Sanubari Teduh – 245 – Enam Belas Pandangan Bagian 01
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi sekitar begitu hening dan tenang, tetapi apakah kondisi batin kita sudah tenang dan damai? Pikiran tidaklah terlihat. Namun, segala sesuatu dimulai dari pikiran. Terlebih lagi, saat pikiran bersentuhan dengan kondisi luar, maka akan timbul banyak pandangan. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang “Dua Belas Pintu Masuk”. Kini kita akan mengulas Enam Belas Pandangan. Ini semua adalah istilah untuk menjelaskan ajaran Buddha. Dengan penuh cinta kasih dan welas asih, Buddha mengumpamakan segala sesuatu dalam kehidupan kita untuk menjabarkan kondisi batin kita saat bersentuhan dengan kondisi luar
Sentuhan antara indra, objek, dan kondisi luar dapat membuat batin kita bergejolak tak menentu. Ini semua bermula dari pandangan. Ada berapa jenis pandangan? Enam belas jenis. Jenis pandangan sangatlah banyak. Yang paling utama adalah pandangan keakuan. Sesungguhnya, Enam Belas Pandangan berhubungan dengan Lima Agregat. Kita semua tahu tentang Lima Agregat. Lima Agregat sama dengan Panca Skandha. Lima Agregat meliputi rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Jadi, terkadang orang menerjemahkannya sebagai Panca Skandha, dan terkadang diterjemahkan sebagai Lima Agregat. Dua istilah ini adalah sama. Panca Skandha bisa melahirkan banyak fenomena. Fenomena seperti apa? Fenomena pikiran
Pikiran menimbulkan pandangan yang bisa memicu terjadinya banyak konflik. yang bisa memicu terjadinya banyak konflik. Dari sinilah benih karma dan noda batin di dalam kesadaran kedelapan berasal. Yang pertama dari Enam Belas Pandangan adalah “pandangan keakuan”. Contoh tentang pandangan keakuan ini sangat banyak. Kita sering mengulas tentang ini. Benar. Di dalam diri setiap orang terdapat “aku”. Di dalam diri saya terdapat “aku”. Begitu pula di dalam diri Anda dan dirinya. Di dalam diri setiap orang terdapat “aku”. “Saat tidur, aku bermimpi.” “Mimpiku dan mimpimu berbeda
” “Terkadang kamu bermimpi, sedangkan aku tidak bermimpi.” Mimpi setiap orang tidak saling berhubungan. Ini adalah contoh “aku”. “Saat mimpi indah, aku bangun dengan hati yang gembira.” “Saat mimpi buruk, aku bangun dengan perasaan tidak gembira, gelisah, dan lain-lain.” Ini juga merupakan contoh “aku”. Saat membuka mata, kita mulai bersentuhan dengan kondisi luar. Kita melihat kamar kita dan kondisi di sekitar, lalu berpikir apa kegiatan selanjutnya. Setiap orang memiliki kegiatan yang sama saat baru bangun tidur, yakni ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan lain-lain. Namun, perasaan setiap orang pastilah berbeda-beda. Perasaan kita pastilah berbeda
Jadi, ada banyak “aku” yang berbeda. Jadi, ada banyak “aku” yang berbeda. Di dalam setiap “aku” terdapat kemelekatan. Kita memiliki kemelekatan dan pandangan sendiri. Akibat pandangan keakuan ini, maka saat kita bersentuhan dengan rupa, timbullah perasaan dan pemikiran masing-masing. Dengan persepsi dan dorongan pikiran masing-masing, kita memulai aktivitas hari ini. Contohnya kehidupan di Griya Jing Si. Setelah membersihkan badan, setiap orang akan berkumpul di aula utama. Tindakan setiap orang adalah sama, tetapi apakah perasaan dan pemikiran kita sama? Tidak. Gerakan kasar setiap orang terlihat sama, tetapi dorongan pikirannya berbeda. Dorongan halus ini ada di dalam diri setiap orang. Tubuh setiap orang mengalami metabolisme. Tak peduli sehat atau tidak sehat, tubuh kita terus berproses
Tubuh kita sehat atau sakit, semuanya bergantung pada proses di dalam tubuh. Ada orang yang tekanan darahnya lebih tinggi, ada orang yang jantungnya kurang sehat, ada pula orang yang mengalami masalah lambung dan usus. Ini semua terjadi karena proses dan metabolisme di dalam tubuh. Kondisi sekitar kita juga terus berproses dengan sangat halus. dengan sangat halus. Setiap pagi, saat beranjak dari kamar untuk menuju aula utama, saya melihat langit masih gelap. Kini, saat saya duduk di sini untuk berbicara dengan kalian, langit di luar masih tidak begitu terang. Namun, jika dibandingkan dengan saat saya baru keluar tadi, sekarang langit sedikit lebih terang. Tadi, saat saya baru beranjak keluar, langit masih terlihat gelap dan dipenuhi bintang. Kini, saat saya melihat keluar, langit sudah berwarna sedikit abu-abu. langit sudah berwarna sedikit abu-abu
Di dalam dialek Taiwan, kita menyebutnya langit abu-abu, yang berarti sangat pagi dan langit belum begitu terang. Usai saya berceramah nanti, matahari pasti sudah tinggi. Inilah kondisi saat cuaca cerah. Saat cuaca cerah, kondisi langit akan berubah seiring waktu dengan pergerakan yang sangat halus. Bumi dan Bulan berputar mengikuti orbitnya masing-masing. Siang dan malam terus bergulir tanpa kita sadari. Ini semua karena pergerakan yang sangat halus. Pohon dan segala sesuatu di bumi juga terus berproses. Jika tidak, bagaimana pohon bisa bertumbuh? Kapan ia bertumbuh besar? Kita tidak tahu. Hanya beberapa hari kita tidak melihatnya, ia sudah bertunas. Kapankah ia bertunas? Tidak tahu. Tanpa kita sadari, segala sesuatu di alam semesta terus berproses. Banyak proses yang tidak kita sadari
Banyak proses yang tidak kita sadari. Akumulasi dari semua itu disebut Agregat, yang mencakup proses atau dorongan pikiran. Lima Agregat terdiri atas Lima Agregat terdiri atas rupa, perasaa, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Karena adanya “dorongan pikiran”, setiap orang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Karena itu, perbuatan setiap orang berbeda-beda. Setiap perbuatan kita akan meninggalkan benih karma di dalam “kesadaran”. Jadi, di dalam satu kata “aku” terkandung banyak hal. Jika ada “aku” yang mengejar ketenaran, keuntungan, dan kedudukan, maka akan terjadi persaingan dan berbagai konflik lainnya. Di dunia ini, di keluarga, di masyarakat, dan lain-lain, setiap hari terjadi hal yang berbeda-beda. Segala hal yang terjadi semuanya bermula dari “aku” dan pandangan keakuan. Saya memiliki pandangan sendiri, Anda memiliki pandangan sendiri, dia juga memiliki pandangan sendiri. Setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Setiap orang memiliki pandangan masing-masing
Pandangan keakuan bisa membawa kerisauan bagi banyak orang. Jadi, berbagai kerisauan muncul akibat kegelapan batin. Lima Agregat bisa menimbulkan kegelapan batin. Kegelapan batin membuat kita sulit memahami orang lain. “Apakah kamu memahami pemikiranku?” “Aku tidak paham.” “Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?” “Sesungguhnya, aku juga tidak memahaminya.” Kegelapan batin dan pandangan masing-masing membuat kita sulit berkomunikasi. Jadi, kegelapan batin membuat kita sulit memahami. Sungguh, dalam interaksi antarsesama, banyak hal yang tidak kita pahami. “Aku tidak memahamimu dan kamu juga tidak memahamiku.” Karena tidak saling memahami, maka mudah timbul salah paham
Saat timbul kesalahpahaman, kita akan melekat pada keakuan. Kita terus melekat pada keakuan. “Aku yang benar.” “Kamu yang tidak memahamiku, bukan aku yang tidak memahamimu.” Kedua belah pihak sama-sama keras kepala. Ini disebut kemelekatan pada pandangan salah. Kita tidak berusaha untuk memahami orang lain, melainkan hanya melekat pada diri sendiri. Kita hanya melekat pada “aku”– apa yang aku pikirkan, apa yang aku lakukan, dan apa yang aku miliki, apa yang aku inginkan, dan lain-lain. apa yang aku inginkan, dan lain-lain. apa yang aku inginkan, dan lain-lain. Keakuan ini sungguh membawa banyak noda batin. Banyak orang yang berpikir, “Aku yang benar dan dia salah
” “Aku yang benar.” “Orang lain semuanya salah.” Noda batin kita telah membuat banyak orang tidak nyaman. Jadi, keakuan ini sungguh kasihan. Sejak zaman dahulu, keakuan telah menimbulkan banyak diskriminasi, terutama di India. Kita semua tahu bahwa di India, empat kasta dibedakan dengan sangat jelas. Pada zaman Buddha hidup, Beliau juga melihat perbedaan empat kasta itu. Orang dari kasta ksatria, yakni golongan kerajaan, dan para pedagang saling bersaing untuk mendapat keuntungan. Mereka selalu meremehkan orang-orang dari kasta Sudra. Orang-orang dari kasta Sudra tersebar di keluarga kasta Ksatria untuk bekerja sebagai budak. Mereka selamanya menjadi budak. Dimulai dari generasi leluhur, generasi orang tua, hingga generasi anak-anak, dari generasi ke generasi, mereka terus menjadi budak
Golongan orang ini disebut kasta Sudra. Mereka selamanya tidak bisa menegakkan kepala dan selamanya tak bisa terlepas dari kasta itu. Mereka sangat dipandang remeh oleh orang. Buddha melihat diskriminasi kasta ini. Kehidupan orang dari kasta Sudra sangat menderita dan tidak pernah ada kesempatan untuk sukses. Karena itu, Buddha merasa sangat sedih. Apa yang perlu kita perebutkan di dunia ini? Bukankah semua orang akan mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati? Golongan orang berada, keluarga kerajaan, dan perdana menteri, semuanya termasuk dalam kaum Ksatria. Orang dari kasta Ksatria dan orang dari kasta Sudra sesungguhnya adalah setara. Mereka semua juga mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Seorang raja juga akan mengalami tua, sakit, dan suatu hari nanti akan mati
Buddha melihat orang-orang dari kasta rendah yang tidak memiliki uang untuk berobat ketika sakit. Mereka tidak bisa menerima pengobatan. Saat akan mati, mereka pun mati di pinggir jalan. Pemandangan yang memprihatikan itu membuat orang merasa kehidupan ini seakan tidak adil. Meski setiap orang pasti akan mengalami fase tua, sakit, dan mati, tetapi perbedaan kasta membuat kehidupan ini seakan tidak adil. Karena itu, Buddha ingin melenyapkan pembagian kasta yang tidak setara itu. Beliau bertekad meninggalkan keduniawian untuk mencari kebenaran guna membimbing setiap orang keluar dari keakuan. Karena itulah, Beliau meninggalkan keduniawian. Hingga kini lebih dari 2.000 tahun sudah berlalu, apakah pembagian empat kasta di India sudah hilang? Masih belum. Masih sama. Ini karena agama Hindu di India sangat berjaya
Setelah Buddha parinirvana, ajaran Buddha di India perlahan-lahan mengalami kemunduran setelah lebih dari 2.000 tahun berlalu, sedangkan agama Hindu dan Brahmana di India tetap sangat berjaya. Karena pola pikir mereka tidak bisa diubah, maka pembagian kasta masih tetap ada. Ini adalah pola pikir warga setempat. Hingga kini mereka masih memiliki pola pikir yang sama. Kasta Brahmana, kasta Ksatria, dan kasta Waisya adalah tiga kasta besar di India. Kasta Brahmana adalah para pemuka agama, kasta Ksatia adalah golongan kerajaan, dan kasta Waisya adalah golongan pedagang. dan kasta Waisya adalah golongan pedagang. Orang-orang dari kasta tinggi ini menolak menikah dengan kasta Sudra
Mereka lebih memilih pasangan yang berkasta sama dengan mereka. yang berkasta sama dengan mereka. Jadi, untuk menikah dengan orang dari kasta lain sangatlah sulit. Meskipun ada pernikahan antarkasta, itu juga sangat berbahaya. Pernikahan antarkasta mungkin akan mendatangkan tragedi. Pada bulan Mei 2004, di sebuah wilayah dekat Mumbai terjadi sebuah tragedi. Ada seorang gadis dari keluarga kasta Ksatria Ada seorang gadis dari keluarga kasta Ksatria berkenalan dengan seorang pria dari kasta Sudra. Mereka saling mencintai. Meski perbedaan kasta sudah ada sejak dahulu, sudah ada sejak dahulu, tetapi anak muda ini juga merasa bahwa perbedaan kasta seperti ini haruslah dilenyapkan. Gadis dari kasta Ksatria ini ingin selalu bersama dengan pria dari kasta Sudra tersebut
Mereka menjalin kasih yang dalam dan berjanji tidak akan menikah selain dengan pilihan mereka. Tanpa mengindahkan larangan orang tua, mereka tetap bersikeras untuk menikah. Tidak lama setelah menikah, keluarga dari pihak pria mengalami sebuah tragedi. Ada empat orang, yakni anak muda ini, kedua orang tuanya, kedua orang tuanya, dan seorang tetangganya meninggal dalam tragedi ini. meninggal dalam tragedi ini. Di India, jika ada pernikahan antarkasta, tragedi seperti ini sering terjadi. Mereka menyebut tragedi ini sebagai pembunuhan demi kehormatan. Pembunuhan ini terjadi karena gengsi dari golongan kasta tinggi. Mereka tidak ingin anak-anaknya menikah dengan orang dari kasta Sudra. Ini membuat mereka sangat malu. Rasa gengsi ini mendorong mereka menghalalkan segala cara untuk membunuh orang lain. Di India, ini adalah masalah yang sangat serius
Pola pikir seperti ini sudah terbentuk di masyarakat. Menurut mereka, tindakan pembunuhan merupakan hal yang biasa. Ini adalah pola pikir yang keliru. Mereka beranggapan orang dari kasta Ksatria akan selamanya berada dalam kasta Ksatria. Dari kehidupan ke kehidupan, mereka akan selamanya ada dalam kasta Ksatria. Begitu pula dengan orang dari kasta Sudra, akan selamanya berada dalam kasta Sudra. Mereka percaya bahwa benih karma dari kehidupan lampau mengikuti mereka hingga ke kehidupan selanjutnya. Jika pada kehidupan ini mereka terlahir dalam kasta Sudra, maka dari kehidupan ke kehidupan, mereka akan selalu lahir dalam kasta Sudra. Mereka tidak akan terbebas dari kasta ini. Inilah pandangan menurut keyakinan mereka. Jadi, pada masa itu, Buddha melihat perbedaan kasta yang jelas
Menurut ajaran dari keyakinan mereka, orang berada akan selamanya hidup berkelimpahan, sedangkan orang yang serba kekurangan akan selamanya hidup kekurangan. Pola pikir seperti ini harus dilenyapkan. Namun, itu tidaklah mudah. Namun, itu tidaklah mudah
Hingga kini perbedaan kasta itu masih tidak bisa dilenyapkan. Ini terjadi karena pandangan keakuan. Jika bukan karena pandangan keakuan, mengapa mereka bisa membeda-bedakan seperti itu? Jadi, pandangan keakuan ini sangatlah rumit. Setiap orang yang terlahir di dunia ini memiliki pandangan keakuan. Pandangan keakuan bisa mendorong kita menciptakan banyak karma buruk, juga bisa mengubah nasib kita. Singkat kata, dengan melatih diri, baru kita bisa mengubah hidup. Tanpa pelatihan diri, kita akan terus melekat pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pandangan keakuan selamanya merupakan benih karma buruk dan benih kegelapan batin kita. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.