Membina Diri Sembari Mempererat Persaudaraan
Sebanyak 48 relawan Tzu Chi Medan, kebetulan kesemuanya ini laki-laki (Shixiong), sejak 5 Juni 2022 lalu rutin berlatih bersama gerakan isyarat tangan (souyu) tiga kali dalam sepekan. Mereka akan tampil dalam persamuhan Dharma sedunia yang akan dipentaskan pada 11 Desember 2022 mendatang. Selain untuk mempererat persaudaraan, latihan bersama ini merupakan metode terampil untuk mempelajari dan mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Zerry Lim selaku mentor kelompok ini berharap persamuhan ini bisa menyatukan kekuatan khalayak, merealisasikan salah satu Dharma ajaran Buddha tentang kewelasasihan, yaitu menyeberangkan manusia dari lautan penderitaan ke pantai kebahagiaan serta menciptakan berkah bagi masyarakat.
“Kami terus menghimpun sebanyak mungkin relawan untuk andil dalam pesamuhan ini. Dalam kegiatan ini, para relawan belajar menguasai rangkaian dari perpaduan gerakan isyarat tangan untuk 7 syair. Walaupun tantangan waktu dan sebagainya, saya kagum dengan kesabaran, kesungguhan hati dan semangat para relawan untuk menguasai semua materi sampai mahir. Semoga kita semua bisa meresapi dan mengingat selalu makna yang terkandung di dalam syair Dharma yang kita pelajari dan peragakan serta bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.” Kata Zerry Lim.
Beragam profil relawan yang mengikuti persamuhan ini. Dari mahasiswa hingga profesional, dari dokter hingga wiraswasta. Ada yang bergabung untuk pertama kalinya lewat ajakan kerabat, keluarga, dan juga tayangan DAAI TV.
Nicholas Leonardi (19) yang baru menjadi seorang relawan sejak tujuh bulan yang lalu lewat tayangan DAAI TV sangat terkesan dengan bentuk kegiatan, keteladanan dan kesungguhan hati para relawan selama latihan.
“Banyak pengalaman baru dan kesan yang saya dapatkan sejak bergabung menjadi relawan. Pesamuhan ini bisa terwujud dengan baik berkat kerjasama, kesungguhan hati serta tekad dari semuanya. Sesungguhnya, pelatihan diri ini adalah sebuah bentuk perjuangan yang tidak selalu mulus dan sesuai harapan, terkadang kita memang harus merenung untuk kemudian maju. Semoga kita semuanya bisa bahu-membahu memperpanjang barisan Tzu Chi, menghayati pesan Master Cheng Yen untuk terus menebar benih kebajikan dan berpikiran positif,” tutur Nicholas Leonardi.
Hansen Mai (35) tergerak hatinya bergabung menjadi relawan sejak Juni 2022 setelah mengikuti ulasan kegiatan Tzu Chi lewat media sosial. Walaupun pengalaman pertama, ia bersukacita dan terkesan dengan keakraban yang ada.
“Pertemuan rutin latihan bersama selama ini tentunya mempererat jalinan persahabatan. Tawa canda, suasana serta dukungan dari sesama mempermudah proses pembelajaran. Semoga persahabatan, solidaritas dan kekompakan yang telah dibina dengan baik selama ini bisa terus dipertahankan,” ujarnya.
Berbeda dengan Nicholas Leonardi dan Hansen Mai, Dedy Lam (45) mengikuti kegiatan persamuhan ini bersama dengan anggota keluarganya. Setelah mengenal Tzu Chi lewat kegiatan bersama dengan relawan membersihkan sebuah sekolah usai banjir di daerah tempat tinggalnya dari tumpukan sampah dan genangan lumpur, ia bertekad untuk terus tumbuh di Tzu Chi bersama anggota keluarganya.
“Sejak mengenal Tzu Chi dari ipar saya beberapa bulan yang lalu, kami dua keluarga terus bertumbuh dan sebisa mungkin berbagi waktu untuk mengikuti kegiatan Tzu Chi untuk menambah wawasan. Selain menjalin persahabatan, semua kegiatan yang ada menambah nilai positif di kehidupan kami sekeluarga. Semoga kedepannya, kami sekeluarga bisa terus semangat dan berbagi waktu untuk lebih aktif di Tzu Chi.” Tambah Dedy Lam.
Shu Tjeng yang sudah menjadi relawan selama 14 tahun sangat bersyukur dengan keberadaan persamuhan dan melihat kegiatan ini sebagai sarana untuk terus mengingatkan diri sendiri betapa pentingnya Dharma dalam kehidupan sehingga bisa mendapatkan arah dan tujuan yang benar.
“Sungguh sukacita bisa berkumpul bersama, berkenalan dan menjalin jodoh baik dengan sesama peserta persamuhan. Sebagai manusia awam, terkadang kita gampang lupa dengan gerakan isyarat tangan sehingga diperlukan konsentrasi dan kesungguhan hati untuk belajar, menghafal syair dan mengulangi gerakan tangan tersebut. Semoga semua peserta bisa menumbuhkan kebijaksanaan dari makna Dharma dalam syair dan gerakan yang ada,” kata Shu Tjeng.
Fotografer : Amir Tan (Tzu Chi Medan),
Editor : Khusnul Khotimah.