Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-322-Menyadarkan Diri Sendiri dan Orang Lain

 Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu, ketidakkekalan terus menggerus, kehidupan hanya sementara. Ini adalah hukum alam. Jadi, kita harus menggenggam waktu yang ada. Waktu begitu cepat berlalu. Meski Anda berusia seratus tahun, waktu tetap tidak pernah berhenti. Terlebih lagi, berapa lama kita akan hidup? Dalam seluruh usia kehidupan kita, apakah kita akan sehat selalu? Kita tidak tahu. Setiap orang tak luput dari ketidakkekalan. Waktu dan hari terus berlalu. Ketidakkekalan bagai tengah menelan semuanya. Jika kita menyia-nyiakan satu hari, berarti ketidakkekalan telah menelan waktu kita sehari. Jika kita menyia-nyiakan waktu satu tahun, berarti ketidakkekalan menelan waktu kita setahun. Jika kita menyia-nyiakan waktu, berarti kita membuat kehidupan kita tidak bermanfaat. Jadi, kita hendaknya dapat memanfaatkan hidup ini dan memanfaatkan waktu untuk memupuk pelatihan diri. Ini sangatlah penting. Jiwa kebijaksanaan timbul dan tenggelam dengan cepat. Bagaimana boleh kita tidak memanfaatkannya? Jiwa kebijaksanaan timbul dan tenggelam dengan cepat. Artinya, untuk memiliki jalinan jodoh baik dan bertemu dengan ajaran kebenaran, kesempatannya tidaklah banyak

 Karena itu, jika memiliki kesempatan ini, kita harus menggenggamnya dngan baik. Jika tidak, maka kesempatan ini akan terlewatkan. Sulit untuk terlahir sebagai manusiadan sulit untuk mendengar Dharma. Kesempatan untuk menapaki Jalan Bodhisattvajauh lebih sulit. Jadi, untuk menumbuhkan jiwa kebijaksaaan, kita harus terlahir sebagai manusia, mendengar ajaran Buddha,dan menapaki jalan kebenaran. Kita harus memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Jika tidak, maka kesempatan iniakan terlewatkan dengan cepat. Kita harus senantiasa bersungguh hati dalam menjalani hidup ini. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus senantiasa membangkitkan pertobatan. Dengan hati yang bertobat, kita dapat membersihkan kegelapan batin. Setelah kegelapan batin dibersihkan, maka cahaya kebijaksanaan akan bersinar dan hakikat murni setiap orang akan terbangkitkan. Saat hakikat murni terbangkitkan, maka kita dapat melihat setiap orangdan segala hal dengan jelas. Meski dahulu kita memiliki panji kesombongan di dalam hati, tetapi setelah kebijaksanaan terbangkitkan, kita dapat memperbaiki diri dan segera mematahkan panji kesombongan ini. dan segera mematahkan panji kesombongan ini. Dengan begitu, kita tak lagi memiliki kesombongan

 Saat timbul nafsu keinginan dan ketamakan terhadap keduniawian, kita juga dapat segera melenyapkannya. Saat merasa tak puas dengan seseorang,hal, ataupun masalah sehingga timbul api kemarahan di dalam hati, kita juga dapat segera memadamkan api tersebut. Inilah kebijaksanaan. Dengan membangkitkan pertobatan dan membersihkan kegelapan batin, secara alami kebijaksanaan kita akan terbangkitkan.     Hari ini kita akan mengulas bahwa kita juga dapat menghalau kebodohan dan mencabut akar keraguan. Kebodohan membuat kita membangkitkan kegelapan batin. Saya sering mengulas tentangketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kebodohan dan keraguan dapat menutupi cahaya batin kita. Kebodohan dan keraguan bagaikan kegelapan Kebodohan dan keraguan bagaikan kegelapan yang dapat menutupi cahaya kebijaksanaan kita. Jadi, kita harus menghalau dan melenyapkan kebodohan dan keraguan. Contohnya, saat sebuah lampu tertutup oleh kain hitam, maka cahaya lampunya akan meredup. Dengan membuka kain hitam itu, maka cahaya lampu akan sangat terang. Saat cahaya lampu menerang, kegelapan pun menghilang. kegelapan pun menghilang. Di dalam sbuah ruangan yang gelap, asalkan ada sebuah lampu atau sebatang lilin, maka ruangan itu akan menjadi terang. maka ruangan itu akan menjadi terang

 Jadi, meskipun sejak kehidupan lalu Jadi, meskipun sejak kehidupan lalu atau sejak masa tanpa awal, kita sudah tertutup oleh kegelapan batin, tetapi jika kini kita dapatmembangkitkan kebijaksanaan, secara alami “kegelapan” ini dapat dilenyapkan. Jika di dalam sebuah ruangan yang gelap terdapat sebatang lilin atau sebuah lampu, maka seluruh ruangan itu dapat menjadi terang. Jadi, kita harus melenyapkan kegelapan batin dan menghilangkan akar keraguan. Bukankah kita sering mengulas bahwa ketamakan, kebencian, kebodohan,kesombongan, dan keraguan membuat cahaya batin kita tak dapat bersinar. Akibat akar keraguan yang tertanam dalam, saat melihat orang, timbul keraguan di dalam hati kita. Dalam menghadapi suatu hal, kita juga menaruh rasa ragu. Saat mendengar kebenaran dan ajaran baik, kita juga meragukannya. Keraguan membuat kita sulit menyelami prinsip kebenaran. Waktu berlalu dengan cepat

 Jika memiliki keraguan terhadap Dharma, maka kita tidak dapatmemahami kebenaran dengan cepat. Hati kita tidak dapat menyatu dengan kebenaran karena kita memiliki keraguan. Jadi, kita hendaknya mencabut akar keraguan ini. Jadi, kita hendaknya mencabut akar keraguan ini. Selain menghilangkan keraguan sendiri, kita juga harus membantu orang menghilangkan keraguan. Saat merasa ragu, kita harus segera memberi tahu orang lain. Dalam melihat segala sesuatu,kita harus memiliki pikiran yang jernih untuk membedakan yang benar dan salah. Selama sesuatu itu benar, kita harus segera melakukannya. Jika hal itu adalah salah, maka kita harus segera memberi tahu mereka bahwa ini adalah salah. Setelah membangkitkan kebijaksanaan, kita harus memahami prinsip kebenaran. Setelah melenyapkan kegelapandan mematahkan akar keraguan, maka kita dapat terbebas dari pandangan keliru. Sebelumnya kita terus mengulas tentang pandangan. Pandangan menimbulkan banyak noda batin bagi kita. Pandangan tentang diri, kemelekatan pada sila, dan pandangan sesat lainnya ada di dalam kehidupan sehari-hari kita. Ia bagaikan sebuah jala yang menutupi kita

 Lihatlah, ikan hidup dengan bebas di air. Saat terperangkap di dalam jala, para ikan bergumul untuk melepaskan diri. Hanya jika jala itu robek, baru mereka dapat melepaskan diri. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat mudah terpengaruh oleh pandangan dan pengetahuan sesat. Di dalam keseharian, pada saat berinteraksi dengan orang ataupun menangani suatu masalah, pandangan sesat sering membuat kita terbuai. Karena itu, kita harus merobek jala pandangan sesat ini. jala pandangan sesat ini. Di dalam Sutra Agama, ada sebuah kisah tentang seekor ikan di laut. Ikan besar ini adalah raja ikan. Setiap hari ia memimpin kawanan ikan untuk berenang dengan bebas di lautan. Suatu hari, ada seorang nelayan melihat kawanan ikan itu. Dia lalu menggunakan sebuah jala yang besar untuk menangkap semua ikan itu. Raja ikan dan kawanan ikan tahu bahwabegitu jala dilempar, mereka semua sudah terperangkap. Setelah menangkap semua ikan itu, si nelayan langsung menarik kembali jalanya. Saat jala semakin lama semakin sempit, kawanan ikan terus bergumul. Melihat hal tersebut, raja ikan memiliki ide. Saat jala belum ditarik sepenuhnya, raja ikan membenamkan kepalanya ke dalam tanah. Ia lalu menggunakan siripnya untuk merobek jala. Dengan sekuat tenaga, ia menggunakan kedua siripnya untuk merobek jala tersebut. Sirip di bagian ekor ikan sangat tajam. Ia terus berusaha memotong sedikit demi sedikit hingga akhirnya jala itu robek. hingga akhirnya jala itu robek

 Meski jala itu sudah disimpan semuanya, tetapi ikan-ikan sudah menyelamatkan diri karena jalanya sudah robek. Raja ikan tidak selamat karena ia membenamkan kepalanya ke dalam tanah. Meski demikian, ia behasilmenyelamatkan banyak kawanan ikan. Ini adalah salah satu kisah di dalam Sutra. Benar, melatih diri memang membutuhkan usaha keras. Kita menghabiskan seumur hidup kitauntuk mendalami kebenaran. Selain mendalami kebenaran, kita juga harus terjun ke tengah umat manusia. Selain memahami kebenaran sendiri, kita juga harus  membimbing orang lain agar ikut memahaminya. Selain menyadarkan diri sendiri, kita juga harus menyadarkan orang lain. Kita harus tak henti-hentinya mendalami ajaran Buddhadan menolong sesama. Semua ini membutuhkan banyak waktu. Seiring berlalunya waktu, Seiring berlalunya waktu, kita dapat bersumbangsih bagi banyak orang. Meski menghabiskan waktu seumur hidup, tetapi kita dapat menjadi teladan bagi orang lain. Selain bimbingan lewat ucapan,juga diperlukan bimbingan lewat tindakan. Kita harus mempraktikkan ajaran secara nyata

 Kita hendaknya berbagi semua pengetahuan, pandangan,pemahaman, dan tindakan baik dengan semua orang. Jadi, kita harus berkontribusi tanpa keraguan. Bagaikan raja ikan tadi yang berusaha untuk merobek jala. Kita sebagai manusia juga harus dapat membedakan pengetahuan dan pandangan sesat, membedakan hal yang benar dan salah. Tentu saja, kita perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyadarkan diri sendiri dan orang lain. Untuk melenyapkan pandangan sesat,juga dibutuhkan usaha keras. Untuk mencabut akar keraguan, juga bukan hal yang mudah. Karena tidak mudah, maka disebut pelatihan diri. Karena tidak mudah, baru kita dapat menghalau kebodohan. Jika tidak bersungguh hati untuk merobohkan dan melenyapkan lima jenis penyakit batin ini satu per satu, lima jenis penyakit batin ini satu per satu, maka kita tidak dapat memahami bahwa kehidupan di Tiga Alam bagaikan penjara. Sebagai makhluk awam, kita masih hidup di alam nafsu. Alam nafsu ini sangat mudah membuat orang terbuai. Di dalamnya terdapat banyak jebakan. Jika tidak berhati-hati, maka kita akan mudah terjatuh

 Terkadang, saat menapaki jalan yang rata saja, kita bisa terjatuh. Meski tidak membahayakan nyawa, Meski tidak membahayakan nyawa, tetapi kaki dan tangan kita mungkin terluka. Di jalan yang rata saja kita bisa terjatuh, terlebih di jalan yang berliku-liku. Kita harus bersungguh hati setiap hari. Kita harus tahu bahwa di alam nafsu ini, tiada satu hal pun yang tidak membuat kita terbelenggu dan tergoda. Ini disebut alam nafsu. Nafsu keinginan ini sangat besar. Selain tidak dapat melenyapkan nafsu keinginan sendiri, godaan dari luar pun sangat banyak. Selain itu, ada pula alam rupa dan alam tanpa rupa. Meski di alam rupa godaan tidak begitu banyak, tetapi masih ada pikiran. Meski godaan di alam rupa lebih sedikit, tetapi berbagai pikiran dan pertimbangan menimbulkan banyak noda batin. Meski sudah mencapai alam tanpa rupa, Meski sudah mencapai alam tanpa rupa, tetapi sebersit kegelapan batin yang timbul tetap dapat menimbulkan celah. Karena adanya celah itu, maka timbullah noda batin. Di dalam 12 Mata Rantai Sebab Akibat, bukankah saya sudah menjelaskan bahwa kegelapan batin dapat menimbulkan tiga aspek halus? Semua itu dimulai dari kegelapan batin. Kegelapan batin mendorong kita melakukan tindakan. Dari mana kegelapan batin berasal? Pada mulanya, setiap orang memilikisifat hakiki yang bajik dan murni. Akan tetapi, kegelapan batin yang bergejolak menimbulkan proses yang sangat halus, meliputi kesadaran, pikiran, dan tindakan. Pikiran, bencana, dan kegelapan batin mulai bermunculan tanpa henti. 12 Mata Rantai Sebab Akibat terus langsung selama fase lahir, tua, sakit, dan mati. Akumulasi kegelapan batin mendorong kita melakukan tindakan di Tiga Alam. Demikianlah ia terus berlanjut dari alam tanpa rupa, alam rupa, dan alam nafsu. dari alam tanpa rupa, alam rupa, dan alam nafsu

 Jadi, tujuan kita melatih diri adalah untuk kembali pada sifat hakiki. adalah untuk kembali pada sifat hakiki. Kita harus memahami Empat Kebenaran Mulia. Terlahir ke dunia ini, kita hendaknya memahami Empat Kebenaran Mulia. Kita harus sangat memahami Empat Kebenaran Mulia dan Empat Landasan Perenungan. Pikiran kita tidak kekal. Selain tubuh ini tidak bersih, pikiran kita juga tidak kekal. Kita sudah pernah mengulas tentang timbul, berlangsung, berubah, da lenyap. Pikiran kita mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, da lenyap. Jadi, kita harus senantiasa merenungkan Empat Kebenaran Mulia dan Empat Landasan Perenungan. Kehidupan ini penuh dengan penderitaan, apa penyebabnya? Karena tubuh kita ini, Tubuh kita ini membangkitkan banyak nafsu keinginan. Apa yang dikejar oleh tubuh kita ini? Apakah yang dimaksud dengan kemurnian? Apa yang dimaksud keabadian? Dimulai dari pikiran. Karena itulah, kita menghadapi banyak penderitaan. Saudara sekalian, kita berada di Tiga Alam. Bukan berarti saat tiba di alam tanpa rupa, kita sudah mencapai pembebasan. Kita belum mencapai pembebasan. Kegelapan batin kita tetap bisa bangkit di alam tanpa rupa

 Kita sudah mengulas tentang 108 jenis noda batin. Kita sudah mengulas tentang 108 jenis noda batin. Godaan dari luar tetaplah sangat banyak. Jadi, kegelapan batin dapat mendorong kita melakukan tindakan yang menciptakan karma buruk. Saudara sekalian, kita harus sangat memahami Tiga Alam, yakni meliputi alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Untuk melatih diri,kita harus berada di alam nafsu. Setelah melenyapkan segala nafsu keinginan, maka kebuddhaan pun tercapai. Jadi, kita harus memanfaatkan tubuh ini dengan baik untuk berlatih ajaran Buddha. Sulit untuk terlahir sebagai manusiadan sulit untuk mendengar Dharma. Setelah berkesempatan mendengar Dharma, kita harus bersungguh hati mempraktikkannya. Buddha mengajarkan kitauntuk menapaki Jalan Bodhisattva. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus tekun dan bersemangatmenapaki Jalan Bodhisattva. Tiada satu alam pun di antara Tiga Alam yang nyaman untuk ditempati. Tiga Alam bagaikan neraka. Jika masuk ke dalam, maka akan sulit bagi kita untuk keluar. Karena itu, harap semuanya senantiasa bersungguh hati. 

Leave A Comment