Sanubari Teduh-323-Lima Agregat Bagaikan Pencuri
Saudara se-Dharma sekalian, kita harus selalu membangkitkan rasa hormat Demi semua makhluk, Buddha membangkitkan cinta kasih untuk berbagi jalan menuju kesadaran. Karena itu, kita harus menerima ajaran Beliau dengan hati yang tulus dan berlindung secara fisik dan batin. Inilah yang harus dilakukan oleh setiap umat Buddha. Berlindung berarti beralih dari kekeliruan menuju kecemerlangan. Semua makhluk awam pernah melakukan kekeliruan. Semua orang pernah melakukan kekeliruan. Kekeliruan bersumber dari kegelapan batin. Kekeliruan bersumber dari kegelapan batin. Kini setelah berkesempatan untuk memasuki pintu Buddha, kita harus senantiasa beintrospeksiatas kegelapan batin di masa lalu dan berjalan menuju kecemerlangan masa kini. Karena itu, kita harus berlindung secara fisik dan batin. Buddha selalu berkontribusi bagi semua makhluk. Buddha selalu berkontribusi bagi semua makhluk. Karena itu, kita sebagai murid Buddha hendaknya mendalami ajaran Buddhadan membantu sesama. Kita juga harus berkontribusi bagi semua makhluk. Berhubung sulit untuk membimbing manusiayang keras kepala, kita harus membangkitkan cinta kasih agung. Dalam meneladani Buddha, kita harus membina cinta kasih agung. Setelah mengetahui suatu ajaran,kita harus segera membabarkannya agar lebih banyak orang mengetahui kebaikan ajaran Buddha.
Setelah mendengar dan menerima ajaran Buddha, kita harus lebih sering berbagi dengan orang lain. Ini yang disebut saling mewariskan ajaran Buddha. Contohnya kini saya sedang berbagi dengan kalian tentang kebaikan ajaran Buddha. Setelah mengetahui kebaikan ajaran Buddha, saya berbagi dengan kalian semua. Ini yang disebut mewariskan ajaran Jing Si. Untuk mewariskan ajaran Jing Su, dibutuhkan semangat yang sama seperti Buddha. Akan tetapi, kita sebagai manusia awam bagaimana dapat dibandingkan dengan Buddha? Tidak mungkin. Meski demikian, kita harus belajar. Kita harus senantiasa mawas diri dan berhati tulus. Kita sudah pernah mengulas tentang Kalian pasti sudah paham tentang kehidupan di Tiga Alam. Selain alam nafsu, sesungguhnya kehidupan di alam rupa dan alam tanpa rupa juga sangat menderita. Kehidupan di Tiga Alam bagaikansatu rumah besar yang tengah berbakar yang semuanya mendatangkan penderitaan. Mengetahui bahwakehidupan di Tiga Alam bagaikan penjara, kita harus menerobos keluar agar cahaya batin kita dapat berpancar. Selain menyakininya, kita juga harus memahami bahwa kehidupan Tiga Alam bagaikan penjara dan penuh bahaya. Kita harus selalu tahu dan sadar bahwahidup ini tidak kekal. Setiap saat dan setiap detik, Setiap saat dan setiap detik, Setiap saat dan setiap detik, ketidakkekalan terus mengintai kita. Waktu berlalu dengan cepatdan kehidupan ini tidaklah kekal. Saya sudah pernah mengulas tentang ini. Ketidakkekalan senantiasa menghantui di sekitar kita. Penggalaran Sutra di atas memberi tahu kita bahwa kita hendaknya menyadari ketidakkekalan.
Kita ambil satu contoh tentang ketidakkekalan. Mungkin kalian sudah pernah mendengar kisah ini. Ada seorang pemburu. Ada seorang pemburu. Suatu hari, saat dia sedang berburu, tiba-tiba ada banyak hewan buas yang mengepungnya dari segala sisi. Dia sendiri harus menghadapi begitu banyak hewan buas yang mengepungnya dari segala sisi. Apa yang harus dia lakukan? Dia terus berlarihingga akhirnya melihat sebatang rotan. Saat melihat sebuah sumur, dia berencana untuk turun ke bawah. Kebetulan rotan itu cukup panjanguntuk menjangkau dasar sumur. Saat akan turun ke bawah, tiba-tiba dia melihat ada empat ekor ular di dasar sumur. Di bawah ada empat ekor ular, Di bawah ada empat ekor ular, sedangkan di atas ada hewan buas yang menunggunya. Pada saat itu, dia mendongak untuk melihat rotan itu. Dia melihat ada dua ekor tikus, yakni tikus putih dan tikus hitam. Kedua ekor tikus itu tengah menggerogoti rotan itu. Kedua ekor tikus itu tengah menggerogoti rotan itu. Dia sangat khawatir. Jika tikus terus menggerogoti rotan itu, Jika tikus terus menggerogoti rotan itu, maka rotan itu akan terputus. Dia melihat rotan itu semakin lama semakin tipisakibat gigitan tikus.
Dia juga melihat empat ekor ular di dasar sumurtengah menunggunya. Dia sangat ketakutan. Dia ketakutan hingga mulutnya terbuka lebar. Dia lalu melihat sebuah sarang lebah di atas pohon. Saat sarang lebah itu pecah, madunya mengalir keluar. Kebetulan madunya menetes tepat ke mulutnya. Kebetulan madunya menetes tepat ke mulutnya. Ketika merasakan manisnya tetesan demi tetesan madu, dia menjadi lupa dengan dua ekor tikus yang tengah menggerogoti rotan, juga lupa dengan empat ekor ular yang ada di dasar sumur. Dia sudah melupakan semuanya. Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang ketidakkekalan hidup. Mengenai kedua tikus itu, tikus putih melambangkan pagi hari. Waktu di pagi hari bagaikan tikus putih itu yang terus menggerogoti rotan hingga menjadi semakin tipis. Ia mengumpamakan setiap detik hidup kita Ia mengumpamakan setiap detik hidup kita yang terus berlalu tanpa henti. Setelah pagi hari berlalu, maka tibalah malam hari. Tikus hitam melambangkan waktu di malam hari yang juga terus berlalu tanpa henti. yang juga terus berlalu tanpa henti.
Saat kita tidur di malam hari, Saat kita tidur di malam hari, setiap detik juga terus berlalu tanpa henti. setiap detik juga terus berlalu tanpa henti. Jadi, waktu kita dalam kehidupan ini diumpamakan dengan tikus hitam dan tikus putih. Waktu kita dalam kehidupan ini sama seperti rotan itu yang terus menipis. Baik pagi hari maupun malam hari Baik pagi hari maupun malam hari Baik pagi hari maupun malam hari terus berlalu tanpa henti. Seiring waktu berlalu, usia kita pun terus bertambah. Saya sering berkata bahwa lembaran kalender tahunan berjumlah 365 lembar. Setiap hari lembaran itu berkurang satu lembar. Setiap hari lembaran itu berkurang satu lembar. Saat lembaran kalender berkurang satu lembar, Saat lembaran kalender berkurang satu lembar, maka usia kehidupan kita pun berkurang satu hari. Seiring berlalunya satu tahun, bukan usia kita bertambah satu tahun, tetapi kehidupan kita yang berkurang satu tahun.
Waktu kita untuk berlatih diri juga terus berlalu. Bagaimana boleh kita tidakmemanfaatkan waktu dengan baik? Empat ekor ular di dasar sumur mengingatkan kita pada empat unsur, yakni unsur tanah, air, api, dan angin. Jika salah satu unsur tidak seimbang, maka kita akan jatuh sakit. Apakah tubuh kita dapat senantiasa sehat? Saat salah satu unsur tidak seimbang, contohnya unsur tanah, maka tubuh kita akan merasa sakit dan terluka. Apakah kalian masih ingat dengan seorang anak yang sangat pintar dan menggemaskan, tetapi sejak lahir, unsur tanah anak ini tidak seimbang? Tidak ada satu pun kulit di bagian tubuh anak itu Tidak ada satu pun kulit di bagian tubuh anak itu yang sehat. Di seluruh bagian tubuh anak itu terus muncul luka berair. terus muncul luka berair. Saat itu, dokter mengumumkan bahwa mereka tak dapat memberikan pengobatan dan anak itu tidak dapat hidup lewat 5 tahun. Akan tetapi, kini anak itu berhasil dudukdi bangku sekolah menengah meski kondisi tubuhnya tak kunjung membaik. Meski sering bolak-balik rumah sakit, tetapi kondisinya masih tetap sama. Jari-jari tangannya terus bernanah sehingga empat jarinya menempel menjadi satu. Secara berulang kali, dia dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi.
Setelah dioperasi, jari-jarinya dililit dengan perban. jari-jarinya dililit dengan perban. Berselang beberapa waktu, baru perbannya dibuka. Tidak lama setelah dibuka, jari-jarinya kembali menempel menjadi satu. Selama masa pertumbuhannya, dia sering kembali ke rumah sakit untuk menjalani operasi, tetapi masih tak kunjung sembuh. Ini akibat ketidakselarasa unsur tanah. Di rumah sakit, kita juga melihat banyak pasien yang boroknya bernanah akibat berbaring terlalu lama. Untuk pulih kembali bukan hal yang mudah. Terlebih lagi ketidakselarasan empat unsur. Saat ada luka di badan kita, ia akan bernanah, membengkak, infeksi, dan lain-lain. ia akan bernanah, membengkak, infeksi, dan lain-lain. Inilah ketidakselarasan unsur tanah. Ada pula ketidakselarasa unsur air. Di rumah sakit kita terdapat banyak pasien yang perutnya mengembung. Banyak pasien yang menderita kanker hati, penyakit ginjal, dan penyakit pembengkakan air lainnya. Ini yang disebut ketidakselarasan unsur air.
Ada pula penyakit darah yang sering disebut dengan leukimia. yang sering disebut dengan leukimia. Ada pula ketidakselarasan unsur api. Saat unsur air tidak selaras, kita akan jatuh sakit. Saat suhu tubuh kita mencapai 37, 38, 39, bahkan 40 derajat Celcius, itu berarti unsur api di dalam tubuh kita tengah tidak selaras. Ada pula ketidakselarasa unsur angin. Jika unsur angin kita tidak selaras, maka pernapasan kita akan terganggu. Kita dapat melihat ada orang yang menderita penyakit asma. penyakit asma. Inilah ketidakselarasan unsur angin. Jadi, jika empat unsur di dalam tubuh tidak selaras, jika empat unsur di dalam tubuh tidak selaras, maka kita akan jatuh sakit. Ketidakselarasan empat unsur tubuhbagaikan empat ekor ular itu. Empat ekor ular yang berbisa itu Empat ekor ular yang berbisa itu ada di dalam tubuh kita. Jika unsur tubuh tidak selaras, maka kita akan jatuh sakit. Bukankah ini kondisi yang dialami manusia? Jelas-jelas kita tahu bahwa dua ekor tikus itu terus menggerogoti rotan. Sama halnya dengan kita tahu bahwawaktu kita terbatas. Berapa lama kita bisa hidup? Tiada orang yang tahu karena kehidupan ini tidaklah kekal. Saat rotan itu terputus, Saat rotan itu terputus, maka kehidupan kita juga berakhir. Tiada orang yang tahu berapa lama kehidupan kita.
Kita semua tahu bahwa jika salah satu unsur di dalam tubuh tidak selaras, maka ketidakkekalan akan cepat terjadi. Meski tahu, kita masih terus menikmati “madu” yang menetes ke mulut kita. Saat sarang lebah pecah, madu mengalir keluar lewat daun pohon dan bercampur dengan air hujan hingga menetes ke mulut kita. Madu melambangkan nafsu keinginan. Begitu merasakan manisnya nafsu keinginan, Begitu merasakan manisnya nafsu keinginan, kita mulai terus tergoda dan terbuai dan terbuai tanpa bisa mengendalikan diri. Untuk kembali ke jalan yang benar, sungguh bukan hal yang mudah. Meski menggunakan emas, perak, dan benda lainnya untuk menariknya kembali, juga tidaklah berhasil. Jadi, untuk kembali ke jalan yang benar, sungguh bukan hal yang mudah. Orang yang berhasil kembali ke jalan yang benar sungguh tidak mudah. Ini sungguh berharga. Jadi, bisa terlahir sebagai manusia, bisa mendengar ajaran Buddha, dan membangkitkan kesadaran untuk menelusuri akaran Buddha, ini sungguh hal yang sangat berharga. Setelah mengetahui tentang empat ekor ular berbisa itu, kita harus segera berbagi dengan banyak orang. kita harus segera berbagi dengan banyak orang. Kita harus menyadari bahwa kehidupan ini tidak kekal. Kita tidak tahu kapan empat unsur tubuh kita tidak selaras. Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Janganlah kita tergigit ular. Kedua ekor tikus yang terus menggerogiti rotan itu Kedua ekor tikus yang terus menggerogiti rotan itu melambangkan waktu yang terus berlalu.
Selain menyadarkan diri sendiri tentang ini, kita juga harus menyadarkan orang lain untuk tidak tergigit ular dan harus berhati-hati terhadap kedua ekor tikus yang tengah menggerogoti rotan tersebut. Kita juga harus paham bahwa Lima Agregat bagaikan pencuri. Kita harus tahu bahwa Lima Agregat bagaikan pencuri. Kita semua tahu bahwa Lima Agregat meliputi rupa, perasaan, persepsi,dorongan karma, dan kesadaran. Lima Agregat ini bagaikan pencuri dalam hidup kita. Contohnya rupa. Adakalanya kita terbuai oleh rupa di luar. Selain godaan rupa, adakalanya tubuh kita juga terbuai oleh kenikmatan duniawi dan perhiasan lainnya. Demi mengejar kenikmatan duniawi, manusia menciptakan banyak karma buruk dan hidup bermalas-malasan. Karena takut lelah, praktis berpikir untuk menikmati kenyamanan dan bermalas-malasan sehinggamembiarkan waktu berlalu sia-sia. Inilah agrerat rupa. Rupa dan tubuh ini Rupa dan tubuh ini menyebabkan timbulnya banyak noda batin. Umat perumah tangga dan orang tidak melatih diri juga tak henti-hentinya mengejar kenikmatan duniawi. juga tak henti-hentinya mengejar kenikmatan duniawi. juga tak henti-hentinya mengejar kenikmatan duniawi.
Perasaan juga membuat manusia bersikap perhitungan. Manusia tidak pernah menyadari bahwa perasaan telah mendorong mereka menciptakan banyak karma ringan menciptakan banyak karma ringan dan melakukan banyak kekeliruan kecil. Akumulasi kekeliruan ringan akan menjadi banyak. Jadi, tabiat buruk yang tidak diubah akan menjadi salah satu pencuri. Baik umat perumah tangga maupun praktisi, semuanya memiliki tabiat buruk kecil yang membuat mereka mudah melakukan kekeliruan. Kalian mungkin berpikir bahwa itu tidak ada salahnya. Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa jika tabiat buruk kecil tidak diubah,maka akan menjadi kesalahan besar. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sangat berhati-hati. Tabiat buruk kecil yang sulit diubah dapat menimbulkan dorongan karma. Dorongan karma yang sangat halus Dorongan karma yang sangat halus berproses di dalam tubuh, tabiat buruk kita, dan segala kondisi luar. Semua itu terkandung di dalam dorongan karma. Rupa, perasaan, persepsi, dan dorongan karma semuanya tersimpan di dalam kesadaran. Jadi, apa yang diciptakan oleh kesadaran kita? Jadi, apa yang diciptakan oleh kesadaran kita? Semua hasil perbuatan kita akan tersimpan di dalam kesadaran. Dengan membawa kesadaran ini, kita terlahir ke kehidupan mendatang.
Segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Semua perbuatan kita yang didorong Lima Agregat akan tersimpan di dalam kesadaran. Kita harus bertanggung jawab atasnya. Begitu bertanggung jawab, maka tiada habisnya. Kita tidak bisa menghindar dari tanggung jawab kita baik di dunia ini maupun di akhirat. Mungkin kita dapat menghindaritanggung jawab di dunia ini. Akan tetapi, semakin lama, karma buruk yang terakumulasi pun semakin banyak. Berhubung sudah terlahir dengan borok, Berhubung sudah terlahir dengan borok, maka kita harus segera mengobatinya. Jika lukanya bernanah, maka kita harus segera menjalani operasi untuk mengeluarkan nanah dan melakukan sterilisasi. dan melakukan sterilisasi. Jika berusaha menutupinya, maka semakin lama ia akan semakin membusuk maka semakin lama ia akan semakin membusuk dan berbau tidak sedap. Akibatnya, boroknya akan semakin besar.
Setelah melakukan suatu kesalahan, jika kita tidak mengatakannya, tidak bertobat, dan tidak mengubah tabiat buruk, maka kekeliruan kecil pun bisa menjadi kesalahan beasr. Saat terluka, kita harus segera mengobatinya. Jika melakukan kekeliruan, kita harus segera mengobati diri. Jadi, jika melakukan kesalahan, kita harus segera bertobat dan mengubah tabiat buruk. Setelah bertobat,janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama. Jika tidak, maka tabiat buruk dan kesalahan kecil kita akan semakin lama semakin besar. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus tahu untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan menyadari ketidakkekalan hidup. karena waktu terus berlalu tanpa henti. karena waktu terus berlalu tanpa henti. “Empat ekor ular berbisa” juga terus menyerang tubuh kita. Jika salah satu unsur di dalam tubuh tidak selaras, maka penderitaan kita akan tak terkira. Kita juga harus senantiasa waspada terhadap Lima Agregat yang terus menggoda. Segala perbuatan kita sungguh mendatangkan konsekuensi yang sangat besar. Sungguh, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menjaga pikiran dengan baik. Kita harus lebih bersungguh hati.