Sanubari Teduh -256-Enam Belas Pandangan Bagian 12
Saudara se-Dharma sekalian, hari demi hari selalu berputar dan tak lepas dari dimensi ruang dan waktu. Setiap hari, dari pagi hingga malam, mulai saat hari gelap hingga hari terang, hari demi hari terus bergulir, dan kita terus hidup di ruang ini. Ada orang yang merasa hidupnya hambar. Sesungguhnya, hidup juga bisa penuh warna asalkan kita memperluas pandangan kita. Jika kita berpikir dengan lebih sederhana dan membuka pandangan kita, dan membuka pandangan kita, maka itulah kehidupan yang paling penuh berkah. Jika setiap hari pikiran kita selalu mengembara jauh dan melekat pada lima objek, maka pikiran akan dipenuhi kerisauan. Kehidupan seperti ini sangat memprihatinkan
Hidup seperti ini benar-benar hambar, hanya dilalui di dalam kerisauan. Bukan hanya hambar, di dalam kehambaran itu juga penuh masalah yang rumit. Meski indra dan objek cakupannya sangat luas, tetapi semua dikendalikan oleh noda batin. Akibatnya, hati kita menjadi sempit. Dengan hati yang sempit dan penuh noda batin, bukankah hidup kita akan menderita? Lebih baik jika kita membuang segala noda batin yang rumit itu. Dengan membuang noda batin yang rumit itu, kita dapat membuka hati kita hingga semakin lapang dalam menjalani hidup yang berkualitas dan sederhana. Inilah yang kita inginkan sebagai praktisi. Namun, kalian mungkin merasa mengapa kedengarannya agak rumit. Saya beri tahu kalian. Sesungguhnya ini cukup sederhana, hanya satu kalimat, yakni, “Hati terbuka bebas noda batin
” Inilah kehidupan yang penuh berkah. Sesungguhnya, dari enam belas pandangan, setiap hari setidaknya kita membahas satu atau dua pandangan. Setelah membahasnya, kita merasa semua ini tak lepas dari lima agregat, yaitu rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Begitu kita membuka mata, kita langsung bersentuhan dengan rupa. Di kamar tidur kita sendiri, mungkin ada teman sekamar. Saat kita membuka mata, kita sudah melihat wajah atau rupanya. Setelah itu, dalam batin muncul perasaan. Perasaan praktisi pembina diri sangat sederhana. Kita hidup menyatu dengan waktu dan jadwal
Semua orang bergerak teratur sesuai jadwal. Kita memusatkan pikiran dan menuju ruang kebaktian. Setelah bersiap secara fisik dan batin, kita memasuki ruang kebaktian untuk merasakan. Di dalam proses merasakan, sesuai dengan waktu dan ruang, perasaan kita juga terus berlangsung. Jadi, setelah rupa dan perasaan, berikutnya adalah persepsi. Persepsi terus terbentuk di dalam batin kita dan dorongan pikiran terus muncul. Jadi, pikiran terus berproses. Jika pikiran kita tulus, kita akan mendapat pelajaran setiap pagi seperti ini. Dharma bagaikan air. Tetesan air Dharma dapat membasahi batin kita. Dengan begitu, kita mendapat sesuatu
Di antara rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, kesadaran berkaitan dengan yang kita dapat. Setelah kita mendengar Dharma dan memasukkannya ke dalam hati, dalam aktivitas hari ini, kita mulai menerapkan Dharma ini. Inilah yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagi perumah tangga, lima agregat mereka mungkin bersentuhan dengan hal lain. lima agregat mereka mungkin bersentuhan dengan hal lain. Saat bangun di pagi hari, mungkin mereka sudah memiliki rencana yang dibuat pada malam sebelumnya. Mereka sudah berencana apa yang akan dilakukan esok. Di pagi hari, mereka mulai sibuk untuk menjalankan rencana itu. Mereka sibuk menjalankan rencana hidup mereka. Mereka sibuk menjalankan rencana hidup mereka
Dalam proses ini, mereka juga tak lepas dari lima agregat. Sesungguhnya, apakah rencana mereka bermanfaat bagi orang banyak ataukah penuh ketamakan yang merugikan masyarakat? Ini harus dilihat dari tindakan mereka. Meski rencana mereka membawa manfaat bagi orang banyak, mereka tetap akan merasakan perasaan. Misalnya, hari ini mereka ingin pergi berkegiatan. Rencana mereka hari ini adalah membantu seorang lansia yang hidup sebatang kara di daerah pegunungan, di desa, atau di kota. Berhubung keluarga itu hidup kekurangan dan di sana ada orang sakit yang tubuhnya kotor, maka kita berencana melakukan ini. Dengan niat yang sama, rencana yang sama, dan kegiatan yang sama, mereka akan merasakan perasaan tertentu seusai kegiatan. Inilah kegiatan yang bermanfaat. Tentu, orang dari berbagai bidang di masyarakat memiliki rencana masing-masing, tindakan masing-masing, dan perasaan masing-masing. Ada perasaan bahagia, ada perasaan putus asa. Inilah kehidupan kita di dunia
Jadi, kita sudah membahas enam belas pandangan mulai dari yang pertama, yaitu keakuan hingga saat ini. Kini kita sudah membahas hingga yang ke lima belas, yakni pandangan tentang yang tahu. “Tahu” berkaitan dengan indra pikiran. “Tahu” berkaitan dengan indra pikiran. Kita harus selalu membangkitkan welas asih. Murid Buddha harus memiliki empat pikiran tanpa batas– cinta kasih tanpa batas, welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas, dan keseimbangan batin tanpa batas. Kita harus senantiasa mendisiplinkan pikiran kita. Kita juga harus melapangkan hati kita hingga seluas-luasnya demi masyarakat. Kita tahu bahwa kondisi masyarakat kini sangat rumit. Bagaimana kita membuat rencana untuk menyucikan hati manusia? Bagaimana kita membuat rencana untuk merekrut Bodhisattva dunia, membuat orang-orang membangkitkan tekad, membuat mereka dapat dekat dengan ajaran Buddha serta keyakinan benar, menginspirasi mereka ke arah yang benar, dan menciptakan masyarakat yang harmonis? Inilah cinta kasih tanpa batas. Cinta kasih berarti berharap seluruh masyarakat di dunia ini hidup damai dan harmonis
Inilah cinta kasih tanpa batas. Jadi, jika hati kita terbuka, lapang, sederhana, dan murni, ini tidaklah sulit. Welas asih tanpa batas berarti tidak tega melihat semua makhluk menderita. Dapat kita ketahui bahwa penderitaan di dunia ini sangat banyak. Baik bencana alam, bencana akibat ulah manusia, kemiskinan yang berkepanjangan, lansia yang hidup sebatang kara, maupun anak yatim piatu, semua itu adalah bentuk penderitaan di dunia. Kita harus berempati. Kita harus mengembangkan belas kasih. Kita harus bisa merasakan penderitaan orang lain. Inilah welas asih tanpa batas
Jadi, kita dapat melapangkan hati kita dan memandang semua makhluk bagai keluarga sendiri. Ini juga sangat mudah. Dunia ini sesungguhnya adalah satu keluarga, mengapa harus membeda-bedakan suku bangsa dan hal-hal lainnya? Tidak perlu. Sederhana sekali. Kita semua sama-sama manusia. Jadi, kita seharusnya memiliki welas asih tanpa batas atau perasaan senasib sepenanggungan. Saat melihat pencapaian orang lain dan melihat orang lain bahagia, kita turut bersukacita. Di dalam Sutra Bunga Teratai, Buddha membagi makhluk hidup menjadi tiga kategori, yakni yang telah terbimbing, yang sedang dibimbing, dan yang belum dibimbing. Di dalam Sutra Ksitigarbha juga dibahas hal yang sama
Di dalam Sutra Bunga Teratai juga dibahas tiga kategori makhluk, yakni yang sudah diramalkan pencapaiannya, yang akan diramalkan, dan yang belum diramalkan. Yang sudah diramalkan sama dengan yang sudah terbimbing. Yang akan diramalkan sama dengan yang sedang dibimbing. Yang belum diramalkan sama dengan yang belum dibimbing. Sama seperti insan Tzu Chi, ada yang sudah dilantik, yang akan dilantik, dan yang belum dilantik. Masih banyak orang yang belum dilantik
Mereka yang sudah dilantik bisa membimbing yang belum dilantik. bisa membimbing yang belum dilantik. Inilah yang disebut Bodhisattva dunia. Inilah hati yang penuh cinta kasih dan welas asih. Demi kebahagiaan banyak orang, mereka menyelami pintu Dharma tanpa batas. Inilah Tzu Chi. Mereka menjadi Bodhisattva dunia Tzu Chi. Tentu, mereka berharap semua orang dapat hidup harmonis dan bahagia
Mereka juga berbagi tentang perasaan dan manfaat Dharma yang mereka dapatkan serta bersumbangsih tanpa pamrih demi orang banyak. Jika setiap orang dapat membuka dan melapangkan hati, maka setiap orang akan hidup bahagia. Inilah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita, bahagia melihat orang lain bahagia, inilah empat pikiran tanpa batas. Setiap hari kita bisa mendengar kisah-kisah insan Tzu Chi di seluruh dunia yang bersumbangsih dengan sukacita. Contohnya, setelah bulan Ramadan, baik di Indonesia, Malaysia, maupun di Yordania, umat Islam akan merayakan Idulfitri seperti kita merayakan Tahun Baru Imlek. Orang yang mampu bisa merayakannya dengan meriah, sedangkan orang yang tidak mampu tidak bisa merayakan apa-apa. Insan Tzu Chi yang penuh perhatian merasa bahwa orang-orang kurang mampu ini seharusnya juga merayakan Idulfitri dengan gembira, tetapi mereka tidak bisa. Karena itu, insan Tzu Chi membagikan barang yang mereka butuhkan. Saya melihat laporan mereka. Wilayah Yordania sangat luas
Relawan setempat membagikan barang bantuan ke daerah yang berjarak lebih dari 2.000 km dari ibu kota. Dalam rangka menyambut Idulfitri, para relawan telah mengadakan enam gelombang pembagian bantuan di dua belas wilayah, dan wilayah terjauh berjarak 2.000 km lebih dari ibu kota. Di sana terlihat banyak orang tidak mampu. Saya sungguh tak sampai hati melihatnya. Namun, para insan Tzu Chi tidak takut kesulitan. Mereka menempuh perjalanan jauh yang berpasir dan berangin kencang. Mereka menyiapkan berbagai barang bantuan, baik minyak, beras, kacang, gula, dll. Ada juga barang keperluan sehari-hari, tas sekolah anak-anak, dan alat tulis. Barang-barang itu dikirimkan dari ibu kota yang berjarak lebih dari 2
000 km agar para warga dapat merayakan Idulfitri. Sungguh penuh kehangatan. Inilah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tanpa batas. Empat pikiran tanpa batas ini dimiliki oleh orang yang “tahu”, tahu penderitaan semua makhluk, tahu semangat misi kita. Kita semua adalah murid Buddha. Kita harus menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Saat kita tahu ada orang yang menderita di suatu tempat, kita harus bersumbangsih di sana. Hidup di dunia ini, kita hendaknya tidak membeda-bedakan agama, suku bangsa, dan kewarganegaraan. Kita harus menganggap semua orang di dunia sebagai keluarga sendiri. Jika kita tahu ada anggota keluarga kita yang menderita, apakah kita tega? Jadi, kita harus membangkitkan belas kasih
Jika kita tahu ada orang yang menderita, tetapi tidak mau bersumbangsih, berarti kita kikir. Dengan begitu, sifat kikir ini termasuk noda batin. Kita hanya tahu bahwa kita memiliki banyak materi. “Harta ini milik saya, saya mendapatkannya dengan susah payah.” “Bagaimana mungkin saya memberikannya kepada orang lain?” Ini adalah noda batin ketamakan. Orang yang memiliki ketamakan seperti ini juga tidak sedikit. Ini juga disebut “tahu”
Berikutnya adalah pandangan tentang “yang melihat”. Berikutnya adalah pandangan tentang “yang melihat”. Ini adalah yang keenam belas. Selama ini kita terus membahas enam belas pandangan. Yang keenam belas adalah pandangan tentang “yang melihat”. Ini berkaitan dengan diskriminasi. Sikap diskriminatif membawa penderitaan, membedakan Anda, saya, dan banyak lagi. Masalah dalam cara pandang waktu, ruang, dan pertikaian dalam hubungan antarmanusia terletak pada pandangan tentang “yang melihat” ini
Ini juga tak lepas dari lima agregat. Lima agregat meliputi rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Semua ini tak lepas dari mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, juga tak lepas dari rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek pikiran. Semua ini saling terkait. Dalam kehidupan sehari-hari, semua ini bagai bayangan yang mengikuti kita. Semua ini mengikuti kita setiap hari bagai bayangan yang selalu mengikuti kita ke mana kita pergi. Ke mana tangan kita bergerak, begitu pula bayangan bergerak mengikuti. Inilah kondisi yang kita semua alami setiap hari
Kondisi ini juga bergantung pada pandangan kita. Jika pandangan kita sederhana, maka dunia akan terasa luas dan murni. Materi, kehidupan, dan pikiran, semuanya dapat kita pahami dengan jelas dan sederhana. Berhubung sudah terlahir di dunia ini, kita juga tidak bisa tidak memahami prinsip di balik materi. Apa yang disebut materi? Segala yang tersusun atas empat unsur. Apa yang dimaksud empat unsur? Empat unsur alam yang mengalami pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kerusakan. Inilah materi. Segala sesuatu di bumi ini mengandung prinsip kebenaran. Segala sesuatu mengalami pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kerusakan
Inilah prinsip kebenaran yang disebut empat fase. Kita dapat memahaminya secara luas. Pada tubuh manusia, kelahiran dan kematian adalah hukum yang alami. Tubuh mengalami kelahiran. Kita tidak hanya harus mengerti kelahiran, tetapi juga harus paham karma apa yang kita bawa. Kita harus memahaminya dengan jelas. Kita dapat memahami dengan jelas Kita dapat memahami dengan jelas tentang kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian yang juga bagian dari hukum alam. Lalu, mengapa manusia diliputi banyak noda batin? Karena pikiran kita juga mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Jika kita dapat memahami ini, kita akan melihat bahwa semuanya sederhana
Namun, kenyataannya tidak semudah itu karena kita selalu terpengaruh lima agregat dan mendiskriminasi kondisi yang kita temui. Jadi, mengenai enam belas pandangan, saat kita bangun setiap harinya, kita sudah bersentuhan dengan semua itu. Kita mungkin merasa sibuk, lelah, risau, atau jenuh. risau, atau jenuh. Begitulah. Namun, semua itu juga bisa menjadi sederhana. Jika kita dapat berpikiran sederhana dan murni, maka segalanya pun akan menjadi sederhana. Kesederhanaan pandangan ini akan menciptakan pahala yang tak terhingga
Jika kita terus berpikir hidup kita membosankan, maka kerumitan akan mulai muncul. Saudara sekalian, kita harus menghargai waktu yang ada setiap hari. Kita harus menghargai setiap tempat dan ruang. Kita terlebih harus menghargai hubungan antarmanusia. Jadi, di dunia ini, tiada sesuatu pun yang berdiri sendiri. Jika kita bisa memandang semua makhluk dengan konsep kesalingterkaitan ini, maka bukankah hidup ini akan bebas dari pertikaian? Saudara sekalian, pandangan tentang yang melihat tidak lepas dari indra mata, segala sesuatu yang dilihat mata dan segala yang kita pikiran. Jika pandangan sesat muncul, kita akan menciptakan kejahatan. Jika kita bisa kembali pada pandangan benar, kita akan dapat menciptakan berkah. Berkah membawa keberuntungan dan kebahagiaan
Jadi, kebahagiaan harus dibangun di atas pandangan benar. Karena itu, harap semua selalu bersungguh hati.