia, suaminya, dan keempat anaknya tinggal bersama mertuanya dan dimasa-masa terburuk, hanya bisa makan garam dan minum air putih saja.
“Kadang kami mencari sayur-sayuran di sekitar kami, dan jika ada, ditambah dengan sedikit garam, penyedap rasa, atau kecap asin, akan jadi menu makanan kami,” katanya. 

Rose Marie Araban menuangkan koin dari celengan Tzu Chi nya kedalam tempat penampungan. "Pandemi ini hanya cobaan dalam hidup kita," katanya, "Tuhan tidak meninggalkan kita."
Para penerima bantuan mengoyang-goyang celengan Tzu Chi ketika sedang menunggu giliran.
Meski pendapatan mereka tidak seberapa, mereka tetap menyisihkan sedikit dari pendapatan mereka untuk membantu orang lain melalui Yayasan Tzu Chi.

Ditengah kemiskinan hidup, Araban tetap bersikap positif. “Pandemi ini hanya cobaan dalam hidup kita,” katanya mengingatkan, “Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.”
Dalam setiap bantuan yang dia terima, Araban tidak ragu-ragu untuk berbagi beras dan bantuan kebutuhan pokok lainnya yang dia dapatkan dengan  mertua dan para tetangganya. “Saya belajar berbagi dari Yayasan Tzu Chi,” katanya, “Ketika kita menerima, kita harus berbagi dengan orang lain, terutama dengan mereka yang tidak memiliki apapun. Selalu terasa bahagia bisa menolong.”
Diantara para penerima bantuan ini, beberapa dari mereka beralih menjadi pemulung untuk bertahan hidup. Dimasa pandemi ini, bertahan hidup adalah yang terpenting, dan dengan tagihan-tagihan yang harus dibayar, mulut-mulut yang harus diberi makan, para kepala rumah tangga memilih menjadi pemulung demi keluarga mereka.
Dixon Royelo sebelumnya berprofesi sebagai supir di sebuah perusahaan besar. Ketika pandemi melanda, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya. “Mereka tidak ijinkan saya melapor untuk bekerja,” katanya. Tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dimasa lockdown dan bisnis yang terus memburuk, dia menjadi pemulung. Setiap hari dia mencari besi bekas dan plastik botol untuk dijual.
“Mengemudi adalah satu-satunya keahlian saya. Saya tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikerjakan. Jadi saya katakan, saya akan menjadi pemulung untuk menghidupo keluarga saya,” katanya.

Dimasa pandemi, Dixon Royelo (berkaos putih) harus berhenti dari kerjanya sebagai supir untuk memulung besi bekas dan botol plastik. Dia berencana untuk mencari pekerjaan sebagai supir kembali tahun depan.
Ketika lockdown dilonggarkan, Glen Nalda bisa menjual kue beras dan menerima orderan untuk membuat kue.

Glen Nalda sendiri tidak selalu jadi pemulung. Sebelum suaminya meninggal dunia, suaminya adalah pencari nafkah keluarga dan mengurus semuanya. Kini, Nalda yang harus mengasuh kedua anaknya. “Adalah tanggung-jawab saya untuk menghidupi mereka, menjaga mereka, dan mengirim mereka ke sekolah,” katanya, “Dan semua pengeluaran kami – listrik, air –  tidak gratis.”

Para penyandang disabilitas dan para pemijat tuna netra juga termasuk diantara mereka yang menerima bantuan. Kelangsungan hidup mereka sangat terimbas oleh pandemi ini.

Dua karung beras bantuan Tzu Chi (@10 kg), dan sekantong sembako, yang diterima oleh mereka selama tiga kali pendistribusian, adalah jawaban atas doa dari Royelo dan Nalda, ketika mereka sedang berusaha bangkit lagi. Royelo berencana akan kembali melamar pekerjaan sebagai supir di tahun 2022, dan Nalda yang sudah mulai berjualan kakanin (snack makanan ringan dari beras di Filipina) dan membuat kue. Orderan mulai datang lagi untuk makanan ringan buatannya, yang dibuat di rumahnya. 

Relawan Tzu chi menurunkan bahan-bahan kebutuhan pokok dari truk, dan membungkusnya sebelum dibagikan.
Para penerima bantuan memanggul beras bantuan yang mereka terima.
Ada penerima bantuan yang memperoleh bantuan untuk mengangkat beras yang diterimanya dari para polisi yang berjaga.

Dan seperti juga Araban, Nalda akan membagikan berkah yang diterimanya. “Pandangan saya tentang hidup sama seperti Master Cheng Yen,” katanya, “Tetaplah rendah hati. Dan ketika ada yang bisa kamu lakukan untuk menolong orang lain, lakukan segera, karena akan datang masa ketika kamu juga akan butuh bantuan orang lain.”
Pada kesempatan ini, sebanyak 24 orang penyandang disabilitas juga meneriman bantuan beras dan sembako.

Sumber : https://www.tzuchi.org.ph/news/features-and-stories/payatas-scavengers-pwd-receive-their-third-tranche-of-relief/
Jurnalis : Joy Rojas,
Fotografer : Daniel Lazar,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.