Sanubari Teduh-316-Delapan Angin Duniawi
Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya percaya bahwa kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Jika Anda tidak yakin akan hal ini, Anda tak akan bisa melatih diri. Jadi, kita semua harus tahu bahwa hakikat kebuddhaan dimiliki semua orang. Oleh karena itu, hati kita harus senantiasa memiliki kelapangan. Kita sering mengatakan kalimat lapangkan hati hingga seluas jagat raya. Hati Buddha melingkupi seluruh alam semesta. Hati Buddha melingkupi seluruh alam semesta. Hati yang lapang dapat merangkul seluruh dunia. Jadi, dalam melatih diri, kita harus melapangkan hati kita. Kelapangan ini dapat melingkupi seluruh alam. Apakah kita bisa mewujudkannya? Bisa. Kita harus bersemangat di dalam kebajikan. Segala kebajikan, jika terus kita jalankan dengan bersemangat, dengan sendirinya segala hal akan dapat kita lihat dan pahami dengan jelas. Jika kita dapat melihat segala haldengan lebih terbuka, maka kita akan mampu bersabar, yaitu bersabar atas segala godaan kejahatan. Jadi, sepatah kata “kelapangan” saja begitu bermanfaat untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, di dalam teks dikatakan, Ini dengan jelas memberi tahu kita bahwa jika ada kejahatan yang menutupi batin, noda batin intoleransi akan muncul dan menyebabkan hati kita tak dapat bersabar. dan menyebabkan hati kita tak dapat bersabar. Ini karena kita diliputi kejahatan.
Noda batin ini banyak sekali. Niat jahat pun terus muncul. Ini disebabkan oleh ketidaksabaran. Jika kita dapat berlapang dada dalam setiap hal, maka saat bertemu apa pun, baik manusia, manusia, dan hal lainnya, baik manusia, manusia, dan hal lainnya, kita akan bisa bersabar. Kesabaran adalah tanda kelapangan hati. Dengan begitu, apa lagi yang kita risaukan? Tidak ada lagi. Berikutnya adalah kemalasan dan kelambanan. Kelambanan berarti lambat dalam segala hal. Ini diakibatkan oleh kemalasan. Segalanya dilakukan dengan lambat. Kemalasan akan membawa kemunduran. Ketidaksabaran juga dapat menyebabkan ketidaktekunan. Manusia seperti ini tidak berpikir untuk segera memperbaiki jika ada kesalahan. Meski tahu, mereka akan berkata,”Pelan-pelan saja.” “Ini bukan apa-apa, hanya sedikit.” “Ini hanya sedikit, maka tak perlu cepat-cepat.” Karena itu, sering dikatakan, “Kesalahan besar mudah diperbaiki, tetapi kesalahan kecil sulit dihentikan.” Beginilah makhluk awam. Kita sering berkata, “Jangan meremehkan kebajikan kecil,lalu tidak melakukannya.” “Jangan pula meremehkan kejahatan kecil,lalu melakukannya.” Jika kita ingin menyucikan batin kita, jika kita ingin meningkatkan semangat, maka kebajikan sekecil apa pun tidak semestinya kita abaikan. Semuanya harus segera kita lakukan. Melihat orang membawa ember berat berisi air, kita membantu mengangkatnya. Meski perbuatan ini hanya meringankan sedikit bebannya, tetapi kebajikan kecil seperti ini juga haruskita lakukan dengan semangat. “Bagian saya sudah selesai saya sapu bersih, bagianmu belum selesai, mari saya bantu.” Kebajikan kecil seperti ini, jika kita lakukan dengan giat,juga merupakan kebajikan. Jadi, apakah berbuat baik begitu sulit? Jangalah meremehkan kebajikan kecil,lalu enggan melakukannya.
Kita tega melihat orang mengangkat beban berat dan kita hanya berdiam diri. Meski ini bukanlah kejahatan besar, tetapi rasa tega terhadap kesulitan orang lain yang mengangkat beban berat dengan susah payah dengan susah payah juga merupakan noda batin. Kita harus memiliki empati. Jika kita memiliki rasa empati, barulah noda batin tidak akan muncul. Jika kita tega melihat orang yang kesusahandan tidak membantu, ini juga termasuk noda batin. Ini termasuk noda batin intoleransi. Jika demikian, apakah berarti tidak tega terhadap orang lain termasuk noda batin? Bukan. Justru noda batin ada karena kita tega. Saat melihat orang yang menderita, kita harus membangkitkan ketidaktegaan. Jika di dalam batin kita ada rasa tidak tega, kita tidak akan membiarkannya menderita. Kita manusia kadang juga memiliki cara pandang atau dengar yang salah. Noda batin intoleransi di sini adalah kurangnya rasa empati. Jika kita kekurangan rasa empati dan merasa tega saat orang menderita dan merasa tega saat orang menderita atau berbuat jahat dan membuatorang lain menderita, maka ini disebut noda batin intoleransi. Jika kekurangan empati, kita akan menciptakan banyak noda batin. Mungkin saja kelak kita baru menyesal. “Kalau saja saya tadi membantunya, mungkin akan mengurangi bebannya sedikit.” “Hati saya juga mungkin akan lebih tenang.” Ini juga membawa penyesalan. Namun, segala yang berlalu sulit untuk diulang kembali.
Kadang kita enggan melakukan kebaikan kecil, tetapi setelah kesempatan berlalu, kita baru ingin melakukannya dan sudah terlambat. Sedikit kejahatan, seperti membiarkan orang mengalami kesulitan, jika ingin kita tebus di kemudian hari, adakalanya tidak ada kesempatan. Karena itu, kita harus senantiasa bersemangat dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan harus terus dipupuk, bahkan dari hal kecil sekalipun. Kejahatan harus senantiasa kita waspadai. Jangan sampai ia menutupi batin kita. Batin yang diliputi kejahatanakan memiliki noda batin intoleransi. Noda batin ini akan meliputi batin kita. Kita harus sangat hati-hati, terutama terhadap kemalasan dan kelambanan. Ini adalah noda batin ketidaktekunan. Kita harus sangat giat dan tekun. Dengan demikian, setelah pekerjaan kita sendiri selesai, saat kita melihat orang lain yang belum selesai dan agak lambat, kita bisa membantunya untuk segera menyelesaikan tugas. Ini juga termasuk ketekunan. Jika kita tekun dan giat membantu, orang lain akan berterima kasih. Batin kita pun akan damai. Jadi, kemalasan dan kelambanan adalah noda batin ketidaktekunan. Meski hanya sedikit kebajikan kecil, tetap harus segera kita lakukan. Jadi, adakalanya niat sangat halus, tetapi begitu terwujud ke dalam tindakan, dapat menjadi sangat kasar dan membuat orang yang melihatnya berkata, “Kamu sungguh tidak punya welas asih.” “Kamu sungguh tidak punya ketekunan.” Orang akan melihat segala tabiat buruk dan noda batin intoleransi kita.
Semua ini menutupi batin kita. Ini juga termasuk kejahatan. Inilah noda batin intoleransi. Jika kita malas dan lamban Jika kita malas dan lamban serta tidak melakukan segera yang seharusnya dilakukan, ini disebut noda batin ketidaktekunan. Jadi, Saudara sekalian, batin kita harus selalu dibina. Sedikit saja kita melakukan kesalahan, berbagai noda batin akan terpupuk dalam batin. Semua hendaknya mendengar dengan saksama. Saat kita berlatih meditasi, berarti kita sedang berlatih untuk memiliki batin yang hening dan jernihserta tekad yang luas dan luhur. Kondisi batin seperti ini sama dengan samadhi. Kita tetap teguh tak tergoyahkandalam masa tak terhingga. Inilah meditasi. “Memikul kayu dan mengangkat air,semuanya adalah meditasi.” “Minum dan makan, semua merupakan meditasi.” Begitulah kita melatih meditasi. Pikiran kita harus teguh. Inilah yang harus kita latih. Namun, batin kita juga bisa penuh keraguan. Namun, batin kita juga bisa penuh keraguan. Dari Lima Kecenderungan Tumpul, keraguan adalah salah satunya. Kita punya banyak keraguan terhadap kondisi luar. Jika kita memiliki noda batinkeraguan atau kecurigaan, akan mudah mengalami depresi dan gangguan mental lainnya. Jadi, hati kita harus terbuka dan lapang. Janganlah mudah curiga terhadap orang lain. Janganlah mudah curiga terhadap orang lain. Berikutnya adalah kegelisahan yang bermuladari lemahnya kesadaran. Kondisi batin seperti ini amat sendu. Kondisi batin seperti ini amat sendu.
Sulit untuk membangkitkan kekuatan semangat dalam batin seperti ini. Yang ada hanyalah keraguan. Apa pun enggan dilakukan. Noda batin ini memiliki jenis yang lain lagi, yaitu apa pun tidak dipertimbangkan, melainkan langsung dilakukan. Dia tidak peduli apakah benar atau salah. Jika melakukan hal yang salah,berarti kita bersalah. Meski saat bertemu suatu hal, kita ingin segera menyelesaikannya, tetapi kita juga harus punya pertimbangan. Jadi, kita harus bisa membedakan. Hal yang benar harus kita lakukan dengan semangat. harus kita lakukan dengan semangat. Meski hanya kebajikan kecil, kita juga harus segera melakukannya. Hal yang salah tidak boleh kita lakukan. Hal yang tak benar tak boleh dilakukan. Namun, orang yang gelisah, pikirannya tidak dapat tenang barang sebentar. “Mengapa kita tidak boleh melakukannya?” “Jika kalian tidak mau, biar saya saja.” Jika melakukan hal yang salah, maka hasilnya juga pasti salah. Menyesal pun tidak berguna. Banyak warga masyarakatyang mudah terprovokasi. Mereka tak dapat membedakanyang benar dan tidak benar. Jika sampai melakukan sesuatu yang salah, penyesalan bukan hanya ada seumur hidup, mungkin hingga ke banyak kehidupan berikutnya. Jika sudah begini, sulit untuk tertolong. Suatu hal yang tak boleh dilakukan, malah dilakukan. Di dunia ini, salah satu yang dikhawatirkan adalah bencana alam. Di mana bencana alam bisa terjadi? Di dalam kehidupan sehari-hari, saat terjadi ketidakselarasan unsur air, suplai air dapat terputus. Sulit untuk beraktivitas tanpa air. Saat membahas air, kadang kita bisa teringat kondisi di suatu daerah di Gansu. Di sana, setetes air pun sulit didapat. Kehidupan di sana sangat sulit.
Selain itu, seperti di Mongolia atau di Dataran Tinggi Qinghai, dalam seumur hidup orang hanya mandi tiga kali, yaitu saat dilahirkan, saat menikah, dan saat meninggal. Sulit bagi mereka untuk bisa mandi, Sulit bagi mereka untuk bisa mandi, terlebih lagi untuk bercocok tanam dan menghasilkan bahan pangan. Banyak penderitaan dalam kehidupan di sana, seperti kesulitan mendapat sumber air. Di dalam kehidupan kita, ini tentu tidak menjadi kesulitan. Kita hanya cukup membuka keran dan air akan mengalir keluar. Saudara sekalian, apakah kehidupan seperti ini bertahan lama? Jika kita tidak menjaga sumber air dan tanah, bahkan merusaknya, maka jika sumber air terputus, untuk memulihkannya kita membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jika sumber air dari alam ini terputus selama ribuan tahun, maka i ingin menebusnya setelah 10 kehidupan puntidak akan keburu. Yang terkena dampak bencana bukan hanyasegelintir orang, melainkan banyak orang. Intinya, saat kita melakukan sesuatu, meski hanya sebuah kesalahan kecil, mungkin dapat membawa dampak besarseperti putusnya sumber air sehingga membawa bencana bagi banyak orang. Ini sangat berbahaya. Jadi, saat kita terbuai kondisi luarsehingga diliputi ketidaktahuan dan bertindak gegabah serta tidak dapat membedakan benar salah, serta tidak dapat membedakan benar salah, inilah yang disebut lemahnya kesadaran. Ini adalah noda batin di dalam pikiran. Berikutnya adalah terbuai oleh kondisi luar. Artinya, saat menghadapi kondisi luar, adakalanya kita terbuai dan gelap batin sehingga tidak memahami kebenaran. Meski tahu bahwa sesuatu itu salah, saat orang lain menasihati bahwa kita telah melakukan kesalahan, kita tetap tidak sadar.
Setelah kita melakukan kesalahan, orang-orang di sekitar kita tahudan menasihati kita, tetapi kita sudah terlanjur melakukannya. “Saya sudah membuat keputusan untuk melakukannya.” Bagaimana pun dinasihati, kita tetap tidak sadar. Kita tidak mau membebaskan diri sendiri. Kita tidak mau menolong diri sendiri. Meski sudah jelas-jelas salah, tetapi kita tetap bersikeras dan tidak sadar. Inilah yang disebut terbuai kondisi luar. Saat menghadapi kondisi itu, sesungguhnya kita masih dapatmenyelamatkan diri dan segera berubah, tetapi kita tidak mau. Kita menganggap bahwa berhubung kita telah membuat keputusan, jika tidak dijalankan, kita akan kehilangan muka. Meski di dalam hati kita menyesal, tetapi kita tetap melakukan rencana kita. Inilah yang disebut terbuai kondisi luar. Manusia seperti ini sulit untuk disadarkan. Manusia seperti ini sulit untuk disadarkan. Ini disebut ketidaktahuan. Inilah noda batin akibat ketidaktahuan. Inilah noda batin akibat ketidaktahuan. Ketidaktahuan ini sungguh memprihatinkan.
“Mengikuti Delapan Angin Duniawi,membangkitkan noda batin diskriminasi.” Apa yang dimaksud Delapan Angin Duniawi? Kehidupan di dunia ini tak lepas dari 8 hal ini. Ini disebut delapan jenis angin duniawi yang menggoyahkan batin kita. Salah satunya adalah untung. Keuntungan bisa membuat manusia tersesat. Yang kita semua khawatirkan saat ini adalah orang yang memiliki kuasa. Jika orang yang berkuasa melakukan penyimpangan, maka setiap langkahnya akan salah dan akan membawa derita bagi orang banyak. Ini sungguh mengkhawatirkan. Kekuasaan yang besar dapat membuat orang terbuai dan tidak sadar. Mencari keuntungan seperti inijuga dapat membawa penderitaan, bukan hanya karena diri sendiri akan banyak dihujat orang, tetapi juga dapat membawa kerugian dan penderitaan bagi orang banyak di dunia. dan penderitaan bagi orang banyak di dunia. Inilah keuntungan.
Apakah kejayaan, keuntungan, dan kuasa dapat bertahan selamanya? Tidak juga. Tiada yang tahu usia kehidupan orang. Tiada yang tahu usia kehidupan orang. Hanya karena sebuah kesalahan, apa yang bisa diakibatkan? Kerugian. Reputasi dan keuntungan adakalanya tenggelam. Pada saat itu, manusia juga akan menderita. Berikutnya adalah dicela. Akibat keputusan seseorang, ekonomi bisa mengalami kejatuhan. Bukan hanya itu, sumber daya alam penopang hidup, seperti air dan pangan juga bisa rusak. Orang yang memiliki kuasa besar dapat membawa kerugiandan kerusakan bagi masyarakat. Di sini kita melihat bahwa kondisi untung, rugi, ataupun dicela bergantung pada bagaimana seseorangmenggunakan kuasanya. Ada orang yang dipuji karena membawa manfaat bagi rakyat. Dia akan dipuji dan dihormati orang, tetapi mungkin juga dihina, dicela, dan sebagainya. dicela, dan sebagainya. Saat itu kita mungkin akan merasa sedih. Saat mendapat untung, dipuji, atau dihormati, manusia akan bahagia. Saat memiliki kuasa, dia dapat melakukan apa saja sesuai kehendaknya, tetapi di belakangnya ada banyak orang yang mencelanya. Namun, dia tidak merasakannya. Dia tidak menyadarinya.
Inilah kegelapan batin. Kondisi terbuai dan tak sadar akibat kondisi luar ini adalah noda batin. Di sini kita membahas Delapan Angin Duniawi. Apakah benar ada delapan? Untung, rugi, dicela, dihormati, dipuji, dihina, menderita, dan bahagia. Apakah benar ada delapan? Semua ini berkaitan dengan perbuatan manusia. Saat manusia memiliki kekuasaan, mereka cenderung ingin terus bersaing. Manusia hendaknya berhati-hati. Jika lengah sedikit, saat Delapan Angin Duniawi bertiup sedikit, batin kita akan goyah. Ini akan membawa penderitaan. Kita pada dasarnya harus melatih Dhyana. Artinya, kita harus memiliki batin yang hening dan jernihserta tekad yang luas dan luhur. Ini sama dengan hati yang lapang dan tenang. Setelah memilih hal baik untuk dilakukan, kita melakukannya dengan penuh semangat. Dengan demikian, 8 angin tadi tak akan bisa menggoyahkan kita. Manusia sering goyah akibat 8 hal ini. Delapan hal ini adalah hal yang disukai dan dibenci manusia. Demi kekuasaan, demi nama, demi keuntungan, orang-orang bersaing dan bertikai. Demi mendapat kehormatan, orang-orang menghalalkan segala cara. Kesenangan seperti ini tanpa disadari akan membawa kerugian, kehancuran, celaan, dan derita di kemudian hari. Manusia tidak menyadarinya. Semua ini membuat batin kita di dunia sering kali bergejolak, baik karena rasa cinta maupun benci. Semua tak lepas dari delapan hal tadi. Semua ini dapat mengaduk batin manusia.
Semua ini dapat mengaduk batin manusia. Demi mengejar keuntungan, manusia bertindak gegabah tanpa terkendali. Delapan hal ini ada dalam keseharian kita. Semua orang dapat melakukannya. Begitu kita tidak hati-hati, delapan hal ini dapat mengganggu batin kita dan kita akan mudah melakukan kesalahan. Karena itu, ia disebut Delapan Angin Duniawi. Saudara sekalian, delapan hal ini dapat membuat kitamelakukan kesalahan dengan mudah. Kita semua hendaknya sungguh-sungguh menjaga pikiran dengan baik. Jangan biarkan delapan hal ini mengganggu batin kita. Jika batin kita diliputi oleh delapan hal ini, maka noda batin intoleransi akan timbul. Karena kurangnya rasa empati, kita dapat melakukan halyang membawa penyesalan. Ada pula kemalasan dan ketidaksabaran. Semua noda batin ini sangat kasar. Ini akan terlihat jelas oleh orang lain. Keraguan dan kecurigaanjuga membawa pemikiran salah.
Ada pula noda batin lemahnya kesadaran atau ketidaktahuan. Jika kita terus seperti ini, maka akan mudah goyah oleh Delapan Angin dan terjebak di dalam cinta dan benci. Ini sungguh membawa penderitaan. Jadi, kita semua harus selalu yakin terhadap hakikat kebuddhaan kita. Hati kita semua harus memiliki kelapangan. Kita harus bersemangat di dalam kebajikan dan bersabar atas godaan keburukan. Jangan mudah tergoda oleh orang lain. Jika terbuai oleh orang lain untuk semata-mata mengejar keuntungan, maka kita akan membawa penyesalan untuk ribuan kehidupan. Penderitaan ini bahkan tidak akan habis meski kita sudah terlahir di neraka. Sekembalinya ke alam manusia, kita masih akan tetap mengalami penderitaan. Segala benih yang kita tanam saat ini akan menjadi buah bagi masa depan. Kita harus waspada akan hal ini. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.