Sanubari Teduh – 192 – Enam Keraguan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan. Keyakinan sangat penting. Dalam hubungan antarmanusia, jika saling tidak percaya, maka tiada hal yang bisa dicapai
Terlebih lagi untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, memilih metode Dharma yang tepat sangat penting. Meyakini agama apa pun, harus disertai kebijaksanaan. Setelah memilih agama dan meyakininya, maka jangan lagi ada keraguan. Ini mengenai Dharma adiduniawi. Meski hal-hal duniawi juga demikian, tetapi ia berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Jika tiada rasa percaya dalam hubungan antarmanusia dan malah dipenuhi rasa curiga, maka hubungan ini akan penuh kesulitan. Jadi, keraguan membawa kerisauan
Banyak kerisauan dan noda batin berawal dari keraguan ini. Jadi, kita sudah membahas, Dahulu kita juga sering membahas bahwa dalam mempelajari ajaran Buddha, Jalan Mulia Beruas Delapan yang merupakan bagian dari 37 Faktor Pencerahan juga merupakan metode yang sangat penting. Jadi, jangan ada keraguan. Terhadap ajaran benar, kita harus yakin dan menerimanya. Jadi, dikatakan, “Sering ragu terhadap Dharma duniawi, terlebih lagi terhadap Dharma adiduniawi.” Terhadap hal-hal duniawi saja kita sudah memiliki kecurigaan sana sini
Contohnya, dalam keluarga, orang tua memiliki kecurigaan, sesama saudara saling curiga, para paman dan bibi saling curiga, antarkerabat juga saling curiga. Jika di dalam sebuah keluarga terdapat kecurigaan, maka keluarga ini akan berantakan Jika tidak harmonis, bagaimana bisa membangun keluarga? Jika dalam keluarga tiada rasa saling percaya, terlebih antartetangga, di dalam komunitas, di dalam masyarakat, lebih luas lagi di dalam negara, jika semua orang saling curiga, maka masyarakat akan kacau, komunitas juga kacau, antartetangga juga tidak rukun. Berita seperti ini sering kita dengar setiap hari. Intinya, keraguan atau kecurigaan ini sudah membawa kerisauan dalam hal-hal duniawi, terlebih lagi jika berkenaan dengan ajaran. Jadi, kita harus ingat bahwa jika kita memiliki keraguan, maka kita akan keliru dan merusak kebenaran. Keraguan akan membawa kekeliruan. Karena tidak berpegang pada kenyataan, maka disebut ragu. Hal-hal yang tidak nyata dapat merusak kebenaran
Yang dimaksud kebenaran di sini adalah kebenaran sejati dan hakikat murni kita. Karena dipenuhi noda batin akibat kekeliruan, maka hakikat sejati kita menjadi rusak. Ketidakbenaran dapat mengacaukan kebenaran. Jadi, kekeliruan merusak kebenaran, kesesatan merusak kelurusan, membalikkan yang benar dan salah. Kalian semua seharusnya paham dengan jelas. Akibat semua ini, manusia melakukan banyak karma buruk. Ada sebuah berita internasional
Di Irak ada sekelompok umat Islam yang setiap tahunnya selalu berziarah ke Bagdad. Di tengah keramaian, tiba-tiba ada orang yang berkata bahwa di depan mereka ada bom. Hanya karena suara orang ini, kekacauan pun terjadi. Orang-orang saling mendorong. Akibatnya, dari jembatan yang berketinggian belasan meter, banyak orang melompat. Berapa orang yang tewas? Sekitar seribu orang
Entah berapa ribu orang yang luka-luka. Apakah benar ada bom? Sesungguhnya, tidak. Itu hanya desas-desus semata. Berhubung ada satu orang yang berteriak, maka banyak orang langsung percaya. Semua orang ingin kabur, maka saling mendorong. Akibatnya, banyak orang terjatuh, ada yang terinjak orang lain, ada pula yang melompat dari jembatan
Lihatlah, yang tewas berjumlah hampir seribu orang. Entah berapa ribu orang yang terluka. Desas-desus sangat mengerikan. Mengapa desas-desus dapat mengacaukan pikiran orang? Karena kekeliruan dapat mengacaukan kebenaran. Keliru berarti tidak benar. Jadi, hal-hal yang tidak benar sungguh dapat mengacaukan pikiran manusia. Begitu pikiran kacau, tindakan pun ikut kacau. Saat tindakan menjadi kacau, maka sulit untuk mengendalikannya
Karena itu, saya sering membahas keselarasan. Keselarasan sangat penting baik di alam maupun dalam kehidupan manusia. Jika alam semesta tidak selaras, maka lihatlah, ada tsunami di Asia Selatan, Badai Katrina, dan gempa di Pakistan. Ini semua akibat ketidakselarasan iklim. Akibat ketidakselarasan unsur air, ketidakselarasan unsur angin, ketidakselarasan unsur tanah, banyak bencana terjadi di dunia. Jadi, inilah akibat ketidakselarasan/ Bagaimana dengan manusia? Jika hubungan antarmanusia tidak selaras, juga akan mendatangkan banyak bencana. Dalam hubungan antarmanusia, banyak yang menjadi penyebab ketidakselarasan. Salah satunya adalah kecurigaan. Kita masih ingat dalam jangka waktu yang panjang ini, kita membahas Enam Keinginan dan Enam Keraguan. Kesalahan yang terkandung dalam semua itu tidak melewati pertimbangan
Semua itu tidak melalui pertimbangan, hanya disulut oleh sedikit noda batin. Kita telah menghabiskan waktu yang panjang untuk membahas segala faktor itu. Semua faktor-faktor itu berawal dari kegelapan batin dan tiga aspek halus, kemudian akibat kontak dengan kondisi luar, muncullah enam aspek kasar. Enam aspek kasar adalah noda batin yang lebih kasar. Berapa jenis noda batin yang termasuk di dalamnya? Banyak. Semua ini akan mudah timbul lewat tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kita mengambil beberapa contoh untuk dibahas guna menjelaskan bahwa pikiran manusia dipenuhi berbagai noda batin. Sesungguhnya, sejak kapan noda batin ini ada? Sejak masa tanpa awal
Kita tidak tahu kapan semua itu bermula. Setelah sebersit kegelapan batin muncul, berikutnya timbullah enam aspek kasar yang bertambah tebal dari kehidupan ke kehidupan. Tiada yang dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Kekuatan karma dari satu kehidupan membawa pengaruh bagi kehidupan berikutnya, kemudian menyebabkan timbulnya karma baru kembali. Dengan semakin terpupuknya karma buruk hingga semakin tebal, kondisi alam juga berubah mengikuti karma buruk semua makhluk. Semakin banyak karma buruk yang diciptakan, semakin besar pula kekuatannya. Dengan begitu, terhimpunlah karma buruk kolektif. Akibat karma buruk kolektif semua makhluk ini, empat unsur alam pun menjadi tak selaras
Bencana yang membawa kerusakan datang sesuai karma buruk semua makhluk. Jadi, zaman sekarang ini dalam ajaran Buddha disebut Kalpa Kerusakan. Artinya, seiring berjalannya waktu, bumi terus mengalami perusakan. Karena itu, masa ini disebut Kalpa Kerusakan. Kerusakan ini juga terakumulasi dalam waktu panjang. Begitu pula manusia. Dari kehidupan ke kehidupan dalam waktu lama, dendam antarmanusia juga terus terpupuk. Dendam dan kebencian ini entah telah terpupuk selama berapa kehidupan
Karena itu, kini kita dapat melihat berita yang beredar di masyarakat, misalnya tentang sekelompok remaja yang sedang berjalan, lalu tanpa berbuat apa-apa, mereka tiba-tiba terlibat perkelahian hingga ada yang terbunuh. Bukankah ini akibat kekuatan karma? Saat karma buruk berbuah, kita tak akan dapat menghindar. Lihatlah murid Buddha Sakyamuni yang memiliki kesaktian tertinggi, Maudgalyayana. Dia sudah berlatih di bawah bimbingan Buddha Sakyamuni dan disebut sebagai yang terunggul dalam kekuatan batin. Akan tetapi, dia pernah membunuh pada kehidupan lampaunya. Pada suatu kehidupan lampaunya, dia pernah menjadi seorang penangkap ikan. Sekali menebarkan jala, dia merenggut banyak nyawa. Mulanya, makhluk hidup di air hidup dengan tenang dan harmonis. Hanya dengan menebarkan jala, dia membuat banyak makhluk jadi menderita dan akhirnya mati
Inilah karma. Karma membunuh ini dilakukan dalam satu kehidupan lampau, tetapi akibatnya terus diterima dari kehidupan ke kehidupan. Hingga akhirnya, pada zaman Buddha, dia menerima buah karma terakhirnya. Suatu hari, saat akan keluar, Maudgalyayana tahu bahwa dia mungkin tidak akan kembali lagi. Dia pun berpamitan kepada Buddha. Dengan tatapan penuh cinta kasih, Buddha memandang Maudgalyayana yang beranjak pergi. Saat itu ada orang lain yang juga memiliki kekuatan batin. Dia tahu bahwa begitu pergi, Maudgalyayana belum tentu kembali lagi
Dia bertanya kepada Buddha. Buddha lalu menghela napas dan berkata, “Karma bagai Gunung Sumeru, tak dapat diubah.” Dia lalu kembali bertanya, “Dengan kekuatan batin Buddha, apakah juga tak dapat mengubahnya?” Buddha menjawab, “Aku juga punya keterbatasan, yakni tak dapat mengubah karma semua makhluk.” “Akibat karma harus ditanggung sendiri.” “Aku hanya menunjukkan jalan.” Jadi, buah karma harus ditanggung sendiri. Akan tetapi, buah karma yang berat dapat terasa lebih ringan. Mungkin juga buah karma dari banyak kehidupan diterima langsung dalam satu kehidupan. Dalam kasus Maudgalyayana, pada kehidupan itu, dia menerima buah karma dari banyak kehidupan
Setelah beranjak pergi, Maudgalyayana sampai di kaki sebuah gunung dan bermeditasi di sana. Saat pemeluk ajaran luar melihat Maudgalyayana, mereka menggulingkan batu dari atas gunung sehingga Maudgalyayana mati tertimpa. Tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat berita ini tersebar hingga terdengar oleh Buddha, Beliau tahu itu adalah akibat karma dari banyak kehidupan lampau. Karena itu, Buddha menceritakan kisah hidup Maudgalyayana pada kehidupan lampau sebagai penangkap ikan yang telah merenggut banyak nyawa. Selain pada kehidupan itu, Maudgalyayana juga telah menerima akibat karma membunuh dalam banyak kehidupannya. Hingga pada kehidupannya yang terakhir, dia kembali menerima akibat karmanya dengan ikhlas. Ini pun dapat dilaluinya. Intinya, karma terakumulasi dari kehidupan ke kehidupan
Karena itu, saya sering berkata bahwa jangan berbuat semaunya. Segala yang kita lakukan harus sesuai prinsip kebenaran. Jangan berkata, “Memangnya kenapa? Yang penting saya senang.” Saat dinasihati, “Kalau berbuat begitu, kelak kamu harus menerima akibatnya,” kita menjawab, “Apa urusannya denganmu?” “Yang penting saya senang, akibatnya akan saya tanggung dengan rela.” Ini yang disebut harus menerima dengan rela jika berbuat semaunya. Jelas-jelas perbuatan itu salah, malah kita lakukan. Jika begitu, maka penderitaan harus rela kita terima. Jika tidak rela, maka kita akan tambah menderita
Saat penderitaan datang tanpa henti, apa yang harus kita lakukan? Jadi, mempelajari ajaran Buddha Berarti kita harus memperhatikan hal-hal yang halus. Kegelapan batin kita sangatlah halus. Sebersit kegelapan batin memunculkan tiga aspek halus. Inilah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ketiganya sangat halus, kita tak dapat melihat atau merabanya. Semua ini berada dalam pikiran, pandangan, dan kebiasaan kita. Akibat pikiran, pandangan, dan kebiasaan ini, maka saat enam indra bersentuhan dengan enam objek, enam kesadaran pun bangkit. Kemudian, kesadaran pikiran mulai membedakan
Setelah terjadi pembedaan kondisi luar oleh kesadaran pikiran, kondisi itu terus berbekas meski telah berlalu. Lihatlah, saat kesan timbul dalam pikiran, maka meski kondisi itu telah berlalu, tetapi kesan itu tetap ada. Jadi, enam persepsi itu terus ada dalam batin kita. Dengan banyaknya noda batin ditambah dengan perasaan terhadap kondisi luar, kita dapat menciptakan banyak karma buruk. Mengenai Enam Praktik, sebelumnya saya telah membahasnya dalam waktu panjang dengan lebih dari 50 istilah. Inilah praktik para Buddha dan Bodhisattva. Inilah jalan benar. Akan tetapi, jika menyimpang darinya, kita dapat terjerumus dalam enam praktik ajaran luar
Jika begitu, meski Anda berlatih sangat keras, tetapi akibat praktik yang tidak benar ini, selain akan mengalami siksaan fisik dan batin, dalam kehidupan yang akan datang pun Anda akan tetap tersesat. Dengan begitu, karma buruk akan tercipta, terutama akibat Enam Keinginan. Enam Keinginan timbul dari enam indra dan enam objek. Demikian juga dengan Enam Keraguan. Dalam dua hari ini, kita telah membahasnya. Saudara sekalian, kita telah membahas faktor-faktor bercabang enam. Selain Enam Praktik para Buddha dan Bodhisattva, kita dapat terjerumus ke dalam Enam Praktik ajaran luar
Bayangkan, semua ini adalah noda batin. Semua noda batin ini membuat kita menimbulkan banyak kekacauan. Selain kekacauan bagi alam manusia, juga ada kekacauan bagi enam alam. Selain alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan hewan, tentu masih ada alam asura. Inilah enam alam. Di enam alam ini, akibat kegelapan dan noda batin semua makhluk, Sebelumnya kita telah membahas banyak istilah. Dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah kita melakukan berbagai kesalahan ini? Pasti pernah. Jika pernah, maka kita harus membangkitkan rasa malu terhadap diri sendiri dan orang lain. Kita harus malu terhadap diri sendiri karena setelah mendengar begitu banyak Dharma, kita masih tidak dapat menyerapnya. Setelah mempelajari banyak norma, kita masih tidak dapat menjalankannya
Orang lain dapat maju dengan pesat, dapat mengerti sepuluh saat mendengar satu, sedangkan kita tidak memahami satu pun setelah mendengar sepuluh ajaran. Selain tidak paham, kita masih merasa kita mengerti banyak. Contohya, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, adakah kita miliki dalam keseharian? Ada? Jika ada, maka kita harus segera membukanya. Membuka berarti bertobat. Jadi, Dharma bagaikan air. Jika kita bertobat, maka batin kita bagai dibersihkan dengan Dharma. Setelah mendengar Dharma, kita harus segera memperbaiki diri. Inilah yang disebut membersihkan diri dengan air Dharma. Menerima air Dharma berarti bertobat
Janganlah kita terus mengulangi kesalahan. Jika kemelekatan kita terlalu kuat, maka sulit bagi kita untuk bertobat. Semoga setiap orang dapat menyadari dan menghargai berkah. Di tengah keberkahan ini, kita harus segera bersungguh hati. Kasihi diri sendiri dan orang lain dengan menciptakan berkah. Kita harus membina berkah dan kebijaksanaan secara bersamaan. Jika hanya menciptakan berkah, tetapi tidak membina kebijaksanaan, maka juga tidak benar. Jadi, kita harus bertobat dan memurnikan batin
Dengan begitu, hakikat sejati kita baru dapat kembali terpancar. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.