Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 251– Enam Belas Pandangan Bagian 07

Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan terus berjalan tanpa henti. Hari demi hari juga terus berlalu. Manusia hidup melewati hari demi hari. Hari demi hari ini juga terus berlalu dalam kehidupan. Jadi, kita dapat menghitung kehidupan manusia ataupun menghitung hari-hari. Di dalam Enam Belas Pandangan, yang ketujuh adalah pandangan tentang ras manusia. Ras merujuk pada suatu kumpulan yang terakumulasi dan terukur oleh bilangan. Sesungguhnya, dalam kehidupan sehari-hari, bilangan yang kita gunakan sangat sederhana. Namun, bilangan yang sederhana ini dapat menunjukkan akumulasi kehidupan demi kehidupan. Bahkan, seluruh kondisi di seluruh dunia, sesungguhnya adalah berbagai kumpulan hal yang diakumulasi oleh manusia.

Apa yang dimaksud kumpulan? Yaitu lima agregat, dua belas pintu masuk, delapan belas elemen, dan lain-lain. Berbagai kumpulan ini terus terakumulasi. Di dalam enam belas pandangan saja selalu terdapat kaitan dengan lima agregat. Kumpulan berfaktor lima ini telah ada di dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat menghadapi orang dan masalah, baik yang buruk maupun yang baik, kita tak lepas dari lima agregat. Selain lima agregat, ada pula dua belas pintu masuk. Kita semua sudah tahu isi dari dua belas pintu masuk ini, yakni indra telinga, hidung, lidah, tubuh, dll., yang berfungsi saat kita menghadapi kondisi luar. Selain itu, ada delapan belas elemen. Selain itu, ada delapan belas elemen. Saat kita mengumpulkan semua hal ini, sesungguhnya semua itu adalah satu kesatuan. Namun, karena adanya berbagai pandangan, kita mengelompokkannya menjadi banyak. Di dalam keseharian, kita perhitungan terhadap yang kita temui. Kita perhitungan terhadap jumlah banyak atau sedikit, terhadap yang kita suka atau yang kita tidak suka. Kita perhitungan dalam banyak hal. Akibatnya, banyak hal yang terakumulasi. Bukan hanya banyak dari segi angka, noda batin pun semakin banyak. Dengan banyaknya noda batin, kita menciptakan karma buruk yang tak terhingga. Jadi, semua ini berkaitan dengan bilangan, yakni hal-hal yang kita semua perhitungkan. Adakalanya manusia banyak melekat pada angka. Manusia selalu menuntut lebih banyak, entah satu, dua tiga, empat, lima, atau enam. Ini juga merupakan bilangan. Hanya saja kita tidak memahami dampak akumulasi bilangan-bilangan tersebut dimulai dari yang sederhana, seperti satu, dua tiga, hingga empat. Di dalam Sutra ada suatu penggalan yang mencatat pembabaran Buddha bahwa akibat perhitungan atas hal-hal hal kecil, manusia harus membayar lebih besar.

Buddha membabarkan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang diutangi orang lain. Berapa banyak? Setengah keping. Dia merasa utang tentu harus dibayar. Dia merasa utang tentu harus dibayar. Namun, di mana orang yang berutang itu tinggal? Di seberang sungai. Di seberang sungai. Berhubung merasa harus menagih utang, dia menyewa perahu untuk menyeberang. Namun, berapa harga sewa perahu? Dua keping uang. Dia menghabiskan dua keping demi menagih setengah keping. Sesampainya di seberang, ternyata orang yang berutang telah pindah. Entah pindah ke mana. Si penagih ini sangat marah. Untuk pulang, dia harus kembali menyewa perahu dan membayar dua keping lagi. Selain gagal menagih setengah keping, dia harus menghabiskan empat keping dan dipenuhi kerisauan serta rasa benci. Buddha membabarkan kisah singkat ini agar para murid-Nya memahami bahwa agar para murid-Nya memahami bahwa demi suatu hal kecil, sikap perhitungan dan kebencian di dalam hati membuat manusia harus membayar konsekuensi mahal. Ini membuat kita lelah. Sesungguhnya, kita bisa menjaga kesehatan tubuh dan membuat pikiran bahagia, lalu menggunakan waktu untuk mencari uang, untuk apa malah menagih utang yang tak seberapa dan menghabiskan lebih banyak uang, membuat batin dipenuhi kerisauan, menghabiskan banyak waktu, dan menyia-nyiakan kehidupan kita? Inilah yang ingin Buddha sampaikan. Kita kerap mengabaikan makna kehidupan yang sesungguhnya. Berapa lama kita dapat melewati hari-hari? Hari-hari ini terus berlalu dalam kehidupan kita.

Hari-hari ini terus berlalu dalam kehidupan kita. Semua ini juga bisa dihitung dengan bilangan. Bilangan ini dapat mengakumulasi segala hal, dapat mengakumulasi kebajikan atau pahala, juga dapat mengakumulasi kejahatan atau karma buruk. Semua ini juga bisa dihitung dengan bilangan. tak lepas dari keseharian kita. Lima agregat, dua belas pintu masuk, delapan belas elemen, semuanya memiliki bilangan. Dua belas pinta masuk, delapan belas elemen, dan lima agregat, jika disarikan, sesungguhnya merupakan satu hal yang sama, yaitu pandangan. Jadi, berhubung kita memiliki banyak pandangan, maka kita terdorong untuk maka kita terdorong untuk menciptakan noda batin di dalam keseharian. Sebelas kecenderungan umum pun termasuk di dalamnya. Saya sejak awal telah mengatakan bahwa kecenderungan umum sering mendorong kita untuk memiliki banyak pandangan. Jadi, di dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat menderita. Namun, kita harus tahu bahwa berhubung semua hal dapat terakumulasi, maka jika kita dapat mengubah pikiran untuk memupuk kebajikan setiap hari, hidup kita tentu akan lebih bermakna. Sebaliknya, dalam kehidupan ini, meski waktu dan hari yang kita miliki semakin banyak, jika noda batin kita juga bertambah besar, maka karma buruk yang tercipta akan semakin banyak, semakin luas, dan semakin dalam. Ada seorang lansia yang datang ke Griya Jing Si dengan ditemani anggota Tzu Cheng kita. Dia lahir empat tahun sebelum Republik Tiongkok berdiri. Lihatlah, kehidupannya sudah puluhan ribu hari. Puluhan ribu hari telah dia lewati. Kita terus mendengarkan orang tua ini berbicara. Meski pendengarannya sedikit terganggu, tetapi pikirannya sangat jelas. Ucapannya sangat baik. Tekadnya juga besar. Dia bukan hanya peduli orang yang hidup, tetapi juga peduli orang mati. Dia adalah seorang veteran. Dia hidup sebatang kara di Taiwan. Seumur hidupnya dia gemar beramal. Bahkan, dia sendiri sangat menghargai berkah. Bukan hanya itu, dia juga hemat. Apa pun tidak rela dia gunakan. Benar, dalam hidupnya dia sangat menghargai berkah. Apa pun tidak ingin dia gunakan. Namun, terhadap orang lain, dia sangat murah hati. Dia selalu rela berbuat baik. Jadi, dia adalah seorang dermawan. Jadi, dia adalah seorang dermawan.

Pemerintah memberinya tunjangan setiap bulan. Dia hidup bergantung pada tunjangan ini. Setiap kali menerima tunjangan, dia menggunakannya dengan hemat. dia menggunakannya dengan hemat. Jika ada lebih, dia akan menyimpannya. Jika ada lebih, dia akan menyimpannya. Jika ada sedikit sisa, dia akan berpikir untuk mendonasikannya. Dia merasa ada banyak orang yang menderita di dunia. Jadi, dia tidak perhitungan terhadap hal-hal di luar. yang penting dirinya sehat. Lagi pula, tunjangan dari pemerintah setiap bulan cukup untuk membuatnya hidup dengan stabil. Selain itu, dia juga tinggal di Taiwan yang memiliki iklim yang baik. Terlebih lagi, dia juga didampingi oleh banyak insan Tzu Chi. Jadi, dia merasa sangat puas. Dia adalah orang tua yang mampu berpuas diri. Dalam setiap hal, dia terbiasa berpikir demi orang lain. Berhubung berada di Tzu Chi, dia tak pernah ketinggalan berita terbaru. Saat di satu negara terjadi bencana, jika dia memiliki uang lebih, dia akan segera menyumbangkannya lewat Tzu Chi. Dia berkata, “Cepatlah pergi membantu.” Lihatlah kehidupannya yang seperti itu. Meski dia tinggal jauh dari kampung halaman karena sudah datang ke Taiwan sejak muda dan harus tinggal di Taiwan sepanjang sisa hidupnya seorang diri, tetapi batinnya sangat sehat dan daya ingatnya masih baik. Dia sadar bahwa dirinya berkecukupan. Jadi, dia tidak seperti orang pada umumnya yang perhitungan dan terus mengejar lebih banyak. Tidak. Selain itu, seiring berlalunya waktu, dia selalu memupuk berkah setiap hari. Jadi, bagi orang tua ini, kehidupan sangatlah bermakna.

Orang-orang berkata, “Orang berusia 100 tahun amat panjang umur.” Benar, Orang berkata, “Usia 70 tahun sulit dicapai.” Berkat kemajuan kualitas medis masa kini, banyak orang mampu mencapai usia 70 tahun. banyak orang mampu mencapai usia 70 tahun. Meski jarang yang mencapai usia 100 tahun, tetapi kita dapat melihat orang tua tadi dapat bersumbangsih dengan cinta kasih. Dia sungguh merupakan orang yang langka. Namun, di India, juga ditemukan orang yang mencapai usia 137 tahun. Mungkin dia adalah orang tertua di dunia. Tubuhnya masih sehat. Dia sering mengucapkan satu hal. Dia sering mengucapkan satu hal. Dia berkata, “Tuhan telah melupakan saya.” Selama 137 tahun ini, dia melewati berbagai perubahan dari zaman kolonial. Saat ini, satu-satunya hal yang dia harapkan dan dia inginkan adalah ada orang yang bersedia mendengarkannya. Dia hanya berharap ada orang yang menemaninya dan mendengar dia bercerita tentang masa lalu. Dia merasa dia telah hidup lama dan telah melihat banyak hal. Dia sangat berharap dapat berbagi tentang berbagai perubahan yang dilihatnya kepada banyak orang. Dia sering berkata begitu. Dia berkata, “Saya telah melihat berbagai zaman.” “Saya telah berusia 130 tahun lebih.” “Inggris telah beberapa kali berganti raja.” Tatanan masyarakat negara itu juga telah banyak dia lihat. Dia juga mengeluh bahwa semua teman lamanya telah meninggal satu per satu, bahkan anak cucu teman-temannya bahkan anak cucu teman-temannya juga telah meninggal satu per satu. Anak cucunya sendiri pun demikian. Anak cucunya sendiri pun demikian. Satu per satu dari mereka pergi mendahuluinya. Jadi, dia berkata, “Bahkan Tuhan pun melupakan saya.” Dia juga berkata bahwa bukan hanya Tuhan yang melupakannya, tetapi kini semua orang telah perlahan-lahan tidak memperhatikan keberadaannya. Kondisi seperti ini sangat memperihatinkan. Jadi, dia hanya berharap ada orang yang mau mendengar dia bercerita.

Apakah benar dia sudah setua itu? Ada sebuah bank. Orang tua ini setiap bulan pergi ke sana untuk mengambil dana tunjangan. Ada seorang pegawai bank di sana. Saat orang tua ini mengambil dana, dia bertanya-tanya apakah mungkin orang tua ini telah berusia 137 tahun. Pekerja bank ini sangat penasaran. Dia lalu memeriksa buku informasinya satu per satu dari tahun ke tahun. Wah, buku informasinya telah dilapisi debu. Ternyata memang benar dia telah berusia 137 tahun. Tidak ada kesalahan. Orang tua ini benar-benar telah berusia 137 tahun karena dia tahu jelas pendudukan Inggris atas India. karena dia tahu jelas pendudukan Inggris atas India. Jadi, setelah memeriksa data-data itu, pegawai bank yang masih muda tersebut menyampaikan kepada media massa bahwa orang tua ini sungguh-sungguh berusia 137 tahun. Usianya telah lanjut, bagaimana sebenarnya dia melewati keseharian? bagaimana sebenarnya dia melewati keseharian? Satu tahun terdiri atas 365 hari. Ada berapa hari dalam 137 tahun? Tidak sulit dihitung. Namun, di dalam hidupnya, begitu banyak hari berlalu begitu saja. Begitu banyak hal duniawi yang terus dia ingat. Ini sungguh luar biasa. Kehidupannya begitu panjang. Sesungguhnya, dia juga bisa menjadi gudang permata hidup. Namun, dia sendiri juga berkata bahwa kini banyak orang yang melupakannya. Orang-orang seakan lupa atas keberadaannya. Dia mungkin melewati hari dengan kesepian. Di Taiwan juga ada seorang lansia yang berumur 100 tahun lebih. Namun, Kakek Lin Yi-yan ini jauh lebih bahagia. Dia memiliki banyak insan Tzu Chi yang mendampinginya. Dia sering berkata bahwa mereka bagai anak dan cucunya. Dia bagai memiliki banyak anak cucu. Lihatlah, dia begitu bahagia. Sesungguhnya, bagaimana orang tua di India tadi menjalani hidup? Saya juga penasaran. Mungkin lebih baik jika dia berada di Taiwan.

Dia akan memiliki banyak anak cucu dan tak ada orang yang melupakannya karena di dalam ingatannya tersimpan gudang permata yang tak terhingga. Jadi, manusia selalu perhitungan terhadap angka. Baik panjang maupun pendek, apa yang patut diperhitungkan? Kita hendaknya sungguh-sungguh memupuk kebaikan setiap hari. Kita hendaknya menjalani hidup di tengah kebaikan dan tidak perhitungan. dan tidak perhitungan. Jika manusia hanya terpaku pada angka, maka akan sangat menderita. Karena itu, Buddha memberi tahu kepada kita mengenai pandangan tentang ras manusia yang dapat membawa penderitaan hidup. Setiap orang hendaknya mengerti tentang bilangan atau angka yang kita bahas tadi. tentang bilangan atau angka yang kita bahas tadi. Di dalam kehidupan sehari-hari kita, kita hendaknya ingat bahwa lima agregat terdiri atas rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, sedangkan dua belas pintu masuk adalah enam indra dan enam objek yang membangkitkan fungsi enam kesadaran. Selain itu, masih ada delapan belas alam. Semua ini tidak lepas dari kehidupan kita. Jadi, Saudara sekalian, kita hendaknya tidak perhitungan terhadap bilangan yang mendorong terciptanya noda batin. Harap semua orang selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28