Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-321-Melenyapkan Kesombongan dan Nafsu Keinginan

 Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus senantiasa mengendalikan diriagar tidak berbuat keliru. Meskipun berbuat keliru, kita juga harus segera bertobat. Pikiran kita jangan terkontaminasi oleh ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kita harus senantiasa menginstropeksi diri agar tidak melakukan kekeliruan. Saat melakukan kekeliruan, kita juga harus segera bertobat agar tidak terus tertutupi oleh kegelapan batin. agar tidak terus tertutupi oleh kegelapan batin. Inilah yang setiap hari saya ulas dan ingatkan kepada kalian. Tanpa disadari, ketamakan, kebencian, dan kebodohan membuat pikiran kita bergejolak sehingga  kita pun terdorong untuk melakukan perbuatan buruk. Sebelumnya saya sudah mengulas bahwa akibat ketidaktahuan tanpa awal, kita terbelenggu noda batin sebanyak butiran pasir Sungai Gangga. Ini mengakibatkan pikiran kita terus bergejolak. Selanjutnya dikatakan, “”Lewat empat jenis kelahiran.””Kini secara terbuka, di hadapan para Buddha, Dharma yang mulia,dan para makhluk suci, kami bertobat atas semuanya.” Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa pikiran kita yang bergejolak juga mengganggu para suciwan dan membangkitkan noda batinsebanyak butiran pasir Sungai Gangga. Akibatnya, kita terus mengalamiempat jenis kelahiran di enam alam.

 Kita semua tahu tentang enam alam kehidupan, yakni meliputi alam surga, manusia, asura, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Semua itu adalah enam alam kehidupan. Enam alam kehidupan initak terlepas dari empat jenis kelahiran, meliputi kelahiran lewat telur,rahim, kelembapan, dan spontan. Manusia, sapi, rusa, kuda, dan lain-lain mengalami kelahiran lewat rahim. Makhluk hidup yang melewatimasa dalam kandungan disebut mengalami kelahiran lewat rahim. Kelahiran lewat telur adalah yang terbungkus seperti ayam, ituk, burung, dan beberapa jenis serangga. Ada pula kelahiran lewat kelembapan. Makhluk hidup yang hidup di air dan di tempat yang lembap dan di tempat yang lembap juga berkembang biak di tempat yang lembap. Jenis kelahiran yang lain adalah kelahiran spontan. Makhluk di alam surga dan alam nerakamengalami kelahiran spontan. Mereka tidak mengalami kelahiranlewat rahim dan telur. Setelah buah kamarnya matang, mereka langsung terlahir kembali baik di alam surga maupun di alam neraka. Nyamuk dan jenis serangga lainnya mengalami kelahiran lewat kelembapan. Ini disebut kelahiran lewat kelembapan. Semua kehidupan tak terlepasdari empat jenis kelahiran ini. Lewat empat jenis kelahiran ini,  makhluk hidup terlahir di enam alam kehidupan. Di alam manusia ini, kita juga melihat enam alam kehidupan. Di alam manusia inijuga terdapat enam alam kehidupan. Kita melihat orang yang menikmati hidup bagai hidup di alam surga. Mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan sangat menikmati hidup. Ada pula orang yang sangat menikmati hidup, tetapi tidak membina kepribadian yang baik.

 Mereka bertemperamen buruk dan bersikap tidak baik pada bawahan mereka. Inilah asura di alam surga. Semua orang memiliki sifat baik dan jahat. Dibilang jahat, mereka juga memiliki sisi yang baik. Dibilang baik, mereka juga memiliki banyak tabiat buruk. Sifat baik dan buruk mereka bercampur. Namun, ada pula orang yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Mereka bersikap bagaikan binatang karena tidak memiliki nilai moralitas dan etika. Orang yang tidak memiliki nilai moralitas bagaikan binatang. Di alam manusia, kita dapat melihat banyak binatang yang memiliki tubuh yang berbeda dengan kita. Inilah alam binatang. Selain itu, juga ada alam neraka. Manusia juga mengalami banyak penderitaan. Di alam manusia, kita dapat melihat banyak wujud penderitaan. Jadi, di alam manusia ini, kita dapat melihat enam alam kehidupan. Mungkin kalian berkata bahwa kalian tidak dapat melihat alam surga dan neraka. Namun, kita harus yakin bahwa Buddha tidak berbohong dan berucap yang tidak benar. Kita harus meyakini ucapan Buddha. Yang ingin kita capai adalah melampaui enam alam kehidupan ini. Artinya, kita ingin mencapaitingkatan orang bijak dan suci.

 Orang bijak adalah Bodhisattva, orang suci adalah Buddha. Jika dapat mencapai tingkatanBuddha dan Bodhisattva, maka hati kita tidak akan mudah terbawa dan terpengaruh oleh kekuatan karma. Kita sering terperangkap di dalam enam alam kehidupan. Jika ingin terbebas dari enam alam kehidupan dan empat jenis kelahiran, maka kita harus senantiasa bertobat. Makhluk awam memiliki banyak noda batin sehingga membuat para orang suci merasa khawatir. Bodhisattva memperlakukan semua makhlukdengan penuh cinta kasih. Buddha menganggap semua makhlukbagai anak-Nya sendiri. Melihat makhluk hidup menciptakan karma buruk dan enggan menerima ajaran baik, Buddha merasa sangat prihatin. Karena itu, Buddha berulang kalidatang ke enam alam kehidupan hanya demi satu tujuan, yakni ingin menyelamatkan semua makhluk. Akan tetapi, makhluk hidup tidak memilikisemangat juang dan tekad yang teguh. Karena itulah, mereka terus terpengaruh dan mengalami kelahiran kembali. Ini membuat para orang bijakdan suci sangat khawatir. Saat terlahir kembali di enam alam kehidupanlewat empat jenis kelahiran, kita juga menghadapi banyak masalah. Dalam interaksi dengan antarsesama, terkadang terjadi persaingan dan pertikaian.

 Meski terjadi halyang tidak ada hubungannya dengan kita, kita malah menciptakan konflik dan membuat masalah. Ini berarti kita tengah menciptakan karma buruk. Adakalanya, saat melihat binatang, seperti kucing atau anjing, karena tidak menyukainya,kita pun pergi menendang atau memarahi mereka. Di dalam enam alam kehidupan ini,kita terus menciptakan masalah dan membuat banyak kesalahan. Mulai hari ini, kita harus sangat tulus. Setiap hari saya berkata bahwa kita harusmawas diri dan berhati tulus. Kita harus senantiasa menjaga hati dengan baik. Kita harus sangat berhati-hati. Dalam keseharian, kita harus mawas diri. Saat berinteraksi dengan orangatau menangani suatu masalah, dalam setiap ucapan dan tindakan  pada kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Kita harus sangat berhati-hati. Dalam berinteraksi dengan orangatau menangani suatu masalah, kita harus bersikap penuh hormat. kita harus bersikap penuh hormat. Saya sering berkata bahwa kita harus bersyukur,saling menghormati, dan mengasihi. Kita hendaknya senantiasa memiliki rasa syukur dan menghormati semua orang. Jika dapat senantiasa memiliki rasa syukur dan hormat, maka secara alami kita dapatmengembangkan cinta kasih. Jika demikian, berarti kita telah mengungkapkan rasa syukur kepada Bodhisattva dan membangkitkan rasa hormat terhadap Buddha. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus membina tabiat baik ini. Dengan membina tabiat baik ini, maka kita akan memiliki cinta kasihterhadap semua orang. Dengan begitu, di dalam enam alam kehidupan ini, kita dapat menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Jadi, mawas diri dan berhati tulus artinya kita harus bersyukur, saling menghormati,dan mengasihi. Dengan membina kebiasaan ini, kita tidak akan menggangguorang bijak dan orang suci serta tak akan terperangkap di enam alam kehidupandan empat jenis kelahiran.

 Setelah memahami semua ini, kita tetap harus bertobat atas ketidaktahuan kita di masa lalu. Mungkin kita sudah memiliki dendam dengan makhluk hidup di enam alam kehidupan. Karena itu, di saat sekarang ini, kita harus segera membuka simpul ini. kita harus segera membuka simpul ini. Kita jangan terus terbelenggu oleh rasa dendam. Kita harus senatiasa bertobat. Dari mana kita harus memulainya? Setiap pagi, kita harus bertobat di hadapan Buddha dan Bodhisattva. Di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita melihat orang dengan hati Buddha,maka setiap orang adalah Buddha. Jika kita melihat orang dengan hati Bodhisattva,maka setiap orang adalah Bodhisattva. Jika kita melihat orang dengan hati seorang praktisi, maka setiap orang adalah praktisi. Kita harus senantiasa bertobat kepada Tiga Permata di sepuluh penjuru. Inilah pola pikir yang harus kita miliki setiap hari. Inilah pola pikir yang harus kita miliki setiap hari. Teks berikutnya berbunyi, Kita bertobat dengan tulus di hadapan Tiga Permata. Kita harus membangkitkan hati yang bertobat.

 Saat bertobat, kita juga harus membangun tekad. Jika tidak membangun tekad, kita tak akan memiliki hati yang bertobat. Karena itu, kita harus membangun tekad dan ikrar. Akibat ketidaktahuan di masa lalu, mungkin kita telah menjalin banyak hubungan penuh rasa dendam dan benci dengan sesama. penuh rasa dendam dan benci dengan sesama. Mungkin sangat banyak. Karena itu, mulai sekarangkita harus membangun tekad. Semua orang, termasuk kita dan orang-orang di sekitar hendaknya membangkitkan pertobatan. Di saat sekarang ini, kita berkumpul bersama untuk bertobat. Di saat ini, yang terpenting adalah karma pikiran. Kita bertobat atas karma pikiran yang tercipta akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Setiap hari kita mengulas tentang hati. Hati adalah pikiran, Pikiran kita bergejolak karena di dalam hati kita muncul ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Selain ketamakan, kebencian, dan kebodohan, muncul pula kesombongan dan keraguan. Lima jenis penyakit ini selalu ada di dalam batin kita. Ia terus bergejolak setiap saat.

 Saat noda batin terbangkitkan, konsekuensinya sungguh tak terkendali. Secara alami, kita pun mengambil tindakan. Karena itu, kita harus berdoa dengan tulus Kita harus membangkitkan hati yang sangat tulus. Kita harus membangkitkan hati yang sangat tulus. Tanpa kekuatan tekad yang tulus, maka kita tidak dapat melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kita harus memiliki tekad, baru ada kekuatan. Dengan memiliki kekuatan tekad, baru kita dapat melenyapkan ketamakan,   kebencian, dan kebodohan pada pikiran. Jadi, harap semua orang dapat membangun tekad untuk bertobat. Kita memerlukan kekuatan tekad. Jika tidak, ia hanya akan menjadi ucapan semata. Kita hanya sekadar bertobat di mulut saja. Kita hanya sekadar bertobat di mulut saja. Kita hanya mengucapkannya tanpa memiliki ketulusan. tanpa memiliki ketulusan. Kita harus membangkitkan niat yang tulus. Dengan niat yang tulus, barulah kita dapat menciptakan pahala. Tanpa hati yang tulus untuk bertobat, kita tidak dapat mengikis karma buruk. Jika karma buruk tidak dikikis, bagaimana pahala dapat tumbuh? Dari mana pahala berasal? Dari kehidupan ke kehidupan. Kita juga harus mematahkan panji kesombongan. Setelah membangun tekad luhur, maka ketamakan, kebencian, kebodohan,kesombongan, dan keraguan kita pun terlenyapkan. Dengan begitu, secara alamikita akan memiliki kekuatan. Kekuatan ini bukan hanya bertahan pada satu kehidupan saja, tetapi dari kehidupan ke kehidupan. Kekuatan ini dapat mematahkan panji kesombongan. Kesombongan kita bagai panji yang berdiri tegak. Saat pergi ke vihara, kita dapat melihat panji-panji yang digantung.

 Saat ada festival, kita juga melihat orang mengangkat panji. Ia bagaikan sebuah tirai yang menutupi segala sesuatu dari sinar matahari. Panji ini berarti sesuatu yang berdiri. Kesombongan bagikan panjiyang berdiri di dalam hati kita. Panji ini bagaikan sebuah dekorasi yang menutupi hati kita. Kesombongan ini muncul karena sebagian orang merasa diri sendiri sangat hebat dan bisa melakukan apa pun. Karena itulah, keangkuhan timbul. Mereka merasa memiliki reputasi, kekayaan, dll. Dengan begitu, mereka merasa sombong. Sebaliknya, orang yang merasatidak bisa melakukan apa-apa dan tidak pernah lebih baik daripada orang lain juga bisa memiliki kesombongan. Karena itu, ada 7 keangkuhan dan 8 kesombongan. Dahulu kita sudah pernah membahasnya. Keangkuhan ada banyak jenis. Kesombongan juga terbagi atas 8 jenis. Karena itu, disebutkan tentang 7 keangkuhan dan 8 kesombongan. Intinya, kesombongan dan keangkuhanamat beragam. Panji adalah sesuatu yang dapat menutupi. Kesombongan ini bagai panji hiasan. Ada orang yang memiliki kesombongan inferior. “Saya memang tidak sebaik dirimu, tetapi saya memiliki bidang keahlian sendiri.” Ini juga termasuk kesombongan.

 Jadi, kita harus memiliki cara dan kekuatan untuk mematahkan kesombongan. Berikutnya adalah arus air nafsu keinginan dan api kebencian. Untuk mengatasi ini, dibutuhkan kekuatan. Nafsu keinginan bagaikan gelombang yang memicu ombak lautan penderitaan. Nafsu keinginan bagaikan air yang dapat membuat kita tenggelam. yang dapat membuat kita tenggelam. Akibat arus air nafsu keinginan, kita manusia dapat tenggelam. Jika kita tidak pandai berenang, Jika kita tidak pandai berenang, maka saat kita jatuh ke dalam air, kita akan cepat tenggelam dan mati. Karena itu dikatakan gelombang nafsu keinginan memicu ombak lautan penderitaan. Jadi, jika kita memiliki nafsu keinginan dan ketamakan, kita akan mengalami penderitaan tak terkira. Akibatnya, tekad kita tidak akan teguh. Lihatlah orang-orang yang memakai narkoba, minum minuman keras, berjudi, atau pecandu pergaulan bebas, mereka bagai orang yang tenggelam dalam air. mereka bagai orang yang tenggelam dalam air. Jika mereka tak dibantu untuk mengeringkan air itu, jiwa kebijaksanaan mereka akan tenggelam. Ini sungguh disayangkan. Orang-orang ini mungkin sangat berbakat, tetapi tenggelam dalam tabiat buruk. Tenggelam berarti terjebak.

 Jadi, dalam menghadapi arus air nafsu keinginan, kita harus memiliki kekuatanuntuk mengeringkannya. Kita juga harus bisa memadamkan api kebencian. Mengenai api kebencian, titik api yang kecil saja dapat membakar hutan yang luas dan sulit dipadamkan. Jadi, kita sering mengatakan bahwa para pemadam kebakaran adalah pahlawan. Sesungguhnya, kita sendiri harus selalu waspada. Selain memadamkan, kita harus mencegah. Artinya, titik api yang kecil sekalipun harus segera kita padamkan. Kita harus waspada setiap saat. Jadi, batin kita harus senantiasa waspada. Jadi, batin kita harus senantiasa waspada. Namun, jika saat ini tabiat buruk kita masih ada, kita harus segera membangkitkan tekad. Kita telah bertobat di hadapanpara Buddha dan Bodhisattva. Apakah kita akan kembali melanggarnya? Kita juga sudah bertobat di hadapan banyak orang. Kita juga sudah berjanji untuk berubah. Apakah kita akan melanggar kembali? Jadi, kita sendiri harus memiliki kekuatan tekad. Dengan kekuatan ini, barulah kita dapatmematahkan panji kesombongan, mengeringkan air nafsu keinginan,dan memadamkan api kebencian. Saudara sekalian, kesombongan ini sungguh membuat kita tidak bisa dikasihi orang lain. Ini karena kita sombong dan enggan bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Demikianlah orang yang sombong. Jadi, kita tidak boleh merasa hebat, juga jangan menganggap remeh diri sendiri.

 Kita harus membuka pintu hati. Selain dapat merangkul semua makhluk, kita juga harus dapat merendahkan hati dan masuk ke tengah masyarakat. Janganlah hidup menyendiri. Kita harus mematahkan kesombongan. Untuk dapat mengasihi dan dikasihi, semua juga bergantung pada kekuatan tekad kita. Jika nafsu keinginan kita bangkit, kita harus tahu dan ingat bahwa air nafsu keinginan ini akan menenggelamkan kita. Kita harus segera melenyapkannya. Demikian pula, saat hendak marah, kita harus ingat patutkah kita marah lagi. Kita hendaknya tidak lagi bertemperamen buruk. Kita harus segera memadamkan api kemarahan meski baru berupa titik api yang kecil. Semua ini bergantung pada kekuatan tekad kita. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar menjaga pikiran kita sendiri. Kita harus senantiasa bertobat. Di dalam kehidupan di tengah masyarakat, kita harus bersyukur dalam segala hal dan terhadap semua orang. Jika kita dapat bersyukur dalam segala hal, maka kita akan dapat menghormati semua orang. Jika kita dapat menghormati semua orang, kita akan dapat senantiasa memiliki cinta kasih yang murni tanpa noda. Sebaliknya, jika kita tercemar oleh cinta yang penuh ego, maka air nafsu keinginan iniakan cepat menenggelamkan kita. Jadi, setiap saat kita harus tulus, penuh rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati, senantiasa mengendalikan diri, serta membangkitkan kekuatan tekad yang tulus. Bersungguh hatilah selalu.  Melenyapkan Kesombongan dan Nafsu Keinginan.

Leave A Comment