Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-352-Keseimbangan Pengetahuan dan Praktik

Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi, saat ingin memberikan ceramah, saya tidak bisa mengulas tentang jalan kebenaran jika tidak sepenuh hati. Jalan bersumber dari pikiran.  Bagaimana cara kita mempraktikkan jalan ini? Jalan adalah kebenaran. Bagaimana cara saya menjelaskan kebenaran? Harus dimulai dari hati. Setiap hari kita mendengar banyak hal, Setiap hari kita mendengar banyak hal, tetapi ada berapa banyak hal yang sungguh-sungguh kita pahami? Kita tidak dapat memahaminya karena sudah memiliki opini dan persepsi terlebih dahulu. Selain itu, kita juga sibuk menghadapi pikiran yang bukan-bukan di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua pandangan dan noda batin itu, bisakah kita pahami satu per satu? Orang yang lebih pandai berkata, “Saya paham.” “Saya juga mengetahui istilahnya.” “Saya tahu saat tubuh bersentuhan dengan kondisi luar, dapat mendatangkan banyak noda batin.” “Setelah mendengar berbagai istilah, saya memahaminya.” Setelah memahaminya, bisakah kita menjelaskannya? Bisa. Lihatlah 12 Bagian Tripitaka. Bagian mana yang ingin kalian minta saya jelaskan? Setelah membacanya, saya dapat menjelaskannya satu per satu. Dengan pengetahuan orang masa sekarang, itu tidaklah sulit. Karena sudah memahaminya, maka itu terasa mudah bagi mereka. Setelah memahami begitu banyak, apakah kita sudah berupaya memutus persepsi dan noda batin? Mereka terlihat seperti sudah memutuskan persepsi dan noda batin.

Setelah memahaminya, mengapa kita enggan memutusnya? Sayangnya, pemahaman mereka hanya di permukaan. pemahaman mereka hanya di permukaan. Mereka terlihat sudah mengerti karena dapat menjelaskannya. karena dapat menjelaskannya. Ini lebih mudah. Karena itu, dikatakan bahwa mudah untuk memahaminya, tetapi sulit untuk menjalankan. Lebih mudah memperoleh pemahaman. Pilih satu Sutra, lalu sungguh-sungguhlah memahaminya. Ini lebih mudah, tetapi untuk  sungguh-sungguh memutus noda batin lebih sulit. Jadi, untuk menyadari kebenaran, bukanlah hal yang mudah. Tidaklah mudah untuk menyadari kebenaran. Saat mengulas tentang persepsi dan noda batin, kita terkesan sudah tahu, tetapi untuk sungguh-sungguh menyadarinya, bukanlah hal yang mudah. Untuk memperoleh kesadaran, kita harus memiliki pelatihan diri. Setelah mengetahui begitu banyak, apakah yang kita pahami sungguh ada begitu banyak? Kita tahu bahwa kita tak seharusnya bersikap penuh perhitungan, kita hendaknya membuka pintu hati, dan bersikap lapang dada. Semua penjelasan itu sangatlah mudah. Namun, saat bertemu masalah dan diminta untuk membuka hati serta bersikap lapang dada, itu sangatlah sulit. Mudah untuk mengerti, sulit untuk menjalankan. Untuk sungguh-sungguh melakukannya lewat tindakan nyata, itu tidaklah mudah.

Untuk melakukannya, kita harus memutus noda batin agar tidak ada konflik antarsesama. Dengan begitu, baru kita dapat menyadari kebenaran. Ini juga bergantung pada sebersit niat. Pengetahuan dan praktik hendaknya seimbang layaknya menghargai kehidupan. Pengetahuan dan praktik kita harus seimbang. Setelah memahaminya,  kita juga harus tahu untuk memutus noda batin. Inilah yang disebut praktik. Setelah mempelajari satu hal, kita harus segera mempraktikkannya. Jika kita hanya berbicara tanpa mempraktikkannya secara langsung, maka kita akan jauh dari Jalan Kebenaran. Kita harus mempraktikkan pengetahuan secara seimbang layaknya menghargai kehidupan. Menghargai kehidupan berarti mewariskan. Mewariskan apa? Mewariskan jiwa kebijaksanaan. Jiwa kebijaksanaan siapa yang harus kita wariskan? Jiwa kebijaksanaan Buddha. Jiwa kebijaksanaan Buddha. Kita semua memiliki sifat hakiki yang harus dijaga. Ini merupakan misi kita. Semua orang memiliki hakikat kebuddhaan. Setelah terinspirasi oleh Buddha, kita menyadari bahwa kita memiliki hakikat kebuddhaan. Karena itu, kita harus melindungi hakikat kebuddhaan ini dengan baik. Jadi, pengetahuan dan praktik harus seimbang. Pengetahuan dan praktik harus berjalan bersamaan sama seperti kedua kaki manusia. Karena itu, salah satu gelar Buddha adalah Yang Teragung Di Antara Yang Berkaki Dua.

Berkah dan kebijaksanaan bagaikan sepasang kaki. Pengetahuan adalah kebijaksanaan, sedangkan praktik nyata adalah  membina berkah. Kita harus mengembangkan berkah dan kebijaksanaan secara bersamaan. Bagaimana cara kita memahami berkah? Ada empat jenis pengamatan. Dengan melakukan pengamatan terhadap sebab dan kondisi dan pengamatan terhadap buah dan akibat, barulah kita dapat berpandangan terbuka. Kita harus merefleksikan tubuh ini dengan baik. Jika 4 Landasan Perenungan, 4 Usaha Benar, 4 Landasan Kekuatan Batin, Lima Akar, Lima Kekuatan, 7 Faktor Pencerahan, dan 8 Ruas Jalan Mulia dapat senantiasa berada di dalam hati kita, maka semua itu terasa sangat sederhana. Jika faktor pendukung pencerahan dapat berada di dalam hati kita, maka segala sesuatu akan terasa sederhana. Setelah memahaminya, kita harus mempraktikkannya secara nyata. Sesungguhnya, dalam mengamati diri sendiri, Empat Landasan Perenungan selalu berada dalam keseharian kita. Sebagai seorang praktisi, Empat Usaha Benar  juga selalu ada dalam tindakan kita. Empat Landasan Kekuatan Batin dapat membina hati kita. Apakah hal yang membuat kita kecewa dan tidak nyaman? Saat indra bersentuhan dengan kondisi luar, mengapa kita tidak dapat mengembangkan Lima Akar dan Lima Kekuatan? Sesungguhnya, semua itu berada  di dalam hakikat kebuddhaan kita. Kita hendaknya memahaminya.

Akan tetapi, kita tak henti-hentinya menciptakan rintangan bagi diri sendiri. Selanjutnya dikatakan, “Merintangi pelatihan kekosongan, kesetaraan dan Jalan Tengah.” Kita menciptakan rintangan bagi diri sendiri. Kekosongan adalah pandangan kekosongan. Kesetaraan adalah kesalingtergantungan, Jalan Tengah adalah ketidakekstreman. Ketiganya disebut Tiga Pengamatan. Pengamatan ini adalah pemikiran dan pandangan kita. Saya sering berkata bahwa segala sesuatu bersifat kosong. Apakah yang nyata di dunia ini? Pada akhirnya, semuanya adalah kosong. Kita semua melekat pada eksistensi ajaib. Eksistensi hanyalah ilusi, tetapi kita malah terus melekat padanya. Akibat terus melekat pada ilusi, antarsesama manusia tak henti-hentinya saling bertikai. Ini menciptakan noda batin bagi kita. Ketahuilah bahwa tak peduli seberapa keras kita mengejarnya, pada akhirnya ia tetaplah kosong. Salah satu dari Empat Landasan Perenungan adalah merenungkan bahwa tubuh tidak bersih. Apakah tubuh ini tidak bersih? Setiap hari saya berkata kepada kalian bahwa tubuh kita ini tidak bersih. Kehidupan kita tak terlepas dari tubuh ini. Berhubung kehidupan ini tidak kekal, maka tubuh kita juga mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Akan tetapi, selama mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati, manusia tetap dipenuhi kemelekatan.

Kemelekatan pada cinta individu telah Kemelekatan pada cinta individu telah menimbulkan banyak noda batin. Cinta individu di antara pria dan wanita saja Cinta individu di antara pria dan wanita saja sudah menyebabkan dunia ini setiap hari dipenuhi tragedi, dipenuhi tragedi, kekerasan, dan lain-lain. Banyak hal terjadi akibat cinta individu di antara pria dan wanita. Kita dapat melihat kisah tentang seorang arkeolog di Italia. Beliau pergi ke sekitar wilayah Mantova untuk melakukan penggalian dan penelitian tentang sejarah kehidupan orang zaman dahulu. Intinya, arkeolog ini terus mencari hingga menemukan sepasang kerangka yang berusia sekitar 6.000 tahun. Kerangka sepasang pria dan wanita yang saling berpelukan itu masih sangat utuh. Menurut perkiraan arkeolog itu, usia sepasang pria dan wanita itu seharusnya masih sangat muda, yakni sekitar 20-an tahun. Bagaimana cara beliau menganalisis dari kerangka? Menurutnya, itu karena gigi mereka masih sangat utuh. Seiring berlalunya waktu, organ tubuh manusia juga akan berubah. Daya penglihatan lansia biasanya menurun dan gigi mereka juga tanggal. Dari sepasang kerangka itu, terlihat gigi yang masih sangat utuh. Ini menandakan bahwa mereka masih sangat muda. Mereka mungkin baru berusia sekitar 20-an tahun. Di zaman mereka yakni pada 6.000 tahun lalu, pemakaman bersama masih sangat jarang.

Terlebih lagi, kedua kerangka itu terlihat sangat dekat dan saling memeluk erat dengan kepala saling berhadapan. Mereka berkata bahwa ini tidak pernah mereka temukan sebelumnya. Sepasang pria dan wanita itu pastilah anak muda yang saling mencintai. Mengapa saat itu mereka dimakamkan bersama dan mengapa kerangka mereka masih demikian utuh? Di zaman itu, mereka pasti sangat saling mencintai. Cinta seperti apa yang membuat mereka mati bersama? Mereka pastilah sepasang kekasih yang berjanji untuk mengakhiri hidup bersama-sama. Akan tetapi, di manakah mereka sekarang? Yang tersisa hanyalah setumpuk kerangka yang ditemukan oleh arkeolog sekarang. Pikirkan, apakah yang sungguh-sungguh nyata? Lebih dari 6.000 tahun lalu, sepasang pria dan wanita itu saling tertarik. Akibat rasa saling ketertarikan itu, hati mereka menjadi tak terpisahkan. Cinta yang penuh kemelekatan terus menarik mereka. Apakah kita bisa menyebutnya kosong? Jelas-jelas cinta itu ada. Lebih dari 6.000 tahun lalu hingga sekarang, ia terus ada. Jika ada, maka di manakah mereka sekarang? Jika ada, maka di manakah mereka sekarang? Selama lebih dari 6.000 tahun ini, entah mereka sudah melewati berapa puluh kali kelahiran kembali. Selama mengalami kelahiran kembali, apakah mereka selalu bersama? Kerangka yang saling memeluk erat masih ada, tetapi apakah mereka masih sepasang kekasih yang saling mencintai? Apakah mereka masih bersama? Mungkin cinta mereka sudah berubah menjadi dendam. Mungkin cinta mereka sudah berubah menjadi rasa benci dan dendam.

Manusia terus bergelut dalam hubungan penuh rasa cinta, benci, dan dendam. Mungkin sepasang kekasih itu kini sangat gemar berdebat. Mungkin selama masa itu telah terjadi banyak hal yang menyentuh, tragis, dan menyedihkan. Jadi, nyata atau ilusi, ilusi atau nyata, mengapa kita harus melekat? Jadi, mengenai pandangan kekosongan dan pandangan kesalingtergantungan, mengapa tidak kita ambil Jalan Tengah? Meski kita tahu ada ajaran tentang kekosongan, Meski kita tahu ada ajaran tentang kekosongan, tetapi kita harus memahaminya dengan jelas. Kekosongan bukan berarti jika berbuat baik, maka tak akan memperoleh buah yang baik dan jika berbuat jahat, maka tak ada konsekuensi. Jika tidak ada hukum sebab akibat, maka akan celaka. Tanpa hukum sebab akibat, maka niat buruk akan terus terbangkitkan dan ajaran kebajikan akan semakin jauh. Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan hukum sebab akibat. Jika semuanya tidak ada, maka kehidupan sungguh mengerikan. Setelah memahami kebenaran tentang kekosongan, kita juga harus memahami eksistensi di balik kekosongan. Jika segala sesuatu bersifat kosong, maka semuanya akan tidak punya perasaan. Segalanya tak lepas dari hukum sebab akibat. “Karena menanam benih seperti ini, maka sudah sepantasnya menerima buahnya.” “Untuk apa kamu pergi menolongnya?” “Untuk apa kamu membantunya?” Pandangan seperti ini tidak benar. Pandangan seperti ini tidak benar. Kita harus menyadari kebenaran tentang kekosongan. Akan tetapi, di tengah kekosongan, ada eksistensi ajaib.

Setiap orang memiliki buah masing-masing karena benih yang ditanamnya pada masa lalu. Karena pernah menanam benih, maka kini kita harus menerima buahnya. maka kini kita harus menerima buahnya. Kita sering melihat orang yang menjalan hidup dalam kondisi serba sulit. Pada zaman Buddha hidup, ada seseorang yang hidup kekurangan. Namun, setelah mendengar ajaran Buddha, dia sangat menaati sila. Saat memperoleh sedikit uang, dia juga rela berdonasi. Akan tetapi, seumur hidupnya, dia hidup kekurangan. Setelah meninggal dunia, dia terlahir di alam surga. Lihatlah, ini yang terjadi di zaman Buddha. Kita harus menerima buah karma dengan sukacita, segera memperbaiki diri, dan berusaha memahami ajaran benar. Dengan mempraktikkan ajaran benar, maka secara alami kehidupan kita selanjutnya akan berubah. Meski pada saat ini kita menerima buah karma buruk dan merasakan banyak penderitaan, tetapi ketahuilah bahwa itu karena benih yang kita tanam pada kehidupan lalu. Kita harus menerimanya. Kini, kita harus menjaga pikiran dengan baik Kini, kita harus menjaga pikiran dengan baik dan menenangkan hati. Keyakinan benar mengajarkan kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama. Inilah yang disebut kekosongan sejati dan eksistensi ajaib. Kita harus memahami hukum sebab akibat. Kita harus memahami hukum sebab akibat.

Jadi, terhadap pandangan kekosongan dan kesalingtergantungan, kita harus paham dengan jelas. Ini yang disebut Jalan Tengah. Meski segala sesuatu pada masa lalu adalah kosong dan 5 Agrerat pada hakikatnya adalah kosong, tetapi hukum sebab akibat tidak bisa diabaikan. Meski tahu bahwa Lima Agregat pada hakikatnya adalah kosong, tetapi kita juga harus tahu bahwa hukum sebab akibat bukan tidak ada. Ini sangat penting dalam mendalami ajaran Buddha. Jika tidak dapat memahami ini, maka kita akan melekat pada kekosongan dan ilusi. Jika melekat pada hal-hal itu, maka kita tidak dapat mewujudkan Jalan Tengah. Meski tahu untuk melatih diri, tetapi kita senantiasa dipenuhi kemelekatan. Inilah kebodohan. Bagaimana agar kita dapat tenang dan damai? Jika tidak memahami kekosongan dan ilusi, maka meski sudah melatih diri, kita tetap tidak berubah. Jika demikian, kita tidak dapat merasakan ketenangan dan kedamaian. Karena itu, kita harus memiliki pandangan Jalan Tengah. Artinya, meski sudah mengetahui bahwa Lima Agregat pada hakikatnya kosong, tetapi kita harus tahu bahwa hukum sebab akibat tak bisa diabaikan. Sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa kita harus melatih 4 Landasan Perenungan, 4 Usaha Benar, 4 Landasan Kekuatan Batin, 5 Akar, 5 Kekuatan, 7 Faktor Pencerahan, dan 8 Ruas Jalan Mulia. Inilah 37 Faktor Pencerahan. Ini sangat penting bagi kita. Ada pula Empat Sifat Luhur yang meliputi cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Ini yang disebut Empat Sifat Luhur.

Jika ajaran yang demikian sederhana ini dapat dipraktikkan dalam keseharian, maka pengetahuan dan praktik kita dapat berjalan seimbang. Buddha memberi tahu kita tentang keluhuran yang hakiki. Saat tubuh Dharma menyerap ke dalam sifat hakiki kita, maka kita akan kembali pada hakikat sejati. Bukankah ini berarti kita sudah menerima inti sari ajaran Buddha? Inilah misi yang Buddha berikan kepada kita. Inilah misi yang Buddha berikan kepada kita. Sesungguhnya, setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Misi dari Buddha mana yang ingin kita jalankan? Sesungguhnya, kita semua memiliki hakikat kebuddhaan. Jika tak ada ajaran Buddha yang menginspirasi, kita juga tidak menyadarinya. Setelah mengetahui banyaknya noda batin yang dimiliki, kita harus segera memutusnya. Pemutusan noda batin bukan hanya lewat ucapan saja, melainkan harus memiliki kesadaran penuh. Untuk memiliki kesadaran, bukan hal yang mudah. Jika pengetahuan dan praktik sudah seimbang layaknya menghargai kehidupan, kita akan dapat kembali pada hakikat sejati. Saudara sekalian,  kita harus senantiasa bersungguh hati. Pandangan apa pun hendaknya tidak kita lekati. Kita harus memegang teguh Jalan Tengah yang paling sederhana. Meski mengetahui kebenaran tentang kekosongan, tetapi kita tak boleh lupa eksistensi ajaib. Jadi, kita harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment