Sanubari Teduh-293-Tujuh Kemurnian dan Delapan Kekeruhan
Saudara se-Dharma sekalian, jika batin kita semua cemerlang, maka dunia juga akan cemerlang. Jika berharap masyarakat dan dunia tenteram, kita harus memulainya dari menyucikan batin. Untuk menyucikan batin manusia, kita harus memperkuat aliran jernih. Aliran mata air jernih ini harus dipercepat dan diperbanyak menjadi sebuah mata air yang tak pernah kering. Batin manusia masa kini penuh noda. Akibat noda batin semua manusia ini, udara pun ikut tercemar dan iklim menjadi tidak normal. Intinya, kita semua harus mengendalikan diri. Kita harus terlebih dahulu mengatasi noda di dalam batin kita sendiri, baru dapat memancarkan kecemerlangan. Jika kecemerlangan batin semua orang terpancar, maka dunia juga akan cemerlang. Jika sebaliknya, bahkan udara pun ikut tercemar dan iklim pun menjadi tidak normal. Jika begitu, manusia di Bumi akan terancam. Buddha pernah mengatakan tentang masa Kalpa Kerusakan. Di masa Kalpa Kerusakan ini, akibat tebalnya noda batin semua makhluk, akibat tebalnya noda batin semua makhluk, dunia pun semakin lama semakin rusak. Jadi, Kalpa Kerusakan disebabkan oleh noda batin manusia. Untuk memperlambat kerusakan ini, kita harus memelihara bumi ini. Dengan demikian, barulah kita bisa hidup tenteram. Jika bumi aman dan damai, barulah manusia bisa hidup tenteram. Dharma bagaikan air. Hanya Dharma yang dapat senantiasa membersihkan noda batin. Jadi, untuk membersihkan kotoran batin, manusia harus diingatkan untuk selalu bertobat. Jika kita memiliki hati yang bertobat, maka kotoran batin kita baru dapat terkikis hingga batin kita mencapai ketenangan. Jadi, di dalam syair pertobatan ini dikatakan, “Semoga berkat pahala dari pertobatan atas noda batin akibat tujuh kebocoran, delapan kekeruhan, sembilan belenggu, sepuluh ikatan, dan lainnya…” Tujuh kebocoran, delapan kekotoran, sembilan belenggu, dan sepuluh ikatan sudah pernah kita bahas. Semua ini berkaitan akibat kontak antara batin kita dengan dunia luar yang memicu banyak pikiran keliru dan berujung pada tindakan menyimpang yang akhirnya membawa banyak kerisauan.
Dengan demikian, dalam hubungan antarmanusia terjalin jodoh buruk yang memicu terciptanya karma buruk. Dengan demikian, manusia terus mengulangi kesalahan sehingga lingkaran keburukan menjadi tak berujung. Jadi, satu-satunya cara adalah menyucikan batin. Dengan demikian, batin tak akan terus tercemar. Jika batin murni tanpa noda dan kerisauan, Jika batin murni tanpa noda dan kerisauan, pahala kebajikan (gong de) kita akan tumbuh. Jika ingin batin kita bebas dari noda dan kerisauan, Jika ingin batin kita bebas dari noda dan kerisauan, kita harus berlatih ke dalam diri. Pelatihan ke dalam inilah yang disebut “gong”. Jika batin kita tidak dilatih sungguh-sungguh, Jika batin kita tidak dilatih sungguh-sungguh, maka kualitas bajik (de) tidak akan terlihat. Jadi, kita harus melatih diri sendiri. Dengan adanya pelatihan di dalam diri, Dengan adanya pelatihan di dalam diri, barulah kita bisa menghadapi semua orang dan masalah dengan tenang. Dengan demikian, barulah dunia ini akan damai. Jadi, untuk menumbuhkan pahala, kita harus mulai dari melatih batin dan melenyapkan noda yang kita bahas tadi, yakni tujuh kebocoran, delapan kekeruhan, sembilan belenggu, dan sepuluh ikatan. Dengan demikian, noda batin baru bisa benar-benar dilenyapkan. Dengan terkikisnya sedikit noda batin, kecemerlangan pun akan memancar sedikit. Kecemerlangan inilah yang disebut pahala. Jika demikian, dari kehidupan ke kehidupan kita akan dapat “duduk di atas bunga tujuh kemurnian, bermandikan air delapan pembebasan, menyempurnakan sembilan pemutusan, dan mencapai praktik sepuluh Bhumi.” Kini kita akan membahas apa yang disebut bunga tujuh kemurnian. Tujuh kemurnian adalah proses pelatihan kita. Untuk mencapai kemurnian batin dan melenyapkan kekotoran, ada tujuh cara atau faktor. Yang pertama adalah kemurnian sila. Kita tidak membuat kekeliruan. Melatih diri tidak luput dari sila. Sila adalah panduan moral.
Dalam melatih diri, kita harus mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Di dalam batin harus ada kewaspadaan. Kita harus mencegah kesalahan. Jangan sampai kekeliruan mengganggu pikiran kita, apalagi sampai terwujud ke dalam perbuatan kita. Jadi, tubuh dan batin kita harus dijaga agar tidak melanggar sila. Jadi, niat yang keliru tidak boleh timbul. Niat yang keliru ini berakar dari noda batin. Begitu noda batin bangkit, pikiran keliru akan tumbuh dan memicu berbagai kesalahan. Begitu pikiran keliru muncul, berbagai kesalahan juga akan timbul. Jadi, pikiran keliru adalah awal pelanggaran sila. Jadi, janganlah kita sampai melanggar sila. Sila harus dijaga kemurniannya. Jangan sampai batin kita tercemar. Jadi, kita harus mencegah timbulnya pikiran keliru. Pikiran keliru harus dicegah. Batin harus dijaga dengan baik. Jangan sampai pikiran keliru ini muncul. Sama seperti tubuh ini, jika dijaga dengan baik, virus tidak akan dapat menyerang. Ini berlaku luar dalam. Adakalanya cuaca sangat panas dan sangat lembap. Ini bisa memicu penyebaran demam berdarah. Mengapa begitu? Karena kemungkinan digigit nyamuk lebih besar. Lihatlah, seekor nyamuk adalah objek luar. Ia adalah makhluk yang kecil, tetapi jika menggigit tubuh kita, bisa juga menularkan virus penyakit yang disebut demam berdarah Dengue. Penyakit ini juga sangat berbahaya. Gejalanya mungkin seperti flu biasa. Biasanya, jika mengalami flu, kita akan sembuh dengan minum banyak air. Itu tidak masalah. Namun, saat menderita demam berdarah, tidak bisa sembuh hanya dengan minum air. Demam dan gejala lain akan terus muncul. Demam dan gejala lain akan terus muncul. Penyakit ini juga bisa berujung pada kematian karena organ dalam terus berdarah.
Demikian pula, jika pikiran keliru timbul, maka saat kita bersentuhan dengan kondisi luar, tanpa disadari kita akan terbuai dan perlahan-lahan terjebak oleh kondisi luar itu. Akibatnya, kita mungkin mengalami luka atau terserang virus penyakit. Jadi, kita harus mencegah pikiran keliru ini agar jangan sampai timbul. Ini sama dengan menjaga kesehatan tubuh kita. Jadi, kita harus sangat bersungguh hati. Jangan biarkan pikiran keliru ada dalam batin kita. Yang kedua adalah kemurnian pikiran. Artinya, pikiran tidak melekat pada kekeliruan. Sama halnya, jika sila dapat dijaga dengan murni, pikiran juga akan murni. Jika sila kita tidak terjaga dengan murni, pikiran kita tentu saja tidak mungkin murni. Jadi, jika sila dan pikiran murni, secara alami kekeliruan tidak akan muncul. Berikutnya adalah kemurnian pandangan. Artinya, tidak tercemar oleh segala debu. Jika pandangan kita jernih, maka berbagai kondisi luar, baik kekacauan maupun pencemaran, tidak akan mampu menjerumuskan kita. tidak akan mampu menjerumuskan kita. Kondisi luar adalah rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, nama, keuntungan, kedudukan, dan sebagainya. Terhadap berbagai hal ini, jika kita memiliki pandangan murni dan lurus, maka tidak akan timbul ketamakan saat kita bersentuhan dengan semuanya. Jika tidak bersentuhan dengan kondisi luar, maka secara alami kita tidak akan tercemar.
Konfusius juga mengatakan, “Jangan melihat yang tidak patut dilihat, jangan mendengar yang tidak patut didengar, jangan mengucapkan yang tidak patut diucapkan, jangan melakukan yang tidak patut dilakukan. Artinya, kita harus benar-benar waspada terhadap apa yang tak patut kita lihat, yang tak patut kita lakukan, dan yang tak patut kita ucapkan. Janganlah kita tercemar oleh semua itu. Ini bergantung pada pandangan kita. Jika pandangan kita lurus dan benar, maka kita tidak akan melihat yang tak patut dilihat, tak akan mendengar yang tak patut didengar, dan tak mengucapkan yang patut diucapkan. Inilah yang disebut tidak tercemar segala debu. Inilah yang disebut kemurnian pandangan. Berikutnya adalah kemurnian transformasi keraguan. Artinya, keraguan sesat tidak muncul. Manusia memiliki keraguan. Keraguan ini ada karena pikiran sesat. Sesat berarti tidak benar. Kini kita memiliki keyakinan terhadap ajaran Buddha yang kita anggap baik. Namun, meski mengaku yakin terhadap ajaran Buddha, tetapi adakalanya keyakinan manusia menyimpang. Sebagian orang masih memilih hari baik untuk bepergian keluar rumah. Banyak orang masih mencari arah keberuntungan. Saat ingin keluar rumah, pikiran mereka masih terbelenggu keraguan sesat. Banyak pula orang-orang di masyarakat yang takut terhadap hal-hal seperti ini. Mengapa rasa takut bisa timbul? Akibat ketamakan. Ketamakan dalam pikiran mereka begitu banyak. “Apakah saya untuk jika melakukan ini?” “Apakah saya akan selamat?” Dan sebagainya. Banyak hal yang dipicu oleh ketamakan dan kemelekatan. Akibatnya, semua ini menimbulkan banyak kepercayaan keliru yang sulit dijabarkan satu per satu. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus berhati lapang dan berpikiran murni. Hati kita harus dilapangkan. Pikiran kita juga harus dijaga kemurniannya.
Pada hari ini, kita hendaknya menghadapi apa yang terjadi hari ini. Jangan melihat yang tidak patut dilihat, jangan mengucapkan yang tidak patut diucapkan, jangan mendengar yang tidak patut didengar. Yang tak patut didengar jangan kita dengar, yang tak patut diucapkan jangan diucapkan, yang tak patut dilihat jangan dilihat. Jadi, jika pikiran kita selalu benar dan lurus, Jadi, jika pikiran kita selalu benar dan lurus, maka kesesatan tidak akan masuk. Inilah kemurnian transformasi keraguan. Segala keraguan sudah mampu diluruskan. Jika pikiran kita lurus, maka keraguan akan sirna. Dengan demikian, kemurnian akan tercapai. Jika ada orang yang gemar bertanya, “Apakah baik jika saya melakukan ini, apakah boleh saya melakukan itu,” saya akan menjawab bahwa jika pikiran lurus, energi buruk tidak akan datang. Inilah yang harus kita pahami. Yang kelima adalah kemurnian pembedaan jalan. Ini merujuk pada jalan benar. Kita harus maju melangkah di jalan benar. Untuk maju melangkah, kita harus memilih jalan yang aman dan lapang. Jangan kita memilih jalan yang menyimpang. Kita harus tahu di mana tujuan kita dan berjalan ke arah tujuan itu. Jadi, kita harus bisa memilih jalan yang akan kita tapaki. Demikian pula dengan keyakinan. Jika keyakinan kita benar, maka jalan yang kita tapaki tak akan menyimpang. Jika keyakinan kita tidak benar, maka penyimpangan sedikit akan membuat kita jauh tersesat. Jadi, kemurnian pembedaan jalan adalah memilih jalan yang murni. Jalan yang tercemar jangan sampai kita masuki. Dharma yang murni harus kita latih, sedangkan praktik yang tercemar jangan kita lekati. Inilah maksudnya. Jadi, kita harus mundur dari jalan yang salah. Jadi, kita harus mundur dari jalan yang salah. Ini sama dengan saat kita berjalan. Contohnya, kita ingin menuju pegunungan, tetapi jelas-jelas di sana terjadi longsor dan jalan pun terputus. Namun, kita masih bersikeras untuk lewat jalan itu. Ini tidak benar. Saat tidak ada jalan yang bisa dilalui, kita seharusnya segera mundur dan memutar untuk mencari jalan yang benar. Dengan begini, barulah batin kita tidak berjalan di tempat. Inilah kemurnian pembedaan jalan. Dengan ini, barulah kita bisa menapaki jalan untuk mencapai kebuddhaan. Kita mampu membedakan bahwa ini adalah jalan yang benar dan murni. Kita harus melangkah maju.
Jika jalan itu tidak benar, buntu, Jika jalan itu tidak benar, buntu, atau salah, kita harus segera mundur dan berpaling menuju jalan yang benar. Dengan begini, barulah kita bisa mencapai kebuddhaan. Yang keenam adalah kemurnian pemahaman. Pemahaman kita harus senantiasa murni. Jika pemahaman menyimpang, berarti pemahaman kita tidak murni. Artinya, jika enam indra kita murni, maka pemahaman kita juga akan sempurna. Kalian semua sudah tahu tentang enam indra, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Jika semua ini dapat kita murnikan, maka kita akan mencapai kesempurnaan. Jika akar keyakinan kita murni, kita akan mampu memahami segalanya dengan jelas. Beberapa waktu lalu kita baru saja membahasnya. Kemurnian enam indra mencakup indra mata, telinga, hidung, lidah, dan lainnya yang selalu bersentuhan dengan enam objek. Ini baru saja kita bahas. Kita semua harus lebih bersungguh hati. Jika tidak, maka cermin batin kita akan sering ternoda. Jadi, kita harus rajin membersihkan cermin batin kita. Kita harus menjaga kemurnian batin kita agar cermin ini dapat merefleksikan segalanya dengan jelas. Yang ketujuh adalah kemurnian nirvana. Nirvana sama dengan kondisi kebuddhaan, di mana kita dapat merasakan keabadian, kebahagiaan, Aku, dan kesucian. Setelah kita memahami ketidakkekalan, kita akan memahami tentang kekotoran batin. Dengan memahami ketidakkekalan, kita akan mencari jalan kebenaran sejati hingga mencapai kekosongan sejati dan eksistensi ajaib. Ini adalah sesuatu yang tidak timbul dan tidak lenyap. Inilah yang dimaksud keabadian. Jika tidak lagi tercemar oleh noda batin, kita akan senantiasa diliputi kebahagiaan. “Aku” yang dimaksud adalah Aku universal. Jika dapat menyatu dengan kebenaran alam semesta, kita akan mencapai kesucian tanpa noda. Batin kita tidak akan tergoyahkan dan mencapai keheningan. Inilah kondisi yang hening dan jernih. Dengan mencapai kondisi ini, berarti kita mencapai Nirvana yang tidak timbul dan tidak lenyap; murni tanpa noda. Inilah yang ingin kita capai sebagai praktisi Buddhis.
Di awal, ada disebutkan tentang delapan kekeruhan. Delapan kekeruhan berarti ketidakmurnian. Jika kita mampu melenyapkan delapan kekeruhan, kita akan memperoleh delapan pembebasan atau yang disebut delapan pengalihan. Maksud pengalihan adalah jika makhluk awam selalu terpaku pada nafsu, jika makhluk awam selalu terpaku pada nafsu, maka sebaliknya kita ingin melenyapkannya. Pikiran makhluk awam harus dialihkan kepada pelatihan ke arah kesucian. Jadi, kita harus berpaling dari keinginan awam. Inilah yang disebut pengalihan. Artinya adalah pelenyapan. Kita harus melenyapkan lima nafsu duniawi. Bahkan nafsu di dalam batin juga tidak boleh dibangkitkan. Dengan demikian, kita berarti mampu melepaskan keduniawian. Kepada setiap orang yang ingin berguru kepada saya, saya selalu berkata bahwa berguru mengandung arti kembali dari hitam ke putih. Artinya adalah membuang noda dan kegelapan batin masa lalu. Kita tidak lagi menuju kegelapan atau keburukan. Kini kita harus menuju jalan yang lapang dan cemerlang. Inilah artinya. Kita harus berpaling dari kegelapan dan kesalahan. Jadi, dengan berpaling dari kegelapan itu, kita menuju ke jalan pembebasan. Inilah artinya. Inilah yang disebut delapan pembebasan. Dahulu kita pernah membahas delapan kekeruhan. Delapan kekeruhan berarti ketidakmurnian. Jika kita mampu melenyapkan semua kekeruhan itu, berarti batin kita telah berjalan menuju kemurnian. Inilah yang disebut delapan pembebasan. Kita semua harus tahu bahwa kemurnian membuat batin kita cemerlang, sedangkan kekeruhan membuat batin kita tertutup. Cahaya kebijaksanaan tidak dapat memancar. Kebijaksanaan kita, cahaya batin kita tidak dapat memancarkan kecemerlangannya. Ini disebabkan oleh tujuh kebocoran, delapan kekeruhan, sembilan belenggu, dan sepuluh ikatan. Semua inilah yang menutupi batin kita. Jadi, jika kita dapat berpaling dari semua kekeruhan ini dan berjalan menuju kemurnian, maka kebijaksanaan tanpa celah akan tampak. Inilah yang disebut delapan pembebasan. Kalian seharusnya memahami penggalan syair tadi. “Duduk di atas bunga tujuh kemurnian, bermandikan air delapan pembebasan.” Delapan pembebasan bagaikan air murni. Dharma bagaikan air. Jika kita dapat senantiasa membersihkan batin dengan air Dharma, maka batin kita akan selalu murni, cemerlang, dan damai. Inilah kesempurnaan sembilan pemutusan. Sembilan belenggu sudah diputus seluruhnya. Dengan begitu, sembilan kebijaksanaan akan tampak. Dengan demikian, sepuluh Bhumi akan tercapai. Praktik sepuluh Bhumi adalah proses pelatihan yang harus kita lalui. Sebelumnya kita juga sudah membahasnya. Jadi, harap kalian mengingat kembali pembahasan kita yang lalu dan menganalisisnya kembali. Kalian seharusnya sudah memahaminya. Intinya, Dharma bagaikan air yang dapat senantiasa membersihka kotoran. Untuk berpaling dari noda batin dan berjalan menuju kecemerlangan, kuncinya terletak pada satu hal, yaitu pikiran. Jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik, maka segala kotoran batin dan kerisauan akan menjauh. Intinya, harap semua lebih bersungguh hati.