Menyumbang Satu Juta Dollar Taiwan Berikutnya
Ketika saya masih muda, Ibu kami mengajari kami berenam untuk selalu menabung untuk masa-masa sulit. Saya baru menyadari setelah saya dewasa bahwa ibu saya menghemat sebisa mungkin karena kami miskin. Itu tidak mengherankan karena pada masa itu banyak keluarga di Taiwan miskin.
Saya baru saja berulang tahun ke 63. Saya anak keempat dalam keluarga kami. Saya punya seorang adik perempuan dan seorang adik laki-laki yang kembar. Beban untuk menghidupi keluarga besar kami ada pada ayah kami. Beliau tidak berpendidikan tinggi, jadi dia mengandalkan kerja manual yang mengandalkan tenaga kasar untuk menghidupi kami. Tidak mudah untuk menghidupi segitu banyak anak dengan penghasilan dari kerja kerasnya.
Ibu memberitahu saya bahwa sebelum saya dan adik kembar saya lahir, ayah pergi meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Keelung, di sebelah utara Taiwan, agar bisa ada makanan di meja makan kami. Saat itu tidak ada mesin untuk membantu bongkar muat kapal; semuanya bergantung pada kekuatan otot manusia. Begitu kapal melabuh, ayah sibuk memindahkan barang, dan dia baru akan dibayar setelah pekerjaannya selesai. Semakin banyak barang yang dia pindahkan, semakin besar bayaran yang dia terima. Namun, pada saat itu, tidak ada sistem perlindungan tenaga kerja yang mapan. Jika ada buruh seperti ayah saya yang tanpa sengaja mengalami kecelakaan kerja, dia seringkali hanya membalut perban sederhana saja untuk kemudian kembali bekerja. Dia bisa saja pergi ke dokter selepas bekerja, namun dia harus menanggung sendiri biaya berobat.
Sayangnya, ayah mulai mengalami masalah kesehatan tidak lama setelah saya dan adik kembar saya lahir. Kami tidak tahu apakah itu karena perkerjaan sebagai buruh pelabuhan terlalu berat baginya atau karena dia mengalami cedera di tempat kerja dan tidak merawatnya dengan benar. Apapun alasannya, dia akhirnya terpaksa harus berhenti bekerja di demaga.
Setelah ayah sakit, semakin susah bagi keluarga kami untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang tua kami tidak punya pilihan lain kecuali menjual sebidang tanah warisan kakek kami, namun juga tidak menerima banyak uang dari hasil penjualan tanah tersebut. Dikemudian hari, Ibu sering mengeluh bahwa mereka menjual tanah tersebut terlalu murah, tetapi telah terjual dan sudah terlambat untuk menyesalinya – mereka hanya bisa menggertakan gigi sambil terus berjuang mencukupi kebutuhan finansial. Keluarga saya sangat miskin sehingga kakak saya yang paling tua harus berhenti sekolah bahkan sebelum dia lulus kelas satu agar bisa merawat kami di rumah. Orang tua kami bahkan pernah mempertimbangkan untuk memberikan saya dan saudara kembar saya untuk diadopsi, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya. Ayah kami tidak tahan membayangkan untuk berpisah dengan kami.
Dengan uang yang sedikit, kami selalu makan bubur setiap hari – kecuali di tanggal 1 dan 15 setiap bulan, dimana pada hari-hari tersebut kami sembayang dewa dan leluhur kami. Ketika selesai sembayang, kami bisa makan makanan yang dipersembahkan. Kami bersaudara selalu menghitung hari agar segera tanggal 1 dan 15 lagi diama kami bisa makan makanan yang lebih baik. Pada masa itu, kami harus makan cepat, jika tidak, makanan sudah habis tanpa disadari. Namun, kami selalu kalah bersaing makan cepat dengan saudara laki-laki kami. Kami selalu mengeluh kepada orant tua kami bahwa saudara laki-laki kami makan terlalu cepat dan banyak daripada kami! Namun, ketika saya mengingat kembali masa-masa itu, saya menyadari bahwa meskipun tidak menyenangkan memperebutkan makanan pada saat itu, merupakan sebuah berkah bagi keluarga kami masih memiliki tempat tinggal dan bisa makan bersama sebagai satu keluarga.
Mungkin karena kehidupan sulit yang kami jalani saat tumbuh dewasa, saya menjadi sangat menyadari betapa mengerikan bagi sebuah keluarga yang mengalami kemiskinan dan sakit sekaligus. Itu sebabnya dikemudian hari dalam hidup saya, saya terus menerus mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati menjaga keselamatan saya dan menjaga kesehatan saya agar tidak jatuh sakit.
Satu Juta Pertama
Suatu hari di tahun 1991, suami saya dan saya melewati sebuah sekolah dan melihat sebuah poster yang ditempel disamping gerbang sekolah yang mengumumkan bahwa akan ada acara berjudul “Hidup yang Diberkati”, sebuah rangkaian ceramah.
Kami tidak punya kegiatan apa-apa pada hari itu, jadi saya dan suami saya mendaftar untuk ikut acara tersebut. Ketika tiba harinya disaat kami memasuki lokasi acara, kami masing-masing menerima sebuah amplop manila berisi beberapa macam publikasi, termasuk sebuah pamflet yang memperkenalkan Dharma Master Cheng Yen dan sebuah majalah bulanan Tzu Chi.
Saya tidak begitu ingat lagi apa yang dibicarakan dalam ceramah hari itu, tetapi saya ingat dengan jelas sesuatu yang dikatakan oleh relawan Tzu Chi tentabg pengalamannya menjadi relawan Tzu Chi. Saat dia berkata tentang menyebutkan nama Buddha untuk mereka yang telah meninggal di acara pemakaman atau acara lain, untuk membawa kedamaian bagi jiwa orangyang telah meninggal dan penghiburan bagi keluarga yang berduka, dia berkomentar, “Apa yang mesti ditakuti? Yang meninggal sudah pergi.” Dalam kebiasaan tradisonal masyarakat Tionghoa, orang-orang tidak suka membicarakan kematian, dan cenderung menghindari acara pemakaman kecuali yang meninggal adalah anggota keluarga atau teman dekat. Hal ini bahwkan lebih terasa dimasa orang-orang masih konservatif. Karena itu, saya sangat terkesan ketika saya mendengar kata-kata relawan tersebut. Saya terkesan dengan ide-idenya yang baru dan tidak konvensional.
Sehari setelah acara tersebut, saya membolak-balik pamflet Tzu Chi yang saya terima dan menelpon nomor kantor Tzu Chi yang tertera. Saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin memberi donasi kepada Tzu Chi. Saya menjadi donatur tetap Tzu Chi semenjak saat itu. Setiap bulan, Lin Xue-zhu Shejie, seorang relawan senior Tzu Chi di Taichung, Taiwan tengah, akan datang kerumah saya untuk mengumpulkan donasi saya dan membawakan saya majalah bulanan Tzu Chi yang terbaru dan sebuah kaset berisi ceramah Master Cheng Yen.
Pada tanggal 21 September 1997, gempa berkekuatan 7,3 dalam skala Ricther melanda Taiwan, mengakibatkan hilangnya banyak nyawa manusia dan harta benda. Ketika saya mengetahui bahwa Tzu Chi sedang memulai proyek untuk membangun kembali gedung sekolah yang hancur dan rusak karena gempa, saya jadi kuatir. Saya berpikir : “Berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membangun kembali 51 sekolah? Apakah Tzu Chi akan punya dana yang cukup? Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu meringankan beban Master Cheng Yen?”
Saat itu, saya bekerja sebagai buruh di sebuah lokasi konstruksi. Saat saya bekerja, saya menghitung berapa banyak uang yang saya miliki di rekening bank saya. Saya berpikir bahwa dengan gaya hidup hemat saya, kemungkinan untuk menghabiskan semua uang tabungan saya untuk diri saya sendiri sangat tipis. Jadi, daripada membiarkan uang saya disimpan di bank tanpa melakukan apa apa, saya putuskan bahwa akan jauh lebih baik mendonasikannya ke Tzu Chi untuk membantu anak-anak sekolah di daerah bencana agar bisa kembali sekolah di gedung sekolah yang baru.
Setelah saya bulatkan tekad, saya menelpon Lin Xue-zhu Shejie dan memberitahu dia bahwa saya ingin menyumbangkan 1 juta dollar Taiwan (sekitar US$33.000) kepada Tzu Chi atas nama suami saya. Dia tertegun dan ragu-ragu untuk menerima donasi saya. Dia khawatir saya akan mengalami kesulitan keuangan jika saya mendonasikan begitu banyak uang saya kepada yayasan Tzu Chi.
Saya meyakinkan Xue-zhu Shejie banhwa saya akan baik-baik saja. Saya menjelaskan kepadanya bahwa penghasilan suami saya dari membuat bekisting di lokasi konstruksi sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup kami. Saya memberitahu Xue-zhu Shejie bahwa saya tidak memiliki banyak pengeluaran – saya bahkan memotong rambut saya sendiri! Bahkan dengan menabung setiap sen yang saya hasilkan, tanpa sadar saya telah menabung satu juta dollar Taiwan. Karena saya tidak dapat memikirkan hal lain untuk membelanjakan uang saya, saya putuskan untuk memanfatkannya dengan baik dengan cara menyumbangkannya untuk tujuan yang mulia.
Saya berulang-kali meyakinkan Xue-zhu Shejie bahwa keuangan keluarga saya tidak akan terpengaruh oleh sumbangan saya. Akhirnya, dia mulai bisa menerima ide saya dan mulai memberitahu saya apa yang perlu saya lakukan untuk memberikan donasi. Setelah saya mendonasikan satu juta dollar Taiwan pertama, saya membuat doa di hati saya agar saya bisa menyumbangkan lebih banyak lagi di masa depan atas nama kedua putra saya. Uang itu tidak hanya akan digunakan untuk hal-hal yang mulia, tetapi juga akan menjadi berkah bagi keluarga saya.
Satu Juta Kedua
Sepuluh tahun lalu, saya mendonasikan satu juta dollar Taiwan lagi ke Tzu Chi. Satu dekade telah berlalu sejak donasi satu juta dollar Taiwanyang pertama, dan saya kembali memiliki uang di bank. Saya putuhkan bahwa inilah saat yang tepat untuk berdonasi dalam jumlah besar sekaligus.
Saya telah menjadi donatur Tzu Chi lebih dari 20 tahun pada saat itu, namun saya merasa tidak enak bahwa selain menyumbangkan uang untuk Tzu Chi, saya tidak melakukan banyak hal lain untuk membantu. Setiap kali Tzu Chi membutuhkan relawan untuk membantu, saya adalah orang yang paling sedikit berkontribusi di kantor cabang setempat. Xue-zhu Shejie sering mendorong saya agar menjadi anggota komite Tzu Chi, namun saya selalu mengatakan kepadanya bahwa saya terlalu sibuk untuk itu. Untuk menjadi anggota komite Tzu Chi harus menjalani pelatihan, sementara saya sering harus bekerja lembur di lokasi konstruksi – bukan hanya lembur di malam hari, tetapi juga lembur di akhir pekan. “Saya tidak bisa meluangkan waktu [untuk menjalani pelatihan dan bertugas sebagai anggota komite]!” jawab saya. Baru setelah tahun 2011, ketika kesempatan kerja semakin berkurang, saya mulai menjalani pelatihan untuk menjadi anggota komite Tzu Chi. Saya dinyatakan lulus dua tahun setelahnya.
Saya pensiun dua tahun yang lalu, dan sekarang saya akhirnya memiliki lebih banyak waktu untuk mendedikasikan diri sebagai relawan Tzu Chi. Sementara itu, saya tetap hidup hemat. Selain menjadi relawan di lokasi daur ulang setempat, saya suka “berburu harta karun” disitu. Setiap kali saya melihat ada pakaian bekas yang masih terlihat bagus dan seukuran saya, saya akan membawanya pulang untuk dipakai. Jika perlu, akan saya modifikasi pakaian itu agar lebih cocok untuk saya. Hasilnya, saya tidak perlu membeli pakaian baru untuk saya selama bertahun-tahun.
Saya mengumpulkan lebih banyak pakaian bekas dari tempat daur ulang Tzu Chi. Rak di balkon rumah saya, contohnya, dibuat dari papan papan kayu yang saya temukan di tempat daur ulang. Relawan di tim saya sering mengatakan saya terlalu hemat, namun saya berpendapat jika sebuah benda masih bisa digunakan, kita tidak boleh membiarkannya sia-sia. Saya tidak pernah membuang barang-barang yang sudah rusak di rumah saya jika masih bisa diperbaiki, baik itu alat penyaring air ataupun peralatan listrik lainnya. Bagaimanapun, memperpanjang usia sebuah barang adalah cara termudah untuk memotong pengeluaran dan berhemat.
Satu Juta Ketiga
Selama dua tahun terakhir, Tzu Chi telah menyumbangkan banyak alat pelindung diri dan peralatan medis di seluruh dunia untuk membantu memerangi pandemi Covid-19. Saya berhitung dalam pikiran saya dan sadar bahwa satu dekade lagi telah berlalu semenjak saya mendonasikan satu juta dollar Taiwan kedua. Jadi saya memberitahu Xue-zhu Shejie bahwa saya ingin mendonasikan satu juta dollar Taiwan yang berikutnya, donasi yang ketiga.
Saya kuatir anak-anak saya mungkin akan menentang saya jika mereka mengetahui niat saya untuk menyumbangkan satu juta dollar lagi, jadi saya tidak memberitahu mereka. Sejujurnya, saya sempat ragu untuk donasi ketiga itu, sampai saya teringat apa yang pernah dikatakan seorang relawan Tzu Chi tentang daripada meninggalkan uang untuk diperebutkan anak-anak kita, lebih baik menyumbangkannya untuk kebajikan selagi kita masih hidup. Dia benar – ada kebenaran dalam kata-katanya – jadi saya membulatkan tekad dan menyumbangkan untuk ketiga kalinya.
Ketika Xue-zhu Shejie bertanya kepada saya atas nama siapa saya akan berdonasi kali ini, saya terpikir tentang ibu saya, yang meninggal lima tahun lalu. Tiba-tiba saya sangat rindu kepadanya. Beliau selalu mengajarkan kepada saya jika kami tidak bisa menyimpan uang yang kami dapatkan, kami akan selalu kekurangan uang tidak peduli seberapa banyak uang yang kami hasilkan. Saya sangat berterima-kasih kepadanya karena menyadarkan saya akan efek kumulatif yang luar biasa dari menghemat sejumlah uang kecil dari waktu ke waktu. Keluarga kami pasti akan mengalami kesulitan keuangan yang beratr jika bukan karena dia. Saya juga sangat berterima kasih kepadanya yang telah membesarkan kami dengan kerja kerasnya, dan memberi saya tubuh yang sehat sehingga saya tidak pernah harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan medis. Sebagai cara untuk berterima kasih kepadanya, saya memutuskan untuk menyumbangkan satu juta dollar Taiwan yang ketiga atas namanya.
Penghasilan saya tidak banyak sebagai buruh di lokasi konstruksi, tetapi selama lebih dari 30 tahun saya tidak pernah berhenti bekerja, jadi ditambah dengan gaya hidup hemat saya, saya bisa berhemat lumayan banyak uang.Ketika saya selesai dengan tugas saya di lokasi konstruksi, saya pindah ke kerjaan lain. Dan di musim dingin, ketika pekerjaan di lokasi konstruksi tidak banyak, saya kerja di sebuah pabrik yang membuat selimut kapas. Saya tidak pernah mau melewatkan kesempatan untuk menghasilkan uang. Karena setiap sen yang saya sumbangkan adalah dari penghasilan saya, suami saya tidak pernah keberatan.
Banyak rekan relawan lain mengatakan bahwa adalah luar biasa saya mau menyumbangkan begitu banyak hasil jerih payah saya, tetapi saya tidak terlalu memikirkannya. Sebaliknya, saya bersyukur bisa berdonasi. Hidup telah memperlakukan saya dengan baik : saya tidak pernah mengalami kemunduran besar dalam hidup saya, suami dan anak-anak saya memiliki kesehatan yang baik, dan saya bahkan dapat menghemat dan memberikan sumbangan bagi yang membutuhkannya. Saya berharap saya bisa terus memberikan waktu, bakat, dan harta saya di masa depan.
Diceritakan oleh : Chen Li,
Jurnalis : Zhang Yu-fan,
Fotografer : Huang Xiao-zhe, Wu Fang-mei, Chen Li,
Diedit dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh : Wu Hsiao-ting,
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.