Kegiatan Internasional

“A Mission of Love” – Buku tentang Sejarah Kegiatan Kemanusiaan Tzu Chi di Filipina kini Menjadi Bagian dari Koleksi Perpustakaan Nasional Filipina

Pada bulan November 2019, Yayasan Tzu Chi di Filipina menerbitkan sebuah buku berjudul “A Mission of Love” – sebuah buku yang merincikan kegiatan kemanusiaan Yayasan Tzu Chi di Filipina. Ditulis oleh penulis kawakan dan jurnalis Alya B. Honasan dan didesain oleh desainer buku terkenal Felix Mago Miguel, buku tersebut dirilis tepat pada perayaan ulang tahun Yayasan Tzu Chi ke 25 di Filipina.
Tiga tahun kemudian, buku ini mencapai tongak sejarah baru : Menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Filipina. Didirikan pada tahun 1887 dan dihidupkan kembali pada tahun 1901, Perpustakaan Nasional Filipina adalah tempat penyimpanan semua warisan budaya nasional serta menyimpan semua karya cetak intelektual, sastra, dan informasi lainnya.
Ini berarti bahwa masyarakat memiliki akses ke buku yang penuh dengan cerita dan foto yang menggambarkan welas asih dan bantuan yang diberikan oleh Yayasan Tzu Chi kepada para korban bencana dan masyarakat yang kurang beruntung lainnya di Filipina.

Penulis buku veteran dan jurnalis Alya Honasan menulis "A Mission of Love", sebuah buku yang menceritakan detail sejatah kegiatan kemanusiaan Tzu Chi di Filipina. Pada bulan Fenbruary 2022, buku tersebut menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Filipina.
Alya Honasan tentang buku "A Mission of Love" yang kini menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Filipina : "Selalu memuaskan ketika menulis buku untuk tujuan yang lebih besar daripada seseorang. Tidak ada orang yang bisa menyangkalnya, tidak ada yang bisa melupakannya. Ini akan memastikan bahwa warisan ini akan dilindungi dan diteruskan.

“Buku itu akan ada disana untuk selamanya,” kata Honasan. “Semua orang bisa membacanya dan memahami apa yang telah (Pendiri Tzu Chi) Dharma Master Cheng Yen lakukan untuk banyak negara, khususnya untuk Filipina. Tzu Chi hadir disaat negara ini membutuhkannya. Tzu Chi datang lebih cepat dari pada banyak kelompok tanggap bencana lainnya! Saya senang kami dapat mendokumentasikan pekerjaan yang telah dilakukan Tzu Chi.”
Honasan mendapatkan proyek untuk menulis buku tersebut melalui pembawa berita dan jurnalis Mitzi Borromeo. Borromeo memperkenalkan dia pada Judy Lao, Kepala Departemen Hubungan Masyarakat Yayasan Tzu Chi.
“Apakah orang-orang ini sah dan benar?” Honasan ingat menanyakan pertanyaan itu kepada Borromeo, yang meyakinkannya tentang ketulusan mereka. “Tidak ada maksud tersembunyi sama sekali,” jawab Borromeo.
Kenyataannya, Honasan melihat langsung sendiri beberapa tahun yang lalu ketika dia dan Tzu Chi menjadi relawan dalam upaya Save the Laguna Pitbulls, sebuah proyek yang merawat dan merehabilitasi 230 anjing pitbull yang diselamatkan dari arena adu anjing ilegal yang dioperasikan oleh orang-orang Korea. Honasan ingat betapa terkesannya dia kepada para relawan Tzu Chi dengan seragam khas biru-putih atas kerendahan hati dan rasa hormat mereka kepada terhadap hewan yang tidak terbatas.
“Kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, dan kemudian anda menyadari bahwa itu nyata!” katanya. “Ketika mereka membungkuk untuk menyerahkan bantuan mereka, itu seperti mereka berkata,”Terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk membantu anda.”

Pustakawan dari Perpustakaan Nasional Filipina Melody Madrid (kiri) menerima buku "A Mission of Love" dari relawan Tzu Chi Larry Velasquez.
Menurut informasi dari relawan Tzu Chi Larry Velasquez, untuk menyerahkan buku "A Mission of Love" ke Perpustakaan Nasional Filipina sempat terhambat oleh pandemi. Sekarang buku tersebut telah menjadi bagian dari lembaga terhormat ini, Perpustakaan Nasional tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentangTzu Chi, terutama upayanya dalam gerakan bervegetarian.
Relawan Tzu Chi Larry Velasquez dan pustakawan dari Perpustakaan Nasional Filipina melihat halaman demi halaman dari buku "A Mission of Love".

Untuk menulis buku “A Mission of Love“, Honasan mewawancarai langsung orang-orang yang mendapat bantuan dari Tzu Chi atau terlibat langsung dengan kegiatan Tzu Chi. Di Tacloban, Leyte, dia bertemu dengan para korban topan badai super Yolanda, yang kini telah bangkit lagi dari keterpurukan dengan bantuan dari Yayasan Tzu Chi yang tidak kenal lelah.  

Sekitar 12.000 orang berkumpul di Sekolah Dasar San Jose, untuk berpartisipasi dalam kegiatan "Cash for Work" yang diadakan oleh Tzu Chi di Kota Tacloban.

Honasan juga bertemu dengan Lea dan Rachel Awel, mantan kembar siam yang lengket di perut dan memiliki 1 buah hati. Berhasil dipisahkan dalam sebuah operasi selama 6 jam yang dilakukan pada tahun 2003 di Rumah Sakit Tzu Chi di Hua Lien, Taiwan. Kedua gadis tersebut kini telah beranjak remaja dan menjadi bagian dari Tzu Ching ketika Honasan mewawancarai mereka. “Mereka telah menjadi murid panutan, mereka memberi kembali kepada masyarakat, mereka berbicara Bahasa Mandarin dengan fasih,” Honasan terkagum. “Kini ada dua individu yang berbeda yang menjalani hidup mereka dengan cara terbaik.”

Kembar siam Lea dan Rachel Awel, yang lengket di perut dan berbagi memakai 1 buah hati.
Berkat operasi selama 6 jam yang sukses, Lea dan Rachel Awel kini menjalani hidup mereka dengan cara yang terbaik.

Honasan juga bertemu dengan Josefino “Jo” Qua, ahli bedah onkologi dan salah satu pendiri TIMA (Tzu Chi International Medical Association) yang mengepalai misi medis Tzu Chi dari tahun 1995 hingga 2001. “Kisah tentang bagaimana mereka melakukan misi darurat medis benar-benar luar biasa,” kata Honasan. Dia sendiri adalah salah satu yang selamat dari kanker payudara, sambil bercanda menambahkan, “Saya memberitahu Dokter Qua, jia saya pernah sakit lagi, saya akan mencarinya. Saya adalah penggemarnya!”

Dr. Jo Qua menggendong seorang pasien ke ruang pemulihan darurat di sebuah sekolah dimana misi medis Tzu Chi berlangsung.

Salah satu yang paling menarik dari kegiatan menulis buku tersebut – dan juga salah satu yang paling menarik dalam hidupnya – adalah bertemu dengan Dharma Master Cheng Yen. Honasan, yang membaca banyak buku tentang Master Cheng Yen sebelum mulai menulis buku ini, bertemu dengan sang pendiri Tzu chi ketika dia terbang dari Filipina bersama dengan beberapa relawan Filipina ke Taiwan untuk mempersembahkan bukunya yang telah selesai.
“Rasanya seperti berada di hadapan seseorang yang suci,” Honasan menggambarkan ketika bertemu dengan Master di Aula Jing Si di Hualien. “Dia sangat lembut, elegan, dan bertutur kata lembut. Pada suatu titik ketika dia berbicara tentang buku itu, dia membukanya tanpa melihat, ke halaman dimana foto kembar siam tersebut berada. “Ini! Inilah sebabnya kami melakukan apa yang kami lakukan,” katanya kepada orang-orang.
Bertahun-tahun kemudian, dampak dari pertemuan dan ajaran universal tetap segar dan relevan bagi penulis. “Semua agama, semua pencarian spiritual memberitahu anda bahwa tidak semuanya ada dalam kendali anda, dan anda hanya perlu percaya pada semesta dan membiarkannya  terjadi,” katanya. “Percaya pada kekuatan diri sendiri tetapi tetap rendah hati untuk mengakui kekuatan orang lain dan kekuatan di luar anda.”

Dharma Mster Cehng Yen ketika masih muda.
Master Cheng Yen ketika mengunjungi seorang penerima bantuan jangka panjang di rumah sakit.

Honasan, yang telah menulis beberapa buku yang kini menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Filipina, berkata tentang buku “A Mission of Love”, “Selalu memuaskan ketika anda menulis sebuah buku yang memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada seseorang. Tidak ada orang yang bisa menyangkalnya, tidak ada yang bisa melupakannya. Ini akan memastikan warisan terlindungi dan tetap berlanjut.”
Untuk membeli buku “A Mission of Love”, silahkan hubungi (0905) 7385722.

Sumber : www.tzuchi.org.ph,
Jurnalis : Joy Rojas,
Fotografer : dok. Tzu Chi, Daniel Lazar,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.