Sanubari Teduh-262-Sembilan Puluh Delapan Kecenderungan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita telah membuka hati? Dapatkah kita tidak mendiskriminasi semua hal dan manusia? Dapatkah kita mensyukuri, mengasihi, dan menghormati semua manusia dan segala sesuatu di dunia? Jika kita menyikapi segala hal dengan tiga sikap itu, saya percaya setiap orang tidak akan diliputi kerisauan. Sebelumnya kita pernah membahas pandangan kesetaraan. Manusia dan hewan sama-sama memiliki nyawa. Kita harus menghormati kehidupan. Semua kehidupan adalah setara. Dunia manusia terlalu rumit. Dunia hewan tentu lebih sederhana. Jika ada manusia yang memelihara hewan, maka apa yang diberi oleh si pemilik, akan diterima oleh si hewan tanpa banyak menuntut. Pakan apa yang diberi, itulah yang ia makan. Tempat tinggal seperti apa pun yang diberikan, ia tetap akan tinggal di tempat itu. Ia menerimanya dengan hati yang bersahaja. Namun, jika tuannya mengalami masalah, hewan ini tetap setia. Rasa syukur dan balas budi yang dimiliki hewan ini lebih tulus dan murni daripada manusia. Di Selandia Baru digelar sebuah ajang penghargaan untuk anjing. Banyak anjing memperoleh penghargaan di sana. Mengapa anjing-anjing ini bisa mendapat penghargaan?
Kita ambil sebuah contoh. Ada seekor anjing yang dipelihara seorang tuan. Anjing ini bertugas menjaga pintu rumah. Pada suatu malam, tiba-tiba di lantai atas rumah itu terjadi kebakaran. Melihat api yang berkobar, anjing ini bukannya lari menyelamatkan diri, malah berlari ke lantai atas. Dia terus menggonggong dengan keras untuk membangunkan tuannya. Saat terbangun dan melihat kobaran api, tuannya ini segera membangunkan keluarganya, memanggil anak-anaknya untuk turun ke lantai bawah, dan mencari cara untuk keluar dari rumah. Karena itu, anjing ini mendapat penghargaan. Ada pula seekor anjing lain. Tuannya memiliki seorang anak. Anak ini agak lamban dalam belajar. Anak ini agak lamban dalam belajar. Terlebih lagi, saat ingin berbicara, dia mudah merasa takut dan gugup saat melihat guru dan teman-temannya. Jadi, tuannya memberi suatu tugas untuk anjingnya. Setiap hari Minggu, ia harus berada di hadapan anaknya agar anaknya bisa berlatih di hadapan sang anjing. Di hadapan guru, anak ini selalu gugup, tetapi tidak begitu saat di hadapan sang anjing. Jadi, anjing inilah yang menemaninya berlatih. Jadi, anjing inilah yang menemaninya berlatih. Saat tiba waktunya untuk anak ini belajar, sang anjing akan menghampiri. Selama beberapa jam, ia akan berdiam di samping tuan mudanya ia akan berdiam di samping tuan mudanya sehingga tuannya ini merasa tenang. Si tuan muda ini menganggap anjingnya sebagai pendengarnya yang paling setia. sebagai pendengarnya yang paling setia. Jadi, di hadapan anjingnya, dia terus melatih dirinya untuk mengatasi rasa takut dan gugup hingga bisa merasa tenang. Anjing ini juga mendapat penghargaan. Selain itu, ada anjing lain lagi yang berasal dari tempat yang sama. Di sana ada sekelompok anjing lain yang sedang bermain. Mereka berjumlah sepuluh ekor.
Tiba-tiba, karena tidak hati-hati, anjing-anjing ini terjatuh ke dalam air. Anjing tadi segera berlari mencari tuannya dan terus menggonggong.. Tuannya bertanya-tanya apa yang terjadi dan mengikuti anjingnya. Dia lalu melihat belasan ekor anjing yang sedang berjuang di tengah air. Dia pun segera menolong mereka. Anjing ini juga mendapat penghargaan. Namun, apakah anjing-anjing ini tertarik akan penghargaan? Mereka tidak merasa apa-apa. Tidak diberi penghargaan pun mereka tidak apa-apa. Saat diberi penghargaan, mereka juga tidak mengerti apa itu. mereka juga tidak mengerti apa itu. Mereka tidak mengharapkan apa-apa. Mereka menerima kondisi apa adanya dengan hati yang polos. Bertemu tuan seperti apa. diberi kondisi hidup seperti apa, mereka tetap menerima. Saat sesuatu terjadi, anjing tetap setia kepada tuannya. Mereka memiliki kesadaran yang sama dengan manusia, hanya saja mereka lebih polos, sedangkan manusia lebih tidak polos. Kita terus membahas noda batin, pandangan, kecenderungan, dan segala hal yang memengaruhi batin kita. Akibat berbagai pandangan dan pemahaman yang kita terima lewat kondisi luar, kita tidak bisa menahan nafsu keinginan. Karena itu, kita melakukan Tindakan dan menanam banyak benih karma buruk. Di manakah letak masalah yang sesungguhnya? Kita harus mencari akar masalah dari 84.000 noda batin ini. Lihatlah, tabiat setiap orang berbeda-beda.
Tabiat adalah penyakit atau masalah. Tabiat buruk selalu membuat orang risau. Intinya, banyak noda batin timbul dari pikiran yang rumit. Jadi, kita telah membahas pandangan dan pikiran. Pandangan adalah pemahaman. Ada berapa jeniskah pandangan ini? Banyak. Kategori pandangan ini ada yang berjumlah lebih dari enam puluh, lebih dari delapan puluh, lebih dari sembilan puluh, bahkan lebih dari seratus. Di dalam ajaran Buddha, terdapat banyak kategori istilah yang bertujuan untuk memudahkan kita dalam mencari jenis noda batin kita. Tentu, di dalam kehidupan sehari-hari, diri kita dan noda batin sepertinya selalu berdampingan dengan damai. Namun, pada waktu yang tidak kita ketahui, noda batin ini bisa tiba-tiba bangkit dan berbalik menyerang kita sehingga kita melakukan tindakan. Kita sulit menerkanya. Dalam keseharian, saat melatih diri, kita tahu bahwa kita memiliki noda batin dan juga memiliki Buddha yang masih terbelenggu. dan juga memiliki Buddha yang masih terbelenggu. Bagaimana melepaskan belenggu ini? Kita tidak tahu. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa dalam diri kita terdapat hakikat sejati yang murni dan setara dengan Buddha. Namun, hakikat sejati yang murni ini diselimuti banyak noda batin. Jika dalam keseharian kita selalu mendengar Dharma dan menyerapnya ke dalam hati, kita akan dapat selalu meningkatkan kewaspadaan. Dengan begitu, kita bisa berdamai dengan noda batin ini. Setelah itu, kita harus maju selangkah lagi untuk berusaha mengikis noda batin itu secara perlahan-lahan. Cara apa yang harus kita gunakan? Tentu kita harus mengetahui berbagai kategori istilah Dharma tadi.
Setiap kali bertemu suatu hal, apakah itu benar atau salah, kita harus meningkatkan kewaspadaan sehubungan dengan pandangan kita. Jangan sampai kita terbuai oleh hal-hal yang terlihat baik. Saat suatu kondisi muncul, Kita harus bisa mengendalikan diri dan membedakan dengan jelas. Ini bergantung pada apakah kita selalu merenungkan kebenaran sebelum suatu kondisi terjadi. Saat suatu hal belum terjadi, Saat suatu hal belum terjadi, jika pikiran kita senantiasa tenang dan jernih, jika pikiran kita senantiasa tenang dan jernih, dengan sendirinya saat masalah terjadi, kita akan dapat segera berintrospeksi. Inilah yang harus kita latih sehari-hari, seperti anak kecil tadi yang berlatih berbicara di hadapan anjingnya. Demikian pula, kini kita mendengar begitu banyak Dharma,tujuannya tak lain adalah pertama, meluruskan pandangan kita; kedua, agar kita selalu memiliki pikiran yang jernih. Jadi, jika pikiran kita tidak jernih, maka dengan sangat cepat, akan banyak kecenderungan umum yang mendorong kita menciptakan karma buruk. Salah satunya, ada sembilan puluh delapan kecenderungan. Sebelumnya kita telah membahas sebelas kecenderungan umum. Itu baru sebagian saja. Selanjutnya, masih ada sembilan puluh delapan kecenderungan. Kecenderungan adalah sesuatu yang mendorong kita. Semua ini mendorong kita pada kerumitan.
Mulanya, suatu masalah sangat sederhana, bagaimana bisa menjadi sangat rumit? Ini akibat pandangan kita. Saat pikiran kita tidak tenang, noda batin akan mendorong kita. Saat terdorong oleh noda batin, kita akan terjerumus. Karena itu, kita harus sangat memperhatikan hal ini. Kecenderungan adalah dorongan ke arah tertentu. Kita telah terdorong oleh noda batin. Kita tidak lagi menggunakan pikiran kita. Pikiran kita diperbudak oleh noda batin. Pikiran kita diperbudak oleh noda batin. Kita menderita akibat diperbudak noda batin. Jadi, inilah kecenderungan dan dorongan yang memperbudak kita. Kita telah dimanfaatkan olehnya. Ini akibat delusi pandangan. Jadi, delusi pandangan bisa menjerumuskan kita. Jika pandangan dan pemahaman kita tidak jelas, maka kita akan mudah terpengaruh kondisi luar. Saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, maka kesadaran pikiran kita akan terbuai dan disesatkan oleh indra dan objek. Kita akan terdorong untuk menciptakan karma buruk. Akibatnya, kita terjerumus dalam kelahiran kembali di tiga alam. Jika tidak menghadapi begitu banyak kondisi, jika bukan karena kontak antara indra dan objek, jika kita dapat melihat dan merenungkan kebenaran jika kita dapat melihat dan merenungkan kebenaran, serta dapat membedakan yang benar dan tidak benar dengan jelas, maka dengan sendirinya kita akan dapat mengendalikan pikiran kita dan tidak akan terjebak oleh kondisi luar. Masalahnya, kita tidak melihat kebenaran.
Masalah ini juga bersumber pada pikiran. Masalah ini juga bersumber pada pikiran. Kita tidak bisa sungguh-sungguh merenung dengan hening. Jika kita dapat merenung dan berpikir dengan hening, ketenangan akan terpupuk di dalam batin kita. Lihatlah, ada orang yang berpengendalian diri baik. Bagaimana pun orang memarahinya, dia tetap tersenyum dan tidak membalas. Dia tetap bersabar dan tidak terpancing. Dia sangat tenang. Ini karena adanya pelatihan diri yang baik. Bagian mana yang harus dilatih? Pikiran kita. Jika segala pemikiran kita dalam keseharian dapat selalu mengarah pada kebenaran, maka kita akan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak sesuai kebenaran. Yang tidak benar tidak perlu dipedulikan. Ada orang yang mungkin hanya mencari-cari masalah. Ada orang yang mungkin hanya mencari-cari masalah. Orang yang hanya mencari-cari masalah tidak perlu dihiraukan. Kita hanya perlu sedikit bersabar dan masalah itu akan segera berlalu. Setelah masalah itu berlalu, barulah kita membangun komunikasi dengannya. Dengan demikian, kesadaran kita akan dapat mengendalikan indra dan objek. Mengenai indra, meski indra mata Anda melihat objek dan objek itu sangat memesona, tetapi selama kesadaran Anda tenang dan teguh dan pikiran kita benar, Anda tidak akan bertindak gegabah, tidak akan terpengaruh oleh noda batin. Jadi, tanpa pandangan yang benar dan pikiran yang jernih, dan pikiran yang jernih, kita akan menciptakan banyak karma buruk. Tidak dapat melihat kebenaran dengan jelas berarti mengalami delusi pandangan atau tersesat.
Pandangan dan pemahaman kita tidak jelas, menjadi kabur akibat noda batin. Seperti mata kita, jika mata ini berfungsi dengan baik, segala sesuatu akan terlihat jelas. Jika mata tidak berfungsi dengan baik, semua akan terlihat kabur. Kita akan sulit mengenali orang. Si A kita kira si B. Kita sulit membedakan mana si A dan mana si B. Inilah yang disebut delusi atau gangguan. Kini, mata hati kita dipenuhi gangguan. Meski mata fisik kita berfungsi dengan baik, Meski mata fisik kita berfungsi dengan baik, tetapi pikiran kita, pandangan kita, dan mata hati kita telah terhalang kabut kegelapan batin. dan mata hati kita telah terhalang kabut kegelapan batin. Jadi, jika kita tidak sungguh-sungguh meluruskan pandangan kita hingga dapat melihat kebenaran, jika kita tidak sungguh-sungguh meluruskan pikiran kita, maka dengan cepat, saat menghadapi berbagai kondisi setiap hari, kita akan terdorong dan terjerumus. Pandangan kita akan mendorong kita untuk bertindak berdasarkan noda batin saat indra kita mengalami kontak dengan objek luar. Dengan begitu, sedikit kelalaian dapat menimbulkan kebencian yang panjang. Kepribadian dan budi pekerti seseorang juga dipengaruhi oleh pandangan dan pikirannya. Jadi, manusia bisa dengan mudah kehilangan kualitas luhurnya. Kita sering berkata bahwa keyakinan adalah ibu dari segala pahala kebajikan. Kita harus memilih keyakinan yang benar. Kita juga harus memilih jalan yang benar. Janganlah kita memiliki keyakinan yang menyimpang sedikit pun. Jika keyakinan menyimpang, jalan kita pasti salah. Bukan hanya jalan yang kita pilih harus benar, kita juga harus membangun kualitas sebagai manusia, yaitu kepercayaan. Kata-kata kita harus bisa dipegang. Artinya, apa yang Anda ucapkan harus bisa Anda lakukan.
Setelah membuat janji dengan orang lain, jika kita tidak tepat waktu atau berkata tidak jujur, maka kualitas kepribadian kita akan dengan cepat diremehkan oleh orang lain, akan dengan cepat diremehkan oleh orang lain, bahkan dipandang rendah. Intinya, orang seperti ini tidak akan dipercaya. Orang lain akan meremehkannya. Mengapa dia bisa diremehkan orang lain? Mengapa dia bisa diremehkan orang lain? Ini karena dia kehilangan keyakinan benar. Selain harus memilih keyakinan benar, kepribadian kita juga harus dibangun dengan benar. Jadi, dalam melakukan segala hal, kita harus memilih dengan jelas. Setelah memilih dengan jelas, kita harus membuat ketetapan hati. Setelah berketetapan hati, kita harus melakukan praktik nyata. Dengan begitu, kita dapat melihat kebenaran, mengatakannya, dan mempraktikkannnya. Ini adalah keteladanan. Inilah yang disebut keteladanan budi pekerti manusia. Mempelajari ajaran Buddha dimulai dari belajar menjadi manusia. Jadi, dengan pandangan yang benar dan pikiran yang hening dan jernih, dan pikiran yang hening dan jernih, kita dapat melihat kebenaran. Jika tidak, menyimpang sedikit saja kita akan jauh tersesat dan terjerumus dalam kelahiran kembali di tiga alam. Inilah akibat pandangan dan pikiran yang tidak benar. Kita akan terus mengalami siklus kelahiran kembali. Semua adalah akibat dari delusi pandangan yang membuat indra pikiran kita mendiskriminasi fenomena. Jika pandangan dan pikiran kita benar, kita akan dapat memahami. Jadi, kencenderungan ini bermula dari pandangan. Apakah yang mendorong dan menjerumuskan kita? Pandangan kita sendiri. Sebelumnya kita pernah membahasnya, entah apakah kalian masih ingat.
Ada sepuluh hal yang mendorong kita. Yang pertama dari sepuluh kecenderungan ini adalah pandangan akan diri. Pandangan ini membawa kemelekatan terhadap tubuh. Lima indra, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, semua ada pada tubuh. Karena fungsi mata, telinga, hidung, dan lidah, kita membedakan kondisi luar. Semuanya didasarkan pada “aku”. Jadi, segala kontak antara indra dan objek terjadi pada tubuh kita. Kita tentu masih ingat tentang lima organ aktivitas. Segala tindakan dan aktivitas Segala tindakan dan aktivitas dilakukan oleh tubuh kita. Pandangan tentang diri saja sudah mencakup banyak noda batin yang berkenaan dengan indra dan objek. Selain itu, ada pula pandangan ekstrem. Pandangan ekstrem adalah pandangan yang menyimpang yang menyesatkan. Begitu pandangan sesat muncul, kita akan dipenuhi kemelekatan. Kita jadi melekat pada kondisi luar, melekat pada hal yang tidak benar. Inilah pandangan ekstrem. Berikutnya adalah kemelekatan pada pandangan pribadi. Pandangan pribadi ini belum tentu benar, Pandangan pribadi ini belum tentu benar, tetapi kita bersikeras untuk berpegang padanya dan merasa bahwa itulah jalan yang kita pilih dan itulah yang hendak kita lakukan. Dengan adanya kemelekatan ini, manusia merasa segala praktik yang dijalankannya sudah benar dan tidak menyimpang. Lihatlah, banyak praktisi ajaran luar yang menganggap mereka sudah sesuai dengan Dharma. Inilah kemelekatan pada pandangan pribadi. Berikutnya adalah kemelekatan pada sila. Jelas-jelas suatu praktik tidak benar, manusia tetap melekat padanya. Ada orang yang berlatih dengan berjalan di atas api, membenamkan diri di air dingin, atau menyiksa diri dengan cara lainnya. Ini sudah menyimpang dari perikemanusiaan. Orang seperti ini tidak mengasihi diri sendiri. Ini juga tidak benar. Kadang ada orang yang sebelum keluar rumah harus meminta petunjuk pada dewa. Ini juga praktik yang keliru. Ada pula orang yang mencari petunjuk tentang peruntungan sepanjang tahun. Ini juga keliru. Kemelekatan seperti ini membawa penderitaan. Selanjutnya adalah pandangan sesat.
Pandangan sesat adalah kegelapan batin, yaitu tak memahami kebenaran. Meski jelas-jelas tak memahami kebenaran, ada orang yang menganggap dirinya memahami segalanya dan melekat pada pemahaman tersebut. Inilah pandangan sesat. Berikutnya adalah ketamakan. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Noda batin ini selalu ada dalam kehidupan kita. Noda batin ini selalu ada dalam kehidupan kita. Selain itu, ada pula kesombongan dan keraguan. Saudara sekalian, inilah sepuluh kecenderungan. Kesemuanya ini mendorong kita untuk membangkitkan pikiran diskriminatif atau perasaan khusus tertentu terhadap suatu kondisi, hal, atau manusia. terhadap suatu kondisi, hal, atau manusia. Semua ini membawa gangguan untuk kita. Jadi, sepuluh kecenderungan bukan hanya ada pada masa kini, tetapi juga di masa lalu dan masa depan. Jika dijumlahkan, kecenderungan ini berjumlah delapan puluh delapan. Harap semua orang selalu bersungguh hati. Saudara sekalian, jika pandangan dan pikiran di dalam batin jika pandangan dan pikiran di dalam batin bisa lurus dan benar, maka jalan kita akan lapang dan lurus. Jika tidak, jalan kita akan berliku dan penuh jebakan. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.