Sanubari Teduh-370-Karma Buruk Sebanyak Butiran Pasir Sungai Gangga
Saudara se-Dharma sekalian, sejak dahulu hingga kini, sejak dahulu hingga kini, mungkin karma kita sudah terus terpupuk. mungkin karma kita sudah terus terpupuk. Ia sangat banyak bagai pasir di Sungai Gangga. dan sulit untuk dihitung. Di dalam Sutra, kita dapat melihat penjelasan Buddha kepada kita bahwa sejak masa tanpa awal, karma buruk semua makhluk sangat banyak bagaikan pasir. Kita harus memercayainya. Dalam kehidupan sehari-hari, berapa peraturan yang kita langgar dalam satu hari? Dalam waktu satu hari, entah berapa kali kita berselisih dengan orang. Saat bertemu orang dan mendengar suara orang, entah berapa kali kita merasa tidak gembira, kita membangkitkan noda dan kegelapan batin. kita membangkitkan noda dan kegelapan batin. kita membangkitkan noda dan kegelapan batin. Entah sejak berapa lama dahulu, Entah sejak berapa lama dahulu, kita membina tabiat buruk seperti ini. Coba kita pikir, dalam satu hari, entah berapa kali kita membangkitkan kegelapan batin. Entah berapa kali kita membangkitkan kegelapan batin. Jika setiap hari kita merasa tidak puas dengan lingkungan sekitar dan tidak puas dengan hubungan antarsesama, maka ini akan membuat tabiat terpupuk. Apakah hati yang tidak puas memicu perselisihan dengan sesama? Perasaan yang halus membangkitkan noda batin, perasaan yang kasar memicu perselisihan. perasaan yang kasar memicu perselisihan. Karena itu, dikatakan bahwa karma yang demikian banyak diumpamakan dengan pasir di Sungai Gangga.
Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, saat membangkitkan sebersit niat ataupun berinteraksi dengan orang, apakah kita terus membangkitkan noda batin? Jika diprediksi seperti ini, kita akan tahu berapa banyak karma yang terpupuk. Karena itu, karma kita diumpamakan dengan pasir di Sungai Gangga yang tidak terhitung jumlahnya Sulit untuk terlahir sebagai manusia dan sulit untuk mendengar Dharma. Berhubung sudah mendengar Dharma, setiap hari kita dapat menggunakan air Dharma untuk menyucikan hati dan membasahi hati kita. Kita harus menjalankan kebenaran dan menaati sila. Kita harus menaati sila di tengah masyarakat dan tidak mendambakan kejayaan sesaat. Kita harus menaati sila saat terjun ke tengah masyarakat. Janganlah kita hidup menyindiri dan lari dari kesalahan sendiri. Ini tidak benar. Jadi, kita harus menaati peraturan tanpa menjauh dari masyarakat. Ini yang disebut menaati sila di tengah masyarakat. Janganlah kita mendambakan kejayaan sesaat. Kita jangan hanya berpikir bagaimana agar dapat menjalani hidup dengan santai, bagaimana agar dapat cepat pensiun dan menjalani hidup tanpa kekhawatiran. Kita juga jangan menghindari pekerjaan berat hanya demi kenikmatan hidup.
Kita jangan demikian. Kita tidak memiliki hak milik atas tubuh ini, Kita tidak memiliki hak milik atas tubuh ini, melainkan hanya memiliki hak pakai. Jika tidak dapat menggunakan hidup untuk hal yang bermanfaat, bukankah kehidupan kita akan sia-sia? Karena itu, kita harus bertekad selama masih bernapas, kita harus menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Kita harus dapat menjadi orang yang dapat bersumbangsih bagi masyarakat. Karena itu, kita jangan iri kepada orang yang menikmati hidup dan menjalani hidup tanpa ada kegiatan karena orang seperti itu adalah orang yang paling kasihan. Kita tidak perlu iri kepada orang-orang yang menikmati waktu, menikmati barang materi, dan menikmati kebahagiaan. Tidak perlu. Kesempatan untuk mendengar Dharma dan mempraktikkan Dharma di tengah masyarakat tidaklah banyak. Selain itu, kita juga harus bertekad untuk membantu orang yang menderita meski tanpa diundang. meski tanpa diundang. Di dunia ini ada banyak orang yang hidup menderita. Kita harus menganggap mereka layaknya keluarga sendiri. Jika tidak, kita juga dapat menganggap mereka sebagai teman baik kita. Saat ada anggota keluarga yang kesulitan atau ada teman kita yang mengalami kesulitan, mungkinkah kita berpangku tangan? Selain tidak akan berpangku tangan, kita juga akan berinisiatif membantu mereka meski tidak diminta.
Kita adalah keluarga dan teman yang tak diundang. Lihatlah relawan Tzu Chi. Di mana pun ada orang membutuhkan bantuan, baik saat terdapat penderitaan maupun saat terjadi bencana, relawan Tzu Chi selalu berinisiatif untuk terjun ke tengah penderitaan demi memberikan penghiburan, pendampingan, dan bantuan? Jadi, kita harus menjadi keluarga, teman, dan guru yang tak diundang bagi orang yang menderita. yang tak diundang bagi orang yang menderita. Saat ada orang yang hidup tersesat dan tidak berpikiran terbuka, kita harus berusaha membimbing mereka. Ini merupakan salah satu cara untuk menjadi guru tak diundang bagi orang lain. Kita harus lebih banyak menjalin jodoh baik. Dengan begitu, kita dapat mengikis karma buruk. Bukankah belakangan ini kita sering mengulas tentang hukum sebab akibat dan bagaimana cara mengikis karma buruk? Kita harus mendalami ajaran kebaikan dan mendekatkan diri dengan Jalan Buddha. Banyak rintangan bersumber dari jalinan jodoh buruk. Jadi, kita harus mengikis kekuatan karma buruk. Hanya dengan lebih banyak menjalin jodoh baik, baru kita dapat mengikis karma buruk. Sebelumnya kita sudah mengulas pentingnya bertemu dengan mitra baik dan teman yang mendalami kebenaran.
Selanjutnya kita akan mengulas tentang sejak masa tanpa awal, kita sudah menjadi murid Buddha. kita sudah menjadi murid Buddha. Kita hendaknya berpikir seperti itu. Kita harus tahu bahwa Tadi saya sudah berbagi hal ini dengan kalian. Setiap Sutra selalu mengingatkan kita bahwa berhubung sudah berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, maka kita adalah murid Buddha. Buddha mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengintrospeksi diri. Konfusius juga mengajarkan kepada muridnya untuk berintrospeksi paling sedikit tiga kali dalam sehari. Namun, Buddha mengajarkan kita untuk berintrospeksi setiap saat, bukan hanya tiga kali dalam sehari. Kita harus berintrospeksi setiap saat. Dengan senantisa berintrospeksi, baru kita memiliki rasa malu dan tobat. Karena itu, kita harus berintrospeksi. Sejak masa tanpa awal, karma yang kita ciptakan sudah bagaikan pasir di Sungai Gangga. Kita telah menghimpun banyak karma buruk. Kita telah menghimpun banyak karma buruk. Semakin lama kehidupan kita, karma yang terhimpun juga semakin banyak. Kita jangan selalu berpikir kita tak berbuat salah. Jika kita selalu berpikir kita tidak berbuat salah, Jika kita selalu berpikir kita tidak berbuat salah, maka kesalahan yang diperbuat akan semakin lama semakin banyak. Semakin banyak karma yang terakumulasi, maka konsekuensinya akan semakin menakutkan. Kita harus tahu bahwa kita terus mengalami kelahiran kembali di enam alam. mengalami kelahiran kembali di enam alam. Bukankah saya sudah pernah mengulas tentang ini? Bukankah saya sudah pernah mengulas tentang ini? Manusia terus mengalami kelahiran kembali di enam alam.
Di setiap alam ini terdapat jebakan dan manusia sangat tertarik padanya tanpa mengetahui penderitaan yang tersimpan. Di dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan bahwa tiga alam bagaikan rumah yang tengah terbakar. Akan tetapi, manusia masih tidak memahami bahwa api telah menyala di setiap sudut rumah. api telah menyala di setiap sudut rumah. Rumah yang mewah sudah menjadi usang dan mengalami banyak kerusakan. Api terus berkobar, tetapi sekelompok anak bodoh masih bermain-main di dalam rumah. Mereka berpikir bahwa kobaran api sangat menarik. Inilah perumpamaan di dalam Sutra Bunga Teratai. Saat mendengarnya, mungkin kalian tak merasakan apa-apa. Namun, bagi saya, saya menganggapnya sebagai pemanasan global di masa sekarang. Kondisi iklim yang ekstrem dan karma buruk kolektif semua makhluk menyebabkan bumi jatuh sakit. Akan tetapi, kita masih tidak menyadarinya dan terus membiarkan kenikmatan duniawi menutupi hati kita. Kita masih berpikir kehidupan di enam alam sangat menarik. Setelah berkah di alam surga habis dinikmati, kita tetap akan terlahir di alam lain. Kehidupan di alam manusia dipenuhi kebahagiaan dan penderitaan. Sekarang, penderitaan lebih banyak daripada kebahagiaan. Di masa sekarang, anak muda yang hidup dalam ketersesatan semakin lama semakin banyak. Karena itu, saya sering berkata bahwa pikiran manusia semakin hari semakin kacau sehingga sulit untuk membangkitkan kebijaksanaan. Saat melihat berita tentang ini, saya juga sangat khawatir.
Ada sepasang anak kembar yang sudah berusia 17 tahun. Mereka mencari orang untuk menyandera dan mencopet uang nenek mereka. Saat diwawancara, sang nenek memperlihatkan lehernya yang terluka. sang nenek memperlihatkan lehernya yang terluka. Saat ditanya, “Mengapa anak-anak berbuat begini terhadap Nenek?” Nenek itu pun menangis dan menyalahkan diri sendiri. Dia menyalahkan dirinya bahwa dia tidak bisa mendidik dengan baik. Sesungguhnya, nenek itu sudah berusia 77 tahun. Anaknya menjalani tahanan karena melanggar hukum. karena melanggar hukum. Sejak anaknya ditahan, menantunya pun pergi meninggalkannya. Anak-anaknya yang masih berusia 6 atau 7 tahun pun dirawat oleh sang nenek. Selain sepasang anak kembar ini, ada pula seorang cucu perempuan. Sang nenek memiliki uang sekitar 80.000 dolar NT. Mengapa sang nenek selalu membawa uangnya dan enggan menyimpannya di rumah? Sang nenek berkata bahwa dahulu cucu perempuannya pernah mengajak seorang kekasihnya untuk mencuri semua tabungannya. Karena itu, beliau tidak berani menyimpan uangnya di rumah. Apa pekerjaan sang nenek sehingga bisa memiliki uang sebanyak itu? Selama bertahun-tahun itu, sang nenek mengumpulkan barang daur ulang untuk menafkahi ketiga cucunya.
Kini cucu perempuannya sudah beranjak dewasa dan sepasang anak kembar itu sudah berusia 17 tahun. Selama belasan tahun itu, sang nenek menjadi pemulung demi membesarkan cucu-cucunya. Setelah beranjak dewasa, cucu-cucunya enggak bekerja. Mereka juga tidak belajar dengan giat dan enggan pergi bekerja. Mereka sering meminta uang kepada nenek. Belakangan ini, nenek kesulitan untuk menghadapi mereka. Nenek juga berpikir harus menyimpan sedikit uang untuk masa tuanya. Jika anak-anak terbiasa diberi uang setiap kali meminta, maka mereka tidak akan patuh. Saat cucu-cucu itu meminta uang kepada nenek, nenek enggan memberikannya kepada mereka. Kali ini, sepasang kakak beradik kembar itu merencanakan untuk menyandera sang nenek merencanakan untuk menyandera sang nenek karena saat diminta, sang nenek menolak untuk memberi mereka uang. Karena itu, mereka memutuskan untuk menyandera nenek. Si kakak pun menyetujuinya. Mereka tahu bahwa sang nenek selalu membawa uangnya di badan. Mereka lalu bersekongkol dengan dua anak muda lain. Pada senja hari, sang nenek pulang dari mengumpulkan barang daur ulang. Begitu tiba di rumah, salah seorang menggunakan selimut untuk menutupi kepala sang nenek. Mereka mengikat tangan dan kaki sang nenek, lalu menggeledah seluruh tubuhnya. Sang nenek memberontak dan meminta tolong. Mereka lalu mencekik lehre sang nenek hingga nenek hampir kehabisan napas.
Sang nenek lalu memikirkan satu cara, yakni berpura-pura mati. Beliau tak lagi memberontak dan melemaskan seluruh tubuhnya. Empat anak muda itu berpikir sang nenek sudah meninggal. Mereka lalu membuka tas pinggang nenek dan pergi meninggalkan tempat itu. Setelah anak muda itu pergi, nenek berteriak meminta tolong dan melapor polisi. Saat itu, nenek masih tidak tahu siapa yang merampoknya. Berdasarkan kecurigaan tetangga dan polisi terhadap dua anak tersebut yang menganggur, mereka mulai melakukan penyelidikan. Salah seorang anak muda merasa tidak tenang. Para anak muda itu selalu bermain di warung internet. Salah seorang anak muda tahu bahwa kebenaran pasti akan terungkap suatu hari nanti. Karena itu, dia pergi menyerahkan diri. Setelah itu, polisi mulai mengejar kedua kakak beradik tersebut. Saat tertangkap, mereka terlihat tidak menyesal sedikit pun, sementara itu sang nenek terus menangis melihat cucunya. Beliau berkata, “Kalian tidak punya hati nurani.” “Kalian tidak berpikir saya menjadi pemulung demi membesarkan kalian.” “Saya tidak mendidik kalian dengan baik.” Beliau terus berkata, “Saya menyesal karena tidak mendidik kalian dengan baik.” Bayangkan betapa hancurnya hati nenek. Bayangkan betapa hancurnya hati nenek. Beliau menaruh harapan pada cucunya. Biasanya, orang menaruh harapan pada anak, Namun, berhubung anaknya tengah menjalani tahanan, beliau pun menaruh harapan pada cucunya.
Beliau yang sudah berusia 77 tahun masih menjadi pemulung demi menopang kehidupan keluarganya. Kini ditambah lagi dengan cucunya yang tidak berbakti. Pikirkan, di mana letak nilai kehidupan? Apa yang dimaksud dengan berkah? Memiliki anak dan cucu belum tentu memiliki berkah. Mengapa ini terjadi? Kita hanya dapat mengatakan bahwa ini karena benih karma dan jalinan jodoh. Karena perpaduan antara kondisi dan jalinan jodoh buruk, anaknya harus menjalani tahanan, menantunya pergi dari rumah dan meninggalkan anak-anaknya untuk dibesarkan sang nenek. Selain itu, cucu-cucunya juga tidak berbakti. Jika dibandingkan dengan kehidupan nenek, Jika dibandingkan dengan kehidupan nenek, bukankah kita sungguh penuh berkah? Saat melihat penderitaan orang lain, kita harus menyadari berkah yang dimiliki dan lebih banyak menjalin jodoh baik. Jika menjalin jodoh buruk, meski pada kehidupan ini kita tak menerima buahnya, benih ini akan mengikuti kita hingga kehidupan mendatang. Apakah jalinan jodoh di antara nenek, anak, menantu, dan cucu itu terjalin pada kehidupan ini? Sesungguhnya, ia sudah terjalin sejak kehidupan lalu sehingga mereka dapat menjadi anak dan cucu beliau. Karena itulah, mereka tidak dapat berinteraksi dengan gembira. Benih dan jalinan jodoh buruk dari kehidupan lalu terbawa hingga ke kehidupan kini.
Dalam satu kehidupan, berapa banyak jalinan jodoh dan benih yang kita himpun? Sangat banyak. Kita tidak tahu berapa banyak kekeliruan yang pernah diperbuat di kehidupan lalu. Selain menciptakan karma yang bagaikan pasir di Sungai Gangga, sesungguhnya kekeliruan kita juga memenuhi dunia ini. Dalam setiap kehidupan, tak peduli di negara mana pun kita terlahir, tak peduli di negara mana pun kita terlahir, tak peduli di negara mana pun kita terlahir, tak peduli di negara mana pun kita terlahir, selama masih di bumi ini, kita pernah melakukan kekeliruan. Karena itu, kita tidak tahu di mana kita meninggal dan di alam mana kita akan terlahir. Kita tidak tahu dahulu kita meninggal di mana dan kini akan terlahir di alam mana. Ini semua di luar kendali kita. Kita tidak tahu seberapa banyak karma yang sudah kita ciptakan. Saudara sekalian, bukankah kita harus berintrospeksi setiap hari? Dalam berinteraksi dengan orang atau menangani suatu masalah, bukankah kita harus selalu mengendalikan diri agar tidak membangkitkan noda batin? Dalam interaksi antarsesama, kita harus lebih banyak menjalin jodoh baik. Saudara sekalian, kita sungguh harus menapaki Jalan Kebenaran. Kita harus lebih bersungguh hati.