Sanubari Teduh – 180 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 7
Saudara se-Dharma sekalian, kita sudah membahas Bhumi Manifestasi. Mengenai Bhumi Manifestasi, dari tingkatan makhluk awam ke tingkatan Buddha, jika tak memiliki pemahaman mendalam, kita tak akan dapat memahami penderitaan di dunia. Kita hanya bisa membicarakannya saja. Jika kita dapat memahaminya dan menjelaskannya dengan penuh perasaan, maka akan dapat menyentuh dan membimbing banyak orang untuk membangkitkan cinta kasih dalam hati. Jika Buddha tidak menyadari sendiri kebenaran, bagaimana Beliau dapat membimbing makhluk awam yang tersesat? Makhluk awam memiliki kegelapan batin, maka membutuhkan bimbingan Buddha
Kita semua bertekad menjadi murid Buddha, berarti harus memikul misi Buddha. Kita harus memikul misi untuk mewariskan ajaran Buddha yang penuh kesadaran. Dengan begitu, baru bisa membimbing semua makhluk yang tersesat. Semua makhluk diliputi kegelapan dan kesesatan. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis, kita harus memikul misi Buddha. Kita juga harus mengikuti langkah Buddha untuk memahami berbagai tingkatan spiritual
Berapa lama waktu yang diperlukan? Lama sekali. Dari tingkatan makhluk awam yang penuh kegelapan batin hingga terbimbing ke arah kesadaran yang sesungguhnya dibutuhkan kesabaran. Bukan hanya itu, melainkan juga dibutuhkan kegigihan. Selain kesabaran dan kegigihan, juga diperlukan tekad. Kita harus memiliki tekad untuk dapat terus melangkah dalam perjalanan yang jauh ini. Ketika kecemerlangan batin belum muncul, perjalanan akan terasa sulit
Jadi, jika tidak memiliki kegigihan, kita tak akan dapat melewati kesulitan. Jadi, dalam praktik Sepuluh Bhumi, kita harus melewati tahap demi tahap. Kini kita membahas yang ketujuh, yakni Bhumi Jangkauan Jauh. Artinya, melanjutkan dari yang sebelumnya, yakni Bhumi Manifestasi, batin kita sudah terbuka lapang. Kebijaksanaan kita sudah memancar, hakikat sejati kita telah tampak. Kedemikianan telah bermanifestasi. Jadi, mengenai manifestasi, kita harus memahami kedemikianan
Berhubung kebenaran ini telah termanifestasi, ia terlihat sangat luas, seperti saat masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap, lalu kita menyalakan lampu. Kita bisa melihat ternyata ruangan itu luas sekali. Bagaikan berjalan di malam hari yang gelap, kita tak tahu jalan lebar atau sempit. Kita tak tahu seperti apa pemandangan di sana. Begitu lampu dinyalakan, ternyata jalan begitu luas. Atau mungkin ada pula orang yang berjalan dalam gelap pada malam hari, baru menemukan pada pagi harinya bahwa ternyata pemandangan yang dilewatinya sangat indah. Inilah pembahasan tentang Bhumi Manifestasi. Kita telah mengetahui bahwa kondisi itu begitu luas dan lapang. Akan tetapi, berikutnya dikatakan, “Kedemikianan luas tak bertepi
” Kita tahu bahwa kebenaran ini tak bertepi. Akan tetapi, dalam proses pelatihan diri, meski dikatakan kebenaran sangat luas, tetapi kita belum bisa memahami semuanya. Kita hanya tahu yang bisa kita lihat, belum dapat menjangkau setiap penjuru. Seperti yang sering saya katakan, seberapa luas sesungguhnya jangkauan kita? Banyak hal yang kita tidak tahu. Contohnya, suatu hari saya berkunjung ke Neihu. Di sana saya melihat sebuah foto yang sangat indah. Saya terus melihatnya dan bergumam, “Pemandangan ini begitu indah.” Orang di belakang saya bertanya, “Master, tahukah di mana pemandangan itu berada?” Saya menebaknya, “Di Australia?” “Bukan, di Hualien.” “Di Hualien mana ada tempat seindah itu?” “Di Griya Jing Si kita
” Ternyata di Griya ada pemandangan itu. Saya berpikir, “Meski juga tinggal di Griya, ternyata saya hanya melihat sebagian.” “Yang saya tahu juga terbatas.” Pengetahuan dan pemahaman kita masih terbatas. Meski kita tahu kebenaran sangat luas, tetapi jika kita tidak melakukan praktik nyata, merasakan, dan memahaminya secara langsung, maka kita tak akan benar-benar paham. Kita hanya merasakan sebagian. Inilah yang disebut pencerahan sebagian, masih terbatas
Sebagian berarti terbatas, hanya lingkup tertentu saja. Meski kita tahu kondisi luar amat luas, tetapi yang dapat kita rasakan hanya sebatas ini. Jadi, selanjutnya dikatakan, “Saat pencerahan sempurna terealisasi, barulah kebenaran tertinggi tercapai.” Jika kita dapat mengetahui semuanya, telah menjangkau semua tempat, dan telah memahami semuanya lewat pengalaman langsung, maka inilah yang disebut mencapai kebenaran tertinggi, Jadi, kita harus menapaki tahap demi tahap. Kita belum sampai pada tujuan akhir. Saat membahas tahapan-tahapan ini, kita hanya tahu, tetapi belum mengalaminya langsung. Karena itu, kita semua harus lebih bersemangat dan lebih giat
Jadi, “Menjangkau luasnya kedemikianan, inilah yang disebut Bhumi Jangkauan Jauh.” Untuk menjangkau seluruh kebenaran, kita harus menjangkau segala ruang. Inilah yang disebut Bhumi Jangkauan Jauh. Jadi, berikutnya kembali dikatakan, “Bodhisattva berikrar menyelamatkan semua makhluk, membangkitkan welas asih, melatih seluruh faktor pencerahan, dan menggunakan berbagai metode terampil; dia yang menyelamatkan semua makhluk karena iba sama seperti Bodhisattva, merealisasi aspek nondiferensiasi objektif dari kedemikianan; inilah Bhumi Jangkauan Jauh.” Bait ini menjelaskan lebih jauh kepada kita
Banyak kesulitan untuk mencapai Bhumi Jangkauan Jauh, tetapi kita harus berusaha untuk mengatasi segala rintangan dan kesulitan. Dengan begitu, kita baru bisa merealisasi kedemikianan. Jadi, dikatakan, “Bodhisattva berikrar menyelamatkan semua makhluk
” Kita semua sudah bertekad untuk mempelajari ajaran Buddha. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menyelamatkan semua makhluk karena kita telah membangkitkan hati Bodhisattva. Tanpa melewati Jalan Bodhisattva ini, kita tak akan dapat mencapai kebuddhaan. Jadi, dari tingkatan makhluk awam ke tingkatan Buddha, di tengah-tengahnya ada sebuah “sungai besar”. Jika tidak menyeberangi “sungai besar dan deras” ini, Selain kita sendiri harus menyeberangi sungai yang besar dan luas ini, kita juga harus menyeberangkan orang lain. Kita harus tahu bahwa sebuah perahu kecil yang ditumpangi hanya satu orang akan sangat berbahaya jika menyeberangi sungai yang deras. Lebih baik menggunakan perahu besar agar kita juga dapat mengangkut lebih banyak orang dan menyeberang bersama-sama
Inilah Jalan Bodhisattva. Kita harus menyeberangi sungai deras ini. Jadi, mempelajari ajaran Buddha adalah perjalanan yang panjang. Jalan yang panjang ini sungguh penuh kesulitan dan rintangan. Jadi, berhubung telah membangkitkan Bodhicitta, kita harus berikrar menyelamatkan semua makhluk. Untuk mencapai kebuddhaan, kita juga harus menyelamatkan makhluk lain. Untuk itu, kita harus membangkitkan welas asih
Inilah alat untuk menyeberangkan diri sendiri sekaligus makhluk lain. Jadi, ini adalah alatnya. Kita sering membahas Enam Paramita. Inilah enam cara untuk menyeberang. Kita semua tahu tentang Enam Paramita, yakni dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Ini diawali dengan berdana. Berhubung tidak tega melihat makhluk lain menderita, maka kita harus bersumbangsih. Kita harus banyak bersumbangsih karena makhluk yang menderita sangat banyak, kebutuhannya pun banyak
Jadi, kita harus menjawab kebutuhan semua makhluk dan bersumbangsih. Inilah welas asih. Kita berdana dengan penuh welas asih. Selain membangkitkan welas asih, kita juga harus melatih seluruh faktor pencerahan. Apakah kalian masih ingat? 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan mencakup Delapan Ruas Jalan Mulia, Tujuh Faktor Pencerahan, dll. Semuanya berjumlah 37 faktor. Sesungguhnya, 37 Faktor Pencerahan ini tidak lain berguna untuk melindungi batin kita
Dalam menghadapi kesulitan apa pun, tiga puluh tujuh faktor ini mampu memperkuat tekad kita melatih diri dan memberi tahu kita cara untuk menghadapi kondisi luar dan melenyapkan rintangan. Setelah melenyapkan rintangan kondisi luar, kita baru bisa menjalankan praktik nyata. Karena itu, kita harus bergantung pada 37 Faktor Pencerahan untuk melindungi batin kita. Jika tidak, saat kita melangkah maju, akan menemui banyak kesulitan. Jadi, meski memiliki welas asih dan berniat menolong orang, kita juga kerap menghadapi kesulitan. Baik kesulitan dari segi masalah di luar maupun kesulitan di dalam batin, semuanya sering kita hadapi
Karena itu, kita harus melatih seluruh faktor pencerahan. Faktor yang dimaksud adalah 37 Faktor Pencerahan. Mengenai “menggunakan metode terampil”, 37 Faktor Pencerahan mengajarkan kepada kita untuk menganalisis segala hal di luar sehingga kita menyadari bahwa tiada gunanya perhitungan. Segala analisis itu berujung pada kekosongan. Apa yang perlu diperhitungkan? Akan tetapi, manusia malah perhitungan. Jadi, kita harus menggunakan berbagai metode terampil
kita harus terjun ke tengah masyarakat. Menggunakan metode terampil berarti setelah tahu jelas banyak penderitaan di dunia, kita tak dapat hanya mementingkan diri sendiri, hanya mengamati, dan tidak tergerak melihat penderitaan orang lain. Tidak. Jadi, kita harus menjaga tekad pelatihan diri kita
Akan tetapi, kita harus tetap terjun ke tengah masyarakat. Berada di tengah masyarakat, di tengah orang-orang yang menderita, cara apa yang harus kita gunakan? Begitu banyak orang yang menderita, bagaimana kita menginspirasi mereka? Bagaimana kita melenyapkan kesulitan mereka? Kita harus sungguh-sungguh menggunakan cara yang tepat. Kita “menyelamatkan semua makhluk karena iba”. Kita terjun ke tengah masyarakat karena tidak tega
Kita tidak tega makhluk lain menderita. Jadi, kita berusaha menyelamatkan mereka. Dengan begitu, kita sama dengan Bodhisattva dan dapat merealisasi kedemikianan. Jadi, dengan memiliki rasa iba terhadap semua makhluk yang menderita, kita dapat melakukan praktik nyata. Dengan demikian, kita sama dengan Bodhisattva. Jadi, dikatakan, “Sama dengan Bodhisattva, Merealisasi aspek nondiferensiasi objektif dari kedemikianan
” Kita sering menyebut tentang Bodhisattva dunia. Meski kita baru bertekad, tetapi jika dapat terus melangkah maju tanpa henti, maka suatu hari kita juga akan mencapai tingkatan Bodhisattva perealisasi Tubuh Dharma. Kita memulai perjalanan dari tekad awal hingga merealisasi Tubuh Dharma, di mana Dharma menyatu dengan hakikat diri kita. Kita harus menggunakan berbagai cara untuk melatih diri. Untuk melatih diri, kita harus membangkitkan hati Bodhisattva. Dengan hati Bodhisattva, kita harus menghadapi berbagai makhluk
Semua makhluk memiliki berbagai penderitaan. Kita harus mengembangkan banyak metode terampil untuk menyelamatkan mereka. Jadi, kita harus menggunakan banyak metode terampil untuk membimbing semua makhluk tanpa merintangi batin kita sendiri. Kita membantu mengikis noda batin semua makhluk tanpa menodai batin kita sendiri. Inilah yang disebut merealisasi aspek nondiferensiasi objektif dari kedemikianan. Kita menyatu dengan kebenaran mutlak
Inilah Bhumi Jangkauan Jauh. Untuk mencapai Bhumi Jangkauan Jauh, kita harus menempuh perjalanan panjang, sulit, dan penuh rintangan. Kita harus mengatasi rintangan-rintangan itu. Kita harus mengatasi banyak rintangan. Penderitaan semua makhluk sangat banyak. Selain itu, bagaimana jika kita sendiri juga menghadapi kesulitan? Saya ambil satu contoh
Saat Badai Katrina melanda dan membawa bencana bagi New Orleans, warga yang terkena dampaknya melebihi jutaan orang. Para korban bencana ini sebagian besar mengungsi ke Texas. Insan Tzu Chi di Texas juga menerima informasi ini. Kantor pusat di Hualien memberi instruksi untuk mengakomodasi para pengungsi, membantu mengatasi kesulitan mereka, menghibur, dan menolong mereka
Para insan Tzu Chi dari berbagai negara bagian yang berdekatan dengan Texas turut bergerak dan berkumpul bersama. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membangkitkan cinta kasih orang-orang. Mereka mulai bersiap untuk menggalang dana. Cara pertama yang mereka lakukan adalah segera turun ke jalan. Untuk menjalankan program bantuan, kita perlu menggalang dana, dan Relawan Zhang dari Texas bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan insan Tzu Chi lainnya guna membuat perencanaan program bantuan serta penggalangan dana dengan tujuan membangkitkan cinta kasih setiap orang
Saya sering berkata bahwa kita harus menggalang hati, bukan hanya menggalang dana. Kita harus memberi tahu semua orang bahwa di tengah bencana yang menggemparkan, kita harus sadar dan mengambil hikmahnya. Berhubung terjadi bencana yang besar, maka insan Tzu Chi turun ke jalan untuk menyerukan kepada khalayak ramai bahwa ada daerah yang tertimpa bencana, dan kita yang baik-baik saja hendaknya segera bersumbangsih. Jadi, yang pertama dilakukan adalah turun ke jalan untuk menggalang dana. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang. Cara mengakomodasi pengungsi juga harus dipikirkan. Ini adalah sebuah misi yang besar
Pada saat-saat itu, Relawan Zhang menerima sebuah kabar. Ibunya yang berusia 91 tahun meninggal dunia. Pada saat itu timbul pergumulan dalam batinnya. Dia selalu berbakti pada ibunya. Kini ibunya meninggal dunia, apakah dia harus segera pulang dan berada di sisi ibunya ataukah tetap menjalankan misi bagi orang-orang yang menderita? Dalam batinnya timbul pergumulan. Dia harus memilih antara berbakti dan berbuat baik. Dia menenangkan hatinya dan merenung dengan sungguh-sungguh tentang dua pilihan sulit ini
Akhirnya, dia sendiri berpikir kepergian ibunya adalah duka satu keluarga. Sang ibu meninggal dunia, anak-anak serta para cucu tentu merasa kehilangan dan menangis. Akan tetapi, bencana Badai Katrina telah menelan banyak korban. Ini adalah duka puluhan ribu keluarga. Begitulah dia berpikir. Jadi, dia membuat keputusan. Dia tahu urusan keluarganya dapat diselesaikan oleh saudara-saudaranya. Sebaliknya, banyak orang menderita akibat bencana yang terjadi. Ini memerlukan kerja sama seluruh insan Tzu Chi
Jadi, sebagai insan Tzu Chi, dia memutuskan untuk bergabung dalam misi ini. Jadi, kita dapat melihat relawan ini telah membangkitkan hati Bodhisattva dan memiliki tekad di Jalan Bodhisattva. Kita sungguh harus melapangkan hati untuk dapat mengatasi rintangan di jalan ini. Lihatlah Relawan Zhang tadi. Dia berada jauh di Amerika Serikat. Di Tzu Chi, saya sering mengatakan bahwa berbakti dan berbuat baik tak dapat ditunda. Keduanya sama pentingnya
Akan tetapi, saat dihadapkan pada pilihan di antara keduanya, manakah yang harus kita utamakan? Relawan Zhang mengambil keputusan dengan kebijaksanaannya. Itu adalah keputusan yang benar. Kepergian ibunya adalah duka satu keluarga, sekeluarga merasa kehilangan, sekeluarga menangis. Akan tetapi, bencana adalah duka banyak orang. Saat bencana besar itu terjadi, jutaan orang menderita. Jutaan orang yang terkena bencana ini telah kehilangan tempat tinggal dan kehilangan anggota keluarga. Ini adalah duka banyak orang. Ini adalah sebuah misi besar
Bukankah Bodhisattva harus berpikir demikian? Orang yang berusia lanjut kita anggap sebagai orang tua kita. Orang yang sebaya dengan kita kita anggap sebagai saudara. Orang yang berusia lebih muda kita anggap sebagai anak sendiri. Jadi, seluruh dunia adalah satu keluarga. Dalam skala kecil, kita mungkin memiliki keluarga sendiri, saudara sendiri, atau ibu sendiri. Akan tetapi, di saat yang sama, di dunia ini entah berapa banyak orang yang seusia ibu kita sedang mengalami penderitaan. Inilah semangat “keluarga besar”, bahkan “keluarga sedunia”
Jadi, untuk dapat merangkul keluarga sendiri, keluarga besar, hingga seluruh dunia, tentu ada perjalanan panjang yang dimulai dari membangkitkan Bodhicitta. Jalan ini tentu merupakan jalan yang lapang. Demi keluarga besar sedunia ini, kita harus sungguh-sungguh bersumbangsih dengan welas asih dan kebijaksanaan. Inilah rintangan yang kadang kita hadapi dalam praktik Jalan Bodhisattva. Untuk mengatasi rintangan itu, tentu diperlukan kebijaksanaan untuk memilih. Saudara sekalian, setiap orang memiliki kasih sayang, setiap orang memiliki cinta kasih
Cinta kasih yang sejati dan perasaan emosional juga harus dapat dengan jelas kita bedakan. Di sinilah letak kesulitan dalam melatih diri. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.