Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-317-Kemelekatan Terhadap Wujud

Saudara se-Dharma sekalian, setiap praktisi Buddhis harus melatih ketulusan,kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan hati serta mempraktikkan cinta kasih, welas asih,sukacita, dan keseimbangan batin. Hati yang lurus merupakan ladang pelatihan. Ia membuat kita bebas dari noda batin. Kesederhanaan merupakan hal terindah. Kita harus memiliki niat yang benar dan bajik. Inilah kondisi batin yang harus dimiliki oleh praktisi. Kita harus senantiasa mempertahankan keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran. Jika dalam melatih diri kita kurang ketulusan dan kebenaran di dalam hati, jika kita tidak sungguh-sungguh melatih diri, pantaskah kita disebut sebagai praktisi? Karena itu, kita semua harus melatih keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran. Dengan memiliki keyakinan, kesungguhan,ketulusan, dan kebenaran di dalam hati, maka secara alami kita dapat mempraktikkan cinta kasih,welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Kita berharap hubungan antarmanusia dan hubungan dengan segala sesuatu di alam semesta dapat harmonis.

 Kita berharap cuaca dapat bersahabat dan kehidupan rakyat dapat aman dan tenteram. Kita berharap setiap orang dapat hidupaman, tenteram, dan bahagia. Saat melihat orang yang hidup kekurangan  dan menderita, kita merasa tidak tega dan ingin mengulurkan tangan untuk membantu mereka. Lihatlah, bukankah ini praktik cinta kasih, welas asih,sukacita, dan keseimbangan batin di dalam kehidupan sehari-hari kita? di dalam kehidupan sehari-hari kita? Ini yang disebut pelatihan ke dalam dan praktik ke luar. Pikiran dalam hati harus lurus. Setiap tempat merupakan tempat pelatihan diri bagi kita. Setiap pagi, saat berada di sini untuk melantunkan Sutra  dan bermeditasi, itu berarti kita tengah melatih diri. Saat berada di luar,  baik di dapur maupun di ladang, kita juga tengah melatih diri. Karena itu, kita harus selalu memiliki hati yang tulus. Di mana pun berada, kita harus mengembangkan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhanserta mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. sukacita, dan keseimbangan batin. Dengan begitu, maka hati kita akan bebas dari noda batin. Jika hati setiap orang dapat demikian sederhana, maka inilah kondisi batin yang terindah. Jadi, kita harus senantiasa memilikiniat yang benar dan bajik.

 Kita harus melatih kebenaran dan mempraktikkan kebenaran. Dengan begitu, maka akan tercipta kondisiyang sangat indah. Penggalan Sutra senantiasa mengingatkan kita untuk memiliki hati yang lurus.  “Menjilat dan mencari muka” berarti jika hati tidak lurus,  maka sikap kita akan penuh kepalsuan. Artinya, kita memberi pujian secara membabi buta, tak peduli orang itu benar ataupun salah. Tujuannya adalah demi menyenangkan orang tersebut. Ini disebut mencari muka atau juga disebut menjilat. Di hadapan orang, kita berpura-pura baikterhadap semua orang. Orang yang suka mencari muka adalah orang yang  pikirannya tidak lurus. Demi disenangi orang, mereka sering menyanjung-nyanjung di hadapan orang. mereka sering menyanjung-nyanjung di hadapan orang. Orang seperti ini disebut  orang licik. Mereka berpura-pura rajin untuk mencari muka. Di depan orang, mereka sangat rajin agar disukai orang lain.

 Mereka berpura-pura rajin dan menyanjung-nyanjung. Di depan orang, mereka terlihat rajin, di belakang mereka meremehkan orang. Di hadapan seseorang, kita terus memberi pujian, tetapi di belakang, kita malah merendahkannya. Hati orang seperti ini tidak lurus. Hati orang seperti ini tidak lurus. Orang seperti ini penuh dengan dengan noda batin. Ini disebut noda batin ketidaklurusan. Hati yang lurus merupakan ladang pelatihan. Ada orang yang sikapnya berbeda saat di depan dan di belakang orang. Ada orang bertanya, “Tadi Anda begitu memujinya “Tadi Anda begitu memujinya dan menghormatinya.” “Mengapa sekarang Anda malah mengatakan begitu banyak kekurangannya dan bahkan merendahkannya?” “Mengapa Anda demikian?” Kita hendaknya tahu bahwa ini adalah noda batin akibat pikiran yang tidak lurus. Saat ada orang menanyakan hal ini, maka mulai timbul noda batin di dalam hati kita.

 Jadi, baik di depan maupun di belakang orang,sikap kita haruslah sama. Jika seseorang patut menerima rasa hormat dan pujian dari kita, maka baik di depan maupun di belakangnya, sikap dan hati kita haruslah lurus. Saat mendengar orang lain membicarakan keburukannya, kita hendaknya membelanya dengan berkata, “Tidak.” “Biasanya dia tak begitu.” “Dia tak seperti yang Anda katakan.” “Meski sangat cermat dan teratur, tetapi yang dilakukannya adalah benar.” Jika kita dapat membantunya memberi penjelasan, ini juga merupakan hati yang lurus. Jika kita memberi pujian di depan, tetapi malah menjelekkannya di belakang, maka ini tidaklah benar. Jika demikian, orang lain juga akan mengkritik kita di belakang dan berkata bahwa hati kita tidak lurus. Orang lain juga akan mengkritik bahwa kita memuji orang di depan, tetapi malah menjelekkan orang di belakang. Jika kita demikian, maka ini adalah noda batin ketidaklurusan hati. Ini akan membuat kita diremehkan oleh orang lain. Ini disebut noda batin. Berikutnya adalah “kasar dan cepat marah”.

 Ada pula orang yang tidak picik. Mereka tidak bermuka dua, tetapi mereka sangat keras dan bertemperamen buruk. Saat ada orang berbuat keliru, mereka langsung menegur. Mereka sama sekali tidak bisa bertoleransi. Mereka sangat keras, dominan, dan kasar. Dalam menghadapi sesama,kita hendaknya bersikap lemah lembut. Meski orang tersebut melakukan kesalahan, kita juga harus menggunakan metode terampil untuk membimbing. Lihatlah, Buddha juga menggunakan berbagai cara untuk membimbing semua makhluk. untuk membimbing semua makhluk. Meski seseorang berbuat keliru, kita tetap harus dapat membedakan yang baik dan buruk. Terhadap orang baik, kita harus memberi pujian. Terhadap orang jahat, kita harus menggunakan cara untuk perlahan-lahan membimbing mereka. Janganlah kita bersikap kasar. Akibat sikap yang kasar dan temperamen buruk ini, saat ada orang mengingatkan tentang kekeliruan kita, tentang kekeliruan kita, kita pun menunjukkan sikap marah dan benci. Ini tidak benar. Ini disebut noda batin ketidakselarasan. Mengapa kita tidak dapat lebih bersabar? Meski melihat orang bersikap tidak baik dan munafik sehingga membuat kita sangat marah, kita juga tidak perlu bersikap kasar di hadapan orang lain. Saat ada orang menasihati kita, kita juga jangan menimbulkan ketidakharmonisan. Lihatlah, satu orang saja sudah bisa membawa masalah, apalagi dua orang, bahkan tiga orang. Kondisinya bisa sangat kacau.

 Lalu bagaimana? Sungguh, kita harus melatih diri di tengah umat manusia. Di tengah umat manusia, kita hendaknya menyesuaikan diri dengan baik. Di tengah umat manusia, jika ada satu orang yang menyebabkan ketidakselarasan, maka akan memicu orang kedua menciptakan masalah di belakang, memicu  kekerasan orang ketiga, dan membuat orang keempat menciptakan konflik. Jika demikian, maka akan sangat merepotkan. Jadi, kita harus melatih diriagar bersikap lembut dan selaras. Janganlah kita membawa ketidakharmonisan. Pertama, kita tidak perlu mencari muka. Kita tidak perlu sengaja memuji-muji orang di depan, lalu menjelekkannya di belakang. Kita tidak perlu demikian. Kita juga tidak perlu naik pitam akibat perkataan orang atau bersikap kasar karena jika demikian,tidak ada orang yang berani menasihati kita. Saat orang memberi nasihat, maka akan tercipta suasana yang tidak harmonis. Jika demikan, maka sangat repot. Karena itu, kita hendaknya menyelaraskan pikiran. Kita semua hidup di tengah masyarakat, bukan hanya di vihara.

 Dalam kehidupan di masyarakat, setiap orang hendaknya berinteraksi dengan harmonis. Kita harus senantiasa menjaga keselarasan pikiran agar kehidupan masyarakat dapat harmonis. Ini semua bergantung pada pola pikir kita. Jika kita mudah membangkitkan amarah terhadap segala sesuatu, baik terhadap masyarakat, terhadap komunitas, maupun terhadap individu, maka kita akan selalu merasa tidak gembira. Apa pun yang terjadi, kita merasa tidak gembira. Saat ada orang baik terhadap kita, kita juga tak merasa gembira. Saat ada orang membujuk kita dengan bersungguh hati, kita juga tak gembira dan lain-lain. Jika kita sering merasa marah, maka kita harus sangat berhati-hati karena ini mungkin adalah awal kita memiliki penyakit batin. Jika tidak, mengapa saat melihat segala sesuatu, kita sangat mudah membangkitkan rasa marah dan tidak gembira? Mengapa saat mendengar segala sesuatu, kita tidak merasa gembira? Saat melihat orang berbuat baik, kita berpikir orang itu sedang menjilat dan berpura-pura baik. Saat melihat orang lain baik terhadap sesama, kita tidak merasa gembira. Saat melihat orang lain tidak baik terhadap sesama dan sedang dinasihati, kita juga merasa tidak gembira.

 Orang seperti ini selalumenyimpan rasa benci di dalam hati. Pikiran yang penuh rasa benci ini merupakan noda batin. Manusia menjadi mudah marah dan sulit berbahagia. Dengan hati yang penuh rasa marah, kita tak dapat merasa gembira. Karena itu, kita harus lebih berlapang dada. Kita harus melapangkan hati dan berpikiran murni agar tidak mudah merasa marah dan tidak dapat tenang. Hal yang tidak ada hubungan dengan kita juga sering membuat pikiran kita bergejolak dan membuat kita tidak gembira. Saat tidak gembira, kita merasa menderita. Ini yang disebut noda batin kebencian. Apa pun yang terjadi, kita selalu merasa benci. Hati orang seperti ini dipenuhi rasa benci. Hati orang seperti ini dipenuhi rasa benci. Ini merupakan penyakit batin. Selain itu, kita juga mudah merasa iri pada orang lain. Iri hati membangkitkan noda batin kekejaman. Kita harus merenungkan hal ini. Saat melihat orang suci, kita harus membangkitkan hati penuh rasa hormat. Bukankah saya sering berkata bahwa di antara tiga orang pasti ada yang merupakan guru kita? Kita harus meneladani orang-orang yang baik.

 Saat bertemu orang bajik dan baik, kita harus membangkitkan rasa hormat. Kita harus meneladani mereka dan membangkitkan rasa hormat. Saat melihat orang yang berkemampuan, adakalanya kita mulai membangkitkan rasa iri. Kita mungkin merasa iri terhadap suciwan. Saat melihat orang berkemampuan baik, kita juga merasa iri. Selain itu, kita juga memikirkan bagaimana cara untuk menjatuhkan mereka. Ini adalah kedengkian. Saat melihat orang yang berparas cantik, kita sering berkata, “Dia tidak seberapa cantik.” “Saya tidak berbeda jauh dengannya.” “Mengapa kalian tidak memuji saya?” “Mengapa kalian hanya memujinya?” “Seberapa pandai dirinya?” “Saya juga tidak kalah dengannya.” “Saya juga tidak kalah dengannya.” “Mengapa kamu tidak menyanjung saya?” “Mengapa kamu tidak belajar dari saya?” “Mengapa kamu tidak mengikuti jejak saya?” Rasa iri seperti ini mudah membuat kita berpikir untuk menjatuhkan orang. Sikap menjatuhkan orang dan melukai orang adalah tidak benar. Begitulah orang yang dengki dan iri. Ini karena pikirannya tidak selaras.

 Noda batin ini juga mendatangkan penderitaan. Mereka melakukan kekeliruankarena enggan menerima nasihat. Orang seperti ini selalu merasa benar, kasar, bertemperamen buruk, dan enggan menjalankan sila. Meski kita berusaha menasihati dan membimbingnya, tetapi semua itu sangat sulit. Orang yang enggan menjalankan sila seperti ini sangatlah keras kepala. Saat Buddha akan memasuki parinirvana, Ananda bertanya kepada Buddha, “Di dalam kelompok Sangha, ada orang yang enggan menjalankan sila, bagaimana cara kami membimbingnya?” “Saat Buddha masih hidup, mereka sudah enggan menaati sila, enggan menerima nasihat dan ajaran.” “Bagaimana cara kami menghadapi orang seperti ini?” Buddha juga sangat tidak berdaya. Beliau berkata, “Biarkan saja mereka.” “Kalian berusahalah untuk membimbing mereka, tetapi jika mereka enggan menerimanya, maka biarkan saja mereka.” Buddha juga sering berkata bahwakita tak dapat membimbing orang yang tak berjodoh. Terhadap orang-orang yang tidak berjodoh dan tidak memiliki jalinan jodoh baik, tak peduli bagaimana pun kita membimbing mereka, tetap tidak akan berhasil. Inilah yang Buddha alami semasa hidup saat membimbing Sangha. Di dalam kelompok Sangha juga ada orang yang tak dapat dibimbing dan enggan menerima sila. Penggalan berikutnya berbunyi, Orang yang membawa ancaman dan berbahaya sangat berkemampuan dan tidak ragu-ragu untuk menunjukkan sifatnya.

 Mereka sangat galak dan kejam. Di dalam masyarakat kita juga ada orang seperti ini. Saat ada orang kesulitan menagih utang, mereka akan berkata, “Mengapa kamu begitu bodoh?” “Biar saya yang menagihnya.” Mereka bersedia membunuh orang demi menagih utang. Hal seperti ini pernah terjadi di masyarakat. “Mengapa kamu ditindas olehnya?” “Saya akan membalasnya untukmu.” Tindakan yang keras dan kejam inipernah terjadi di masyarakat. Buddha juga sangat menyesali hal ini. Orang-orang seperti ini sering kali menindas orang baik. Orang-orang seperti ini sering kali menindas orang baik. Melihat orang yang baik hati, mereka pun menindas dan mengambil keuntungan. Inilah yang disebut noda batin kejahatan. Dalam mendalami ajaran Buddha, kita harus menaati prinsip kebenaran. Kebenaran yang diajarkan Buddha dan Bodhisattva tidak pernah berubah sejak dahulu.

 Kita hendaknya menaati kebenaran yang agung ini. Kebenaran yang agung ini tidak terikat oleh kondisi, wujud, atau ciri. tidak terikat oleh kondisi, wujud, atau ciri. Banyak prinsip kebenaran yang tak terlihat oleh mata. Namun, baik prinsip kebenaran yang berwujud maupun tidak berwujud, semuanya tak dapat diterima oleh mereka. Baik hal yang terlihat Baik hal yang terlihat maupun prinsip kebenaran yang tak terlihat, maupun prinsip kebenaran yang tak terlihat, semuanya tak dapat mereka terima. Mereka juga enggan menerima ajaran yang diwariskan oleh para suciwan. Ini disebut menolak prinsip kebenaran. Ini disebut menolak prinsip kebenaran. Mereka menolak semua norma kehidupan masyarakat. Sebagian besar orang seperti ini sangat galak dan berbahaya. Mereka melukai dan merugikan orang-orang yang baik. Mereka menolak semua ajaran suciwan dan etika dalam kehidupan masyarakat, dan etika dalam kehidupan masyarakat, terlebih lagi prinsip kebenaran. Sikap menolak kebenaran ini disebut noda batin kemelekatan pada wujud. Mereka mengganggap dirinya sendiri sangat hebat, berani, gagah, dan kuat. Orang seperti ini sulit untuk dikendalikan. Pada masa Buddha hidup, Beliau pernah menceritakan sebuah kisah. Ada seekor kera yang berlatih diri di hutan. Ia memiliki kepandaian dan kebijaksanaanyang melebihi manusia.

 Suatu hari, ia melihat seorang pria jatuh ke sebuah jurang yang dalam. Selama berhari-hari, pria itu berada di sana dan meminta tolong, tetapi tidak ada orang yang datang menolongnya. Kera ini merasa tidak tega. Karena itu, ia pun mencari jalandemi menolong pria tersebut. Untuk menuruni tebing bukan hal yang mudah. Untuk mendaki seorang diri saja terasa sulit, terlebih lagi menggendong seseorang di pundak. Ia memegang tonjolan pada batu tebing hingga tangannya berdarah. Dengan berpegang pada ranting dan akar tanaman, ia bersusah payah menyelamatkan pria tersebut ke atas tebing. Si kera merasa lelah, begitu pula dengan pria tersebut. Pria itu sudah tidak makan berhari-hari, sedangkan si kera menderita luka pada tangan dan merasa kelelahan karena sudah mengeluarkan banyak tenaga. Karena itu, ia berbaring untuk beristirahat. Pria itu sudah menahan  lapar berhari-hari sehingga sulit untuk terlelap. Dia juga merasa sangat lelah. Di saat itu, timbul niat buruk dalam dirinya. Melihat kera itu tertidur dengan lelap, pria ini berpikir, “Kera ini adalah hewan.” “Saya dapat membunuhnya untuk dijadikan santapan.” “Dengan begitu,saya bertenaga untuk meninggalkan tempat ini.” Dia lalu mengambil sebuah batu untuk menghantam kepala si kera. Si kera itu sangat cekatan. Meski kepalanya berdarah, tetapi ia tidak mati. Ia pun segera naik ke atas pohon.

 Pria itu pun menggunakan tongkatuntuk memukul kera tersebut. Dia ingin membunuh kera tersebut. Kepala kera itu terus berdarah. Saat itu, di dalam hati kera tersebut timbul rasa belas kasih. Ia tidak merasa benci, hanya berbelas kasih. “Saya ingin menyelamatkannya.” “Namun, saya hanya dapat menyelamatkan tubuhnya, tetapi belum dapat menyelamatkan hatinya.” Ia lalu membangkitkan tekad dan berdoa semoga pada kehidupan mendatang, orang itu dapat bertemu dengan orang bijak. Ia juga bertekad untuk melatih diri sebaik mungkin dan menjalin jodoh baik dengan pria tersebut agar pada pehidupan mendatang,ia dapat membimbingnya. Lihatlah, manusia kalah dengan hewan. Lihatlah, banyak manusia yang begitu jahat dan kejam. yang begitu jahat dan kejam. Manusia dapat melanggar etika hidup dan menolak prinsip kebenaran dari orang bijak. dan menolak prinsip kebenaran dari orang bijak. Inilah kemelekatan terhadap wujud. Ini mendatangkan penderitaan tak terkira. Pada masa Buddha hidup, Di dalam kelompok Sangha juga ada orangyang enggan menerima ajaran. Karena itu, kita harus senantiasa bersungguh hati. Kita harus melatih keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran di dalam hati serta mempraktikkan cinta kasih, welas asih,sukacita, dan keseimbangan batin. Untuk itu, kita harus senantiasa bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888