Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-264-Mengakhiri Celah dan Noda Batin

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi batin yang hening adalah kondisi batin para Buddha dan Bodhisattva. Kita mempelajari ajaran Buddhauntuk mencapai kondisi batin seperti itu. Kalian mungkin merasa, “Bukankah Master sering berkata begitu?” “Ini sudah sangat tidak asing bagi kami.” Benar. Saya sering berkata demikian. Semua orang juga sudah tidak asing lagi. Apakah kita bisa mencapai kondisi ini? Selama ini, kita berharap semua orang dapatmelenyapkan noda batin. Dharma bagaikan air. Air dapat mencuci berbagai kotoran. Dapat kita bayangkan, di dunia ini, betapa banyak benda yang kotor, tercemar, atau bernoda. Sesungguhnya, ada berapa banyak? Seberapa banyak noda batin ada, sebanyak itu pulalah Dharma. Sebanyak apa kotoran yang hendak dibersihkan, sebanyak itulah air yang dibutuhkan. Jadi, batin makhluk awam selalu terombang-ambing. Karena itu, segala niat dan ucapan yang timbul didasari oleh noda batin kita. Noda batin bersumber dari berbagai pandangan.

Sebelumnya kita juga sudah membahas enam puluh dua pandangan. Akibat enam puluh dua pandangan, kita menciptakan segala karma buruk. Entah apakah kalian masih ingat. Kita juga telah membahaspandangan dan pikiran. Enam puluh dua pandangan senantiasa mengekori pemahaman dan pemikiran kita. Hal ini terus membuat gelombangdan ombak dalam pikiran. Selain itu,ada sembilan puluh delapan kecenderungan. Sembilan puluh delapan jenis noda batinterus menjerumuskan kita sehingga kita tak mampu mengendalikan diri. apakah hanya sembilan puluh delapan? Masih ada seratus delapan noda batin. Apakah hanya ada seratus delapan? Apakah hanya ada seratus delapan? Tidak juga. Buddha juga pernah berkatatentang 84.000 noda batin dan berusaha membabarkannya agarsemua orang memahaminya sehingga mampu meningkatkan kewaspadaan saat bersentuhan dengan kondisi luar. Saat bersentuhan dengan kondisi luar, pandangan kita menentukannoda batin yang akan muncul. Gejolak pikiran ini, apakah senantiasa kita waspadai? Untuk mewaspadainya, satu-satunya cara adalahmenyimpan Dharma di dalam hati dan mempraktikkannya dalam keseharian.

Bukankah saya selalu berkata kepada semua orang bahwa ajaran Buddha harus diterapkan dalam kehidupan dan semangat Bodhisattva harus diwujudkan di dunia? Benar. Kondisi batin Bodhisattvaharus direalisasikan di dunia ini. Batin kita hendaknya dapat hening dan tenang. Bukankah ini sama dengan kondisi batin Bodhisattva? Jika kondisi batin kita sama dengankondisi batin Bodhisattva, berarti kita telah dekat dengan kondisi batin Buddha. Jadi, Buddha dan Dharma seharusnya ada di dunia ini dan di dalam kehidupan kita. Jika tidak, kita akan terus diliputi noda batin yang membuat pikiran kita terus bergejolak dan terjerumus oleh kegelapan batin. Jika demikian, gejolak pikiran tak akan pernah berhenti sejenak pun.

Dengan demikian, seperti yang dikatakan dalam teks, bahwa berbagai noda batinakan terus membara siang dan malam dan membuka berbagai celah sehingga menciptakan segala karma buruk. Noda batin ini Berkaitan dengan pandangan, pemahaman, dan kecenderungan yang kita bahas sebelumnya. Berapa pun jumlahnya, semua noda batin iniakan terus membara siang dan malam bagai api yang terus membakar batin kita. Ada orang yang berkata, “Saya sibuk hingga hati saya bagai terbakar.” “Saya benar-benar terbakar emosi.” “Saya sangat risau.” Kita sering mendengar orang berkata begitu. Hati yang terbakar berarti tidak bisa tenang dan kehilangan akal sehat. Di mana akal sehatnya? Akal sehat hilang akibat pikirantak dapat tenang. Ini merupakan penyakit batin. Ini yang sering disebut batin yang terbakar. Api dapat membakar segalanya. Bayangkan, batin kita bagai terbakar api. batin kita bagai terbakar api. Ini adalah masalah serius. Ini adalah sejenis noda batin. Jenis noda batin sangat banyak.

Semua itu membuat batin kita tak dapat tenang. Mengapa begitu? Bukankah sering dikatakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhlukpada hakikatnya tiada perbedaan? Jika hati kita sama dengan hati Buddha, lalu bagaimana bisa batin kita dipenuhi noda batin?  Mengapa pikiran kita tak dapat tenang? Ini karena kita membuka pintu celah pada pikiran. Apakah kalian masih ingat kita sering membahas bahwa sebersit kegelapan batinmelahirkan tiga aspek halus dan kontak dengan kondisi luarmenumbuhkan enam aspek kasar? Batin kita semua pada mulanya sangat murni. Hanya saja, akibat sebersit kegelapan batin, timbullah tiga aspek halus atau tiga noda batin yang sangat halus, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Noda batin ini lalu semakin berkembang hingga menjadi tak terhingga dengan berbagai istilah, seperti pandangan, noda batin, kecenderungan, dll. Berbagai noda batin ini terus tumbuh hanya karena kita membuka pintu celah pikiran. Akibatnya, kita menciptakan banyak karma buruk.

Apa yang dimaksud “celah”? “Celah” adalah noda batin. Selanjutnya dijelaskan bahwa Begitu pintu celah ini terbuka, segala karma buruk dapat tercipta. Dengan begitu, kita mengganggu orang bijak dan orang suci serta semua makhlukdari empat jenis kelahiran di tiga alam. Luar biasa sekali. Hanya karena pintu noda batin terbuka, segala yang kita lakukan dan ucapkan dapat merugikan orang lain dan diri sendiri. Bukan hanya itu, tetapi juga mengacaukan keluarga dan mengacaukan tatanan masyarakat yang mulanya mengandungkebijaksanaan dan kesucian. Orang bijak sama seperti Bodhisattva. Di dunia ini terdapat banyak orang bijak, seperti Konfusius, Zhuangzi, dan Mozi. Pada zaman dahulu, banyak orang bijak baik di Tiongkok maupun di Barat. Di seluruh dunia, entah telah muncul berapa banyak orang bijak yang seperti Bodhisattva. Mereka selalu berusaha menggunakan berbagai cara untuk membimbing semua orang agar memahami kebenaran  dan mampu berintrospeksi. Saat melihat sesuatu yang tidak benar, kita hendaknya bisa berintrospeksi. Banyak orang bijakyang menjadi teladan bagi kita dan membimbing kita, tetapi banyak orang yang malah melanggar ajaran mereka.

Para orang bijak ini sangat khawatir karena semua makhluk tidak menerima ajaran. Inilah yang disebut menggangguorang bijak dan orang suci. Kalian mungkin masih ingat cerita saya tentang seorang tua yang berlindung dalam bunker saat terjadi serangan udara. Saat itu banyak orang bersungut-sungutdan berkata, “Bodhisattva Avalokitesvara, Dewi Mazu, mengapa tidak membuat bom-bom itujatuh ke laut saja?” Namun, orang tua ini dengan tenang berkata kepada semua orang, “Bukan berarti kekuatan Bodhisattva dan dewi tidak manjur, tetapi kita makhluk hiduptidak mendengar ajaran.” “Mereka menangis, menangis hingga air mata mereka kering dan berubah menjadi darah.” Cerita ini masih jelas dalam ingatan saya. Setiap kali melihat manusia yang saat dinasihati tidak mau mendengarnya atau jelas-jelas tahu ajaran kebenaran, tetapi tidak menjalankannya, hati saya merasa sakit. Ingin menangis pun air mata sudah kering. Inilah noda batin semua makhluk.

Sesungguhnya, bagaimana cara membimbingsemua makhluk yang penuh noda batin? Ini juga bisamengganggu pikiran orang bijak. Sesungguhnya, bagaimana cara membuka jalan Sesungguhnya, bagaimana cara membuka jalan agar semua makhlukdapat kembali pada kebenaran? Inilah yang disebut “mengganggu”. Semua makhluk membuatpara orang bijak khawatir. Karena semua makhluk terus membuka pintu noda batin dan melakukan berbagai kesalahan, maka para orang suci dan bijak khawatir. Lihatlah, Bodhisattva adalah orang bijak, Buddha adalah orang suci. Bahkan mereka pun tidak berdaya. Bukan hanya itu, akibat noda batin, kita juga mengacaukan semua makhluk dari empat kelahiran di tiga alam. Ini semua adalah akibat dari noda batin. Lihatlah, selain membuat para Buddhadan Bodhisattva tidak berdaya dan merasa prihatin, kita juga mencelakai semua makhluk dari empat jenis kelahiran. Kita mencelakai sesama manusiayang lahir dari rahim. Selain manusia, makhluk yang lahir dari rahim mencakup sapi, kuda, rusa, dll.

Semuanya adalah makhluk yang lahir dari rahim. Selain itu, ada pula makhluk yang lahir dari telur, yaitu ayam, bebek, burung, dll. Selain itu, ada pula makhluk yang lahir dari kelembapan. Para makhluk ini juga lahir dari telur, Para makhluk ini juga lahir dari telur, tetapi berada di tempat yang basah. tetapi berada di tempat yang basah. Mereka disebut lahir dari kelembapan. Selain itu, ada makhluk yang lahir spontan. Inilah empat jenis kelahiran. Saudara sekalian, semua makhluk hidup lahir lewat salah satu dariempat jenis kelahiran ini. Semua makhluk yang lahirlewat empat jenis kelahiran ini, semuanya memiliki nyawa. Mereka lahir lewat empat jenis kelahiran. Semua makhluk ini termasuk dalamcakupan tiga alam. Begitu noda batin bangkit, kita dapat membawa kerugian bagi semuanya. Bayangkan, banyak manusia saling berselisih. Demi ketamakan dan nafsu makan, berapa banyak hewan yang harus dibunuh? Terlebih lagi, saat ini, pola makan memengaruhi perubahan iklim. Iklim sudah berubah dan menjadi kacau. Ini akibat kekuatan karmayang diciptakan manusia, sungguh menakutkan. Jadi, kita semua harus tahu bahwa jika kita tidak berusaha melenyapkan dan mengubah noda batin ini, maka ia akan terus bertambah hari demi hari.

Dalam satu hari saja, kita bisa menciptakan karmalewat tubuh, ucapan, dan pikiran serta membangkitkan seratus delapan noda batin. Karena itu, kita harus segera memperbaiki diri. Jika tidak, para Buddha, Bodhisattva,para orang suci, dan orang bijak akan mengkhawatirkan kita. Ini bukan kerisauanatau noda batin makhluk awam. Ini adalah kekhawatiran orang suci. Dengar baik-baik. Khawatir berarti peduli. Khawatir berarti peduli. Makhluk awam bukan khawatir, tetapi risau. Ini menciptakan lebih banyak kegelapan batin. Sebaliknya, para makhluk suci penuh welas asih, maka menaruh kekhawatiran. Ini didasari rasa iba terhadap semua makhlukyang terus menciptakan karma buruk. Jadi, makhluk suci khawatirterhadap makhluk awam. Ini adalah welas asih. Karena itu, kita harus sungguh-sungguhmemperbaiki diri. Semakin cepat kita memperbaiki diri, karma buruk kita pun semakin cepat terkikis. Mengenai “celah”, apakah yang dimaksud “celah”? Ia adalah nama lain dari noda batin. Ia tidak berbeda dari noda batin, tetapi di sini digunakan istilah “celah”. Dengan adanya celah ini,Dharma tak dapat ditampung.

Tadi kita sudah membahas bahwa para orang bijak dan sucidatang untuk membimbing kita dengan berbagai cara, tetapi semua makhluk berwatak keras dan sulit untuk dibimbing. Ini karena ajaran para suciwan Ini karena ajaran para suciwan tidak kita masukkan ke dalam hati. Saya selalu berkata bahwa ajaran Buddha harus diterapkan dalam kehidupan. Apakah dalam kehidupan kita, ajaran para Buddha dan Bodhisattva telah diterapkan dan dilaksanakan? Belum. Mengapa belum? Meski begitu banyak Dharma dibabarkan, ia keluar kembali lewat celah batin kita. Kita mudah melupakannya. Saat mendengarkan ajaran kebenaran, kita tahu bahwa kita harus berubah, tetapi setelah saat itu berlalu, seiring berjalannya waktu, seiring berjalannya waktu, kita kembali bertemu kondisi lain dan batin awam kita pun bangkit kembali. Kita kembali penuh celah dan noda batin. Inilah yang disebut “celah”. Batin kita sesungguhnya harus dibersihkan dari noda batin dengan menggunakan air Dharma. Kita memiliki banyak akumulasi noda batin, tetapi air Dharma tidak dapattertampung dalam batin kita. Inilah yang disebut “celah” atau kebocoran. “Celah” adalah noda batin. Ini disebabkan karena tidak adanyaair Dharma yang membersihkan batin. Jadi, “celah” adalah nama lain dari noda batin. “Celah” ini meliputi tiga alam. Noda batin memenuhi tiga alam. Karena itu, ada istilah “tiga kebocoran”.

Semua makhluk memiliki tiga kebocoran ini, terutama bagi makhluk alam nafsu. Seratus delapan atau sembilan puluh delapan noda batin yang telah kita bahas di awal, sesungguhnya terbagi atas kategori alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Makhluk alam nafsu tentu penuh nafsu keinginan yang membangkitkan banyak noda batin dan menciptakan berbagai karma buruk. Jadi, di tiga alam, “celah” atau kebocoran ini sangat umum. Di alam nafsu ada “kebocoran nafsu”. Di alam rupa ada “kebocoran rupa”. Di alam tanpa rupa ada “kebocoran tanpa rupa”. Jadi, tiga alam ini penuh noda batin. Begitu pula di alam tanpa rupa. Di sana tidak ada materi, bagaimana bisa ada noda batin? Makhluk di sana masih memiliki noda batin halus, seperti orang yang berdiam dalam ketenangan, meski batinnya hening, tetapi masih bisa muncul gejolak pikiran. tetapi masih bisa muncul gejolak pikiran. Ketika keluar dari ketenangan,gejolak pikiran muncul kembali. Ini berkaitan dengan pikiran yang halus. Di alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa, noda batin selalu ada. noda batin selalu ada. Jadi, ini sangat menakutkan. Di dalam bab pembuka Sutra Bunga Teratai, ada kalimat yang berbunyi, “Segala celah telah berakhir, noda batin tidak lagi ada.” Sutra Bunga Teratai adalahajaran Buddha tentang praktik Bodhisattva.

Bagaimana cara menapaki Jalan Bodhisattva dan mendekat pada kebuddhaan? Satu-satunya cara adalah melenyapkan noda batin. Untuk melenyapkan noda batin,kita harus mengakhiri celah atau kebocoran. Bagaikan ember yang bocor, kita harus memperbaiki dan menambal batin kita agar bisa kembali menampung air Dharma. Jika kita memiliki noda batin, batin kita bagaikan ember yang berisi kotoran dan tidak berisi air. Ia bagaikan ember yang bocor. Karena itu, kita harus memperbaikinya. Karena batin kita pernah mengalami kebocoran, Karena batin kita pernah mengalami kebocoran, maka kita harus menambalnya. Jika tidak bocor, isinya pasti benda bersih. Bagaimana bisa bocor? Mulanya ia tidak bocor, isinya pun sangat murni. Ia bocor karena kita terus merusaknya. Ia bocor karena kita terus merusaknya. Merusaknya dengan apa? Dengan noda batin. Dengan bertambahnya satu noda batin, celah atau kebocoran pun bertambah. Jika noda batin bertambah, pintu celah atau kebocoran juga bertambah. pintu celah atau kebocoran juga bertambah. Karena itu, kita harus menambalnya. Inilah yang disebut melatih diri.

Saat berada di dunia, Buddha membabarkan Dharma mulai dari metode terampilhingga praktik Bodhisattva. Dalam prosesnya, noda batin dikikis satu demi satu. Saat satu noda batin terkikis, berarti satu celah berhasil ditambal dan tidak akan bocor lagi. Saat batin tidak bocor,Dharma dapat tertampung. Saat Dharma tertampung,noda batin dapat dibersihkan. Jadi, kata-kata dalam Sutra Bunga Teratai ini sangatlah sederhana. Sesungguhnya, untuk mencapai kemurnian total dan berakhirnya celah, perjalanan kita masih panjang. Noda batin yang kita bahas di awal tadi, jika kita tidak memahami seluruhnya, maka kita tidak dapat membangkitkan Dharmasaat bertemu kondisi luar. Sebaliknya, kita akan membangkitkan noda batin. Sebaliknya, kita akan membangkitkan noda batin. Sebaliknya, kita akan membangkitkan noda batin. Saat ini kita mendengarkan Dharma. Setelah waktu dan kondisi ini berlalu, noda batin bisa bangkit kembali karena Dharma tidak ada dalam hati kita dan sudah kembali bocor ke luar. Jadi, saya berharap semua orang dapat mengakhiri kebocoran dan tidak lagi diliputi noda batin. Inilah harapan terbesar Buddha terhadap kita. Saudara sekalian, waktu berlalu dengan cepat. Kini dunia telah memasuki era kalpa kerusakan. Dharma juga telah memasuki era kemunduran.

 

Kita telah berada di penghujungera kemunduran Dharma. Entah kapan Dharma akan benar-benar lenyap. Jika kita tidak bersedia mengemban misi untuk mempraktikkan Dharma, bagaimana kita dapat membimbing semua makhluk? Dharma yang diucapkan lewat mulut akan mudah berubah. Sebuah kalimat yang disebarkan lewat mulut akan berubah setelah melewati tiga orang. Jika kita dapat menggunakan Dharmapada diri kita untuk melenyapkan tabiat buruk dan melaksanakan ajaran dalam keseharian, dan melaksanakan ajaran dalam keseharian, barulah Dharma tidak cepat berubah dan hilang. barulah Dharma tidak cepat berubah dan hilang. barulah Dharma tidak cepat berubah dan hilang. Jangan sampai Dharma cepat hilang. Kini kita sudah memasuki era kemunduran Dharma. Dunia juga sudah memasuki era kalpa kerusakan. Karena itu, misi yang kita emban sangat besar. Harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28

MPO88ASIA