Sanubari Teduh – 181 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 8
Saudara se-Dharma sekalian, Buddha menyadari bahwa karena semua makhluk diliputi kegelapan batin, maka diliputi berbagai penderitaan. Buddha yang telah sadar datang untuk membebaskan kita dari kegelapan batin. Berhubung Buddha datang untuk membimbing kita, maka kita harus menerima ajaran-Nya. Jika tidak, tak ada gunanya Buddha mengajar kita. Kita sendiri akan tetap menderita. Berhubung kita telah bertemu ajaran Buddha dan berjodoh untuk berjalan di Jalan Bodhisattva, maka seperti Bodhisattva yang terjun ke tengah makhluk yang menderita, kita semua harus memulai perjalanan ini dari membangun tekad dan ikrar. Kita sudah membahas Bhumi Jangkauan Jauh. Perjalanan di Jalan Bodhisattva sangat panjang
Dari kegelapan batin menuju kesadaran, perjalanannya sungguh jauh. Pada perjalanan jauh ini, kita pasti bertemu kesulitan dan rintangan. Saat menempuh perjalanan ini, kita juga harus mengatasi segala rintangan itu. Jika tidak sungguh-sungguh melenyapkan satu demi satu rintangan, kita tidak akan bisa sampai pada tujuan. Jadi, dalam melatih diri, berbagai kesulitan tentu sulit dihindari. Akan tetapi, ada orang mengatakan, “Justru karena kita melatih diri, maka ada Mara yang datang menguji
” Sebagian orang salah paham dan berpikir, “Karena saya ingin berbuat baik dan melatih diri, maka Mara datang sehingga saya menemui banyak hal yang tidak baik dan tak sesuai harapan.” Ini tidak benar. Kita harus tahu bahwa semua orang membawa benih karma. Ini adalah hal yang pasti. Meski Anda tidak bertekad untuk melatih diri, tetap akan bertemu kondisi-kondisi yang tidak diharapkan. Banyak hal yang ingin kita lakukan, tetapi terhadang oleh banyak rintangan. Meski Anda tidak ingin melatih diri, hal-hal seperti ini tetap akan ada
Setelah kita bertekad untuk melatih diri, saat bertemu masalah, kita hendaknya dapat sedikit menenangkan hati. Sebelum bertekad, kita hidup mengikuti arus. Kita tidak sadar bahwa kita hidup di dalam noda batin. Kita tidak tahu ini disebut noda batin. Kita bersikap perhitungan dan mengikuti emosi. Kita menganggap hal ini biasa
Kini, saat melatih diri, kita tahu bahwa sikap tadi tidak benar. Meski noda batin timbul, kita harus berpikir terbuka dan menyelesaikannya dengan berbagai cara. Kita harus berusaha melenyapkan noda batin, jangan membuat belenggu bagi kehidupan mendatang. Terlebih lagi, setelah berikrar menyelamatkan semua makhluk, kita harus selalu mengembangkan welas asih. Dalam jalan pelatihan diri, adalah sangat penting untuk meneguhkan hati kita. Kita harus melatih 37 Faktor Pencerahan
Tiga Puluh Tujuh Faktor Pencerahan ini membantu kita untuk berjalan maju. Di Jalan Bodhisattva ini. ada banyak rintangan. Bagaimana kita melenyapkan rintangan ini? Ini sudah kita bahas dari awal. Kini kita akan membahas yang kedelapan, yakni Bhumi Tak Tergoyahkan. Penggalan ini menjelaskan bahwa Bhumi Kebijaksanaan Membara bagaikan cahaya yang menerangi jalan kita
Bhumi Jangkauan Jauh mengajarkan kepada kita untuk mengatasi rintangan di jalan ini. Dengan begitu, hakikat sejati kita pun tampak. Hakikat ini telah termanifestasi dan telah dijangkau. Setelah dijangkau, dengan sendirinya kebenaran sejati ini dapat dipahami dengan jelas. Kita sudah banyak mendengar, banyak praktik, dan banyak merasakan. Karena itu, kita harus memiliki pemahaman menyeluruh. Kita dapat memahami segala kebenaran
Dengan demikian, kita akan dapat merealisasi keheningan abadi. Hakikat sejati dari kedemikianan selalu ada di dalam hati kita. Saat batin kita sangat hening, maka sekacau apa pun kondisi di luar, sehebat apa pun gejolak noda batin, kita akan tetap tenang. Semua pasti ingat penggalan yang berbunyi, “Hatinya hening dan jernih, tekadnya luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan dalam miliaran kalpa.” Inilah kondisi keheningan abadi, teguh tak tergoyahkan dalam miliaran kalpa. Dalam kondisi yang sangat hening ini, jika kita dapat menyadari kedemikianan dan mempertahankannya di dalam hati, maka apa pun kondisi dan masalah antarmanusia yang kita hadapi, kita tak akan lagi perhitungan. “Satu” merujuk pada kebenaran sejati. Artinya, jika di dalam hati kita kebenaran sejati dapat bermanifestasi, maka segala keuntungan duniawi tidak akan terasa penting bagi kita
kita mencapai Bhumi Tak Tergoyahkan. Berhubung telah melatih diri, Bodhisattva harus melenyapkan rintangan. Setelah melenyapkan rintangan dan merealisasi kebenaran, kita merasa iba terhadap semua makhluk. Meski kita tidak tergoyahkan, tetapi melihat semua makhluk terombang-ambing dalam penderitaan, maka kita yang sadar, yang memahami ajaran Buddha, yang tahu Buddha terus datang ke Dunia Saha demi membimbing semua makhluk yang tersesat ini, hendaknya merasa iba terhadap semua makhluk. maka kita harus bertekad dan berikrar. Jadi, kita harus iba terhadap semua makhluk. Kita harus melatih faktor-faktor pencerahan
37 Faktor Pencerahan adalah pendukung pelatihan diri kita. Faktor-faktor ini membantu kita dalam Jalan Bodhisattva. Dengan begitu, segala noda batin tidak bisa memengaruhi batin kita. Ada orang mengatakan, “Itu hanya bisa dicapai oleh Bodhisattva.” Sesungguhnya, manusia biasa juga bisa. Contohnya tidak jauh dari kehidupan kita sekarang. Di Yilan ada seorang Ibu You. Keluarganya adalah keluarga berkecukupan
Dia memiliki dua orang putri dan seorang putra. Akan tetapi, sayangnya, sekitar tahun 1999, suaminya meninggal akibat kanker hati. Ini adalah pukulan berat baginya. Mulanya keluarga itu hidup berkecukupan dengan sepasang suami istri, dua putri, dan seorang putra. Jika keluarga ini dapat hidup dengan tenteram dan damai, maka mereka termasuk beruntung. Tak disangka sang ayah meninggal akibat kanker hati. Akan tetapi, sang ibu bersama anak-anaknya masih bisa bertahan dalam kecukupan
Yang lebih disayangkan lagi adalah pada tahun 2000, tepatnya di malam Natal, sang ibu tiba-tiba menerima kabar buruk. Kabar buruk ini adalah kabar mengenai putra tunggalnya. Dia memiliki dua orang putri, tetapi hanya seorang putra. Putra tunggalnya ini bekerja di Taipei, dan terbunuh akibat salah sasaran. Dapat kita bayangkan perasaan sang ibu, suaminya baru meninggal sekitar setahun sebelumnya, kini putranya pun terbunuh. Ini adalah pukulan yang sangat berat. Putranya ini pun baru berusia 17 tahun. Setelah ayahnya meninggal, karena khawatir ibunya terlalu terbebani, maka dia yang sedang belajar di sekolah kejuruan berpikir untuk mencari uang sendiri
Jadi, dia berangkat dari Yilan ke Taipei untuk bekerja. Pada malam Natal itu, dia diajak temannya makan malam. Tiba-tiba datang segerombolan anak muda yang berkelahi dengan teman-temannya itu. Jadi, saat berkelahi, teman-temannya kabur. Sebaliknya, dia sendiri berpikir, “Yang berkelahi bukan saya,” maka dia tidak kabur. Saat gerombolan tadi melihat yang lain sudah kabur dan hanya tersisa dia seorang, maka mereka menusukkan pisau ke arahnya. Tusukan pisau ini membuatnya luka parah
Saat dilarikan ke RS, dia sudah tak tertolong. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Ibu You ini. Dia hanya memiliki satu putra. Kita dapat memahami hatinya. Putranya baru berusia 17 tahun. Dia adalah sandaran hati sang ibu seumur hidup ini. Kini, dia ditimpa musibah seperti ini, kita tentu dapat memahami kesedihan sang ibu. Jiwanya hampir terganggu
Bahkan saat melihat boneka maneken di pertokoan yang digunakan untuk memajang baju, dia berusaha untuk bisa membelinya. Untuk apa? Untuk dipakaikan baju anaknya. Dia menganggap maneken itu sebagai anaknya. Dari sini kita bisa tahu bahwa kejiwaannya mulai terganggu, bahkan mengarah pada sakit jiwa. Suatu ketika, saat persidangan pertama, hatinya sangat dipenuhi kebencian. Di dalam dompetnya, dia menyimpan sebilah pisau buah
Dia berencana seusai persidangan ingin membalas dendam terhadap terdakwa. Beruntung rencana ini diketahui oleh kerabatnya. Mereka mengambil pisau itu. dia mungkin akan benar-benar membawa pisau itu ke pengadilan untuk membalas dendam. Dari cerita ini kita tahu kejiwaan sang ibu sudah mengarah pada kondisi yang buruk. Tidak dapat keluar dari kekacauan batin dan kesedihan seperti itu sungguh menderita
Hingga suatu hari, seorang sukarelawan dari sebuah organisasi berkata dan memberi tahu ibu ini bahwa kehidupan keluarga pembunuh anaknya sangat tidak baik. Keluarga itu bermarga Yang. Ayah dari anak ini beberapa tahun lalu mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga harus diamputasi. Keluarga ini sangat kekurangan, hanya bergantung pada sang ibu yang berjualan bunga magnolia di pinggir jalan untuk menafkahi keluarga. Kini anaknya berbuat onar. Sebagai ibu, dia tentu juga sangat menderita. Dia harus mengurus rumah tangga, juga tidak bisa membimbing anaknya
Kini anaknya didakwa telah membunuh orang. Hati ibu ini pasti sangat sedih. Keluarganya sangat menderita. Mendengar kisah ini, Ibu You turut merasakan penderitaan Ibu Yang. Sebagai ibu, pasti mengasihi anak. Sejahat apa pun anaknya, saya yakin seorang ibu tetap akan mengasihinya
Ibu Yang ini Dia masih harus mengurus suaminya. Memikirkan hal ini, dalam hati Ibu You perlahan-lahan timbul rasa empati. Cinta kasihnya mulai tumbuh. Jadi, dia juga sadar bahwa hanya cinta kasih yang dapat melerai pertikaian. Jika dalam hati tidak ada cinta kasih, maka pertikaian tak akan pernah berakhir. Sikap tidak bisa memaafkan disebabkan oleh kurangnya cinta kasih. Dalam diri setiap orang terdapat cinta kasih. Saat rasa empati bangkit, kita dapat merasakan penderitaan orang lain, maka dengan sendirinya dendam dan kebencian akan lenyap. Jadi, intinya adalah cinta kasih
Perlahan-lahan, Ibu You dapat mengubah permusuhan menjadi perdamaian. Dengan begitu, dunia baru bisa tenteram. Ibu You dapat membuka hati sehingga batinnya pun menjadi tenang kembali, tidak bergejolak seperti sebelumnya. Kejiwaannya pun pulih kembali. Selain itu, hatinya pun menjadi lebih lapang. Dia membuka hatinya sehingga tiada lagi kebencian. Jadi, dahulu bagai ada sebilah pisau yang menancap di hatinya. Dia harus menahan rasa sakit. Akan tetapi, saat cinta kasih terbangkitkan, dia dapat memaafkan dengan lapang dada
Kebenciannya pun lenyap. Suatu hari, dia memutuskan untuk menjenguk anak ini dalam penjara. Berhubung hatinya sendiri sudah tenang dan dia sudah dapat memosisikan diri di posisi sang ibu terdakwa, maka dia memutuskan untuk memaafkan anak itu. Jadi, dia memutuskan untuk menjenguknya di penjara. Setibanya di sana, saat melihat anak itu, Ibu You juga merasa tidak tega. Anak itu masih begitu muda, tetapi sudah terjerat kasus seperti itu, Ibu You sungguh tak sampai hati. Pada saat itu, ketika anak yang bermarga Yang itu melihat Ibu You, dia segera berlutut. Dia memohon Ibu You agar memaafkannya
Saat Ibu You melihat sang anak berlutut memohon maaf, dia berkata kepada anak itu, “Sebelum saya datang ke sini, saya sudah bersiap untuk memaafkanmu.” Ibu You pun memeluknya. Saat itu, Ibu You merasa bagai memeluk anaknya sendiri. Dia sudah memaafkan terdakwa itu. Kemudian, Ibu You pun pulang. Dia sering menulis surat untuk anak ini guna menyemangatinya agar mau berubah dengan harapan kelak, ketika kembali ke masyarakat, dia dapat bersumbangsih bagi sesama, menebus kesalahannya dengan cinta kasih, dan memulai hidup baru. Kisah ini sungguh memberi inspirasi bagi kita. Bodhisattva harus berpegang pada kebenaran, tidak terpengaruh oleh kondisi luar
Apakah makhluk awam dapat melakukannya? Sesungguhnya, Bodhisattva juga berawal dari makhluk awam. Bedanya, Bodhisattva sudah bertekad dan berikrar. Jika memiliki tekad seperti itu, kita juga pasti bisa melakukannya. Jadi, kini dalam melatih diri, kita harus dapat berpengertian dan berlapang dada, baru bisa mengikis rintangan karma lampau. Tanpa sikap pengertian dan lapang dada, rintangan karma akan semakin besar. Belenggu pun semakin kuat. Penderitaan yang dirasakan tidak terkira
Lihatlah Ibu You ini. Setelah mampu melepaskan belenggu batinnya, dia bagai mendapati anaknya hidup kembali. Dia berharap anak ini kelak memiliki masa depan yang baik. Inilah hati Bodhisattva. Untuk itu, diperlukan sikap pengertian dan lapang dada. Dengan begitu, barulah dendam masa lalu dapat lenyap. Kita harus memiliki rasa puas dan rasa syukur. Kita harus sungguh-sungguh menanam benih dan jodoh yang baik. Inilah yang harus kita miliki sebagai praktisi Buddhis
Bagi batin kita, apa pun masalah yang kita hadapi, kita harus menggunakan beberapa sikap tadi. Jika tidak, lihatlah Ibu You tadi, meski dia adalah orang baik, tetapi karena sebelumnya tidak punya sikap-sikap tadi, maka hidupnya sangat menderita. Dengan adanya jalinan jodoh berkat benih karma yang telah ditanam, dia kini dapat melenyapkan penderitaan itu. Jadi, mengenai Bhumi Tak Tergoyahkan, ia mengajarkan kepada kita bahwa hati kita harus sangat teguh dan terus maju di jalan ini
Bagaimana pun kondisi di luar, tidak akan menggoyahkan batin kita. Inilah Bhumi Tak Tergoyahkan. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti melatih batin. Semua orang harus selalu bersungguh hati.