Sanubari Teduh – 182 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 9
Saudara se-Dharma sekalian, beberapa lama ini saya terus membahas tentang Bhumi. Saya telah mengulas kecemerlangan batin atau Bhumi Kebijaksanaan Membara. Kecemerlangan batin dapat menerangi jalan kita. Jadi, jalan ini menjadi rata dan terang sehingga kita dapat terus melangkah maju
Kita juga telah membahas Bhumi kedelapan, yakni Bhumi Tak Tergoyahkan. Kita membuktikan bahwa kondisi sekitar kita begitu indah. Bukan hanya itu, kita juga harus melakukan praktik nyata. Saat memahami kedemikianan sejati, kita harus memegangnya dengan teguh. “Sejati” berarti tidak palsu. “Demikian” berarti yang sebenarnya. Jadi, kebenaran sejati ini tidak palsu. Ini adalah kebenaran tertinggi
Kondisi batin seperti ini harus kita pertahankan. Ketika batin dapat kita pertahankan, maka batin Bodhi tak akan tergoyahkan. Kita telah membahas batin Bodhi ini sebelumnya. Dalam proses melatih diri, kita harus menggunakan 37 Faktor Pencerahan untuk meneguhkan batin kita. Jadi, dikatakan, “Dengan batin Bodhi yang tak tergoyahkan dan kedemikianan yang tunggal, potensi bajik dikembangkan tanpa gagal.” Setiap orang memiliki hakikat sejati yang sama. Hakikat kedemikianan atau kebenaran sejati ini sangat murni tanpa noda
Berhubung tanpa noda, maka kita tak lagi terbelenggu oleh masalah antarmanusia. Tiada lagi masalah antarmanusia yang dapat mengganggu batin kita. Berhubung telah berpegang pada kebenaran, batin Bodhi kita tidak akan tergoyahkan. Jadi, kita harus paham dengan jelas dan harus bersemangat. Kita harus mempertahankan semangat awal kita. Karena itu, saya sering berkata kepada kalian bahwa kita harus mempertahankan niat yang muncul seketika. Berhubung telah menemukan jalan benar, maka penemuan sesaat itu hendaknya sungguh-sungguh kita pertahankan. Janganlah menyimpang sedikit pun
Bukankah saya sering mengatakan bahwa jalan kebenaran harus ditapaki? Jalan ini harus kita tapaki. Selain itu, kita harus membimbing orang lain. Aksara “membimbing” dan “jalan” dalam bahasa Mandarin hanya berbeda pada adanya huruf “inci”. Artinya, jika kita dapat menemukan jalan dan melangkah maju dengan benar tanpa menyimpang satu inci pun, barulah kita dapat membimbing orang lain. Sering saya katakan bahwa menyimpang sedikit saja, akan tersesat jauh. Jika kita menyimpang dari jalan yang benar ini, maka meski penyimpangannya hanya sedikit, lama-lama kita akan tersesat jauh dan salah jalan. Jadi, setelah menemukan jalan benar, kita harus berjalan lurus
Dengan begitu, batin Bodhi kita tak akan tergoyahkan dan tak akan menyimpang sedikit pun. Kita akan dapat berjalan sesuai jalan ini tanpa menyimpang. Selain tidak menyimpang, kita juga harus melangkah maju dan penuh semangat sejak awal. Batin Bodhi kita tidak menyimpang dan tetap seperti di awal
Jadi, setelah berjalan di jalan ini dengan Bodhicitta, apa yang harus kita lakukan? Kita harus menyebarkannya kepada orang banyak. Setiap orang memiliki kemampuan, potensi, dan kekuatan yang tak terhingga. Jadi, kita harus mengembangkan potensi bajik ini. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus dapat mencapai tingkatan ini. Jika kita dapat mencapai kondisi batin kita yang tak tergoyahkan dan terus melangkah maju, maka kita akan dapat mencapai yang kesembilan, yakni Bhumi Kebijaksanaan Bajik. Mengenai Bhumi Kebijaksanaan Bajik, dikatakan, Seharusnya semua dapat memahami ini. Pada tingkatan ini kita telah merealisasi kedemikianan
Sebelumnya kita hanya mendengar apa yang dimaksud kedemikianan. Setelah menapaki jalan dari Bhumi Sukacita dan melangkah tahap demi tahap, kita sampai pada Bhumi Tak Tergoyahkan. Ini berarti kita telah merealisasi kebenaran. Dengan begitu, berarti kita telah menyatu dengan kedemikianan. Jadi, kita harus mengembangkan kapasitas terampil kita. Kita harus mulai mengembangkan kapasitas ini. Seperti yang tadi saya katakan, kita harus mempertahankan semangat awal dan mengembangkan potensi bajik. Inilah kapasitas terampil kita
Jika dapat mewujudkan ini, maka kapasitas ini akan memantul kembali dan membuat kita lebih dekat dengan kedemikianan. Kapasitas terampil ini harus senantiasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat menyelami kedemikianan. Inilah kebijaksanaan murni. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita membedakan benar dan salah? Salah berarti sesuatu yang tidak benar
Kita harus menjaga diri sendiri, jangan sampai berbuat salah. Jika ada sedikit saja niat yang membuat kita terjerumus dalam kesalahan, maka satu langkah saja yang salah, langkah-langkah berikutnya juga akan salah. Karena itu, kita harus dapat membedakan mana yang salah. Jangan sampai hal itu menggoyahkan batin kita
Sebaliknya, sesuatu yang benar harus segera kita praktikkan secara nyata. Jadi, yang penting dalam belajar ajaran Buddha adalah memiliki sikap seperti itu
Karena itu, dikatakan, “Dengan kebijaksanaan tanpa batas, Bodhisattva…” Dengan kebijaksanaan tanpa batas, Bodhisattva dapat mengamati kondisi semua makhluk. Mengenai hal ini, tadi kita membahas tentang benar dan salah. Yang salah jangan sampai memengaruhi kita, sedangkan yang benar harus kita terapkan dengan giat
Dengan begitu, segala kondisi akan dapat kita lihat sebagaimana adanya. “Mengetahui semua sebagaimana adanya.” Kita harus benar-benar memahaminya. “Memperoleh kebijaksanaan tanpa rintangan.” Mengenai kebijaksanaan ini, sesungguhnya semua makhluk dan Buddha memiliki kebijaksanaan yang setara. Kebijaksanaan seperti apa yang setara dengan Buddha? Kebijaksanaan yang tanpa rintangan. Kebijaksanaan makhluk awam ada batasnya. Kita hanya tahu hal-hal tertentu, dan tidak mengetahui banyak hal
Akan tetapi, kita harus belajar agar memiliki kebijaksanaan seperti Buddha. Dari satu kebenaran, Beliau bisa menyadari ribuan kebenaran. Beliau bisa memahami segala hal secara luas. Untuk itu, kita harus meneladani Buddha. Bagaimana kita mencapai tingkatan itu? Kini kita telah menyalakan cahaya dalam batin kita
Ini seperti cahaya sebuah pelita. Akan tetapi, cahaya kebijaksanaan Buddha bagaikan matahari. Ia bagai matahari yang dapat menyinari seluruh penjuru dunia. Meski sama-sama cahaya, cahaya lilin dan matahari tentu jauh berbeda. Karena itu, kita harus mempelajari ajaran Buddha untuk mencapai kecemerlangan kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Dengan kebijaksanaan yang tanpa rintangan ini, barulah kita bisa “membabarkan seluruh Dharma dan membuat semua makhluk mendapat manfaat.” Alangkah baiknya jika ajaran Buddha dapat kita pahami seluruhnya dan kita babarkan lagi/sesuai yang Buddha babarkan
Kita tahu banyak makhluk menderita di dunia. Betapa banyak orang yang menderita. Tanggal 26 Desember 2004, di Aceh, Indonesia terjadi sebuah gempa besar. Sekitar satu jam kemudian, terjadi tsunami. Tsunami itu membawa bencana bagi 12 negara. Ini adalah bencana yang menggemparkan dunia. Di tempat yang ada insan Tzu Chi, para anggota komite dan Tzu Cheng segera bergerak di negara masing-masing. Semua orang bergerak di negara-negara yang terkena bencana untuk memberi penghiburan dan pendampingan. Di Aceh, Indonesia, insan Tzu Chi juga terus bergantian dalam memberikan pendampingan bagi warga
Mereka juga membangun tempat tinggal. Di Sri Lanka, juga dibangun perumahan bagi korban bencana. Insan Tzu Chi jugalah yang melakukan ini dengan terus bergantian meneruskan estafet cinta kasih. Mereka terus mengembangkan potensi bajik dan terus berusaha untuk membantu orang-orang yang menderita. Di New Orleans, Amerika Serikat pun demikian. Kita tahu bahwa di tengah bencana yang menggemparkan dunia, kita harus sadar dan mengambil hikmahnya. Ini adalah akibat karma kolektif semua makhluk
Semua orang harus mawas diri dan berhati tulus. Selain terus membangkitkan cinta kasih setiap orang, kita juga mengingatkan setiap orang bahwa di tengah bencana yang menggemparkan, kita semua harus segera membangkitkan kesadaran. Kita terus mendengungkan hal ini, program bantuan bencana pun tidak berhenti. Saat itu, ada banyak kisah yang sangat menyentuh. Saya ambil satu contoh. Ada sepasang suami istri. Sepasang suami istri yang sudah berumur ini, suaminya adalah orang Italia, sedangkan istrinya adalah orang Jerman. Mereka berdua berbeda kewarganegaraan, tetapi tinggal di tempat yang sama, yakni di New Orleans
Mereka hidup di sana dengan tenteram. Mereka cukup bahagia. Saat bencana datang, mereka menjadi sangat menderita. Suaminya ini memiliki gangguan penglihatan. Matanya tak bisa melihat. Mereka berdua sudah lanjut usia, sekitar tujuh puluh tahun. Berhubung matanya tak bisa melihat, maka sang suami penuh rasa curiga. Meski telinganya masih dapat mendengar bahwa ada sekelompok orang ingin membantu, tetapi dia tetap tidak percaya
Batinnya terus dipenuhi rasa curiga. Karena itu, dia terus berkata, “Saya tak punya apa-apa lagi.” Dia takut orang lain menipunya. Jadi, dia tak mau percaya apa pun. Akan tetapi, insan Tzu Chi terus berkata kepadanya, “Kami tulus ingin membantu Anda.” “Anda tenang saja.” Mendengarnya, kakek ini tetap tidak mau percaya. Dia kembali berkata, “Saya adalah lansia, tidak berguna bagi siapa pun, apalagi kini saya sudah tak punya apa-apa, tidak akan memberi kalian keuntungan apa pun.” Dia masih tetap menaruh curiga
Akan tetapi, meski terus dicurigai dan ditolak oleh orang tua ini, insan Tzu Chi tahu bahwa orang tua ini sangat membutuhkan bantuan kita. Jadi, dengan penuh kelembutan dan cinta kasih yang besar, insan Tzu Chi melakukan pendekatan kepada suami istri itu. Akhirnya, orang tua itu mau percaya. Jadi, para relawan segera mengeluarkan sepucuk surat yang saya tulis untuk para korban bencana. Seorang relawan segera menghampiri suami istri itu dan membacakan surat dari saya. Setelah mendengarnya, meski surat itu belum habis dibaca dan baru dibaca setengah, orang tua itu sudah mengulurkan tangan, memegang tangan relawan dengan erat, dan berkata dengan sangat terharu, “Saya percaya, saya percaya.” “Saya sangat tersentuh.” Mendapat sambutan hangat dari orang tua itu, dengan tangan digenggam bagai keluarga sendiri, relawan kita pun turut merasa tersentuh. Jadi, dengan penuh rasa haru, relawan kita berkata kepada orang tua itu, “Selain berniat baik, kami juga ingin memberi perhatian pada Anda dengan sepenuh hati.” “Mohon Anda sudi menerimanya
” “Lihatlah, Anda bukan hanya dapat mengungsi dari daerah bencana dengan selamat, melainkan istri Anda juga masih berada di sisi Anda, kalian masih tetap bersama.” “Selain masih tetap bersama, kalian juga mendapat cinta kasih dari banyak orang di seluruh dunia.” “Jadi, kalian hendaknya menghargai hal ini selamanya.” “Kalian lebih beruntung daripada orang lain.” Inilah yang dikatakan insan Tzu Chi kepada warga korban bencana, terlebih kepada mereka yang harus mengungsi dan telah berusia lanjut. Kini kita dapat memahami perasaan mereka
Inilah cinta kasih yang tak berkondisi dan rasa senasib sepenanggungan. Inilah batin para Buddha dan Bodhisattva. Kita berharap semua orang hidup tenteram dan bahagia. Jadi, kita harus membangkitkan cinta kasih setiap orang; mendidik yang mampu untuk menolong yang tidak mampu. Selain itu, juga membimbing yang kurang mampu untuk turut bersumbangsih meski sedikit. Jika setiap orang memiliki cinta kasih dan dapat menciptakan berkah, maka dunia akan dipenuhi kebahagiaan. Karena itu, insan Tzu Chi terus menggalang hati dan merasa sepenanggungan dengan mereka yang menderita
Kita berharap dapat memahami kesedihan dan penderitaan orang lain agar kita mampu untuk senantiasa mendampingi dan menghibur mereka. Kita juga berharap mereka dapat memahami hati kita. Dengan saling menempatkan diri pada posisi orang lain, kita dapat memahami penderitaan mereka, dan mereka dapat memahami ketulusan cinta kasih kita. Welas asih, perasaan sepenanggungan, dan prinsip kesalingterkaitan dalam hidup adalah hal yang Buddha ajarkan pada kita. Semoga kita dapat mengembangkan kebijaksanaan untuk melenyapkan rintangan ego. Inilah kebijaksanaan agung
Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya dilakukan dalam keseharian. Terhadap orang lain, baik yang berada di sekitar kita maupun yang jauh dari kita, kita harus merasa saling terkait. Kita harus bersumbangsih dengan cinta kasih. Jadi, cinta kasih yang langgeng dan luas merupakan bagian dari praktik Bodhisattva. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.