Sanubari Teduh – 077 – Tiga Aspek Halus dan Enam Aspek Kasar Yang Membawa Penderitaan Panjang
-
by
- No Comments on Sanubari Teduh – 077 – Tiga Aspek Halus dan Enam Aspek Kasar Yang Membawa Penderitaan Panjang
Saudara se-Dharma sekalian, kita telah mengatakan sebelumnya bahwa kita tidak boleh menutup-nutupi kesalahan. Ini tidak diizinkan oleh Buddha. Berikutnya tertulis, “Karena itu, aku (nama), “hari ini bertobat secara terbuka, tidak lagi menutup-nutupi kesalahan.” “Yang disebut sebagai Tiga Rintangan, pertama adalah noda batin.” Kita harus tahu bahwa kita harus bertobat atas Tiga Rintangan. Tiga Rintangan terdiri atas rintangan noda batin, rintangan karma, dan rintangan buah karma. “Ketiga hal ini saling bertautan.” Saudara sekalian, yang merintangi pikiran kita tak lepas dari tiga hal. Yang pertama adalah noda batin. Dahulu kita terus membahas bahwa noda batin ada puluhan ribu macam, namun dari semua rintangan itu, secara umum dibagi menjadi tiga, yakni noda batin, karma, dan buah karma. Apakah yang disebut noda batin? Noda batin sama dengan kegelapan batin. Sering dikatakan, “Sebersit kegelapan batin melahirkan tiga aspek halus.” “Dengan adanya kondisi luar, muncullah enam aspek kasar.” Dengan sebersit saja//kegelapan batin yang timbul,
Dalam batin kita akan timbul tiga aspek halus, yakni ketamakan, kebencian, kebodohan. Mengenai ketamakan, dari manakah ketamakan ini timbul? Kapankah ketamakan ini akan terpuaskan? Ini sungguh sangat mendalam dan sulit dimengerti. Bahkan bagi makhluk awam sendiri, Ketika ketamakan muncul, sulit untuk mengendalikannya. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa Ketamakan adalah penyebab penderitaan dan kerisauan yang membuat orang menciptakan karma buruk karena mereka selalu merasa kurang. Setelah mendapatkan satu, manusia tidak merasa puas dan masih mengejar lebih banyak lagi. masih berharap mendapatkan sepuluh. Setelah memperoleh sepuluh, apakah seseorang akan puas? Tidak. Bukankah mendapatkan seratus lebih baik? Setelah berhasil memperoleh seratus, apakah sudah puas? Sungguh aneh, manusia tetap tak kunjung puas. Meski memperoleh ribuan, jutaan, atau miliaran, ketamakan tak akan pernah terpuaskan.
Demikianlah makhluk awam pada umumnya. Mereka tak dapat mengendalikan ketamakan. Ketika ketamakan ini muncul, sulit untuk mengatasinya. Karena itu, ia disebut aspek halus. Sangat halus. Mengenai kebencian, ia membuat orang dipenuhi kemarahan. Jika kebiasaan buruk ini terpelihara, maka begitu mendengar sesuatu yang tak disukai, dalam batin akan timbul rasa risau. Setelah kerisauan itu timbul, nada bicara dan raut wajah menjadi tidak baik. Kata-katanya sungguh kasar. Orang yang memiliki kebencian seperti ini mungkin sadar dan ingin berubah, namun saat berhadapan dengan kondisi tertentu, baik berupa suara maupun rupa, yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, maupun terasa oleh pikiran, kemarahan pun muncul. Tanpa berpikir, saat kebencian timbul, kemarahan pun segera terwujud keluar. Kita harus menyadari bahwa temperamen buruk akan merusak karakter kita.
Saat menjadi marah dengan mudah, kita akan merusak karakter kita sendiri lewat tutur kata dan raut wajah kita. Kita sering mendengar orang berkata, “Kamu ingin bicara dengan siapa?” “Bicara saja sendiri langsung.” “Jangan suruh saya.” “Mengapa?” “Mungkin sebelum saya buka mulut, dia akan lebih dulu memaki saya.” Ada pula percakapan lain seperti, “Dapatkah kamu membujuk dan menenangkannya?” “Oh, biarkan saja dulu dia marah.” “Jika saya menghampirinya sekarang, walaupun saya tidak salah apa-apa, begitu melihat saya, ia pasti langsung memaki.” Lihatlah, mereka akan ditakuti orang, dijauhi, serta tak disukai. Temperamen buruk sungguh merugikan. Akan tetapi, mudahkah untuk berubah? Tidak begitu mudah, malah sangat sulit. Ketika orang itu menghadapi masalah, temperamennya akan menguasainya. Sebelum orang lain selesai bicara, kemarahannya sudah meledak. Dari mana kemarahan ini muncul? Tidak tahu. Kita mungkin ingin berubah, namun entah mengapa tidak bisa. Meski ini menyangkut temperamen kita sendiri, kita tetap sulit menjelaskannya. Bayangkan, bukankah ini sangat halus? Mengenai kebodohan, ia pun sama. Meski kita tahu jelas tentang kebenaran dan tahu bahwa kita harus menjaga pikiran kita agar tidak terpengaruh orang lain, namun kebodohan ini tetap muncul dan batin kita mulai tergoda kondisi luar.
Sebersit pikiran menyimpang dapat membawa puluhan ribu kesalahan. Betapa banyak kebodohan di dunia ini. Cinta duniawi, asmara, dendam, benci, semuanya bermula dari kebodohan. Ada seorang gadis dan seorang pemuda. Ketika gadis ini berpacaran dengan si pemuda, orang tua, sanak saudara, dan teman-temannya menyarankan si gadis memutuskan hubungan karena si pemuda suka mabuk dan berjudi. Keluarga si gadis tidak merestui. Akan tetapi, cinta asmara membuatnya buta atas apa yang dilihat dan didengarnya. Meski orang lain sudah sering menceritakan kebiasaan buruk si pemuda, si gadis tetap percaya diri. Ia yakin bahwa si pemuda akan berubah jika ia memintanya. Dengan cinta dan keyakinan membuta ini, ia akhirnya menikah dengan si pemuda. Setelah menikah, kebiasaan buruknya bertambah parah. Si pemuda semakin sering mabuk-mabukan dan memukul istrinya saat pulang ke rumah. Ketika kalah berjudi, ia akan meminta uang pada istrinya. Saat wanita ini mulai menyesal, mereka telah memiliki dua orang anak. Apa yang dapat ia lakukan? Bahkan ketika sang suami mabuk, ia bisa mengancam istrinya dengan pisau. Istrinya melewati hari-hari dengan menderita. Ia tetap harus menjalani kehidupannya.
Hari demi hari tetap harus ia lalui karena mereka telah mempunyai dua orang anak. Ia sendiri yang memilih pasangan. Sebelum menikah, tabiatnya pun sudah buruk. Akan tetapi, karena cinta asmara sesaat, saat itu ia menjadi buta dan kehilangan akal sehat. Inilah kebodohan. terlambat sudah untuk menyesal. Setelah belasan tahun menikah, akibat pola hidup yang tidak berubah, suaminya akhirnya meninggal akibat kanker hati. Semua orang berkata pada sang istri, “Kamu sekarang sudah bebas.” “Apakah kamu akan segera menikah lagi?” Ia menjawab, “Saya sekarang tahu betapa sulitnya hidup sebagai istri.” “Kini yang harus saya lakukan adalah// membesarkan kedua anak saya.” Ia bersungguh-sungguh membesarkan anak-anaknya. Akan tetapi, kehidupan begitu sulit diprediksi. Anak keduanya sangat penurut. Akan tetapi, suatu hari, setelah pergi tidur, tanpa menderita sakit apa pun, keesokan harinya sang anak tidak bangun lagi. Ia meninggal. Apa yang terjadi? Apa penyebabnya? Tiada yang tahu. Penyakit apa yang ia derita? Mungkin serangan jantung. Anaknya meninggal begitu saja. Bagaimana ia menghadapi kematian anaknya? Ia berusaha berpikiran terbuka. Beruntung, ia masih memiliki seorang anak, dan kini ia bersungguh-sungguh merawatnya.
Akan tetapi, tak lama setelah itu, anak semata wayangnya ini terserang stroke. Seorang anak berusia belasan tahun tiba-tiba mengalami stroke akibat tekanan darah tinggi. Lihatlah, akibat sebersit pikiran bodohnya dahulu, sang wanita kini menderita seumur hidup. Setelah terserang stroke, anaknya menjadi lumpuh sebagian. Dahulu orang-orang menasihatinya untuk tidak menikah dengan si pemuda yang gemar mabuk-mabukan dan berjudi. Meski orang-orang tidak merestui, ia yakin kekuatan cintanya akan mampu mengubah sang suami. Lihatlah, cinta asmara yang membuta ini membuat keyakinannya pun jadi menyimpang. Inilah yang disebut kebodohan. Ketika kebodohan muncul, ditambah kekuatan karma yang membuat kita bertemu kondisi luar yang menjerat, kita pun akan terjerumus dan menderita seumur hidup. Demikianlah ketamakan, kebencian, kebodohan yang menjerumuskan kita. Rintangan kedua adalah karma. Ketika kegelapan dan noda batin timbul, karma akan terwujud lewat tubuh, ucapan, pikiran. Kita akan melakukan perbuatan lewat tubuh kita, ucapan kita, dan pikiran kita. Dalam kasus wanita tadi, karena kegelapan batinnya, pikirannya membuat keputusan yang salah yang menjadi dasar tindakannya. Noda batinnya membawa pada terciptanya karma.
Karma berarti perbuatan. Perbuatan tadi berawal dari noda dan kegelapan batin. Noda batin membawa pada terciptanya karma. Setelah karma tercipta, suatu saat tentu ada akibatnya. Jadi, rintangan ketiga adalah buah karma. Apa pun yang kita lakukan, pasti mendatangkan akibat. Jika Anda melakukan hal-hal baik, hasilnya Anda akan dipuji orang lain. Ini adalah akibat dari sumbangsih penuh cinta kasih untuk mendukung atau menolong orang lain. Ini juga berawal dari pikiran dan terwujud lewat tubuh serta ucapan. Akibatnya, Anda dipuji banyak orang. Sebaliknya, jika seseorang tidak berbuat baik dan malah melakukan hal-hal buruk, akibatnya tentu akan mengerikan. Jadi, lapis demi lapis karma yang terakumulasi akan saling memengaruhi. Tiga Rintangan berawal dari adanya noda batin. Kegelapan batin menyebabkan noda batin. Noda batin membawa terciptanya karma. Karma yang tercipta akan membawa akibat. Semua ini saling terkait. Ketika akibat mulai berbuah, seseorang harus menghadapi kondisi yang rumit dan harus berjuang untuk mengatasinya. Jika tidak mengaku setelah berbuat salah, seseorang akan kembali berbohong. Demikianlah manusia, meski tahu jelas diri sendiri bersalah, kita takut orang lain mengetahuinya. Karena takut orang lain tahu, kita mengarang cerita untuk menutupinya. Kita kembali menyembunyikan kesalahan kita dan menambah karma buruk serta noda batin. Jadi, Tiga Rintangan ini terus memengaruhi satu sama lain.
Sebab utamanya adalah kegelapan batin, yang membawa pada terciptanya karma dan berakibat pada terwujudnya buah karma. Saat buah karma matang, kegelapan batin membuat kita//kembali menciptakan karma. Lingkaran ini terus berputar, saling memengaruhi, dan terus berulang. Inilah mengapa dari kehidupan ke kehidupan kita tetap tidak mampu membebaskan diri dari rintangan dan noda batin. Berlatih di jalan Buddha, kita harus tahu dan sadar bahwa kita tak boleh membiarkan kegelapan batin muncul. Kita harus tahu sumber dari noda batin, yaitu kegelapan batin. Dalam kegelapan batin ini, tercakup berbagai rintangan halus. Akibat adanya tiga aspek halus ini, setiap hari kita menghadapi enam aspek kasar. Enam aspek ini adalah kondisi luar. Enam indra kitalah, yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran yang mengalami kontak dengan objek luar— rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek pikiran. Dengan adanya kontak, menimbulkan 6 kesadaran— kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, dll. Kesadaran-kesadaran ini mulai// membuat pembedaan-pembedaan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, segala sensasi yang kita rasakan, yang melibatkan enam indra, enam objek, hingga enam kesadaran, dapat dikategorikan sebagai 18 elemen. banyak istilah yang panjang jika diperinci. Intinya, Kita menciptakan karma karena adanya kegelapan dan noda batin.
Segala kondisi yang kita hadapi adalah akibat. Kita harus terus mengingatkan kita sendiri karena ketiga rintangan ini merupakan rintangan terbesar kita dalam pelatihan diri. Karena itu, mereka disebut Tiga Rintangan. Akibat adanya tiga jenis rintangan yang sangat halus, timbullah rintangan-rintangan lainnya. Semuanya saling memengaruhi. Akibat adanya noda batin, terciptalah berbagai karma buruk. Akibat adanya noda batin inilah kita menciptakan berbagai karma buruk. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Janganlah membiarkan noda batin kita terus mengganggu pikiran kita, terus tumbuh, dan bertambah. Jika tidak, noda batin ini akan terus menjerumuskan kita tanpa pernah berakhir. Karena itulah makhluk awam terus tenggelam dalam lautan penderitaan. Makhluk awam selamanya tenggelam dalam enam alam kelahiran kembali. Dalam enam alam kelahiran kembali, meski alam dewa penuh kebahagiaan, namun itu juga hanyalah buah karma baik. Buah karma baik suatu saat juga akan habis. Seperti yang banyak kita lihat, di dunia ini begitu banyak orang “yang lahir dengan membawa sendok emas”. Mereka dapat menikmati segala kenikmatan. Banyak orang yang iri kepada mereka. Akan tetapi, kehidupan tidaklah kekal.
Sering dikatakan bahwa kekayaan // tidak akan bertahan lebih dari 3 generasi. Ini karena saat hidup di tengah kekayaan, manusia menjadi terbuai dan lupa diri. Mereka tidak mau bekerja keras. Mereka hanya menikmati yang sudah ada. Demikian pula dengan para dewa. Mereka selalu menikmati berbagai kenikmatan tanpa dapat melihat penderitaan, tidak berkesempatan untuk berintrospeksi. Jadi, mereka terbuai dalam kesenangan surgawi. Ketika berkah habis dinikmati, mereka akan kembali jatuh ke alam lain. Karena itu, Buddha tidak menyarankan kita untuk mengejar kelahiran di alam surga. Buddha berharap kita berjuang// hingga melampaui tingkatan surga. Tingkatan apakah itu? Tingkatan Bodhisattva. Bodhisattva datang ke dunia karena adanya makhluk yang menderita. Bodhisattva datang karena ada penderitaan. Dunia ini disebut Dunia Saha, dunia yang makhluknya harus menahan derita. Jika melihat ke seluruh dunia, kita dapat menemukan begitu banyak penderitaan. Setiap hari kita mendengar kisah-kisah yang membuat kita bersyukur. Kita bersyukur dengan banyaknya Bodhisattva yang rela menjangkau setiap sudut di dunia ini demi menolong dan membimbing semua makhluk.
Jadi, Buddha berharap kita// dapat melampaui alam surga. Ketika berbuat baik, janganlah ada kemelekatan dan mengharapkan kelak kita akan menikmati berkah. Lebih baik, kita mengembangkan Bodhicitta dan bertekad mencapai Bodhi. Jadi, dalam berlatih di jalan Buddha, untuk mengatasi Tiga Rintangan, kita harus membangkitkan Bodhicitta. Karena itu, harap semua ingat untuk tidak menutup-nutupi kegelapan batin, noda batin, dan kesalahan. Kita harus selalu membersihkan batin dan bertekad untuk bersumbangsih. Untuk itu, dalam kehidupan sehari-hari kita harus lebih bersungguh hati.