Dulu Dibantu, Sekarang Tergerak untuk Membantu
Bertempat di Xi She Ting, Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat melakukan Pelatihan Relawan Abu Putih pada Sabtu, 9 Juli 2022. Ada 158 relawan yang menjadi peserta, dua di antaranya adalah Natalia (20) dan Viona (17). Keduanya adalah remaja putri yang sudah menuntaskan pendidikan sekolah menengah mereka. Mereka juga sebelumnya merupakan anak asuh Tzu Chi di komunitas relawan He Qi Pusat yang kini bertekad untuk bergabung menjadi relawan dan bersumbangsih di misi pendidikan nantinya.
Natalia bernama lengkap Natalia Wulandari Bolengaran, usianya saat ini baru 20 tahun tapi siapa sangka semangatnya besar sekali. Sehari-harinya, sulung dari dua bersaudara ini membantu ibunya yang berjualan makanan. Dulu, ibunya pernah pula bekerja sebagai tukang parkir dan Natalia selalu membantu. Tapi karena pandemi, usaha parkir itu menjadi sepi, bos-nya pun mengalami kemalangan dan meninggal. Akhirnya ibunda Natalia tak bisa melanjutkan pekerjaannya.
Relawan Tzu Chi yang terus mendampingi keluarga, menganjurkan ibunda Natalia untuk menjual makanan saja mengingat ia pintar mengolah masakan. Dengan berjualan pula, sang ibu bisa lebih banyak waktu untuk beristirahat karena ia juga merupakan penyintas kanker payudara. Dan viola, sekarang mereka bisa sekadar menambah pemasukan dengan berjualan. Tapi relawan juga masih terus memberikan bantuan biaya hidup per bulannya untuk keluarga mereka.
“Saya senang banget hari ini bisa ikut training,” ungkap Natalia semringah. Saking senang dan antusiasnya, ia sudah menyiapkan semua keperluan training di hari sebelumnya. Mulai dari seragam, alat makan (huan bao), hingga buku atau hal lain yang diperlukan. Di hari – H, Natalia sudah mulai bangun sejak pukul 4 subuh dan berkumpul di lokasi yang sudah ditentukan untuk berangkat ke Tzu Chi Center bersama relawan lainnya.
“Sejak kelas 11 SMK, saya sudah tertarik sekali buat jadi relawan nanti, makanya sekarang sangat antusias. Apalagi ini training tatap muka pertama, sebelumnya kan lewat Zoom. Rasanya lebih senang,” tutur Natalia yang terinspirasi dari Denasari, relawan Tzu Chi di Xie Li Bekasi yang membimbingnya.
Bagi Natalia, Denasari sudah dia anggap seperti mamanya. Sering sekali, kata Natalia, Denasari memberikan sembako: beras, telur, atau minyak goreng untuk keluarganya. Seragam sang adik yang baru akan memulai sekolah pun dibantu oleh Denasari. Banyak juga hal lain yang selalu dilakukan oleh Denasari untuk keluarga Natalia.
“Makanya saya sangat terinspirasi dengan Shigu (tante) Dena. Ingin bisa menjadi seperti beliau yang selalu membantu kami yang membutuhkan,” papar Natalia. “Karena saya juga kan orang susah dan dari keluarga yang kurang mampu. Jadi kalau ngelihat orang yang kesusahan juga terasa dan ada keinginan untuk bantu tapi kan terbatas. Semoga dengan menjadi relawan Tzu Chi, saya bisa membantu masyarakat juga,” tambahnya.
Berjodoh dengan relawan Tzu Chi sejak masuk sekolah menengah kejuruan, Viona merasa sangat terbantu. Pasalnya, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan sang ayah adalah seorang sopir ojek online. Untuk memenuhi biaya sekolahnya dulu, pasti orang tuanya kesusahan. Itulah mengapa Viona sangat berterima kasih kepada Tzu Chi yang mau membantu sekolahnya juga kehidupan sehari-harinya. Baginya berbagai bantuan tersebut sangat berarti untuknya dan bisa meringankan beban keluarga. Apalagi setelah lulus SMK jurusan Akuntansi Keuangan dan Lembaga, Viona langsung menerima pekerjaan yang jodohnya pun dari relawan Tzu Chi.
“Awalnya saya pikir setelah lulus sekolah nggak bisa langsung kerja. Kan pertama karena masih pandemi, yang kedua karena mungkin lulusan SMK agak susah cari kerja, tapi ternyata langsung kerja dan itu senang sekali karena bisa langsung membantu orang tua,” kata Viona.
Menerima berkah tersebut, Viona bersyukur dan bertekad untuk bersumbangsih. Ia pun ingin menjadi relawan di misi pendidikan dan misi amal karena dua bidang itu amat disukainya. “Kalau menurut saya, pendidikan itu sangat penting karena yang pertama tanpa pendidikan kita nggak bisa tahu apapun di dunia ini. Lalu yang kedua, pendidikan itu hal yang berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan kita jadi kalau kita nggak belajar, kita nggak bakal bisa untuk hidup lebih lanjut,” papar Viona.
Hal itu juga diutarakan oleh Natalia yang inginnya bisa fokus di misi pendidikan nantinya. “Saya aja dididik sama relawan, diajarin yang baik-baiknya. Jadi saya juga pengen jadi relawan pendidikan, pengen membagikan kebaikan kepada teman-teman yang masih menjadi anak asuh. Membagikan ilmu yang saya dapat selama ini,” tutur Natalia.
“Memang (saya) paling senang begitu, ya harapan pun (nantinya penerima bantuan lain bisa) begitu (bergabung menjadi relawan),” kata Denasari, “jadi tangan di bawah menjadi tangan di atas, dulu dibantu sekarang membantu orang lain. Memang benar, membantu nggak harus dengan materi, tapi bisa tenaga, pikiran dan lain-lain.”
Denasari menambahkan, keduanya bahkan berkeyakinan (beragama) berbeda dengan Yayasan Buddha Tzu Chi, tapi karena semua bermuara pada kebajikan, Denasari sangat bersyukur mantan anak asuh tersebut bersedia ikut bergabung. Artinya, mereka pun telah memahami dan mengetahui bagaimana kegiatan Tzu Chi.
“Semoga tetap rajin berkegiatan di Tzu Chi seperti sebelumnya. Semoga nantinya juga bisa mendapatkan rezeki yang lancar bisa membantu keluarga dan tidak lupa bersumbangsih. Ke depannya pun semoga mendapatkan jodoh yang baik yang saling mendukung dalam kebaikan,” harap Denasari.
Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Pribadi,
Editor : Hadi Pranoto.