Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-265-Aktif Mengembangkan Jiwa Kebijaksanaan

 Saudara se-Dharma sekalian, di luar langit belum terang. Yang ada hanyalah keheningan. Entah apakah batin kita semua juga sama heningnya. Bagai meminum air, panas atau dingin hanya diri sendiri yang tahu. Apakah batin kita sama heningnya dengan kondisi di luar? Kita harus bertanya ke dalam batin. Kita memiliki banyak noda batin yang membelenggu kita. Noda batin ini terus membara siang dan malam dan membuka pintu celah atau kebocoran. Noda batin ini bagai api yang terus membakar di dalam batin kita. di dalam batin kita. Ini membuat batin kita tidak jernih dan tidak bisa tenang. dan tidak bisa tenang. Ini sesungguhnya merusak jiwa kebijaksanaan. Baik kehidupan fisik kita maupun jiwa kebijaksanaan kita, semuanya berproses seiring waktu. Fisik menua, sedangkan jiwa kebijaksanaan terus tergerus habis oleh noda dan kebocoran batin. Kehidupan kita tergerus oleh waktu.

Kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kehidupan fisik tergerus seiring waktu. Ini adalah hukum alam. Siapa pun tidak dapat mencegahnya. Namun, itu berbeda dengan jiwa kebijaksanaan. Saat memperoleh sedikit kesadaran dan sedikit pemahaman, kita hendaknya segera mengembangkan jiwa kebijaksanaan kita. Jiwa kebijaksanaan terus mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan. Kita terus terlahir di enam alam dan mengalami berbagai penderitaan. Kita sungguh tidak berdaya. Ini karena kita tidak membangkitkan Ini karena kita tidak membangkitkan hakikat sejati yang murni dan cemerlang. Dari kehidupan ke kehidupan, noda batin terus menyelimuti hakikat ini. Dari satu kehidupan ke satu kehidupan berikutnya, selama kita masih terus terlahir kembali, tabiat buruk kita pun terpupuk semakin banyak. Jadi, kecemerlangan kebijaksanaan pun Jadi, kecemerlangan kebijaksanaan pun semakin tertutup dan tenggelam. Ini sungguh disesalkan.

Pada kehidupan lampau kita mungkin tidak paham dan tidak sadar. Kini, kita telah paham. Di dalam kesadaran kedelapan kita tersimpan banyak kekuatan karma. Sesungguhnya, di balik kesadaran kedelapan masih ada kesadaran kesembilan yang cemerlang dan murni. Inilah hakikat sejati setiap orang. Hakikat ini terus terkubur, semakin lama semakin dalam. Dari kehidupan ke kehidupan, tabiat buruk dan noda batin terus terpupuk. Pintu noda batin ini terus terbuka. Pintu noda batin ini terus terbuka. Seiring waktu berjalan dari kehidupan ke kehidupan, pintu tabiat buruk pun terus terbuka. Karena itu, kita menciptakan segala karma buruk. Kita seakan sudah tahu akan hal ini, Kita seakan sudah tahu akan hal ini, tetapi juga seakan tidak tahu. Namun, kita tidak boleh tidak tahu dan tidak boleh tidak sadar. Sulit bagi kita untuk berkesempatan mengetahuinya, maka kita harus mencari kesadaran. Untuk itu, kita harus menggunakan hati. Di mana dan kapan hati ini harus digunakan? Di dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadapi orang dan masalah. Ini adalah ladang pelatihan bagi kita. Kita harus mendalami cara untuk menyatu kembali dengan hakikat sejati kita. Jadi, kita harus memahami hal ini. Jangan lagi membuka pintu noda batin dan kembali menciptakan karma buruk.

Dari kehidupan ke kehidupan, para orang bijak dan orang suci terus membimbing kita. Mungkin kita pernah bertemu dengan mereka, hanya saja kita tidak menerima ajaran dan meneladani mereka. Kita tidak pernah membangkitkan rasa sukacita dan rasa hormat yang tulus. Kita tidak mengembangkan rasa hormat yang tulus. Karena itu, kita semakin jauh dari mereka. Kita malah melanggar dan menyalahi ajaran para orang bijak dan suci. Ini membuat para suciwan khawatir. Ini sungguh disayangkan. Begitu pula dengan kondisi pendidikan masa kini. Orang zaman dahulu sangat menghormati guru dan ajarannya. Apa yang guru ajarkan, itulah yang mereka terima dan jalankan. Saat tidak bisa menerimanya, mereka tetap menaruh rasa hormat dalam hati. Begitulah orang zaman dahulu. Orang zaman sekarang sudah berbeda. Mereka tidak lagi menghormati guru, apalagi ajarannya. Mereka tidak berpegang pada kebenaran dan tidak menghormati orang yang lebih tua. Inilah kondisi orang zaman sekarang. Bayangkan, bukankah ini membuat khawatir para suciwan? Jangankan orang suci dan bijak zaman dahulu, guru-guru zaman sekarang pun sangat cemas dan khawatir. sangat cemas dan khawatir.

Jadi,  manusia bukan saja melanggar tata susila, tetapi juga menyalahi kebenaran. Kita seharusnya tahu bahwa semua makhluk dari empat jenis kelahiran harus kita hormati dan harus kita sayangi, tetapi kita tidak mampu menjalankannya. Jadi, begitu pintu noda batin terbuka, pintu karma pun ikut terbuka. Jebakan di luar pun dengan cepat menjerat kita hingga tak mampu melepaskan diri. Inilah duka bagi semua makhluk. Inilah ketidakberdayaan semua makhluk. Semua makhluk akan terus menciptakan karma buruk. Karena itu, Buddha berkata bahwa semua makhluk sungguh menyedihkan. Buddha juga tidak pernah menyerah terhadap semua makhluk. Karena itu, dikatakan bahwa Buddha merasa iba. Meski semua makhluk melanggar ajaran, tetapi para Buddha dan Bodhisattva tetap tidak menyerah. Di masa kini, kita mungkin tidak mampu memahami metode yang digunakan para orang bijak dan suci lebih dari 2.000 tahun lalu yang tercatat dalam sejarah, tetapi kita bisa melihat di masa kini juga ada kisah yang mengharukan. Ini bukan sekadar cerita, melainkan kisah nyata.

Di Nigeria, Obasanjo terpilih sebagai presiden pada tahun 1999. terpilih sebagai presiden pada tahun 1999. Negara ini adalah negara kecil. Nigeria adalah negara kecil dan termasuk belum sejahtera. Terlebih lagi, pendidikan rakyat di sana tidak tinggi karena negara itu adalah negara kecil. Presiden ini berlatar belakang militer. Setelah pensiun, beliau mengikuti pemilu dan terpilih di tahun 1999 untuk dua kali masa jabatan. Saat itu usianya sudah mencapai 70 tahun, tetapi beliau juga merupakan seorang mahasiswa. Beliau bekerja sambil belajar. Meski pekerjaannya adalah seorang presiden, beliau tetap mengikuti ujian universitas. Ini sungguh membuat orang kagum. Presiden ini lulus ujian masuk universitas bukan karena statusnya sebagai presiden. bukan karena statusnya sebagai presiden. Bukan. Beliau mengikuti ujian sesuai prosedur dan diterima di Universitas Negeri Terbuka Nigeria. Beliau berkuliah di sana. Di hari pertama perkuliahan, Di hari pertama perkuliahan, beliau berkata kepada semua orang, beliau berkata kepada semua orang, “Di universitas ini, saya akan menghormati para guru saya.” saya akan menghormati para guru saya.” “Saudara sekalian, saya berkuliah di sini, jadi jangan memanggil saya ‘Presiden’, panggil saya ‘teman’.” panggil saya ‘teman’.” “Jangan panggil saya ‘Presiden’.”

Begitulah, beliau hendak diperlakukan seperti rakyat biasa dan sangat rendah hati. Ini membuat orang terharu. Saya sering membahas apa yang disebut kesetaraan. Inilah wujud kesetaraan. Beliau tahu bahwa negaranya tertinggal disebabkan oleh tingkat pendidikan yang tidak merata. Karena itu, negara ini tidak dapat bersaing dengan negara lain. Beliau juga merasa budaya pembelajaran di sana belum meningkat. Jadi, beliau berharap dapat menggerakkan orang-orang untuk peduli pada pendidikan. Beliau bahkan berharap negaranya dapat setara dengan negara-negara lain. Beliau sendiri juga ingin setara dengan orang lain bukan dengan status sebagai presiden, melainkan berdasarkan tingkat pendidikannya. Ini sungguh luar biasa. Di manakah makna reputasi dalam hidup? Di manakah letak dari nama atau reputasi? Sesungguhnya, reputasi yang sebenarnya bergantung pada kemampuan kita. Jika kemampuan tidak cukup dan hanya mengandalkan nama besar atau kekuasaan,  apa artinya? Pengetahuan bukan dibuktikan lewat perkataan, melainkan lewat kualitas kebajikan.

Presiden ini tidak hanya bicara. Beliau mengumumkan kepada semua orang bahwa beliau akan menghormati para guru dan menerima pendidikan dari mereka. Beliau ingin dianggap sama dengan mahasiswa lainnya. Beliau ingin dianggap sama dengan mahasiswa lainnya. Beliau sungguh melakukannya. Jadi, saya ingin menyampaikan bahwa tiada hal yang disebut “besar” di dunia ini. Seseorang disebut “besar” karena keluhurannya. Dahulu kita pernah mendengar ungkapan “Angin pelatihan dan semerbak keluhuran mengharumkan segalanya.” Keluhuran moral bagaikan angin yang bisa bertiup ke segala arah. Apakah ini besar? Tentu besar. Ia meliputi segalanya. Dengan keluhuran moral, seseorang dapat memimpin semua. Keluhuran moral bukan dibicarakan, melainkan diwujudkan secara nyata agar orang-orang bisa melihat dan merasakannya. Inilah keharuman kebajikan. Ia mungkin tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan. Inilah keluhuran kebajikan. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mempelajari hal ini. Siapakah diri kita? Kita hanya satu bagian dari masyarakat. Kita hanya satu makhluk di bumi ini. Terhadap semua makhluk di bumi, kita harus berusaha untuk membalas budi. kita harus berusaha untuk membalas budi. Kita juga harus bersumbangsih di masyarakat. Inilah cara mewujudkan kebajikan sebagai manusia. Jadi, manusia berbeda dari makhluk lainnya.

Buddha datang ke dunia untuk membimbing semua makhluk dan memberi teladan kualitas sebagai manusia. Inilah pendidikan yang Buddha berikan di dunia. Berhubung kita ingin belajar untuk menjadi teladan sebagai manusia, maka kita harus mengasihi semua makhluk dari empat jenis kelahiran, baik makhluk yang lahir lewat rahim, telur, kelembapan, maupun yang lahir spontan. Berhubung kita hendak membangun keteladanan keluhuran manusia, maka selain mengasihi sesama manusia, kita tentu juga harus menyayangi semua makhluk dan tidak membiarkan semua makhluk menderita. Jadi, kita harus bertekad untuk menghormati para orang bijak dan orang suci. Kita harus menjalankan ajaran mereka. Janganlah kita membuka pintu kebocoran batin. Kita juga telah membahas bahwa celah atau kebocoran sama dengan noda batin. Noda batin ini melingkupi tiga alam. Alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa penuh dengan noda dan kegelapan batin. Buddha mengajarkan kepada kita untuk menjauhi noda batin. Artinya, segala kebocoran harus diakhiri.

Kita harus berusaha melenyapkan noda batin. Jika segala noda batin telah dilenyapkan, barulah kebocoran dapat diakhiri. Saat berhasil mengikis sedikit noda batin, janganlah kita menambah noda batin baru. Kita harus menjalankan tekad kita untuk berubah. Dalam hubungan antarmanusia, sulit dihindari terjadinya gesekan. Jika bertekad untuk memaafkan, kita harus segera memaafkan. Jangan lagi mengingat kesalahan masa lalu. “Orang berbudi tidak mengingat kesalahan lama orang lain.” Setelah mengalami gesekan dengan orang dan ada orang lain yang melerai, kita mungkin berkata, “Baiklah, baiklah, saya tak mau lagi berhitungan denganmu.” Ini hanya ucapan di mulut saja. Namun, bagaimana dengan pikiran dalam hati? Banyak orang yang menunjukkan senyum di wajah, tetapi hatinya tidak tersenyum. Saat berkegiatan, mereka bisa bekerja bersama-sama, tetapi di dalam hati masih ada perasaan yang mengganjal. Saat bertemu dengan orang itu, terasa ada sesuatu yang mengganjal. Ganjalan itu masih ada di dalam batin. Ini berarti noda batin muncul kembali. Meski di luar kelihatannya hubungan mereka baik-baik saja, tetapi sesungguhnya di dalam hati tidak seperti itu. Mereka masih menyimpan noda batin. Ini adalah jalinan jodoh yang tidak baik. Mereka selalu mengingat jalinan jodoh buruk ini dan membawanya hingga ke kehidupan selanjutnya. Kita juga sering mendengar para relawan berbagi saat pertemuan pagi relawan.

Kita sering mendengar para relawan berbagi bahwa jika kita menjalin jodoh buruk, maka jalinan jodoh buruk ini akan terus bertambah maka jalinan jodoh buruk ini akan terus bertambah dan terus membelenggu serta membuat banyak orang menderita. Ada seorang perempuan yang telah menikah dengan seorang suami yang tidak baik. Sebelum menikah, hubungan mereka sangat baik dan penuh janji-janji manis. Namun, setelah menikah, kekuatan karma mulai terlihat. Perempuan ini menemukan bahwa orang yang dinikahinya tidak benar-benar baik. Dia sangat menderita hingga ingin bercerai. Setelah bercerai, dia menikah kembali. Dia ingin suami yang lebih baik agar mantan suaminya melihatnya. Tak disangka, suami barunya lebih buruk daripada yang pertama. Mereka memiliki anak. Anaknya pun gemar membangkang. Perempuan ini terus menderita. Pernikahannya kembali gagal. Dia masih ingin mengadu nasibnya. Dia berpikir untuk menikah kembali. Jadi, dia bercerai dan menikah untuk ketiga kalinya. Suami ketiganya lebih baik. Namun, dia menderita penyakit. Perempuan ini harus membopong dan memapahnya serta membantunya membersihkan badan. Bukankah kita sering mendengar kisah orang yang menikah beberapa kali demi memiliki rumah tangga yang lebih baik? Akan tetapi, karma tidak dapat dihindari.

Bagaimana pun diusahakan untuk dipotong, tetap tidak bisa dipotong. Inilah yang sering dikatakan orang Taiwan. Jadi, kita harus selalu ingat untuk tidak menyimpan kebencian di dalam batin. untuk tidak menyimpan kebencian di dalam batin. Jika Anda menyimpan kebencian di dalam hati, meski di permukaan Anda terlihat berhubungan baik dengan orang lain, tetapi benih jalinan jodoh buruk tetap tersimpan di dalam batin. Benih yang tersimpan dalam kesadaran kedelapan ini akan terbawa ke kehidupan mendatang. Bayangkan, berapa waktu kita dalam satu kehidupan? Jalinan jodoh buruk yang kita tanam begitu banyak. Untuk mengurusi jodoh buruk saja kita tidak cukup waktu, bagaimana bisa menjalin jodoh baik? Jadi, kita di sini sangat beruntung. Dalam kehidupan ini seharusnya kita cukup beruntung. Berhubung kita sudah tahu akan hal ini, maka kita harus segera sadar. Setelah tahu, jika tidak sadar, maka kita akan berjalan di tempat. Apakah tahu sama dengan sadar? Tidak. Jika hanya sekadar tahu, kita mungkin hanya bisa bersabar sebentar. Kesadaran yang sesungguhnya harus dimulai dari membersihkan benih jodoh buruk atau pikiran buruk di dalam batin. Sesuatu yang tidak benar harus kita perbaiki secara menyeluruh.

Tabiat buruk harus kita ubah. Jalinan jodoh buruk harus diurai. Kita harus mengurai jalinan jodoh buruk dan membuang pikiran buruk dalam batin. Kita harus selalu membangkitkan niat baik dan menjalin jodoh baik. Dengan demikian, kita baru bisa sungguh-sungguh terselamatkan dan baru bisa benar-benar mengakhiri kebocoran dan noda batin. Jangan biarkan noda batin ada di dalam batin kita dan terbawa ke kehidupan mendatang. Itu akan membuat kita sangat menderita. Terlebih lagi, saya sering berkata bahwa kita kini sudah berada pada era kalpa kerusakan kita kini sudah berada pada era kalpa kerusakan dan era kemunduran Dharma. Nilai-nilai kebajikan semakin tergerus. Alam telah rusak dan semakin tidak normal. Pada kehidupan mendatang, sesungguhnya seperti apa tempat hidup kita? sesungguhnya seperti apa tempat hidup kita? Akankah kita tinggal di tempat yang penuh bencana? Nilai-nilai kebajikan manusia semakin tenggelam. Kelak, di kehidupan mendatang, akankah kita bertemu banyak orang jahat? Jadi, kita harus menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Janganlah kita hanya memikirkan kebaikan diri sendiri. Tidak boleh begitu. Kita tetap harus memikirkan kebaikan orang banyak. Inilah kesetaraan. Lihatlah, seperti presiden Nigeria tadi, Lihatlah, seperti presiden Nigeria tadi, demi meningkatkan standar pendidikan warganya, beliau memulainya dari diri sendiri. Demi mendobrak perbedaan kelas dan status, beliau berkata kepada semua orang bahwa dirinya setara dengan semua orang. Lihatlah, dia menghormati orang yang harus dihormati. Jadi, kita harus menganggap setiap orang sebagai guru kita. Kita juga harus meneladani para orang bijak dan berintrospeksi saat melihat sesuatu yang tidak benar. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28

MPO88ASIA