Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-353-Kecemerlangan Cahaya Batin

Saudara se-Dharma sekalian, perpaduan sebab dan kondisi di dunia ini membuat pikiran kita bergejolak dan mendorong kita melakukan tindakan. Suatu hari, saat Bhiksu Asvajit sedang berjalan sendiri, Sariputra keluar dan melihat melihat seorang praktisi yang sangat agung dan penuh tata krama. Saat melihatnya, Sariputra sangat bersukacita. Dia segera mendekat untuk bertanya, “Numpang tanya.” “Anda sangat penuh tata krama.” “Siapakah guru Anda?” “Siapa yang mengajarkan Anda sehingga setiap gerakan Anda membuat orang bersukacita melihatnya?” Bhiksu Asvajit menjawab, “Segalanya timbul oleh sebab dan kondisi, segalanya lenyap oleh sebab dan kondisi, Buddha sang sramana agung kerap berkata demikian.” Saat melihat Bhiksu Asvajit yang penuh tata krama, Sariputra datang bertanya siapakah gurunya. Bhiksu Asvajit menjawab, “Guru saya adalah pangeran dari Kapilavastu.” “Pangeran Siddhartha melatih diri demi menyadarkan semua makhluk.” “Beliau pergi melatih diri untuk memahami kebenaran di dunia.” “Setelah memperoleh kesadaran, Beliau berbagi kebenaran yang disadari-Nya kepada semua orang di dunia.” Sariputra kembali bertanya, “Berapa banyak ajaran dan berapa lama waktu yang Beliau habiskan untuk membimbing kalian hingga memahami ajaran-Nya dan mempraktikkanya secara langsung?” Bhiksu Asvajit menjawab dengan  beberapa kalimat sederhana, “Segalanya timbul oleh sebab dan kondisi, segalanya lenyap oleh sebab dan kondisi, Buddha sang sramana agung kerap berkata demikian.” Demikianlah, Sariputra pun terinspirasi. Sesungguhnya, Sariputra dan Maudgalyayana adalah teman baik. Mereka berdua adalah praktisi brahmana. Mereka berteman baik.

Selain itu, masing-masing dari mereka memiliki 250 murid yang selalu mengikuti mereka. Jika keduanya digabung, mereka memiliki 500 orang murid. Mereka membuat sebuah kesepakatan. “Dalam melatih diri, untuk memahami prinsip kebenaran di dunia, sepertinya masih terasa sangat jauh bagi kita.” “Kita harus melakukan pendalaman atau mencari ajaran di luar.” “Jika memperoleh ajaran kebenaran, kamu harus segera memberi tahu saya.” “Jika saya memperoleh ajaran kebenaran, saya akan segera memberi tahu kamu.” Melihat Bhiksu Asvajit Melihat Bhiksu Asvajit yang penuh tata krama dan mendengar kalimat yang diucapkan oleh Bhiksu Asvajit, Sariputra sangat tergugah. Karena itu, Sariputra sangat gembira dan segera pulang untuk memberi tahu Maudgalyayana. “Saya sudah memperoleh kebenaran.” “Saya sangat gembira.” “Jadi, saya segera datang memberi tahu kamu.” “Kita telah menemukan guru yang bijak.” Sariputra lalu menceritakan pertemuannya dan perbincangannya dengan Bhiksu Asvajit kepada Maudgalyayana. Maudgalyayana selalu menghormati Sariputra. Jika Sariputra dapat begitu bersukacita setelah mendengar sebuah ajaran, Maudgalyayana tahu pasti ajaran itu baik. Terlebih lagi, setelah mendengar bhiksu tadi bercerita tentang latar belakang gurunya, bercerita tentang latar belakang gurunya, bercerita tentang latar belakang gurunya, rasa hormatnya pun terbangkitkan.

Dengan kesatuan hati dan tekad, mereka membawa serta 500 murid mereka ke hadapan Buddha untuk menyatakan perlindungan. Sejak saat itulah, Sariputra dan Maudgalyayana berguru kepada Buddha. Mereka mendatangkan kekuatan yang besar bagi ajaran Buddha. Mereka seperti tangan kiri dan kanan Buddha untuk membantu membabarkan ajaran Buddha, Kelompok Sangha tiba-tiba bertambah 500 bhiksu. Ini yang disebut sebab dan kondisi. Kita sering mengulas tentang sebab dan kondisi. Dari setiap tindak-tanduk tubuih, kita dapat menciptakan sebab dan kondisi. Segala kondisi yang terjadi di dunia atau segala yang dilakukan oleh orang dalam hidup juga dapat menjadi sebab dan kondisi yang menginspirasi batin kita. Ini disebut pengamatan pada sebab dan kondisi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita harus sungguh-sungguh memahami bahwa segalanya timbul karena adanya sebab dan kondisi, juga lenyap karena adanya sebab dan kondisi. Dengan begitu, kita tidak akan dipenuhi kemelekatan dan rintangan. Jika kita merintangi diri sendiri dan merintangi orang lain, maka kita akan menciptakan banyak noda batin. Kita ingin mendalami ajaran Buddha. Setiap hari kita berbicara tentang istilah Buddhisme. Setiap orang berharap dapat memahami metode apa yang harus digunakan pada saat noda batin tertentu bangkit.

Saya sudah menjelaskan metode-metodenya, tetapi apakah kalian sudah menerimanya dan mempraktikkannya dalam keseharian? Jika tidak, berarti kita masih terus merintangi diri sendiri. Penggalan teks ini memberi tahu kita bahwa jika noda batin tidak dilenyapkan, maka ia akan merintangi kita. Membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan 37 Faktor Pencerahan, seperti landasan perenungan, usaha benar, akar, kekuatan, landasan kekuatan batin; membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan berwujud 8 Ruas Jalan Mulia; membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan tidak berwujud 7 faktor pencerahan. Penggalan ini pasti tidak asing bagi kalian. Jika digabungkan semuanya, metode ini disebut 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Perenungan adalah Empat Landasan Perenungan. Usaha benar adalah Empat Usaha Benar. Kekuatan batin adalah 4Landasan Kekuatan Batin. Akar dan kekuatan adalah 5 Akar dan 5 Kekuatan. Jika kita dapat bersungguh hati untuk memahaminya, maka kita dapat melenyapkan banyak noda batin dan memahami banyak kebenaran. Jika kita merintangi diri sendiri, maka noda batin akan tetap ada dan kita tidak dapat memahami kebenaran. Jika Delapan Ruas Jalan Mulia terintangi, maka pola pikir kita akan menyimpang. Tak akan ada pengetahuan dan pandangan benar. Karena itu, kita jangan merintanginya. Kita harus memiliki pengetahuan dan pandangan benar. Jika pengetahuan dan pandangan benar terintangi, maka kita akan sangat mudah tersesat. Ini semua merupakan noda batin Begitu pula dengan Tujuh Faktor Pencerahan. Bagaimana cara kita memilih ajaran benar dan menstabilkan pikiran kita? Bagaimana kita dapat tekun dan bersemangat? Pola pikir dan pilihan yang benar, semuanya ada di dalam Tujuh Faktor Pencerahan.

Delapan Ruas Jalan Mulia disebut sebagai “berwujud” karena ia terlihat jelas. Apa yang disebut pandangan benar? Orang dapat melihat pikiran kita sangat tepat dan tidak menyimpang. Semua ini terlihat jelas dan disebut sebagai “berwujud”. Jika kita memiliki pandangan yang tidak tepat dan pola pikir menyimpang, maka orang-orang juga dapat melihatnya. maka orang-orang juga dapat melihatnya. Wujud adalah sesuatu yang terlihat jelas. Tak peduli benar atau salah, orang dapat melihatnya dengan jelas. Saat orang memiliki pandangan yang tidak tepat, kita juga dapat melihatnya. Yang terlihat jelas di dalam Delapan Ruas Jalan Mulia ini adalah perilaku kita. Kita terlihat sedang menapaki jalan ini. Inilah yang disebut “berwujud”. Tujuh Faktor Pencerahan adalah “tidak berwujud”. Ia hanya ada di dalam pikiran kita. Dalam menentukan sebuah pilihan, itu bergantung pada diri kita sendiri. Setelah menentukan pilihan, kita harus mempraktikkannya secara nyata agar dapat terwujud. Jadi, jika tidak tekun dan bersemangat, maka kita tidak dapat sungguh-sungguh memperoleh kebenaran. Singkat kata, tak berwujud berarti masih ada di dalam pikiran kita dan belum terlihat secara nyata. dan belum terlihat secara nyata. “Wujud” berarti  segala tindakan dan ucapan kita yang telah diketahui oleh orang-orang. Ia lebih terlihat jelas. Faktor Pencerahan adalah yang belum matang dan belum terwujud. Pikiran di dalam hati kita  disebut sebagai noda batin yang tak berwujud. Inilah 37 Faktor  Pencerahan.

Jika 37 Faktor Pendukung  Pencapaian Pencerahan ini terintangi, maka kita akan melakukan banyak hal yang penuh kebodohan. Kita akan berjalan menyimpang dan berbuat keliru. Karena itu, dalam melatih diri, 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan ini sangat penting. Setiap orang harus sangat memperhatikannya. Jangan membiarkan noda batin merintangi kita berlatih 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Berikutnya, “Merintangi pelatihan delapan pembebasan dan sembilan samadhi kekosongan.” Apa yang disebut delapan pembebasan? Pikiran semua makhluk sudah terbelenggu. Apa yang membelenggu kita? Noda batin. Banyaknya noda batin yang membelenggu membuat kita tidak dapat membuka hati dan berpikiran positif. Ini semua dapat merintangi kita menuju pembebasan. Apa yang membuat kita terbelenggu? Cinta yang melekat dan nafsu keinginan. Cinta yang melekat dan nafsu keinginan bagaikan seutas tali yang mengikat kita sehingga membuat kita tidak dapat bebas. Bagaimana cara kita membuka belenggu ini? Apa yang harus kita buka? Di sini dibahas delapan jenis pembebasan atau yang sering disebut delapan pelepasan. Dahulu saya sudah pernah mengulas tentang delapan pelepasan atau yang disebut delapan pembebasan. Manusia selalu mengejar kenikmatan hidup. Manusia selalu terpaku pada nafsu keinginan. Bagaimana cara kita mengalihkannya? Lima nafsu duniawi telah mencemari batin kita. Untuk dapat terlepas dari keinginan awam, kita harus melenyapkan lima nafsu duniawi. Dengan demikian, baru belenggu di dalam hati kita dapat terbuka. baru belenggu di dalam hati kita dapat terbuka. Jika tidak, maka kita akan terus mengejar lima nafsu duniawi. Kita hendaknya melenyapkan lima nafsu keinginan di dalam hati. Ini adalah lima jenis pencemaran. Kita hendaknya membersihkan lima jenis pencemaran di dalam hati. lima jenis pencemaran di dalam hati.

Setelah lima nafsu duniawi dienyapkan, Setelah lima nafsu duniawi dienyapkan, maka kita dapat membangkitkan kebijaksanaan tanpa celah dan mematahkan noda batin di Tiga Alam. Jika lima nafsu duniawi tidak dilenyapkan, maka kebijaksanaan tanpa celah tidak dapat dibangkitkan dan noda batin pandangan di Tiga Alam tidak dapat dilenyapkan. Selain terpaku pada lima nafsu keinginan, kita juga tidak dapat membangkitkan kebijaksanaan tanpa celah dan melenyapkan noda batin pandangan. Ini semualah yang membelenggu kita. Untuk dapat terbebas dari semua itu, kita harus terlebih dahulu melenyapkan lima nafsu duniawi. Dengan begitu, secara alami kebijaksanaan kita yang tanpa celah dan tanpa noda batin akan terbangkitkan. Kita hidup di Tiga Alam, Kita hidup di Tiga Alam, yakni alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Kita terus terombang-ambing di sini. Jika tak dapat melampaui kondisi ini, maka samadhi sembilan kekosongan tidak akan terwujud. Dengan demikian, sulit untuk mencapai kearhatan. Jadi, dalam melatih diri, kita harus menyelami delapan pembebasan. Delapan pembebasan harus sungguh-sungguh kita pahami. Sesungguhnya, mudah untuk memahaminya. Mengenai lima nafsu keinginan duniawi, bukankah kita sering membahas bahwa semua ini sangat sederhana? Meski begitu, jika tidak kita bersihkan, maka kebijaksanaan tanpa celah tidak dapat bangkit. Kebijaksanaan tanpa celah tidak dapat bangkit.

Kita masih berada di alam nafsu. Jika belum bisa bebas dari alam nafsu, bagaimana kita bisa membahas alam rupa dan alam tanpa rupa? Jadi, perintang batin kita dan pembelenggu pikiran kita adalah noda batin kita sendiri. Jika hati bisa terbuka, maka lima nafsu keinginan akan bisa dijauhi. Ini berarti tidaklah sulit untuk membersihkan batin. Di zaman Buddha hidup, terdapat sebuah kisah. Ada seorang murid Beliau bernama Aniruddha. Dia memiliki kemampuan mata dewa terunggul. Buddha pernah menceritakan kehidupan lampau Aniruddha. Di kehidupan lampau, dia adalah seorang tetua. Masa itu adalah masa Buddha Dipamkara. Saat Buddha Dipamkara menjelaskan tentang enam kekuatan batin, tetua ini amat tertarik pada kemampuan mata dewa dan sangat gembira mendengarnya. Dia lalu berkata bahwa dirinya amat berminat pada kemampuan itu dan berharap suatu hari dapat memilikinya. Keinginan ini merasuk ke dalam batinnya. Setelah kehidupannya pada masa itu berakhir, dia terlahir kembali di dalam sebuah keluarga kurang mampu. Kehidupan mereka sangat sulit. Suatu hari, saat melihat orang lain begitu kaya, sedangkan dia sendiri begitu miskin, maka timbul niat mencuri dalam batinnya. Jadi, dia berniat untuk mencuri demi bertahan hidup. Setelah menetapkan niat tersebut, pada suatu malam dia mengenakan alas kaki dan berangkat ke luar. Di tengah jalan dia melihat sebuah stupa. Di zaman itu tidak ada Buddha. Di dalam stupa itu, terdapat relik Buddha. Orang-orang memuja relik tersebut. Dia lalu menghampiri stupa tersebut.

Tiba-tiba tali alas kakinya putus. Dia lalu berpikir bahwa di dalam stupa ada pelita, maka dia masuk ke dalam stupa itu dan meminjam cahaya pelita untuk memperbaiki tali alas kakinya. Namun, pelita itu redup. Dia lalu meninggikan sumbu pelita itu dengan menuangkan minyak agar pelita itu lebih terang. Kemudian, di sana dia memperbaiki tali alas kakinya. Saat akan beranjak, dia melihat nyala api pelita itu begitu besar. Tiba-tiba di dalam hatinya juga bagaikan ada pelita yang dinyalakan. Saat itu dia berpikir, “Mengapa saya bisa sampai berniat jahat?” “Mengapa saya ingin mencuri milik orang lain?” “Niat ini tidak benar.” “Ini bagaikan batin yang gelap.” “Saya juga mengambil minyak dari pelita orang lain untuk menyalakan pelita ini.” “Ini juga tidak benar.” “Jadi, dia bertobat di dalam stupa itu. Dia juga bertekad agar memiliki batin yang cemerlang bagaikan pelita itu sehingga dapat menyalakan potensi nurani diri sendiri dan memengaruhi orang lain dengan potensi yang dimilikinya itu, bagai menyalakan pelita batin diri sendiri, lalu menggunakan pelita batin ini untuk menerangi batin orang lain. Sejak saat itu, selapar dan sesulit apa pun, dia selalu teringat tekadnya itu. Nafsu keinginan tidak bangkit di dalam batinnya.

Nafsu keinginan dapat memicu karma buruk. Buddha menceritakan kisah ini kepada para murid-Nya. Buddha lalu berkata bahwa orang yang mencuri minyak orang lain untuk menyalakan pelita, lalu sadar dan melenyapkan niat mencuri adalah Aniruddha yang memiliki kemampuan mata dewa terunggul. Saudara sekalian, hukum sebab akibat akan terus berlanjut. Asalkan kita dapat menyalakan pelita untuk menerangi batin kita, maka batin kita dengan sendirinya akan senantiasa cemerlang. Dengan demikian, pengetahuan tanpa celah atau kebijaksanaan tanpa celah akan terus menyala dan memancar. akan terus menyala dan memancar. Jadi, jangan kita merintangi diri sendiri. Mempelajari Dharma berarti belajar membuka hati sehingga dapat memahami kebenaran. Jika batin kita penuh noda dan nafsu, maka rintangan akan muncul. Di dalam mempelajari kebenaran ajaran Buddha, harap kita semua dalam selalu membuka hati. Untuk memahami kebenaran, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment