Sanubari Teduh-273-Menjalankan Sila Membangkitkan Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, untuk menumbuhkan kebijaksanaan, kita harus menyucikan batin kita. Berbagai kerisauan masa lalu berawal dari batin awam yang penuh noda. Kini kita sudah mengetahui apa sesungguhnya kebenaran hidup. Kita harus mendalami kebenaran ini. Akan tetapi, sebelum memperoleh kebenaran, kita harus terlebih dahulu memahami batin sendiri. Jika batin ditutupi kegelapan batin, kebenaran apa pun tak akan terlihat oleh kita dan tak akan bisa dipahami. Jadi, pertama-tama, kita harus mengendalikan batin kita. Kapan pun, batin kita hendaknya senantiasa tenteram. Jika kita bisa hidup tenteram dan bersahaja, dengan sendirinya kita akan bebas dari kondisi dan nafsu. Jika batin bebas dari nafsu keinginan, dengan sendirinya kita tidak akan lagi terjerumus pada pemikiran keliru. Kadar kegelapan batin pun berkurang. Jika demikian, dengan sendirinya kebijaksanaan kita akan terbuka. Bukankah ini yang kita bahas sebelumnya? Kebijaksanaan ada tiga jenis. Kita sudah membahasnya. Pertama, dari mendengar. Saat mendengar ajaran kebenaran, kita merasa ajaran itu masuk akal. Kita sudah tahu. Kita menjadi lebih tahu apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang harus dijalankan dengan semangat, dan apa yang harus dicegah. Yang boleh kita lakukan tentu adalah hal yang baik, yaitu tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain dan pelatihan diri sendiri. Inilah hasil dari mendengar ajaran, disebut kebijaksanaan dari mendengar. Setelah mendengar, kebijaksanaan tumbuh. Namun, setelah itu, kita harus merenung. Jadi, kita harus berpikir dan merenung. Banyak orang berkata, “Pemikiranmu menyimpang.” Banyak orang berkata, “Pemikiranmu menyimpang.” Jika pemikiran menyimpang, tindakan tentu juga akan menyimpang. Pemikiran kita harus benar. Jika pemikiran benar, tindakan kita juga akan benar. Inilah yang disebut praktik pelatihan diri. Inilah yang disebut praktik pelatihan diri. Jika batin kita terlatih, mampu berperilaku lurus, dan ketiga hal tadi dijalankan seluruhnya, inilah yang disebut kebijaksanaan.
Kebijaksanaan diperoleh dari mendengar, merenungkan, dan praktik. Saat ketiganya disatukan, barulah menjadi kebijaksanaan yang sesungguhnya. Jadi, dari mana datangnya kebijaksanaan? Kita harus menjalankan sila untuk membangkitkan kebijaksanaan; melatih pemusatan pikiran; menjaga pikiran yang benar dan lurus; segala kerisauan yang membara pun padam. segala kerisauan yang membara pun padam. Artinya, kita harus menjalankan sila dan tidak melanggarnya. Jika tidak melanggar sila, dengan sendirinya batin kita akan tenang. Sebuah ungkapan berbunyi, “Hati yang tenang mampu memahami kebenaran; hati yang memahami kebenaran mampu tenang.” Artinya adalah jika kita tidak melakukan pelanggaran, dengan sendirinya batin kita akan tenang. Karena itu, dikatakan bahwa dengan menjalankan sila, kebijaksanaan akan berkembang. Menjalankan sila bertujuan membuat batin kita cemerlang. Dengan begitu, kebijaksanaan pun tumbuh. Kira-kira seperti itu. Yang terpenting adalah kita bergantung pada diri sendiri. Siapa yang berlatih, dialah yang mendapat hasilnya. Kita memang sudah mendengar, tetapi selain itu kita juga harus giat. Kita harus merenung.
Setelah merenung dan berpikir, kita harus menjalankan praktik agar semakin memahami. agar semakin memahami. Setiap orang adalah sebuah kitab. Jika benar demikian, maka dalam perilaku setiap orang pasti ada yang dapat kita pelajari. pasti ada yang dapat kita pelajari. Yang baik kita jadikan teladan, sedangkan yang buruk kita jadikan peringatan. Inilah yang disebut melatih pemusatan pikiran. Kita harus berlatih, kita harus berpikir dan merenung. Kita harus belajar dari orang lain. Hal yang baik kita teladani, sedangkan hal yang buruk kita perbaiki. Kita harus meneladani kebaikan dan memperbaiki keburukan diri sendiri. Jika pikiran dapat senantiasa benar dan lurus, maka segala kerisauan yang akan padam. Pikiran kita hendaknya dijaga untuk selalu lurus dan selalu menyatu dengan sila. Sila, bagi kita sebagai praktisi sangatlah penting. Sila dapat mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Jadi, pikiran kita harus benar dan lurus. Jadi, pikiran kita harus benar dan lurus. Sila harus selalu ada dalam pikiran kita, dan pikiran kita tidak boleh meninggalkan sila. Dengan begitu, meski dunia ini penuh gangguan dan batin makhluk awam bisa diliputi kerisauan, tetapi jika kita memegang teguh dan tulus menjalankan sila dengan sepenuh hati, maka dengan sendirinya segala kerisauan akan padam.
Jadi, jika kita bisa melakukan semua ini, maka segala kerisauan duniawi akan lenyap, dan dengan sendirinya kita akan memperoleh kebijaksanaan setara dan mencapai kebebasan sempurna.Saudara sekalian, bukankah ini yang kita inginkan? Dalam hubungan antarmanusia, kita harus melapangkan hati dan mengembangkan cinta kasih. Kita harus menggunakan kebijaksanaan dan pandangan kesetaraan dalam memperlakukan semua makhluk. Jika kita mampu mewujudkan ini, maka batin kita akan memperoleh pembebasan. Tiada lagi yang ingin kita kuasai, tiada lagi perseteruan dengan orang lain, dan tiada lagi sikap perhitungan. dan tiada lagi sikap perhitungan. Tanpa perseteruan, tanpa sikap perhitungan, tanpa ketamakan dan nafsu keinginan, dengan sendirinya batin kita bebas dari kerisauan. Inilah yang harus kita pegang dalam pelatihan kita. Jika kita dapat melakukan ini, ini akan menjadi sebuah benih dan jalinan jodoh. Sebagai praktisi, kita harus menaruh perhatian pada hukum sebab akibat. Jika tidak, Jika tidak, kita akan mudah terjebak dalam takhayul. Ada orang yang berkata bahwa ajaran Buddha adalah takhayul, maka sering membahas tentang hukum karma. Sesungguhnya, sebab, kondisi, buah, dan akibat sering kali kita singkat menjadi sebab dan kondisi.
Namun, di belakang itu masih ada buah dan akibat. Apa sebabnya kita melakukan suatu tindakan tertentu? Apa sebabnya pada saat tertentu dan dalam kondisi tertentu kita melontarkan suatu ucapan atau melakukan suatu tindakan? Bagaimana reaksi orang lain? Apakah baik? Reaksi akan memicu tindakan berikutnya. Jika orang lain senang, mereka akan bertepuk tangan. Inilah yang disebut buah dan akibat. Kita harus makan tiga kali sehari. Mengapa? Karena perut bisa merasa lapar. Tubuh membutuhkan asupan gizi. Setelah makan, akan ada akibatnya, yaitu perut menjadi kenyang. Tubuh pun mendapat asupan gizi. Jadi, sandang, pangan, papan, dan transportasi juga tak luput dari hukum sebab akibat. juga tak luput dari hukum sebab akibat. Jadi, segala hal kecil ataupun besar Jadi, segala hal kecil ataupun besar di dalam keseharian kita tidak luput dari hukum sebab akibat. Jika pelatihan tadi menjadi kebiasaan hidup kita, maka kita akan memperoleh tubuh yang agung. Jika kita dapat membina tabiat yang baik, menjalankan sila, dan waspada terhadap kesalahan, maka kita akan menjalin jodoh baik bukan hanya bagi kehidupan sekarang, tetapi juga bagi kehidupan selanjutnya. Jodoh seperti apa yang kita jalin bagi masa depan? Sesungguhnya, ini tidak mudah diketahui.
Saya melihat sebuah laporan berita yang amat luar biasa. Dari sudut pandang ajaran Buddha, ini sangat masuk akal. Bukankah sering dikatakan bahwa melatih diri berarti membina tabiat? Di Swiss ada seorang anak yang baru berusia enam tahun, tetapi sudah bisa menulis novel. Dia baru berusia enam tahun. Novelnya sudah diterbitkan di Swiss. Semua orang sangat tercengang. Anak kecil berusia enam tahun bisa menulis novel. Ini sungguh luar biasa. Menurut laporan tersebut, anak ini sejak berusia tiga tahun sudah mulai bisa membaca. Dia sudah bisa mengenal huruf dan merangkai kata. Dia mulai belajar membaca dan menulis pada usia tiga tahun. Pada usia enam tahun, dia mulai menulis cerita dan menelurkan satu karya novel. Bayangkan, bukankah anak ini memiliki bakat alami? Ini adalah kepandaian, juga kebijaksanaan. Anak ini menguasai tiga bahasa. Bukankah dia seperti yang orang-orang katakan, yaitu belajar pada kehidupan lampau? Benar, dia belajar sejak kehidupan lampaunya. Mungkin dahulu dia sangat gemar belajar. Dia sudah senang belajar sejak kehidupan lampau dan telah menyerap banyak pengetahuan. Pengetahuan ini tertanam dalam kesadarannya. Saat dia terlahir kembali ke kehidupan sekarang, kebijaksanaannya sangat cemerlang. Dia sudah mendengar, merenung, dan mempraktikkan, sehingga benih tabiat sudah tertanam pada kesadaran kedelapannya. Kebijaksanaannya sangat cemerlang dan tidak tertutup oleh noda batin. Ini adalah hasil dari kesungguhannya pada kehidupan lampau. Jadi, pada saat terlahir kembali, Jadi, pada saat terlahir kembali, dia sudah membawa sebuah tabiat dan kebijaksanaan yang cemerlang. Lihatlah, sejak berusia tiga tahun, dia sudah bertemu kondisi yang baik karena telahir di keluarga yang mulai mengajarinya membaca sejak kecil. yang mulai mengajarinya membaca sejak kecil. Sesungguhnya, meski diajarkan, apakah anak lain mampu menerima? Banyak orang tua yang menganggap anak berusia tiga tahun masih terlalu kecil, tetapi anak ini bertemu dengan lingkungan yang istimewa, yang memberinay kesempatan belajar lebih awal. Ini adalah sebuah jalinan jodoh. Pada mulanya, anak ini pasti sudah menanam benih dan menjalin jodoh baik. Karena itu, saat terlahir kembali, Karena itu, saat terlahir kembali, dia terlahir ke lingkungan baik yang mendorong pencapaiannya. Anak-anak sesusianya hanya makan dan bermain, tetapi dia lebih memilih berada di kamar atau di tempat yang tenang untuk membaca buku dan menulis. Jadi, dia mulai merangkai kata dan menulis sebuah karya sendiri yang sudah diterbitkan. Ini memecahkan rekor dunia. Pada umumnya orang menyebut ini talenta yang dibawa sejak lahir. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, kebijaksanaan dicapai lewat mendengar, merenung, dan praktik. Kini kita akan membahas tiga penembusan. “Tiga kebijaksanaan dipahami; tiga penembusan diketahui jelas.” Kini kita akan membahas tiga penembusan. “Tiga kebijaksanaan dipahami; tiga penembusan diketahui jelas.” Apa yang dimaksud tiga penembusan? Mata dewa, pengetahuan kehidupan lampau, dan pengakhiran kebocoran. Orang dengan mata dewa dapat mengetahui masa depan.
Hal-hal yang berkenaan dengan masa depan terhubung dengan kesadarannya. Bisa dikatakan dia dapat meramalkan sebab akibat yang berkaitan dengan masa depan. Apa yang dimaksud masa depan? Apakah kehidupan selanjutnya? Kehidupan selanjutnya juga termasuk masa depan. Namun, yang terpenting adalah saat ini. Dengan melihat apa yang kita perbuat saat ini, kita dapat mengetahui buah yang akan kita tuai di masa depan. Orang dengan mata dewa memiliki pandangan cemerlang. Dia mampu melihat dengan jelas dan mengetahui masa depan. Dari apa yang diperbuat saat ini, dia bisa melihat bagaimana hasilnya di masa depan. Kemampuan seperti ini disebut mata dewa. Kemampuan seperti ini disebut mata dewa. Kini kita tidak bisa melihat masa depan, tetapi ada orang yang mampu melihat dan memprediksi masa depan yang tak terlihat. dan memprediksi masa depan yang tak terlihat. Ini juga disebut kemampuan mata dewa. Dalam bahasa manusia pada umumnya, Dalam bahasa manusia pada umumnya, mata dewa dikenal dengan pandangan jauh. “Kamu tidak bisa melihatnya, tetapi saya bisa melihatnya.” Bukan hanya itu, dia bahkan mampu memprediksi. Meski sekarang kita tidak mampu meramal, tetapi orang yang memiliki kebijaksanaan akan mampu berpandangan jauh ke depan. Begitulah penggambarannya. Matanya mampu berpandangan jauh. Artinya, dia tahu apa yang akan terjadi nanti saat kita melakukan sesuatu saat ini. Inilah yang disebut mata dewa. Berikutnya adalah pengetahuan kehidupan lampau. Berikutnya adalah pengetahuan kehidupan lampau. Ini adalah pengetahuan tentang masa lalu.
Tadi kita membahas tentang masa depan, sedangkan kini kita membahas masa lalu. Ini adalah kemampuan melihat masa lalu. “Apa yang telah saya perbuat di masa lalu, saya tuai hasilnya di masa kini.” Jika kita tidak memiliki pemahaman ini, maka kita akan penuh ketidakrelaan. Saat bertemu dengan masalah, kita akan bersungut-sungut. Sebaliknya, orang yang bijaksana tahu bahwa skenario hidup ditulis oleh diri sendiri. Yang kita alami saat ini adalah yang kita tulis di masa lalu, Karena itu, kita harus menerima dengan sukarela. Kehidupan lampau berarti masa lalu. Di masa lalu, kita telah menanam benih, maka saat ini kita harus menerima buahnya. Karena itu, ada sebuah ungkapan berbunyi, “Jika ingin mengetahui kehidupan lampau kita, lihatlah kondisi kita saat ini.”Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya lakukan saja hal yang benar. Saat terjadi hal-hal yang kurang baik, kita harus menerima dengan sukarela. Yang terpenting, saat ini kita melakukan yang benar dan tidak lagi berbuat kesalahan. Jadi, pengetahuan kehidupan lampau bukan hanya mengetahui sebab akibat masa lalu, bukan hanya mengetahui sebab akibat masa lalu, tetapi juga mampu menerima dengan sukarela. Hati kita harus lapang. Kini kita harus menjaga pikiran dengan baik dan melakukan hal yang benar. Dengan begitu, kebocoran batin akan berakhir. Pengakhiran kebocoran Pengakhiran kebocoran berkenaan dengan pengetahuan tentang akar noda batin saat ini. Kita harus segera memutus akar ini. Kita harus segera memutus akar ini. Kita tidak boleh lagi menjalin jodoh buruk. Hal yang tidak benar harus segera kita perbaiki. Jika bisa melakukan ini, kita akan mampu mengakhiri kebocoran batin. Dahulu saya sering menjelaskan bahwa kebocoran sama dengan noda batin. Jika noda batin telah diakhiri, barulah kita dapat memperoleh tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan. Kita telah membahas penggalan Sutra tadi. Kita telah membahas penggalan Sutra tadi.
Kita telah membahas penggalan Sutra tadi. Jadi, mata dewa, pengetahuan kehidupan lampau, dan pengakhiran kebocoran berawal dari pikiran kita sendiri. Jika noda batin telah diakhiri, dengan sendirinya kita akan mampu memperbaiki kesalahan masa lalu. Meski kita menemui kondisi yang tak diharapkan, kita hendaknya tetap berpikiran terbuka dan berfokus pada saat ini. Dengan begitu, barulah hasil yang baik akan diperoleh di masa depan. Inilah yang disebut tiga penembusan. Menembus berarti menguasai dengan menyeluruh. Artinya, kita memperoleh kemampuan mata dewa, pengetahuan kehidupan lampau, dan pengakhiran kebocoran. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memegang teguh sila. Sila adalah panduan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga harus melatih pemusatan pikiran. Kita harus menerima segala yang benar. Setelah mendengar dan menerima ajaran benar, kita harus merenungkannya. Setelah merenungkan, kita harus mempraktikkannya. Dengan demikian, segala noda batin di masa lalu, masa kini, dan masa depan akan lenyap seluruhnya. Semua ini tak lepas dari kesungguhan hati kita setiap menit dan setiap detik.