Sanubari Teduh-346-Empat Jenis Pengamatan Bagian 12
Saudara se-Dharma sekalian, yang berwujud dan tak berwujud, tiada yang bukan wujud. Sesungguhnya, berwujud atau tidak? Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas tertulis, “Tubuh-Nya tanpa wujud sekaligus berwujud.” “Dia memiliki wujud seperti makhluk hidup yang dapat membuat semua makhluk bersukacita, dengan tulus menyatakan penghormatan.” Penggalan ini tentu juga tengah memuji tubuh Buddha atau tubuh Tathagata. Sebelum membahas penggalan ini, kita telah membahas pengamatan terhadap sebab dan kondisi, terhadap buah dan akibat, terhadap tubuh sendiri. Kini kita membahas pengamatan terhadap tubuh Tathagata. Mengenai tubuh Tathagata ini, sesungguhnya bagaimanakah wujud atau cirinya? Ia tak terkondisi, hening, dan cemerlang, Ia tak terkondisi, hening, dan cemerlang, terlepas dari 4 ungkapan dan segala kenegatifan, sempurna dalam berbagai kebajikan, jernih, dan abadi. Inilah wujud atau ciri Buddha, bersifat alami, murni, dan tak ternoda. Jadi, tiada lagi berbagai gangguan noda batin. Segala kenegatifan pun telah diakhiri. Kualitas kebajikan Buddha sudah sempurna. Inilah wujud keluhuran Buddha. Jadi, mengenai wujud keluhuran Buddha ini, ungkapan “bukan ada”, “bukan tidak ada”, “ada sekaligus tidak ada”, “bukan bukan ada dan bukan bukan tidak ada”, semuanya tak mampu menggambarkannya. Seperti yang sering kita katakan, “Membuka hati hingga seluas alam semesta.” Jika ditanya seberapa lapang hati Buddha, jawabannya sangat lapang.
Hingga selapang apa? Hingga dapat merangkul seluruh alam semesta. Seberapa besarkah kapasitas hati Buddha? Sangat besar, dapat melingkupi seluruh atom di alam semesta. Jika ditanya seberapa luas lingkup hati Buddha, maka di mana terdapat debu atau atom, di sana pun terlingkupi hati Buddha. Jadi, hati Buddha tak dapat diukur, terlebih lagi tak dapat digambarkan kapasitas atau luasnya. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus kembali dari tataran awam menuju tataran yang sama dengan Buddha. Untuk kembali pada tataran Buddha, kita harus menggunakan Sepuluh Paramita, 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Dengan cara-cara ini, barulah kita dapat menemukan jalan. Inilah yang sebelumnya kita bahas. Kini, jika kita ingin membahas ciri dan wujud Buddha, Di dalam penggalan Sutra Makna Tanpa Batas kembali diuraikan dengan lebih jelas. “Tubuh-Nya tanpa wujud sekaligus berwujud. “Di sini dikatakan “tanpa wujud”. Meski demikian, tetapi juga memiliki tubuh yang berwujud. Hakikat kebuddhaan tidaklah berwujud, tetapi untuk berada di alam manusia, Buddha lahir di alam manusia lebih dari 2.500 tahun yang lalu di Kapilavastu, tepatnya di wilayah Nepal saat ini, sebagai anak seorang kepala suku atau yang dahulu disebut raja. Permaisuri dari raja itu melahirkan anak. Inilah wujudnya. Dia lambat laun tumbuh dewasa dan bersentuhan dengan kondisi sekitar. Hakikat kesadarannya pun tetap terjaga seiring perkembangan ini. Hakikat kesadaran yang dibawanya sejak lahir tidak tercemar oleh kondisi luar. Karena itu, pemikirannya berbeda dari orang pada umumnya. Dia lahir di lingkungan yang penuh kebahagiaan, tetapi Dia malah memikirkan nasib para budak dan orang-orang yang kurang mampu.
Dia menikmati kehidupan yang bahagia, tetapi memikirkan orang-orang yang menderita. Kehidupannya dilewati dengan begitu lancar, tetapi Dia malah memikirkan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian serta ketidakkekalan di dunia. Dari sana, dia juga memikirkan cara untuk menggali lebih dalam kebenaran sejati yang tak pernah berubah. kebenaran sejati yang tak pernah berubah. Inilah perbedaan dirinya dan kita. Hidup di tengah kenikmatan dan kemewahan, dia tetap bisa memikirkan penderitaan orang dan merenungkan ketidakkekalan. Dia bahkan dapat berpikir bahwa kehidupan ini pasti menyimpan kebenaran yang dalam dan tak pernah berubah seiring siklus alam. dan tak pernah berubah seiring siklus alam. Karena itu, Dia pergi melatih diri. Apakah kita memiliki kesadaran seperti ini? Ada, hanya saja kita memiliki sebersit penyimpangan. Jika ditanya, “Apakah Buddha ada?” Ada. “Coba perlihatkan.” Bagaimana caranya? Namun, di dunia ini, keteladanan dan kebijaksanaan-Nya tetap ada selamanya. Ini juga termasuk berwujud. Apakah wujud tubuh-Nya masih ada? Tidak ada. Beliau hanya hidup hingga usia 80 tahun. Setelah hidup selama 80 tahun, Buddha wafat. Setelah wafat, tubuh-Nya tidak ada lagi. Namun, apakah Buddha masih ada? Ada. Bukankah kini kita masih mengagumi tubuh Dharma-Nya? Tubuh Dharma dan ajaran-Nya masih ada di dalam hati kita.
Inilah yang disebut tubuh Tathagata. Tubuh Tathagata tersebar di hati Anda dan saya, Tubuh Tathagata tersebar di hati Anda dan saya, bahkan di seluruh dunia. Tak peduli apa pun status sosialnya, di dalam hati semua makhluk terdapat hati Buddha yang sama. Jadi, dikatakan, “Tubuh-Nya tanpa wujud sekaligus berwujud.” Buddha muncul di dunia. Sesungguhnya, hakikat-Nya tak bertambah dan tak berkurang. Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan ini. Karena hakikat kebuddhaan yang telah memancar, maka kita selalu mengingat wujud-Nya. Keteladanan-Nya selamanya menjadi acuan bagi kita dan tujuan dari pembelajaran kita. Dengan demikian, wujud ini sesungguhnya ada pada semua makhluk. Kita semua terlahir ke dunia ini dan memiliki wujud yang sama dengan ketika Buddha lahir ke dunia. yang sama dengan ketika Buddha lahir ke dunia. Buddha dan kita sama-sama memiliki tubuh dan rupa. Sebagai makhluk hidup, secara umum kita disebut manusia. Namun, setiap individu juga berbeda. Kalian dapat mengenali saya saat melihat saya sehingga tak akan memanggil nama orang lain. Inilah letak perbedaannya.
Kalian yang duduk di hadapan saya, masing-masing memiliki wajah berbeda-beda. Namun, semuanya sama-sama manusia. Sama-sama manusia, Sama-sama manusia, tetapi tabiat kita juga berbeda-beda. Jika kita bisa memahami kebenaran ini, maka kita akan dapat memahami ungkapan “sama dengan wujud tubuh semua makhluk”. Kita memang tak sepenuhnya serupa dengan Buddha, tetapi Buddha dan kita sama-sama lahir di dunia, sama-sama memiliki tujuh lubang di wajah, memiliki empat anggota gerak. Kita dan Buddha memiliki hakikat batin yang sama. Kita dan Buddha memiliki hakikat batin yang sama. Inilah yang disebut wujud atau ciri. Namun, keteladanan Buddha hingga saat ini dapat membuat semua makhluk merasa hormat dan bahagia. Inilah mengapa setiap mengikuti kebaktian pagi, kita selalu merasa sukacita. Kita mengungkapkan rasa hormat yang sangat tulus. yang sangat tulus. Ini karena saat berada di dunia, Buddha memberikan keteladanan dan kebijaksanaan yang dapat terus diwariskan. Jiwa kebijaksanaan dan tubuh Dharma-Nya masih hidup di dalam hati kita. Semua makhluk pada dasarnya memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Dalam memahami pengamatan terhadap tubuh Tathagata ini, kita harus sepenuh hati. Inilah tujuan kita. Kini kita masih makhluk awam. Kita harus senantiasa mengamati bahwa tubuh kita tidak bersih, kehidupan kita tidaklah kekal, pikiran kita terus berubah, dan berbagai penderitaan lainnya.
Inilah makhluk awam. Jadi, setelah mengamati tubuh diri sendiri, kita harus mengamati tubuh Buddha yang berbeda dari tubuh kita. Tubuh Buddha amat jernih dan hening. “Meski memasuki parinirvana sebagai metode terampil, tetapi pertolongan dan welas asih-Nya tidak pernah berhenti.” “Bangkitkan pikiran seperti ini.” Kita harus membangkitkan pikiran seperti ini. Meski kedatangan Buddha ke dunia adalah metode terampil, tetapi sesungguhnya tubuh Buddha selalu ada. Demi menunjukkan ajaran, maka meski Beliau adalah seorang Buddha, tetapi kehidupan-Nya sebagai manusia tetap hanya selama 80 tahun. Buddha hidup di alam manusia selama 80 tahun. Banyak orang yang hidup hingga 80 tahun, bahkan sampai 90 tahun. Ada juga yang sampai 100 tahun lebih. Jadi, setelah hidup selama 80 tahun, Buddha wafat. Fenomena yang Beliau tunjukkan ini bertujuan agar kita makhluk awam memahami bahwa setelah menjadi Buddha, manusia tetap tak lepas dari hukum alam. Fase kehidupan yang dilalui Buddha sama dengan manusia pada umumnya. Di dalam Sutra, kita juga menemukan cerita bahwa Buddha pernah sakit kepala, mengalami sakit pinggang, dan penyakit lainnya. Beliau juga pernah terluka akibat menginjak ranting. Segala fenomena ini sama dengan manusia pada umumnya. Inilah yang disebut menunjukkan fenomena. Beliau menunjukkan kondisi ini agar kita memahami bahwa Buddha juga tidak lepas dari hukum alam. Selama kita lahir di dunia, maka tubuh daging ini akan hidup mengikuti alam. Harap kita semua dapat mengasihi diri sendiri.
Di dalam kehidupan ini, kita tak lepas dari usia tua, penyakit, dan kematian. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu yang ada. Buddha telah wafat, Buddha telah wafat, tetapi welas asih-Nya untuk menolong semua makhluk tidak pernah berhenti. Buddha adalah guru utama Dunia Saha ini. Di dalam kehidupan-Nya itu, Beliau juga mengalami sakit, kesulitan, dan merasakan berbagai rintangan. Namun, karya Beliau tak pernah berhenti. Usaha Beliau untuk membimbing semua makhluk tidak pernah berhenti. Setelah wafat, Beliau juga tidak meninggalkan Dunia Saha ini. Dunia Saha adalah tempat-Nya mengajar. Karena itu, hingga kini kita masih mengenang Buddha Sakyamuni sebagai guru utama Dunia Saha dan sebagai ayah dari Empat Kelahiran. Beliau terus berada di dunia ini tanpa henti. Kita hendaknya dapat memahami hal ini. Kita harus tahu bahwa Buddha senantiasa jernih dan abadi. Dia tidak pernah tergoyahkan. Meski dari segi fenomena Beliau telah wafat, tetapi hakikat kebuddhaan tidak pernah mati. Ia selamanya ada di dunia ini. Tubuh Dharma selamanya ada di dunia. Ia bisa dikatakan abadi, tidak berubah dan tidak lenyap. tidak berubah dan tidak lenyap. Tubuh Buddha senantiasa ada, tidak pergi dan tidak dating.
Bukan berarti Buddha sudah meninggalkan dunia ini. Tidak begitu. Setiap hari kita terus mengenang Buddha, kita juga berusaha mengikuti langkah-Nya. Buddha masih membimbing semua makhluk untuk maju melangkah. Jadi, Buddha tetap ada di dunia. Hakikat kesadaran dimiliki oleh setiap orang. Jadi, pikiran kita tidak boleh menjauh dari hakikat kesadaran ini. Kita harus selalu mengikuti langkah Buddha. Datang ke dunia ini, Buddha tidak mungkin meninggalkan metode terampil. Apa yang dimaksud metode terampil? Ia tak lepas dari cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Ini adalah metode untuk membimbing makhluk hidup berkemampuan tumpul. Mengapa dunia ini penuh penderitaan? Seharusnya tidak begitu. Namun, semua makhluk menciptakan karma buruk. Lalu bagaimana? Tentu harus ada yang membimbing. Kita terlebih dahulu menolong mereka untuk melenyapkan penderitaan, baru kemudian menuntun ke arah yang benar. Kita terlebih dahulu menolong mereka, baru kemudian membimbing mereka. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Namun, jika kita langsung berkata, “Kamu memiliki hakikat yang sama dengan Buddha,” orang itu tetap tidak akan sadar. Kita harus lebih dahulu memberikan cinta kasih untuk melenyapkan penderitaan mereka. Dengan begitu, kita menjalin jodoh baik. Setelah mengenal mereka lebih dekat, mereka akan lebih bisa menerima nasihat kita. Jika tidak, bagaimana kita bisa membimbing mereka? Jadi, kita harus menggunakan cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin.
Inilah yang disebut metode untuk mendekati semua makhluk. Daya tangkap semua makhluk cenderung tumpul. Bagaimana kita dapat membimbing mereka? Contohnya, di Tzu Chi, kita berusaha membimbing yang mampu untuk menolong yang kurang mampu. Banyak orang yang mampu. Namun, kita juga membimbing mereka agar menyadari bahwa kekayaan tidaklah kekal dan juga mengandung kerisauan. Kita mengajak mereka melihat tempat-tempat yang penuh kemiskinan dan penderitaan. Kita membantu orang-orang di sana. Membantu orang membawa kebahagiaan. Setelah membantu orang, diri sendiri merasa gembira. Inilah cara membimbing yang mampu untuk menolong yang kurang mampu. Mereka menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Ini juga termasuk cara untuk menginspirasi. Berkat hal ini, orang yang menderita juga terbantu. Kita bisa melihat betapa banyak orang yang setelah ditolong, juga terinspirasi. Kisah seperti ini sungguh banyak. Jadi, kita harus tahu, “Ini adalah cara yang baik untuk memadamkan kesalahan dan praktik untuk melenyapkan rintangan.” “Karena itu, kami dengan tulus menyatakan pertobatan.” Apa yang disebut cara yang baik untuk memadamkan kesalahan? Empat jenis pengamatan. Pertama adalah mengamati sebab dan kondisi, kedua adalah mengamati buah dan akibat, ketiga adalah mengamati tubuh diri sendiri, keempat adalah mengamati tubuh Tathagata. Empat jenis pikiran ini harus selalu kita ingat di dalam hati. harus selalu kita ingat di dalam hati. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mengamati hukum sebab akibat dan diri sendiri. Kita hendaknya merenungkan bahwa tubuh ini tidak bersih, bahwa perasaan membawa derita, bahwa pikiran tidak kekal, dan bahwa segala fenomena adalah tanpa inti. Ini berkaitan dengan diri kita dan dapat selalu ada di dalam pikiran kita. Selain itu, Empat Kebenaran Mulia juga harus kita ingat di dalam hati.
Tanpa empat jenis pengamatan ini, bagaimana kita bisa memutus noda batin? Karena itu, saya terus mengingatkan semua orang bahwa selain memiliki empat jenis pengamatan untuk memutus noda batin, kita juga harus menggunakan Enam Paramita, Empat Pikiran Tanpa Batas, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Semua ini dapat memutus noda batin dan membangkitkan kesadaran hakiki kita sehingga kecemerlangan batin memancar. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha harus sepenuh hati. Janganlah hanya mendengar sambil lalu, kemudian melupakannya. Itu sangat disayangkan. Mengenai cinta kasih dan welas asih dalam Empat Pikiran Tanpa Batas, coba bayangkan, jika ingin membahas wujud nyata, kita semua masih ingat para relawan lokal di Afrika Selatan. Mereka juga mengenakan seragam Tzu Chi. Saat saya menceritakan tentang mereka, kalian semua mungkin masih ingat gambaran tubuh mereka yang besar dan kulit mereka yang hitam, berjalan di medan yang sulit, dan mendaki gunung dengan gembira. Mereka berjalan sambil bernyanyi riang. Para relawan ini mungkin sering muncul dalam ingatan kita. mungkin sering muncul dalam ingatan kita. Bayangkan, para Bodhisattva berkulit hitam ini juga mengalami kesulitan hidup di sana. juga mengalami kesulitan hidup di sana. Kehidupan mereka sangat sulit.
Keyakinan mereka juga berbeda-beda. Sebagian besar beragama Kristen dan Katolik. Mengapa mereka begitu cinta Tzu Chi? Mengapa hati mereka sangat dekat dengan hati kita? Terutama tekad mereka untuk mengikuti saya, sungguh sangat teguh. Teringat bagaimana mereka dalam kondisi sulit masih rela merawat pasien pengidap AIDS dan harus menempuh medan yang berat, cinta kasih mereka ini sungguh tak dapat kita ungkapkan dengan kata-kata. Di antaranya, ada seorang yang bernama Doris. Dia sulit untuk bergerak dan berjalan karena pernah mengalami kecelakaan. Akibatnya, kakinya tak leluasa bergerak. Terlebih lagi, bentuk tubuhnya besar. Kita pernah melihat tayangan dirinya berjalan naik turun gunung bersama relawan lainnya. Dia kekurangan dari segi ekonomi. Hidupnya sangat sulit. Dia seorang diri membesarkan anaknya. Anaknya juga sudah tinggal di luar. Dia pun sudah memiliki cucu. Dia tinggal seorang diri, tetapi tetap bahagia. Di Afrika Selatan banyak orang terjangkit AIDS. Virus AIDS memiliki masa inkubasi panjang. Ada orang yang terjangkit sejak lahir, ada pula yang terjangkit akibat hubungan seksual. Satu saja pembawa virus dapat menjangkiti banyak orang.
Jadi, di sana penderita AIDS amat banyak. Di daerah tempat tinggalnya, ada sebuah keluarga yang terdiri atas dua pasang saudara kembar ditambah tiga orang saudara kandung. Jumlah seluruhnya adalah tujuh anak. Ayah tujuh anak ini sudah lama meninggal dunia. Beberapa lama kemudian, ibunya juga meninggal. Anak yang tertua berusia 14 tahun. Yang termuda berusia 4 atau 5 tahun. Dengan kondisi demikian, bagaimana anak-anak ini bertahan hidup? Setelah ibu dari anak-anak itu meninggal, Doris segera membantu mengurus pemakaman si ibu. Doris melihat anak-anak itu berlutut di makam ibu mereka yang terletak di sebelah makam ayah mereka. yang terletak di sebelah makam ayah mereka. Melihat anak-anak itu berdoa di depan makam kedua orang tua mereka, Doris merasa sangat sedih. Doris merasa sangat sedih. Dia sendiri sangat kekurangan, tetapi dia merawat anak-anak itu seperti cucu atau anaknya sendiri. seperti cucu atau anaknya sendiri. Saat dia berhalangan, dia akan mencari saudaranya atau relawan. Semua orang bekerja sama membantu mereka.
Bayangkan, kondisi ekonominya begitu sulit. Meski begitu, dia masih bisa membantu orang. Dengan kondisi usianya, dengan kondisi tubuhnya, dengan kondisi tulangnya yang pernah patah akibat kecelakaan dan membuat sulit bergerak, dia tetap berani. Wujud tubuhnya mungkin berbeda dari kita, tetapi hatinya sama dengan hati kita. Hati kita sama dengan hati Buddha, penuh cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dia sendiri menderita. Dia tahu rasanya penderitaan. Jadi, dia mau membantu orang yang lebih menderita. Kita membimbing yang kaya untuk menolong yang kurang mampu, sedangkan dia membimbing yang kurang mampu untuk turut bersumbangsih dan membangkitkan kekayaan cinta kasih. Saudara sekalian, kita harus menjaga pikiran ini. Jika pikiran ini tidak dijaga dengan baik, maka kita tidak tahu kapan kita baru bisa membangkitkan cinta kasih yang murni. Jadi, Saudara sekalian, cinta kasih yang murni ini pada dasarnya ada di hati kita. Ini sama dengan hati Buddha. Jadi, harap semua senantiasa bersungguh hati.