Sanubari Teduh – 160 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 10
Saudara se-Dharma sekalian, suasana di sekitar kita sangat hening. Entah apakah kalian dapat menenangkan pikiran ataukah pikiran tetap tidak bisa tenang. Pikiran kita memang bagai kera atau kuda liar. Meski kondisi lingkungan demikian hening, namun pikiran kita tetap mengembara ke mana-mana. Inilah mengapa kita harus melatih diri
Kita hendak memusatkan pikiran kita agar dalam kondisi yang hening ini, pikiran kita juga dapat hening, berada saat ini dan di sini bersama tubuh kita. Inilah kondisi pelatihan diri yang sesungguhnya. Dengan batin yang hening, Maka segalapemikiran kita baru bisa mengarah kepada arah yang benar. Jika pemikiran kita tidak benar, perilaku kita akan menyimpang. Buddha mengajarkan kepada kita untuk menyelaraskan pikiran dan perbuatan. Jadi, Buddha tak bosan-bosannya untuk terus-menerus membimbing kita selangkah demi selangkah agar kita dapat membuka hati dan pikiran serta memahami arah bimbingan Buddha bagi kita. Ini juga merupakan hal yang perlu kita pahami sebagai praktisi Buddhis
Sebelumnya kita sudah membahas bahwa jika kita dapat mempraktikkan ajaran, maka apa pun yang kita lakukan pasti mengandung kebaikan. Inilah praktik ajaran baik. untuk menjauhi kejahatan dan memperbanyak kebajikan. Arti dari kebajikan adalah dalam kehidupan sehari-hari kita hendaknya menjaga pikiran agar tidak menyimpang. Buddha bahkan mendorong kita untuk berbuat kebajikan setiap hari. Inilah yang disebut memperbanyak kebajikan. Yang kesepuluh dari praktik sepuluh praktik adalah praktik kebenaran
Mengenai kebenaran, benar berarti tidak palsu, nyata dan konkret. Kita juga sering membahas kebenaran sejati. Kita harus mempraktikkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Ini disebut praktik kebenaran, juga disebut praktik ajaran baik. Karena itu, dibahas mengenai kualitas peleburan sempurna. Kita telah membahas bahwa dengan praktik ajaran baik, kita akan dapat menumbuhkan kebijaksanaan untuk memahami berbagai kondisi dan menyelesaikan segala hal dengan harmonis. Jadi, praktik kebenaran yang kita bahas sekarang juga berawal dari praktik ajaran baik yang kita bahas sebelumnya
Ini adalah wujud dari kualitas sempurna. Jadi, dikatakan, “Segala sesuatu memiliki hakikat sejati yang tak terkondisi.” Jika kita dapat mempraktikkan ajaran baik secara nyata dan dengan mantap selangkah demi selangkah, maka kita akan memahami hakikat sejati. Tiada kepalsuan dalam kesejatian ini. Jika kita berjalan sesuai ajaran baik, maka kita akan menyatu dengan hakikat diri kita. Saya sering berkata kepada kalian bahwa manusia pada hakikatnya bersifat bajik. Inilah yang disebut hakikat kebuddhaan yang juga merupakan hakikat murni setiap orang
Ini yang disebut hakikat sejati atau hakikat Tathagata. Asalkan kita memiliki batin yang bersih, perbuatan yang baik, serta tidak terpengaruh oleh keburukan, kita akan dapat kembali pada hakikat sejati. Selanjutnya dikatakan bahwa kita harus mengandalkan hakikat sejati ini dalam berlatih. Kita harus bersandar pada hakikat sejati dalam memulai langkah pelatihan diri karena pada dasarnya hakikat ini sudah ada dalam diri kita, hanya saja karena telah tercemar kondisi luar, maka kita harus memulai dari awal. Dalam proses melatih diri, kita tetap harus bersandar pada hakikat sejati ini. Dengan begitu, kita barus bisa melatih diri
Jadi, sering kita sering mengambil perumpamaan tentang lapangan olahraga berbentuk lingkaran. Kita mulai berlari dari garis start, namun akan kembali ke titik awal saat finis. Sama halnya, timbulnya kegelapan batin membuat pikiran makhluk awam menjadi kompleks dan tercemar, sehingga banyak melakukan perbuatan buruk. Kini, kita harus membuang segala tabiat buruk itu. Untuk itu, kita harus kembali ke titik awal, yakni hakikat sejati kita sendiri dan memulai pelatihan diri. Jika Anda tidak memiliki niat baik, bagaimana mungkin Anda dapat bertekad? Tanpa sifat hakiki yang murni, bagaimana mungkin Anda membangkitkan ikrar? Jadi, Anda bisa bertekad karena pada dasarnya memiliki hakikat sejati yang murni
Meski demikian, kita telah jauh tersesat. Karena itu, dengan mengandalkan hakikat murni ini, kita harus kembali memulai pelatihan diri. Ini yang disebut “memulai pelatihan dengan mengandalkan hakikat”. Hakikat ini adalah hakikat sejati yang murni. Kita harus mengandalkan hati kita yang murni untuk mulai melatih diri. “Segala yang dipraktikkan adalah benar tanpa cela
” Asalkan hakikat sejati ini dapat kita bangkitkan, maka kita akan dapat mempraktikkan ajaran dan menapaki jalan dengan benar hingga dapat kembali kepada kemurnian awal. Inilah yang Buddha ajarkan kepada kita. Kita sungguh harus mempraktikkan ajaran. Dengan demikian, praktik kita akan sesuai dengan kebenaran. Jadi, praktik kebenaran semuanya berpulang pada hakikat sejati kita. Kita melatih diri dengan bersandar pada hakikat sejati. Jadi, dikatakan bahwa hakikat sejati terus ada di tengah kerendahan hati
Karena itu, saya sering mengatakan bahwa kita tidak boleh tinggi hati. Dalam melatih diri, kita harus berlatih untuk terus memperkecil ego. Tidaklah mudah untuk memperkecil ego. Jadi, asalkan kita memiliki tekad untuk membangkitkan hakikat sejati, maka kita akan memahami bahwa hakikat ini sesungguhnya tak lain adalah kebajikan. Menyadari hal ini, adakah alasan untuk tidak mengecilkan ego? Jadi, untuk menapaki jalan ini, terlebih dahulu kita harus mengecilkan ego
Dalam misi kesehatan kita, ada banyak dokter. Dalam masyarakat kita, dokter dianggap profesi yang bergengsi. Akan tetapi, kita memiliki dokter yang dapat mengecilkan ego dan dapat merendahkan hati. Setiap kali membahas para dokter yang penuh kerendahan hati ini, saya pasti menaruh rasa hormat dan cinta kasih. Kita dapat melihat para dokter kita memiliki banyak kegiatan. Kegiatan seperti apa yang mereka lakukan? Apakah pergi bersenang-senang? Tidak. Apakah berlibur ke luar negeri? Ke mana mereka pergi? Kegiatan apa yang mereka lakukan? Selain mengadakan pengobatan keliling, mereka juga memikirkan para warga lanjut usia yang tinggal sebatang kara
Mereka juga memperhatikan para lansia yang memiliki keterbatasan gerak. Mereka akan memberikan perhatian. Para dokter selalu memikirkan cara untuk membantu para lansia. Para dokter ini mengasihi para lansia bagai keluarga sendiri. Mereka paham bahwa untuk mengasihi orang lain, diperlukan cinta kasih yang paling tulus, seperti kisah pemuda miskin dalam Sutra Teratai. Anak ini meninggalkan keluarga sejak kecil
Ayahnya setiap hari aelalu memikirkan anaknya itu. Dia memikirkan bagaimana kehidupan anaknya dan di mana dia berada. Dia berharap anaknya dapat memiliki kehidupan yang baik atau dapat pulang ke sisinya. Demikianlah cinta sang ayah pada anaknya. Tiba-tiba dia menemukan anaknya. Dia segera mengutus orang untuk memanggilnya
Akan tetapi, orang-orang yang diutus ini tidak tahu bahwa anak pengemis yang dipanggil memiliki hubungan dengan sang tuan. Mereka tidak tahu, maka memanggilnya dengan cepat dan kasar dengan berkata, “Ayo, tuanku memanggilmu.” Anak ini merasa takut karena tiba-tiba melihat sekelompok orang yang berperawakan besar memintanya untuk segera pergi ke suatu tempat. Dia sangat ketakutan dan akhirnya lari. Sang tuan menyadari bahwa cara ini sulit untuk berhasil. Karena itu, dia merendahkan hati dan mengubah penampilan seperti orang biasa
Dia bahkan juga mengotori bajunya agar tampak sama dengan sang anak. Dia menghampiri sang anak dan membimbingnya perlahan-lahan. “Mari kita pergi ke keluarga itu, kita bekerja bersama-sama.” Anak ini mengira sang tuan ini sama dengan dirinya, maka dia berani mendekat dan mendengarkan kata-kata sang tuan. Suatu hari, sang tuan jatuh sakit. Dia mengumpulkan semua sanak keluarganya, lalu berkata, “Aku sudah menemukan anakku.” “Di mana anakmu,” tanya semua orang
Dia pun memberi tahu semua orang. Semua orang sangat terkejut, bahkan sang anak sendiri sangat terkejut. Sang tuan lalu menceritakan yang sebenarnya. Demikian pula, Buddha mengajar para murid-Nya dengan cara perlahan seperti itu. Dokter mengobati pasien juga dengan cara seperti itu. Saat memeriksa pasien, dokter sering kali berkata, “Anda harus memperhatikan kondisi tubuh, harus berhenti merokok, harus berhenti minum minuman keras, jangan makan makanan yang terlalu bergaram, juga jangan makan yang terlalu berminyak
” Demikianlah dokter menasihati pasiennya. Dia mulai membimbing dari pola makan. Selain itu, terhadap pasien yang memiliki keterbatasan gerak, dokter menyarankan fisioterapi. Ini juga membutuhkan bimbingan jangka panjang. Ada pula orang yang sakit parah hingga harus dihampiri oleh dokter. Ini karena dia tak leluasa bergerak
Dokter akan mengatur kunjungan ke rumahnya. Para dokter kita, baik dari rumah sakit maupun TIMA, sering melakukan kunjungan seperti ini. Jika pasien tidak dapat pergi berobat, maka merekalah yang menghampiri. Ini yang kita sebut pengobatan keliling. Adakalanya, saat pengobatan keliling, tim medis menemukan bahwa kondisi rumah pasien sungguh memprihatinkan. Mereka lalu mengajukan kasus ini ke yayasan
Adakalanya mereka bersama para relawan mengunjungi dan membersihkan rumah pasien. Jika waktunya menjelang Tahun Baru, maka pembersihan tak dapat ditunda. Jadi, mereka pun menggunakan waktu pribadi dan menganggap lansia bagai orang tua sendiri. Jika ada yang pasien muda berketerbatasan fisik, mereka menganggapnya saudara sendiri, sedangkan anak kecil mereka anggap sebagai anak sendiri. Mereka menganggap rumah pasien yang kotor sebagai rumah sendiri. Jadi, para dokter kita benar-benar dapat merendahkan hati. Mereka mengasihi orang yang saya kasihi. Mereka mengasihi pasien bagai keluarga, kerabat, atau orang tua sendiri
Keluarga adalah yang paling mereka kasihi. Mereka dapat menganggap para pasien yang menderita bagai keluarga yang mereka kasihi. Ini bagai tidak jauh berbeda dengan Buddha yang mengasihi semua makhluk bagai seorang putra tunggal. Jadi, mereka mengasihi orang lain bagai keluarga, sama seperti sang tuan tadi mengasihi anaknya. Karena itu, mereka rela mengadakan pengobatan keliling. Terutama saat musim dingin, mereka mengunjungi pasien dan beramah tamah, “Bagaimana kesehatanmu?” “Tidak baik kalau kondisi rumahmu seperti ini.” “Tahun Baru sudah hampir tiba
” “Mari kita bersihkan bersama-sama.” Selain memperhatikan kesehatan pasien, mereka juga membersihan rumahnya. Kita masih ingat kepala RS Tzu Chi Dalin, dr. Lin, beserta istrinya, para kepala departemen, para dokter, serta staf lainnya mengadakan kunjungan kasih dengan dua rute. Rute pertama dipimpin Kepala RS Lin, rute kedua dipimpin Wakil Kepala RS Chien. Dari gambar yang mereka ambil, kita dapat melihat kondisi yang mengharukan. Tim yang dipimpin dr. Lin mengunjungi rumah yang kelihatannya bekas ditinggali keluarga besar
Entah sejak kapan rumah itu hanya ditinggali oleh seorang lansia yang sakit dan kekurangan. Rumah itu penuh dengan tumpukan sampah. Sebelumnya, relawan pernah membantu membersihkannya, namun tak lama kemudian sampah kembali menumpuk. Entah sejak kapan lansia ini hidup dengan sangat memprihatinkan seperti itu. Dia juga menderita sakit. Bukan hanya menderita penyakit fisik, dia juga menderita penyakit psikologis. Para dokter kita telah berinteraksi dengannya selama beberapa waktu dan telah membina hubungan baik. Melihat Kepala RS dan para dokter, lansia ini sangat gembira
Beberapa orang mengajaknya berjalan keluar untuk berbincang-bincang. Saat berbincang, mereka berkata, “Rambut dan kumis Kakek sudah panjang.” “Pakaian Kakek juga belum diganti.” “Mari, karena Tahun Baru hampir tiba, Kami bantu Kakek bercukur.” Beberapa staf membujuknya agar mau dibantu bercukur. Di saat yang sama, beberapa ibu-ibu memasak air di dalam rumah untuk membantunya mandi. Selain itu, sekelompok orang lainnya membersihkan rumah itu dan mengeluarkan sampah-sampah
Para anggota Tzu Cheng dan komite juga turut serta. Mereka menaikkan sampah-sampah ke truk. Bertruk-truk sampah berhasil dikeluarkan. Setelah dibersihkan selama setengah hari, rumah itu pun menjadi bersih. Dalam proses pembersihan, kita melihat Kepala RS yang berperawakan tinggi membantu membersihkan sarang laba-laba di atap. Beliau membersihkan setiap sudut atap dengan sebatang sapu. Saat atap dibersihkan dengan sapu, debu beterbangan ke mana-mana
Mereka juga membantu meratakan lantai yang kurang rata di depan rumah itu. Siapa yang tahu jika sekelompok relawan ini adalah dokter dan para praktisi medis. Mereka mengunjungi setiap keluarga untuk membantu membersihkan rumah dan membantu lansia membersihkan diri. Ini membuat warga desa merasa tersentuh. Rute kedua dipimpin oleh Wakil kepala RS Chien. Di dalam kelompok itu, ada dokter yang berusia agak muda. Mereka sangat bijaksana
Mereka mengajak serta keluarga mereka, termasuk anak-anak mereka. Saat orang dewasa membersihkan rumah pasien, anak-anak bermain di luar. Kebetulan dalam keluarga pasien itu ada anak kecil. Anak-anak itu adalah cucu dari kakek nenek yang di rumah itu. Anak sang kakek dan nenek sudah meninggal. Sang nenek sendiri mengalami stroke, ingatannya juga kurang baik, sedangkan sang kakek juga menderita sakit. Mereka masih harus mengurus cucu berusia 4 sampai 5 tahun. Perbedaan generasi di antara mereka cukup besar
Di daerah itu, rumah keluarga itu adalah satu-satunya, tiada orang lain lagi di sekitarnya. Anak berusia sekitar 5 tahun ini belum bisa mandiri, Juga belum terlalu pandai bicara. Jadi, para dokter kita mengajak anak-anak mereka untuk bermain dengan anak ini, sedangkan orang dewasa membersihkan rumah. Jadi, selain memeriksa dan mengobati pasien, mereka juga membantu membersihkan rumahnya. Saat Tahun Baru Imlek hampir tiba, mereka juga menempelkan kuplet di depan pintu rumah pasien. Selain itu, anak-anak para dokter juga bermain dengan gembira bersama anak tadi. Ternyata, anak ini bukan tidak mengerti apa-apa
Saat bermain bersama anak para dokter, dia sangat gembira dan juga bisa bertanya tentang mainannya, “Ini apa?” Anak para dokter menjelaskan, “Ini pesawat terbang.” “Pesawat terbang bisa terbang di udara.” Lihat, anak-anak juga bisa saling membimbing. “Pesawat terbang bisa dinaiki orang, bisa mengangkut penumpang.” Mereka berkomunikasi dengan bahasa anak-anak dan bermain dengan gembira. Lihatlah, inilah kehidupan nyata yang penuh kebijaksanaan dan cinta kasih. Jadi, cinta kasih bagaikan cahaya harapan bagi kehidupan
Ia sungguh bagaikan cahaya yang lembut. Bagi keluarga yang tak memiliki harapan dan diliputi kegelapan, para dokter memancarkan cahaya yang lembut. Ini berasal dari ketulusan di dalam hati. Bukankah ini sama dengan kisah orang tua di dalam Sutra yang membimbing anaknya sendiri? Para dokter menggunakan cinta kasih yang lembut untuk mendekati keluarga pasien, sehingga mereka dapat menerima kita dan bersedia untuk dibantu membersihkan rumah. Para dokter juga membimbing anak mereka sendiri untuk menyaksikan kenyataan dalam hidup agar mereka dapat menghargai berkah dan memiliki cinta kasih. Jadi, welas asih adalah sumber cinta kasih
Kita telah melihat mereka semua bersumbangsih dengan cinta kasih. Cinta kasih tanpa pamrih seperti ini bersumber dari welas asih di dalam hati. Jadi, mengenai praktik kebenaran, untuk melakukan praktik nyata. Mempelajari ajaran Buddha berarti menjalankan ajaran baik dalam keseharian, bukan sekadar membicarakannya saja, melainkan mempraktikkannya secara nyata. Kita harus bersumbangsih nyata dengan penuh ketulusan hati. Dengan begitu, barulah kita bisa kembali pada hakikat sejati, yakni welas asih. Welas asih adalah sumber dari cinta kasih
Cinta kasih adalah cara kita dalam berlatih di Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus melakukan praktik nyata. Inilah praktik kebenaran. Praktik seperti ini dapat kita lihat lewat sumbangsih insan Tzu Chi di seluruh dunia. Para dokter mampu merendahkan hati seperti tadi sungguh tidaklah mudah. Melihat orang lain mampu melakukannya, maka seharusnya kita juga mampu
Kita semua harus tulus dan bersungguh hati.