Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-294-Praktik Murni Bodhisattva

Saudara se-Dharma sekalian, membuka jalan di gunung tidaklah sulit, mengitari gunung juga termasuk mudah. Sebaliknya, membuka hati atau mengubah pola pikir malah sangat sulit. Buddha terus membabarkan Dharma bagi para murid-Nya. Selama 49 tahun, tekad Beliau tidak berubah. Jika pola pikir semua makhluk berubah, maka roda Dharma juga akan berputar. Jika pola pikir semua makhluk tak bisa berubah, maka roda Dharma juga tak akan bergerak. Ajaran yang Buddha babarkan tidak lepas dari pikiran. Demikian pula dengan keseharian kita. Entah apakah pola pikir kalian berubah, entah apakah roda Dharma berputar. Buddha sudah berusaha. Sesungguhnya, saya juga sudah berusaha. Intinya, kita semua harus berusaha, barulah roda Dharma di hati kita bisa berputar. Jadi, untuk memutar roda Dharma, kita harus membuang segala kekotoran di dalam batin kita. Bukankah ini yang setiap hari kita bahas? Setiap hari kita membahas pertobatan dan pembersihan batin demi menyucikan batin kita dari kekotoran. Setiap hari kita membahas ini. Setelah membahasnya, apakah kita menyerapnya ke dalam hati? Setiap hari kita semua hendaknya bertanya ke dalam hati sendiri apakah kita sudah melenyapkan kotoran batin dan apakah Dharma yang segar sudah meresap ke dalam hati. Kita harus bertanya ke dalam hati tentang hal ini. Karena itu, saya terus membahas pertobatan. Pertobatan adalah pemurnian. Jadi, syair ini membahas tentang pertobatan. Kini kita harus bertobat atas sebelas kecenderungan umum, dua belas pintu masuk, dan delapan belas elemen. dua belas pintu masuk, dan delapan belas elemen. Kalian seharusnya sudah kenal istilah-istilah ini. Belum lama ini kita sudah pernah membahasnya. Sebelas kecenderungan umum ini bisa mendorong batin kita ke arah luar ke arah luar sehingga menyimpang saat bersentuhan dengan kondisi luar. Dengan demikian, kita akan menderita dan tersiksa. kita akan menderita dan tersiksa. Ini akibat sebelas kencenderungan umum yang mendorong kita sehingga tak mampu mengendalikan diri. Jadi, ini sangat penting. Kita semua harus sungguh-sungguh memahaminya. Tentu, di sini saya akan mengulangnya sedikit.

Ada tujuh pandangan, dua keraguan, dua kegelapan batin. Tujuh pandangan mencakup pandangan sesat, pandangan akan diri, eternalisme, nihilisme, kemelekatan pada sila, pandangan salah tentang sebab akibat, dan pandangan keraguan. Dua keraguan meliputi keraguan pada hal dan keraguan pada prinsip. Kemudian, ada dua kegelapan batin. Pertama adalah kegelapan batin akar, kedua adalah kegelapan batin turunan. Kegelapan batin akar bersumber dari ketamakan, kebencian, kebodohan, dll., sedangkan turunannya adalah segala yang timbul akibat kontak dengan dunia luar. Inilah sebelas kecenderungan umum. Kalian hendaknya mengulang kembali pembahasan mendetail yang pernah ada. Jangan melupakannya. Selain itu, ada juga dua belas pintu masuk. Kalian juga sudah tahu tentang ini, yaitu kontak antara enam indra dan enam objek. Akibat kontak antara enam indra dan enam objek, timbullah sebelas kecenderungan ini. Selain itu, ada pula delapan belas elemen. Dalam delapan belas elemen, selain enam indra dan enam objek, ada pula enam kesadaran. Jadi, tiga kali enam sama dengan delapan belas. Mengenai delapan belas elemen, kalian juga seharusnya sudah tahu. Dahulu ini juga pernah kita bahas. Semua ini termasuk noda batin. Akibat banyaknya noda dan kerisauan yang menutupi batin kita, maka batin kita tak dapat memancarkan kebijaksanaan cemerlang. Semua ini adalah ulah noda batin. Karena itu, kita harus senantiasa bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Kita harus membersihkan noda batin ini. Kita harus membersihkan noda batin ini. Jika noda batin ini berhasil dibersihkan, berarti kita telah cukup berusaha untuk melatih ke dalam diri sehingga kualitas luhur tampak di luar. Inilah yang disebut pahala. Dengan pahala ini, kita bisa menantikan pencapaian. kita bisa menantikan pencapaian. Kita harus melenyapkan noda masa lalu. Setelah melenyapkan banyak noda batin, kita juga menantikan pencapaian, yaitu sebelas kekosongan. Untuk itu, kita harus berubah, karena manusia penuh kemelekatan. Kita melekat pada keberadaan. Jadi, akibat fungsi enam indra, enam objek, dan enam kesadaran, kita terdorong oleh sebelas kecenderungan umum.

Kini kita hendak menyingkirkan noda batin ini demi memahami sebelas kekosongan. Dengan demikian, barulah pikiran kita dapat memperoleh kedamaian. Mengenai sebelas kekosongan, yang pertama adalah kekosongan internal. Kekosongan internal adalah kekosongan perasaan. Makhluk awam terbelenggu oleh perasaan. Banyak perasaan semu  membelenggu batin kita. Jadi, kita harus menyadari perasaan semu ini. Kita harus menelusurinya agar tidak terbelenggu olehnya. Di rumah sakit kita ada relawan berbagi cerita. Di lobi rumah sakit, ada seorang berusia setengah baya yang membawa seorang lansia. Melihatnya saja, kita sudah tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak. Namun, dia terlihat ogah-ogahan. Dia sering berteriak terhadap ayahnya. Ayahnya pun seakan tidak mendengarnya. Relawan kita segera mendekat dan bertanya, “Tuan, siapakah orang tua ini?” “Dia adalah tetua di keluarga kami.” Artinya, dia adalah ayahnya. Relawan bertanya, “Ada apa dengan ayahmu?” Dia menjawab, “Entah mengapa, sepertinya menderita demensia.” “Anda bicara apa pun dia tak akan mengerti.” “Dia sudah pikun.” “Beberapa hari ini dia batuk dan demam, maka saya membawanya berobat.” Dia berkata lagi, “Kak, tolong bantu awasi ayah saya, jika tidak dia bisa berkeliaran ke sana kemari.” Setelah anaknya menjauh, sang ayah ini berkata kepada relawan, “Saya tidak pikun, saya hanya pura-pura.” Relawan bertanya, “Mengapa Anda pura-pura?” Sang lansia menjawab, “Saya punya delapan putra, mereka bergantian menampung saya setiap bulan.” “Jika waktunya tiba, saya disuruh pindah.” “Sebelum saya mengenal lingkungan yang satu, saya sudah dipaksa pindah lagi.” “Jadi, saya sangat risau.” “Jadi, saat waktunya tiba untuk mereka memindahkan saya, saya akan pura-pura pikun dan tidak mengenali orang.” “Mereka bilang saya menderita demensia, tetapi sesungguhnya ingatan saya masih baik.” “Lebih baik saya berpura-pura tidak mengerti apa-apa.” “Dengan begitu, saya lebih santai.”

Bayangkan, delapan orang putra bergiliran menampungnya selama sebulan. Lansia ini harus berpindah-pindah. Lagi pula, sebelum dia mengenal lingkungannya, dia sudah harus pindah lagi. Nasibnya sungguh malang. Jadi, di manakah perasaan? Dia membesarkan anak-anaknya dari kecil hingga dewasa, menyekolahkannya, hingga akhirnya bisa membangun keluarga. Kini, mereka bahkan tak sabar dalam merawat ayah mereka. Mereka harus bergantian sebulan sekali. Berpikir tentang hal ini, kita mungkin bertanya apa itu perasaan. Jika kita tidak terlalu terbuai perasaan, maka tidak akan terlalu risau. Seperti orang tua tadi, dia memilih untuk pura-pura lupa dan pura-pura bodoh. “Biarlah mereka menganggap saya bodoh, terserah mereka mau bilang apa.” Bukankah ini kebodohan yang sesungguhnya bijaksana? Intinya, kita semua harus berusaha, begitulah perasaan duniawi. Perasaan ini pada dasarnya juga kosong. Yang kedua adalah kekosongan eksternal. Jika kita mampu menyadari kekosongan internal, maka apa lagi yang kita perhitungkan di luar? Jadi, maksud dari kekosongan eksternal adalah segala sesuatu pada akhirnya adalah kosong, apa yang perlu diperhitungkan? Ketiga adalah kekosongan luar dalam. Jika kekosongan internal dan eksternal sudah disadari, apa lagi yang tersisa? Keempat adalah kekosongan berkondisi. Ini merujuk pada enam alam kehidupan. Karma apa yang kita ciptakan menentukan di alam mana kita terlahir. Jadi, segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kita harus tahu bahwa kehidupan di dunia ini ditentukan oleh karma. Jika tidak menciptakan karma, kita akan terbebas dari enam alam ini dan tidak akan mengalami kelahiran kembali. Kelima adalah kekosongan tak berkondisi. Ini merujuk pada Dua Kereta yang sudah melampaui kedunawian. Namun, sebagai praktisi, baik terhadap jalan Sravaka maupun Pratyeka, kita juga tidak perlu melekat, karena pelatihan diri kita tidak semata-mata mengejar Kereta Kecil ini. Jadi, kita harus membuang kemelekatan terhadap Kereta Kecil. Keenam adalah kekosongan tanpa awal.

Mengenai masa lalu, kita tidak perlu melekat dan terus mencarinya. Kita tak perlu terus menengok masa lalu. Berapa banyak waktu yang harus kita habiskan hanya untuk menoleh ke masa lalu? Jadi, tidak perlu terpaku pada masa lalu. Yang berlalu biarlah berlalu. Seperti orang berjalan, ketika kaki depan menapak, kaki belakang harus melangkah. Memahami kekosongan tanpa awal berarti melepaskan yang sudah berlalu. Ketujuh adalah kekosongan hakikat. Hakikat segala sesuatu adalah kosong. Jika dikatakan bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, maka sesungguhnya kita tak dapat melihat di mana hakikat itu berada. Kita makhluk awam memiliki tabiat. Kita harus melatih diri untuk melenyapkan segala tabiat buruk. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, tetapi hakikat ini tidak tampak karena dalam waktu yang panjang kita terus terjebak dalam enam alam dan terus memupuk tabiat ini. Sesungguhnya, tabiat ini adalah sesuatu yang dipupuk, bukan sesuatu yang kita miliki sejak awal. Bukan. Sesungguhnya, masih banyak tabiat yang harus kita buang untuk menegakkan kembali hakikat kita. Inilah kekosongan hakikat yang tak bergantung pada apa pun. Di manakah sesungguhnya tabiat kita? Jika kita mencoba melihatnya, tentu tak akan terlihat. Kita harus membangkitkan kembali hakikat kita. Berhubung kini kita telah bertekad melatih diri, maka tabiat masa lalu kita harus dibuang untuk membangkitkan kembali hakikat kita. Inilah kekosongan hakikat. Kedelapan adalah kekosongan tanpa eksistensi. Ini merujuk pada masa depan. Masa depan tidak terukur. Berhubung saat ini kita sedang berusaha membuang tabiat buruk, maka tidaklah perlu terpaku pada masa depan. maka tidaklah perlu terpaku pada masa depan. Genggamlah waktu yang ada saat ini. Masa depan tidak terbatas. Berhubung kita tidak berlatih metode Kereta Kecil, tidak berlatih untuk menjadi Sravaka atau Pratyekabuddha, maka apa lagi yang perlu kita lekati? Kekosongan dalam Mahayana berarti tak melekat. Baik masa lalu, masa kini, dan masa depan, semua tak perlu kita lekati. Jadi, terhadap masa depan yang tak pasti, kita juga tidak perlu melekat. Kesembilan adalah kekosongan tertinggi. Selain tak perlu melekati masa lalu, masa kini, dan masa depan, bahkan Dharma adiduniawi yang tertinggi pun tidak bisa kita lekati. Kita semua berpikir untuk mencapai kondisi adiduniawi yang sesungguhnya tak perlu dikejar. Yang penting lakukan saja. Ada orang yang berkata ingin melafalkan nama Buddha agar terlahir di Sukhavati. Sukhavati berada jauh dari Dunia Saha ini.

Namun, jika Anda tulus melafalkan nama Buddha, maka batin Anda saat ini juga menjadi Tanah Suci. Jadi, Anda tidak perlu mengejar atau melekati sesuatu di masa depan. Yang terpenting batin kita saat ini telah menyadari kekosongan perasaan, kondisi, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Inilah yang kesembilan, yaitu kekosongan tertinggi. Dharma adiduniawi juga kosong. Untuk dapat benar-benar mencapai pembebasan, kita harus menyadari kekosongan segala Dharma. Kita tidak boleh melekat. Kesepuluh adalah kekosongan dari kekosongan. Artinya, konsep kekosongan sendiri adalah kosong. Berhubung semuanya adalah kosong, maka kekosongan sendiri juga kosong. Bahkan, kekosongan sendiri pun tidak ada. Bahkan, kekosongan sendiri pun tidak ada. Bahkan, kekosongan sendiri pun tidak ada. Kesebelas adalah kekosongan agung. Kekosongan agung adalah kekosongan dari segalanya, termasuk pikiran. Ada orang berkata, “Pikiran saya kini kosong.” Kekosongan ini adalah kerisauan makhluk awam, di mana ingatan seseorang hilang sehingga segalanya terasa hampa. Sebaliknya, kekosongan yang kita bahas ini sangatlah cemerlang. Namun, pikiran juga tak melekat pada kekosongan ini. Jadi, yang kesebelas adalah kekosongan agung, yaitu kondisi yang hening dan jernih. Keheningan dan kejernihan ini sangatlah luas. Namun, di balik itu ada satu eksistensi ajaib, yaitu tekad yang luas dan luhur. Inilah hati Bodhisattva yang harus kita jaga dalam berlatih ajaran Buddha. Kita bertekad untuk mencapai kebuddhaan lewat praktik Jalan Bodhisattva. Pikiran kita kosong dari keduniawian, tetapi tetap cemerlang. Kita bukan hilang ingatan. Kosong bukan berarti hilang ingatan, melainkan suatu kejernihan dan kecemerlangan. Kita tidak melekat pada kondisi yang mencemari batin kita. Inilah yang disebut kekosongan absolut tanpa objek luar. Segala kondisi ini berawal dari hakikat kebuddhaan kita yang murni. Ini disebut kekosongan absolut tanpa objek luar. Semuanya hanya bergantung pada hakikat sejati kita yang murni. Jika batin kita bisa hening dan jernih, maka kondisi luar tidak akan mengganggu kita. Dengan kekosongan ini, kita mencapai pembebasan sejati. Artinya, segala sesuatu di dunia ini, baik masa lalu, masa kini, masa depan, duniawi, maupun adiduniawi, dapat kita pahami secara menyeluruh. Dengan begitu, kita memperoleh kedamaian batin. Batin kita damai tanpa beban. Inilah tingkat pelatihan diri tertinggi. Jadi, baik perasaan, kondisi internal, eksternal, masa lalu, masa kini, masa depan, maupun lainnya, semua dapat kita hadapi dengan damai. Jadi, Buddha memberi tahu para murid-Nya bahwa Bodhisattva mencapai empat praktik murni. Pertama adalah kemurnian sila. Ini adalah praktik ketanpaakuan. Jika kita menjalankan semuanya tanpa keakuan, Jika kita menjalankan semuanya tanpa keakuan, maka sila kita akan murni. Inilah kemurnian sila, didasari oleh pandangan tanpa aku, tanpa konsep makhluk hidup, tanpa konsep jiwa, dll.

Dengan demikian, sila kita akan murni. Kedua adalah kemurnian samadhi. Samadhi adalah keteguhan pikiran. Berhubung bebas dari konsep makhluk hidup, kita tidak membedakan individu. Sesungguhnya, kita harus melatih kesetaraan. Apa pun wujud dan ciri makhluk hidup itu, kita harus menghormatinya. Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Inilah kebijaksanaan Bodhisattva yang memandang semua makhluk dengan setara. Berikutnya adalah kemurnian pengetahuan tentang pembebasan. Tiada pembedaan diri sendiri dan orang lain. Inilah yang harus dimiliki Bodhisattva. Jadi, yang pertama adalah sila, kedua adalah samadhi, ketiga adalah kebijaksanaan, dan keempat adalah pengetahuan tentang pembebasan. Dahulu kita pernah membahas lima bagian tubuh Dharma. Pembebasan adalah salah satunya. Selain itu, seperti yang dibahas di sini, ada pengetahuan tentang pembebasan. Ingat? Yang dibahas di sini adalah kemurnian pengetahuan tentang pembebasan. Berhubung sudah mencapai pembebasan, tentu pengetahuannya tentang pembebasan juga murni. Dengan demikian, berarti tubuh dan batin kita murni. Inilah kondisi yang harus dicapai Bodhisattva. Selain itu, sebelas kecenderungan umum, dua belas pintu masuk, dan delapan belas elemen membawa noda batin dalam keseharian kita saat indra kita bersentuhan dengan kondisi luar. Jadi, sebelas kecenderungan ini merangsang pikiran kita. Karena itu, Buddha membimbing kita untuk melenyapkan sebelas kecenderungan umum ini dan mencapai sebelas kekosongan. Jadi, mengenai kekosongan ini, inti yang ingin disampaikan adalah kita tak boleh lepas dari empat praktik murni. Empat praktik murni adalah praktik untuk kembali pada kekosongan atau kemurnian tanpa noda dan kondisi tanpa pembedaan. Inilah kemurnian batin. Jadi, empat praktik murni adalah jalan bagi pencapaian Bodhisattva. Saudara sekalian, tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah mengubah pola pikir. Saat pola pikir berubah, roda Dharma akan berputar. Jadi, setiap hari saya berbagi dengan kalian berulang-ulang, semua tak lepas dari pikiran. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888