Setelah Menderita Patah Kaki, Sebuah Kehidupan yang Baru Muncul
“Anggaplah penderitaan sebagai sebuah tantangan, setelah anda mengatasinya, anda akan bahagia”
*****
Dharma Master Cheng Yen
Petuah diatas berlaku untuk Micholle Manila, yang mengalami penderitaan yang luar biasa ketika dia mengalami kecelakaan parah pada tanggal 17 Oktober 2021.
Pada hari yang seharusnya jadi hari yang seperti biasanya, Micholle, seorang ibu berusia 26 tahun dengan dua anak kecil, dibonceng oleh sepupunya pergi membeli obat untuk anak bungsunya. Dalam perjalanan pulang ke rumah di Tondo, sepeda motor yang ditumpangi tergelincir di jalanan yang berkerikil dan menabrak sebuah truk yang sedang diparkir. Tabrakan tersebut melempar Micholle dan sepupunya dari sepeda motor ke jalan.
Sementara sepupunya dibawa ke rumah sakit terdekat karena wajahnya rusak, Micholle menderita banyak luka memar di tubuhnya. Yang membuatnya ngeri, dia melihat kaki kanannya tertekuk membentuk huruf S. “Kaki saya patah,” katanya. “Saya menangis ketika melihatnya.”
Di Philippines Orthopedic Centre (POC/Pusat Otopedi Filipina) di Banawe, Kota Quezon, hasil rontgen menunjukkan tulang pahanya patah. Beberapa dokter menyarankan segera dioperasi, pilihan yang mustahil bagi Micholle, yang hanya menjual sedikit makanan dan menjalankan jasa pengiriman barang tidak resmi. Suaminya, Carlo Francisco, adalah seorang pengendara becak paruh waktu.
Memikirkan biaya pengobatan bukan satu-satunya perhatian Micholle. “Saya tidak berpikir saya bisa berjalan lagi,” katanya. Dikurung selama satu bulan, kaki kanannya diangkat dan distabilkan dengan gendongan, katrol, dan beberapa alat lainnya, Micholle berpikir dia akan selamanya di rumah sakit.
Tiba-tiba, ada berita tak terduga : POC memiliki kemitraan yang berkelanjutan dengan Yayasan Tzu Chi – khususnya untuk pasien yang membutuhkan operasi pemasangan besi penyangga untuk merawat kondisi patah tulang. Melalui rujukan dari Departemen layanan sosial dari POC, Micholle menerima sebuah Surat Perjanjian Bantuan Keuangan dari Tzu Chi untuk operasi pemasangan besi penyangga tulang pada kakinya, sebuah prosedur yang biayanya mahal.
Micholle, yang bahkan tidak mengenal Yayasan Tzu Chi, sangat terharu dengan welas asih dan dukungan dari orang-orang asing yang berseragam biru-putih ini. Ketika orang-orang tersebut mengunjunginya di POC, mereka menyemangatinya untuk cepat sembuh. Si pasien hanya bisa terisak-isak sambil bersyukur.
Setelah menjalani prosedur operasi pada tanggal 27 November, Micholle diijinkan pulang ke rumah.
Pemulihan terbukti cepat namun menyakitkan. Di pemeriksaan lanjutan pertamanya setelah menjalani operasi, Micholle belum bisa berdiri. Ahli terapi fisiknya melihat kemajuan dirinya dari menggunakan kursi roda menjadi berjalan dengan bantuan tongkat penyangga. “Saya masih berjalan dengan pincang,” kata Micholle, “dan terasa sakit ketika saya menekuk kaki. Tapi meski penyakitkan, saya mentolerirnya. Itu demi kebaikkan saya sendiri, jadi saya bisa cepat sembuh.”
Rasa sakit itu tentunya tidak menghentikan Micholle untuk tetap produktif. Selain bantuan keuangan untuk operasi, Micholle menerima bantuan keuangan dari Tzu Chi. Dengan uang tersebut, Micholle bia membayar ahli terapinya dan memulai kembali bisnis makanannya. “Saya bisa memasak, bisa menjual, dan bisa mengantarnya,” kata Micholle.
Tzu Chi juga membantu suaminya dengan sebuah becak, sebuah mata pencaharian bagi diam suaminya dan sepupunya. Sepupunya mengangkut penumpang dengan bayaran di siang hari, suaminya melakukan hal yang sama di malam hari. Keduanya kemudian berbagi keuntungan bersama. “Sepupu saya menangis. Dia tidak mengira kita akan membantunya. Tetapi saya dan suami saya baik-baik saja dengan hal itu. Senang rasanya bisa membantu, seperti saya yang juga dibantu.”
“Rasanya menyenangkan memberi, terutama ketika kita tidak mengharapkan balasan apapun,” kayanya. “Itu yang selalu saya katakan kepada suami saya : untuk selalu memberi, untuk selalau membantu.”
Sepertinya Micholle mendapatkan lebih dari sekedar prosedur medis yang mengubah hidupnya dari Tzu Chi. Seperti para dermawannya yang murah hati, dia belajar untuk berbagi berkah dan siap menolong orang lain. Ketika dia singgah di Buddhist Tzu Chi Campus di Sta. Medan, Manila, untuk menerima bantuan keuangannya, dia menyerahkan celengan Tzu Chi berisi uang yang dia donasikan dari pendapatannya.
Dengan kehidupan barunya, Micholle, seperti yang diyakini Master Cheng Yen, menjadi bahagia. “Saya ingin bisa berjalan lagi dengan anak-anak saya,” katanya memotivasi dirinya meskipun masih kesakitan. “Saya ingin sembuh untuk mereka. Saya diberi kesempatan kedua sehingga saya bisa menebus hal-hal dengan anak saya.”
Jurnalis : Joy Rojas, Fotografer : Matt Serano,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.