Sanubari Teduh – 217 – Sembilan Gangguan Bagian 10
Saudara se-Dharma sekalian, pikiran masa lalu tak bisa didapat, pikiran masa kini tak bisa didapat, pikiran masa depan juga tak bisa didapat. Saat ini suasana begitu hening, tidak ada angin berembus, tidak terdengar suara apa pun. Kondisi ini sangat hening dan jernih. Saat angin bertiup, kita bisa mendengar suara pohon tertiup angin. Hanya angin, tiada suara lain
Karena ada sesuatu, barulah ada suara. Karena angin meniup pepohonan, maka ada suara pohon ditiup angin. Saat angin meniup pintu dan jendela, terdengar suara pintu dan jendela. Di padang pasir, tanpa pohon, tanpa bangunan, terdengar suara angin meniup pasir. Segala sesuatu di dunia saling bereaksi. Untuk menghasilkan suara, selain angin, harus ada benda lain. Dengan berpadunya berbagai sebab dan kondisi, muncullah buah dan akibat. Begitulah hukum sebab akibat bekerja
Dari siaran berita setiap hari, kita tahu apa yang terjadi di suatu tempat. kita tahu apa yang terjadi di suatu tempat. Segala yang terjadi pasti memiliki sebab dan kondisi. Jadi, apa pun yang terjadi, tak peduli baik atau buruk, semua diawali oleh sebab dan kondisi. Sebab dan kondisi ini memunculkan buah dan akibat. Akibat ini menimbulkan perasaan atau tindakan berikutnya. Jika kita dapat memahami ini, maka saat karma berbuah, kita harus menerimanya dengan sukarela. Kita harus berusaha untuk mengikisnya agar belenggu ini tidak terus menjerat
Kita harus berusaha untuk mengatasi karma buruk dan dendam itu dengan kebajikan. Penagih utang pasti akan datang dan terus membelenggu. Satu-satunya cara adalah berdamai dengannya. Setelah utang lunas, tiada lagi belenggu. Saya pernah mendengar ada orang yang dikejar utang sampai tidak punya jalan keluar, begitu menderita. Si penagih utang terus mendesaknya. Sesungguhnya, dia juga menderita
Ini karena ada aksi reaksi. Jika Anda tidak berutang pada orang lain, orang juga tidak akan menagih utang. Si penagih utang juga harus bersiasat, sungguh menderita. Orang yang berutang pun tidak mampu membayar, juga menderita. Ada pula orang yang tidak rela membayar, maka semakin menderita. Jadi, ini adalah rangkaian sebab akibat yang bertautan dan tidak akan pernah berakhir
Utang ini tiada habis-habisnya. Jadi, saat Buddha melatih diri, sesungguhnya juga sama seperti kita. Beliau mulai dari tataran makhluk awam. Sravaka dan Pratyekabuddha pun begitu. Namun, sejak dahulu, setiap orang sudah memiliki kesadaran hakiki. Di zaman Buddha masih hidup, ada seorang Buddha yang sempurna kesadaran dan praktik-Nya. Saat tidak ada Buddha di dunia, minimal masih ada Pratyekabuddha di dunia ini. minimal masih ada Pratyekabuddha di dunia ini. Meski belum sesempurna Samyaksambuddha, tetapi dia telah memiliki kesadaran tinggi. Contohnya, dalam pergantian empat musim, saat melihat pergantian musim semi, panas, gugur, dan dingin, dia bisa menyadari ketidakkekalan. Dari ketidakkekalan ini, dia menyadari fase lahir tua, sakit, mati, lalu menyadari penderitaan hidup
Berhubung dunia tidak kekal, baik dari segi alam maupun hidup manusia yang penuh derita, dia membangkitkan semangat untuk melatih diri. Karena itu, dia disebut Pratyeka. Dia memiliki kesadaran, tetapi hanya berlatih demi diri sendiri dengan memahami segala kondisi luar. Dia tidak bisa mencerahkan orang lain, hanya mencerahkan diri sendiri. hanya mencerahkan diri sendiri. Dia hanya tahu memberi manfaat bagi diri sendiri, tidak memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, dia disebut Yang Tercerahkan Sendiri. Karena itu, kesadaran dan praktiknya belum sempurna. Dia hanya sadar, tetapi belum sempurna dalam praktik. Sebaliknya, Buddha disebut yang sempurna dalam kesadaran dan praktik
Inilah yang disebut mencapai kebuddhaan. Dalam kehidupan lampau, entah berapa waktu yang lampau, sebelum mencerahkan orang lain atau memberi manfaat bagi orang lain, dalam hubungan antarmanusia, Buddha juga pernah menjalin jodoh buruk dan dendam. Asalkan ada kebencian dan dendam, ia akan terbawa dari kehidupan ke kehidupan. Saat jalinan jodoh matang, ia akan berbuah. Karena itu, kita terus membahas Sembilan Gangguan. Sembilan Gangguan ini dialami semua orang, terutama makhluk awam seperti kita. Kapan karma berbuah, kita akan menerima akibatnya. Saat menerima buah karma, apakah kita sadar bahwa kita telah menciptakan sebabnya sehingga kita menerima akibatnya? Kita tidak sadar. Karena itu, kita tidak rela menerimanya. Karena tidak rela, timbul kebencian dalam hati, maka dendam ini pun kembali membelenggu
Begitulah makhluk awam. Rintangan ini terus membelenggu. Namun, Buddha adalah yang tercerahkan, yang sempurna kesadaran dan praktik-Nya, maka Beliau tahu bahwa semua itu adalah akibat dari benih perbuatan yang Beliau tanam di kehidupan lampau. yang Beliau tanam di kehidupan lampau. Beliau merasa itu sudah seharusnya
Ini adalah wujud kerelaan. Jika bisa bersikap begitu, karma akan terkikis. Saat menghadapi suatu masalah, jika kita dapat berpikir dengan jernih, maka setelah masalah ini berlalu, ia tak akan lagi membelenggu. Jika kita tidak memahami yang benar dan salah, maka masalah itu tidak akan ada habisnya. Jadi, inilah beda yang sadar dan yang tersesat. Yang sadar akan dapat mengikis karma, sedangkan yang tersesat akan terus terbelenggu karma. Jika kita terus tenggelam dalam kegelapan batin, maka karma akan terus membelenggu. Mungkin orang lain yang mengamati akan bertanya, “Mengapa bisa begitu?” “Jelas-jelas seharusnya begini.” “Jelas-jelas kamu begitu pintar.” “Jelas-jelas.
.” “Mengapa kamu membiarkan kerisauan terus muncul dari sesuatu yang sebenarnya tidak ada?” “Mengapa…” Mereka merasa kehidupan tak terbayangkan. Ini akibat kegelapan batin. Jadi, Sembilan Gangguan yang kita bahas adalah gangguan yang dialami Buddha. Karena Buddha menceritakannya sendiri, maka kita dapat mengetahuinya. Meski telah mencapai kebuddhaan, apa pun karma yang pernah kita tanam, maka itulah yang harus kita tuai. Kebanyakan orang suka berkata, “Saya bersembahyang agar Buddha membantu saya mengikis karma.” Sesungguhnya, tujuan memuja Buddha adalah menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Jadi, tujuan memuja Buddha adalah membangkitkan rasa hormat
Kita harus menghormati semua orang bagai Buddha. Patung Buddha dari kayu saja begitu kalian hormati, mengapa dalam berhubungan dengan orang lain, kalian tidak bisa memiliki rasa hormat? Kalian bisa melafalkan nama Buddha dengan tulus, tetapi mengapa ajaran saya tidak dapat kalian ingat dalam hati? Jadi, suatu ajaran baik, siapa pun yang mengatakannya, harus menjadi pelajaran bagi kita. Dengan lebih banyak mendengar ajaran baik, kita akan memiliki lebih banyak pemahaman. Jadi, tujuan dari melafalkan nama Buddha adalah meneladani kesadaran Buddha. Saat mendengar suara angin, angin juga bagai membabarkan Dharma. Ini karena saat angin meniup pohon, kita bisa mengamati apakah angin ataukah pohon yang bergerak, apakah angin ataukah pohon yang bersuara. Kita harus menyelami kebenaran ini dengan sungguh-sungguh. Singkat kata, dengan adanya fungsi kesadaran dan indra telinga yang bersentuhan dengan objek luar, kita bisa membedakan. Ini terjadi karena kontak lima indra dengan enam objek ditambah fungsi kesadaran. Jadi, jika memiliki batin yang jenih dan terfokus, saat ini kalian hanya mendengar suara saya
Dalam mengikuti ceramah pagi, kita tidak memperhatikan kondisi di luar. Jika bisa menyerap setiap ajaran ke dalam hati, kita akan dapat menerapkannya. Jika kita terus berpikir, “Wah, ada kereta api,” lalu apa hubungannya dengan kalian? Kalian juga tidak naik kereta api. Kereta api tidak ada hubungannya dengan kalian. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Sebelumnya, kita pernah membahas ungkapan “adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Sembilan Gangguan”. Sembilan Gangguan ini adalah buah karma buruk. Kita masih terus terbelenggu olehnya. Ini yang tadi saya katakan. Makhluk awam tidak rela menerima buah karma. Saat orang membicarakan sesuatu tentang kita, baik benar maupun tidak, kita mulai risau dan memikirkan cara untuk membalas
Ini tidak benar. Jika orang lain membicarakan sesuatu tentang kita, kita harus bertanya pada diri sendiri dan berintrospeksi. Kita harus memastikan kepada diri sendiri apakah kita seperti yang dikatakan. Jika ya, kita harus memperbaiki diri. Kita harus menjelaskan masalahnya dengan jelas. Kita harus menjelaskan masalahnya dengan jelas. Jika tidak, biarkan saja. Yang penting kita tidak seperti itu. Yang penting kita tidak seperti itu. Dengan begitu, masalah ini akan berlalu dan kita akan merasa tenang. Intinya, janganlah kita membangkitkan noda batin akibat kondisi luar sehingga menuntut gigi ganti gigi. Ini tidak benar
Sembilan Gangguan dapat membuat kita menciptakan karma buruk. Karma buruk apa? Mari kita ingat kembali tentang tiga masa. Apa yang dimaksud tiga masa? Saya sering berkata kepada kalian bahwa tiga masa adalah kemarin, hari ini, hari esok. Seperti saat ini, sebentar lagi saya akan keluar, lalu tak lama saya memimpin pertemuan pagi. Setelah pertemuan pagi, tiba waktunya untuk para relawan pergi ke rumah sakit. Jadi, waktu terus bergulir sejak ceramah pagi, pertemuan pagi, hingga saat relawan akan pergi ke rumah sakit. Semua waktu ini mengandung tiga masa, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Waktu saat saya masuk kemari sudah berlalu. Sekarang saya sedang berceramah
Saat kata demi kata terlontar keluar, waktu juga terus berlalu. Dalam setiap momen terkandung tiga masa. Masa yang dimaksud adalah waktu. Waktu sangatlah panjang. Contohnya, Buddha sering mengulas tentang berkalpa-kalpa lalu yang tak terhingga. tentang berkalpa-kalpa lalu yang tak terhingga. Kita di masa kini bisa mengambil contoh dengan rentang yang lebih pendek, seperti tahun lalu, tahun ini, kemarin, hari ini, pagi hari, siang hari, malam hari. Yang lebih singkat lagi adalah pembicaraan tadi dan pembicaraan sekarang. Kalimat demi kalimat terus berlalu. Tiga masa bergulir tanpa henti
Waktu yang panjang maupun pendek terus bergulir tanpa henti. Jadi, dalam tiga masa ini terkandung Sembilan Gangguan. Pada setiap saat, apa yang akan terjadi? Mungkin saja pada saat saya berbicara, timbul noda batin dalam hati kalian. “Orang itu berbicara sesuatu kepada saya, saya belum membuat perhitungan dengannya.” Mungkin ada juga yang berpikir, “Yang Master katakan benar, orang lain melakukan sesuatu terhadap saya, saya harus mencari cara untuk melepaskan dendam ini.” Saya percaya ada yang berpikir begitu. Mungkin ada juga yang berpikir, “Mengapa waktunya belum habis?” “Kaki saya sudah sakit.” Ini juga termasuk noda batin atau gangguan. Singkat kata, inilah Sembilan Gangguan, yakni segala gangguan yang muncul pada masa lalu, masa kini, serta masa depan dan terus kita rasakan. Inilah gangguan terhadap diri sendiri
“Dahulu ada orang yang melakukan sesuatu terhadap saya, saya sudah merasakannya.” Orang itu langsung menyebabkan kita terganggu. Inilah gangguan terhadap diri sendiri. Ada pula gangguan terhadap orang yang kita kasihi. Ia tidak langsung menimpa kita, melainkan menimpa orang yang kita kasihi. Kalian tentu pernah mendengar siaran berita yang melaporkan sekelompok anak yang terlibat tawuran. Apa penyebab tawuran itu? “Karena mereka berbuat buruk pada kakak saya.” “Karena mereka mereka berbuat buruk pada kakak saya.” “Kakak saya telah ditindas oleh mereka
” “Orang itu sudah melakukan sesuatu terhadap orang yang saya kasihi.” Karena itu, mereka berkumpul dan mulai berkelahi. Lihat, inilah gangguan terhadap orang yang dikasihi. Ini contoh gangguan dengan kekerasan. Ada pula gangguan yang lebih halus, yakni lewat ucapan. Banyak orang yang menyebarkan gosip dan melukai orang lain. Kini juga banyak orang melukai orang lain lewat kata-kata di internet. Benar dan tidak sudah tidak bisa dibedakan
Kini gangguan terus-menerus terjadi. Gangguan yang terlihat adalah perusakan, sedangkan yang tak terlihat adalah luka akibat gosip. Semua ini adalah gangguan yang berkepanjangan dan terus berlanjut. Mungkin dalam kehidupan ini seseorang tidak punya masalah dengan orang lain, tetapi dalam kehidupan lampau, mungkin dia menjalin jodoh buruk. Karena itu, dia mengalami gangguan. Baik menimpa diri sendiri langsung maupun menimpa orang yang kita kasihi, keduanya membuat manusia risau. Batin manusia menjadi tidak gembira. “Kamu menindas kerabat saya.” “Saya tidak senang.” “Saya ingin balas dendam
” Begitulah manusia. Begitulah manusia. Jadi, kini kita harus melatih diri. Saya sering mengatakan bahwa bagaimana pun perlakuan orang terhadap kita, ini adalah hasil perbuatan kita di masa lalu, maka kini kita harus menerima buahnya dengan sukarela. Jadi, kita harus mundur selangkah dan mengalah agar dunia terasa luas. Meski kita masih merupakan makhluk awam, meski kita masih diliputi ketidaktahuan tentang apa yang kita lakukan terhadap orang di kehidupan lampau, meski kita hanya tahu bahwa dalam kehidupan ini kita tidak berbuat salah pada orang itu, meski kita bertanya-tanya mengapa gangguan bisa terjadi, meski kita bertanya-tanya mengapa gangguan bisa terjadi, asalkan kita dapat mundur selangkah, maka dunia akan terasa luas. Kita harus menghadapi gangguan dengan lapang dada. Ada orang berkata, “Itu hanya untuk orang yang melatih diri seperti kalian.” Sesungguhnya, praktisi yang melatih diri juga belum tentu bisa melakukan ini. Mereka berpikir benar adalah benar, salah adalah salah. Mereka terus berselisih hingga menang. Saat berselisih, noda batin terus membelenggu
Jadi, jika dapat mundur selangkah, dunia akan terasa luas. Apakah melatih diri sangat sulit? Saya sering berkata bahwa ini tidak sulit. Melatih diri sangat sederhana. Di mana letak kesederhanaannya? Kalian hanya perlu mempertahankan tiga kebaikan. Sutra Buddha mengulas tentang tubuh, ucapan, dan pikiran. Jika ketiganya tidak dijaga dengan baik dan kita malah menciptakan karma buruk lewat ucapan, maka kita akan menjalin jodoh buruk. Jika melakukan tindakan buruk, kita dapat melukai orang lain. Baik ucapan maupun tindakan, semua berawal dari pikiran. Jadi, kini kita harus menjaga pikiran dengan baik. Kita harus membiasakan tutur kata baik. Selain itu, kita juga harus tahu bahwa kita perlu berbuat banyak kebajikan
Setiap tindakan kita hendaknya membawa manfaat bagi orang lain. Karena itu, dikatakan bahwa hendaknya pikiran menyimpan niat baik, mulut bertutur kata baik, dan tubuh berbuat baik. Jika setiap orang dapat menerapkan ini, maka karma perlahan-lahan akan terkikis. Orang zaman dahulu berkata bahwa membangkitkan sebersit niat baik dapat melenyapkan bencana. Benar, semua bergantung pada niat. Apa yang dimaksud niat baik? Yakni selalu menjaga pikiran dengan baik. Jika dapat menjaga pikiran dengan baik, kita tidak akan melukai orang lain. Kita harus berhati-hati atas ucapan kita
Orang berkata bahwa bencana keluar lewat mulut. Sebagian bencana dan musibah berawal dari ucapan yang keluar dari mulut. Jadi, kita harus ingat untuk menjaga pikiran dengan baik. Kita harus berhati-hati saat berbicara. Berbicara dengan sepenuh hati akan membuat orang bersukacita. Dengan berbicara sepenuh hati, kita tidak akan melukai orang lain. Dengan demikian, kita akan menjalin jodoh baik. Kita harus bersungguh hati dalam berbicara. Namun, bagaimana dengan mendengar? Kita juga harus menggunakan hati
Hati seperti apa? Hati yang penuh kebijaksanaan. Saya sering mengatakan bahwa kita harus berpengertian dan berlapang dada. Jangan menjadikan masalah sebagai sumber konflik. Jika menemui masalah, kita harus memetik hikmahnya. Inilah kebijaksanaan. Jika kita dapat menghadapi orang dan masalah dengan kebijaksanaan, dapat mendengar pendapat orang dengan bijaksana, maka tidak akan ada gangguan dan noda batin. Kita dapat berpengertian dan berlapang dada. Dengan demikian, kita dapat selalu membangkitkan rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih yang tulus terhadap orang lain. Bukankah ini jalan yang harus dilalui Bodhisattva dunia? Untuk dapat melewati jalan yang lapang dan cemerlang, kita harus memiliki tiga kebaikan tadi. Kita juga harus bersyukur, menghormati, dan mengasihi
Dengan begitu, barulah jalan hidup kita akan lapang. Jadi, Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.