Sanubari Teduh-326-Jalan Mulia Beruas Delapan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus belajar menyelaraskan hati. Hati kita harus dipenuhi ketulusan, kebenaran,keyakinan, dan kesungguhan. Bukankah ini yang selalu didengungkan oleh para insan Tzu Chi? Setiap orang harus berlatih ke dalam batin. Bagaimana caranya? Kita harus mengembangkan ketulusan. Terhadap orang, masalah, dan hal lainnya, jika kita menggunakan ketulusan, maka tidak akan ada penyesalan. Pikiran kita, jika diliputi kebenaran,maka akan bebas dari keluh kesah. Ini karena dalam melakukan segala sesuatu, kita melakukannya dengan lurus dan tidak membangkitkan kebencian. Berhubung kita memperlakukan orang dengan lurus, kita tidak akan memiliki keluh kesah. Jadi, jika pikiran kita lurus, kita akan bebas dari keluh kesah. Kita harus membangun keyakinanagar bebas dari kerisauan. Jika kita dapat meyakini Dharma yang benar dan berlatih sesuai dengannya, maka kita tidak perlu khawatir. Keyakinan kita ini harus teguh
Berhubung sudah memiliki keyakinan yang benar, maka tekad kita haruslah teguh. Dalam melatih diri, kita harus bebasdari ketamakan dan pamrih. Orang yang memiliki tekad yang teguh tidak akan terpengaruh oleh godaan kondisi luar. Kita berlatih dengan mantap dan sungguh-sungguh sehingga bebas dari ketamakan dan pamrih. Intinya, ke dalam diri, kita harus mengembangkanketulusan, kebenaran, keyakinan, kesungguhan. Dengan begitu barulah kita bisa mempraktikkancinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin. Cinta kasih bebas dari penyesalan, welas asih bebas dari keluh kesah, sukacita bebas dari kerisauan, keseimbangan batin bebas dari pamrih. Inilah yang sering kita bahas. Dahulu kita juga pernah membahas bahwa kita harus berlatih di Jalan Mulia Beruas Delapan. Jalan mulia ini juga disebut jalan benar. Semuanya harus kita kembangkan dalam keseharian. Jalan ini meliputi pandangan benar, pengetahuan benar, ucapan benar, perbuatan benar. Pengetahuan benar sama dengan pikiran benar. Ada pula penghidupan benar. Dengan penghidupan benar, barulah kita dapat melatih diri
Berhubung telah terlahir di dunia ini dan memiliki kehidupan berkat orang tua, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkannya. Jangan biarkan kehidupan kita menyimpang. Kita pernah membahas bahwa demi membimbing rakyat Kapilavastu, Beliau kembali ke istana-Nya. Beliau membabarkan Dharma di Kapilavastu. Raja Kapilavastu adalah ayah-Nya sendiri. Sang raja juga menjadi penyokong ajaran Buddha. Dia pun meminta kerabat kerajaan yang memiliki lebih dari satu putra untuk membiarkan satu putra meninggalkan keduniawian. Karena itu, pada saat itu, dari keluarga kerajaan, banyak orang bersedia masuk ke dalam Sangha. Ada pula yang didorong oleh orang tuanya. Bukan hanya anak-anak muda, bahkan ibu tiri Buddha, istri-Nya dan putra-Nya, akhirnya juga meninggalkan keduniawian. Berhubung sudah menjalani petapaan, Buddha sudah melepaskan keduniawian. Beliau bebas dari ego dan benas dari pamrih. Beliau memandang setara terhadap semua orang. Dengan demikian, keluarga kerajaan yang masuk ke dalam Sangha juga harus menjunjung kesetaraan
Karena itu, Buddha membuat peraturan bahwa untuk bertahan hidup, bahwa untuk bertahan hidup, masing-masing orang harusmengumpulkan dana makanan. Artinya, mereka harus meminta sedekah. Artinya, mereka harus meminta sedekah. Selain merupakan cara menjunjung kesetaraan, dengan begitu setiap hari mereka berkesempatan untuk bertemu dengan anggota masyarakat. Ini yang disebut menjalin jodoh untuk membimbing. Demi meneruskan misi Buddha, mereka harus terjun ke masyarakat dengan mengumpulkan sedekah. Mereka berjalan dari rumah ke rumah untuk meminta sedekah.Ini sama dengan menjalin jodoh agar para umat ataupun khalayak ramai berkesempatan memberi sedikit sumbangsih bagi para petapa. Dengan memberikan semangkuk nasi, mereka berarti sudah menjalin jodohdengan para praktisi. Jadi, mengumpulkan dana makanan memiliki makna demikian
Karena itu, saat ajaran Buddhamenyebar ke Tiongkok, praktik ini disebut menjalin jodohuntuk membimbing. Para anggota Sangha diharapkan dapatmenjalin jodoh dengan banyak orang. Ini adalah cara untuk mengajak warga masyarakat untuk bersumbangsih dan memupuk pahala. Mendengar kata “pahala”, orang-orang sangat gembira. Namun, kondisi zaman perlahan mulai berubah. Di kemudian hari, saat Master Chan Bai Zhang mendirikan vihara, beliau menetapkan prinsip sehari tidak bekerja, sehari tidak makan. sehari tidak bekerja, sehari tidak makan. Jadi, kita harus memahami penghidupan benar. Penghidupan benar bertujuan agar kita dapat menjalani hidup dengan cara yang tepat dan tidak menyimpang serta jauh dari ketamakan. Setelah ajaran Buddha menyebar ke Tiongkok, kita menjalani kehidupan vihara yang dapat menjangkau masyarakat, tetapi tanpa mengabaikan kemandirian. Inilah konsep yang digagas Master Bai Zhang. Dalam kehidupan kita, kita juga harus terjun ke masyarakat, tetapi kita juga harus mandiri. Jadi, saat menjalani kehidupan, di saat yang sama kita harus melatih diri
Untuk bisa hidup dengan sehat, Untuk bisa hidup dengan sehat, kita harus bekerja. Kita harus bekerja untuk hidup. Jika pikiran kita bisa lurus dan tulus seperti ini, Jika pikiran kita bisa lurus dan tulus seperti ini, maka kita tidak akan terjebak oleh ego. Semua orang adalah setara. Kita harus tulus terhadap semua orang. Ketulusan diperlukan untuk mewariskan Dharma. Terhadap orang lain, kita harus sangat tulus agar bisa membimbing semua makhluk dan menjalin jodoh yang baik dan menjalin jodoh yang baik untuk membangkitkan cinta kasih semua orang. untuk membangkitkan cinta kasih semua orang. Jadi, kita harus menggunakan ketulusan untuk membimbing orang-orang agar membangkitkan cinta kasih. Cinta kasih ini adalah tanpa penyesalan. Kita semua sudah hafal ungkapan ini. Untuk membimbing orangmengembangkan cinta kasih, kita memerlukan ketulusan. Jika kita tidak tulus, bagaimana kita bisa membimbing orang dan membangkitkan cinta kasih? Perilaku kita juga harus benar dan lurus. Jika perilaku kita tidak benar, bagaimana kita bisa membangkitkanwelas asih orang lain? Welas asih adalah tanpa keluh kesah. Kita berharap semua orang dapat membangkitkancinta kasih dan welas asih. Cinta kasih berarti membawa kebahagiaan. Saat melihat orang yang menderita,kita mengulurkan kemampuan untuk meringankan penderitaan mereka
Melihat orang lain tertolong, kita juga merasa bahagia. Untuk itu, kita harus membangun keyakinan. Kita harus membangun keyakinandalam bersumbangsih. Jika yang diyakini benar dan yang dilakukan juga benar, maka saat melihat orang-orang tertolong, kita akan bersukacita. Sukacita adalah bebas dari kerisauan. Jika tekad kita teguh, Jika tekad kita teguh, maka kita akan dapat melangkah dengan mantap. Dengan langkah yang mantap,kita tidak akan menyimpang. Kita tidak akan menyimpangdalam bersumbangsih bagi masyarakat. Inilah keseimbangan batin. Kita membimbing yang mampu untukmenolong yang kurang mampu, juga mendidik yang kurang mampuuntuk turut menciptakan berkah. Untuk membangkitkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batindi dalam hati semua orang, kita sendiri harus memiliki keyakinan,kesungguhan, keyakinan, dan kebenaran. Dalam pelatihan diri di tengah kehidupan, aspek tubuh dan batin harus seiring. Dari aspek tubuh, kita harusmenjalankan praktik nyata, teguh memegang prinsip sehari tidak bekerja, sehari tidak makan. Untuk dapat bertahan hidup, kita harus bekerja mengandalkan tubuh kita. Batin kita juga harus sehat. Jadi, tubuh dan batin kita harus sehat. Inilah penghidupan benar
Anggota Sangha harusmengumpulkan sedekah makanan. Namun, yang kita kumpulkan bukan hanya makanan fisik, melainkan juga makanan untuk jiwa kebijaksanaan. Kita berharap jiwa kebijaksanaan kita bertumbuh. Ini juga termasuk penghidupan benar. Yang keenam adalah usaha benar. Usaha benar berarti berlatih sesuai jalan tanpa tercemar. Kita berlatih sesuai jalan kebenaran. Dengan memiliki usaha benar, kita tidak akan menyimpang atau tersesat. Setelah memilih arah yang benar, Setelah memilih arah yang benar, kita harus mulai melangkah serta tekun dan bersemangat setiap hari. Kita harus berlomba dengan waktu. Kita harus berlomba dengan waktu. Jalan yang kita latih dan praktikkan hendaknya tidak tercemar. Kita berlatih demi manfaat diri sendiri dan terjun ke masyarakat demi manfaat orang lain. Jadi, di tengah masyarakat,kita membawa manfaat bagi orang lain. Untuk diri sendiri,kita harus sungguh-sungguh berlatih demi menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Inilah manfaat bagi diri sendiri. Jadi, daya upaya kita tidak boleh tercemar
Tekun berarti tidak terganggu kondisi luar, bersemangat berarti maju pantang mundur. Berhubung kita sudah memiliki keyakinan benar, maka jangan sampai ada pencemaran. Jangan biarkan pikiran pengganggutimbul dalam batin kita. Inilah usaha benar. Berikutnya adalah perhatian benar. Perhatian benar berarti pikiran kita harus berfokus pada kebajikan. Kita harus fokus. Terhadap Dharma yang benar, pikiran kita harus fokus, tidak boleh terpecah. Jika kita teguh, maka tekad kita tak akan goyah. Berhubung memiliki tekad yang tak tergoyahkan, lalu di mana kita memusatkan perhatian kita? Kita harus senantiasa sadar dan ingat. Kita harus senantiasa sadar dan ingat. Setelah mendengar Dharma, kita harus merenungkan dan mempraktikkannya. Jalan Mulia Beruas Delapan yang merupakan jalan benar ini harus senantiasa kita ingat. Baik dalam pandangan, pikiran, ucapan, perbuatan, maupun dalam penghidupan kita, kita harus sepenuh hati. Daya upaya kita juga hendaknya tidak tercemar. Kita harus selalu mengingatnya di dalam hati. Inilah perhatian benar dan kesungguhan hati
Pikiran kita harus terfokus. Kita harus selalu ingat akan kebajikan. Hal yang baik harus kita lakukan setiap hari. setiap hari. Bukan hanya setiap hari, bahkan dalam setiap waktu, dalam setiap menit dan detik,kita tidak boleh meninggalkan jalan ini. Kita harus terus tekun dan bersemangat di dalam jalan ini. Jadi, kita harus sepenuh hati. Inilah pikiran yang terfokus pada kebajikan. Yang kedelapan adalah konsentrasi benar. Arti dari konsentrasi benar adalah Sepenuh hati berdiam dalam kebenaran. Pikiran kita hendaknya sangat teguh. Pikiran kita harus menyelami kebenaran. Pikiran kita harus menyelami kebenaran. Pikiran kita harus berdiam dalam kebenaran. Jangan biarkan tekad kita tergoyahkan oleh berbagai ucapan, tindakan, atau masalah dalam keseharian. atau masalah dalam keseharian. Kita harus sangat teguh dan berada dalam konsentrasi benar. Banyak orang mengira konsentrasi benar hanya dapat dicapai dengan duduk bermeditasi hanya dapat dicapai dengan duduk bermeditasi, Tidak.
Duduk bermeditasi adalah latihan bagi kita Duduk bermeditasi adalah latihan bagi kita untuk memusatkan pikiran pada tubuh, menyelaraskan energi di dalam tubuh, menyelaraskan napas, serta mengembalikan pikiran liar menjadi terpusat. Jika kita dapat bersatu dengan Dharma dan berada di dalam Dharma, maka segala aktivitas tidak lepas dari samadhi. Saat makan dan minum punkita berada dalam samadhi. Batin yang tanpa pikiran liar ataupun kemelekatan, inilah yang disebut konsentrasi benar. Jalan ini disebut Jalan Mulia Beruas Delapan. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus berlatih di Jalan Mulia Beruas Delapan ini. Jika kita dapat memusatkan pikiran di jalan ini, berarti kita berada di jalan benar. Jalan mulia ini sama dengan jalan benar. Dengan berada di jalan mulia ini, berarti kita berada di dalam kebenaran. Di dalam Sutra dikatakan,”Memutus sumber kegelapan batin, berjuang tanpa henti menuju Nirvana.” Artinya, kita harus berusaha untuk membuang kegelapan batin. Pembahasan kita yang panjang lebar selama ini tak lain mengajarkan untukmemutus kegelapan batin. Kegelapan batin telah mengacaukan batin kita. Begitu batin kita kacau, maka perbuatan kita juga akan kacau. Jika perbuatan kita kacau, maka segala perbuatan kita ini akan mengacaukan pelatihan diri kita. Jika pelatihan diri kita kacau, maka kita akan menciptakanlebih banyak karma buruk
Jadi, sumber kegelapan batin terletak pada sebersit pikiran yang menyimpang. Sebersit kegelapan batinmenimbulkan tiga aspek halus. Kontak dengan kondisi luar menumbuhkanenam aspek kasar. Pikiran kita mulanya sangat bersih. Hakikat kebuddhaan kita sangat murni. Hanya saja, akibat sebersit kegelapan batin, kita jadi terjerumus ke dalam Tiga Alam. Noda batin membuat kita jatuh ke Tiga Alam. Jika dirunut kembali bagaimana kita bisa terjerumus ke Tiga Alam, maka jawabannya adalah12 Mata Rantai Sebab Akibat. Jadi, Dharma harus terus didalamidari yang kasar hingga yang halus. Setelah kita memahami Dharma secara kasar, kita harus menyelaminya perlahanhingga yang terhalus. Dengan demikian, barulah kita akan dapat kembali pada hakikat sejati kita. Ini adalah kebenaran yang halus dan menakjubkan. Untuk dapat memahami kekosongan dan eksistensi serta hakikat sejati yang murni tanpa noda, kita harus melenyapkan sumber kegelapan batin. Semuanya terletak pada pikiran. Intinya, kadang jika dilihat dari permukaan, ajaran Buddha terasa sangat rumit, tetapi ketika kita menyelami secara mendalam, maka kita akan menemukan ternyata sumber kegelapan batin hanya terletak pada pikiran. Akibat sebersit pikiran keliru, kita terjerumus dalam penderitaan enam alam. Ini akibat pikiran yang tidak benar. Jadi, kita harus kembali pada kebenaran, salah satunya adalah perhatian benar
Ini berkaitan dengan Jalan Mulia Beruas Delapan yang telah kita bahas tadi. Jika kita dapat memahaminya, kita akan dapat memutus sumber kegelapan batin. Di manakah sumber kegelapan batin? Pikiran. Jadi, kita harus menyelaraskan kembali pikiran kita dan mengarahkannya ke arah Nirvana. Nirvana adalah kondisi yang hening. Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas tertulis tentang kondisi yang hening dan jernihserta tekad yang luas dan luhur. Inilah kondisi Nirvana, begitu hening dan jernih. Ia merujuk pada hakikat sejati manusia yang murni. Jadi, kita harus berjuang tanpa henti menuju Nirvana. Artinya, lita menetapkan tujuan kita dan meneguhkan tekad untuk berlatih tanpa henti. Tekad kita tidak boleh berhenti untuk mencapai Nirvana. Tentu, meski kita tahu tentang hakikat yang murni dan tahu tentang Jalan Mulia Beruas Delapan, tetapi kita masih merupakan makhluk awam. Dalam tataran makhluk awam, adakalanya untuk senantiasa menjaga pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar,dan penghidupan benar tidaklah semudah itu. Usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar juga bukan sesuatuyang dapat dicapai dengan mudah. Karena itu, kita membutuhkan faktor pendukung agar pikiran kita dalam senantiasa teguh. Kita tentu harus waspada akan segala kemungkinan. Bagaimana kita dapat meneguhkan pikiran kita? Kita memiliki37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. 37 faktor ini adalah alat untuk membantu kita
Sesungguhnya di dalam 37 faktor ini juga tercakup Jalan Mulia Beruas Delapan. Di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, Jalan Mulia Beruas Delapan diungkit lebih dahulu agar kita semua terlebih dahulu tahu bahwa kegelapan batin bermula dari sebersit pikiran. Akibat adanya pikiran keliru, Akibat adanya pikiran keliru, kita mengalami banyak penderitaan. Kini kita tengah mendengar Dharma dan telah membahas banyak istilah. Intinya, jika kita dapat menyelaraskan pikiran, kita akan dapat kembali pada kondisi Nirvana. Inilah kondisi batin yang benar. Sebagai jalan menuju ke sana,Jalan Mulia beruas Delapan dibahas lebih dahulu. Namun, untuk menjaga batin di jalan benar ini, kita memiliki 37 faktor pendukung. Jalan Mulia Beruas Delapan sendiri juga termasuk di dalam 37 faktor pendukung yang dapat membuat kita membuang kesesatandan kembali pada kebenaran. 37 faktor ini saling berkaitan. Saat berlatih di Jalan Mulia Beruas Delapan, kita juga tidak boleh mengabaikan faktor lain yang jumlahnya mencapai 37 itu. Semua ini saling berkaitan.
Kita harus memahami semuanya. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddhatentu membutuhkan cara. Berhubung kita sudah jatuh ke dalam Tiga Alam dan terus terlahir dalam enam alam kelahiran serta merasakan berbagai penderitaan, maka tentu tubuh dan batin kita juga terpengaruh. Batin kita membangkitkan lebih banyak noda dan tubuh kita menciptakan lebih banyak karma. Ini menyebabkan kondisi masyarakat semakin rumit dan metode Dharma yang diperlukanjuga semakin kompleks. Jika diucapkan, memang terdengar sederhana. Jika pikiran kita lurus, jalan kita akan benar. Jika pikiran, jalan, dan perbuatan sudah benar, maka Dharma apa lagi yang perlu dibabarkan? Namun, kita masih makhluk awam. Selanjutnya masih ada berbagai faktor pendukung yang tidak terpisahkan dariJalan Mulia beruas Delapan yang membentuk37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Jadi, kita tetap harus selalu bersungguh hati.