Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-371-Dharma Bermula dari Pikiran

 Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita mendengar dan melihat berita dari tempat-tempat yang jauh berita dari tempat-tempat yang jauh berkat kemajuan teknologi. Dunia kini sungguh penuh penderitaan. Ini sangat mendesak. Karma yang diciptakan diri sendirilah yang mendatangkan penderitaan ini. Mengapa dunia ini penuh bencana? Bukankah ini akibat karma dari umat manusia? Manusia menciptakan karma sehingga menghimpun karma kolektif yang mengakibatkan pemanasan global. Akibatnya, daerah yang bercuaca dingin semakin dingin dan daerah yang bercuaca panas semakin panas. Bencana banjir juga diakibatkan oleh pemanasan global ini. Jadi, iklim sudah benar-benar berubah. Kondisi iklim di seluruh dunia sudah berubah. Daerah atau negara manakah Daerah atau negara manakah yang dapat menghindari perubahan iklim? Ini tidak dapat dihindari. Jadi, bukankah ini adalah buah karma kolektif manusia? Di dunia yang bagaikan sebuah rumah yang tengah terbakar ini, manusia manakah yang tidak berada di dalamnya? manusia manakah yang tidak berada di dalamnya? Semua ini adalah karma kolektif. Mengapa karma kolektif semua makhluk ini dikatakan membawa penderitaan diri sendiri? Semua orang menciptakan karma. Karma buruk akan berbuah bencana. Jadi, penderitaan diundang oleh diri sendiri. Ini sangat mendesak. Bencana terus berdatangan di berbagai tempat bagai tengah menekan umat manusia sehingga kita tidak bisa tenang. Penderitaan ini sungguh tiada tara. Kondisi dunia saat ini kelihatannya sungguh panas dan membuat manusia sungguh menderita, entah itu panas dari api yang berwujud atau tidak. Yang terpenting adalah bencana dalam batin. Ini lebih mendesak.

Penderitaan yang diakibatkan sungguh besar. Adakah cara mengatasinya? Satu-satunya cara adalah membasahi batin dengan air Dharma. Kita hendaknya dapat senantiasa mengingat Dharma yang bagaikan air ini. Dharma yang bagaikan air ini. Kita harus yakin bahwa Dharma bagaikan air. Setidaknya ia dapat membasahi batin kita dan mencegah api kebencian di dalam batin. Setiap orang memiliki api kebencian. Hanya dengan adanya Dharma yang membasahi batin, barulah api itu tidak mendatangkan bencana. Jadi, kita harus melatih diri. Kita harus giat membasahi batin dengan Dharma. Kita harus giat membasahi batin dengan Dharma. Dengan kesejukan dari Dharma ini, kita membawa angin pembebasan. Di dalam batin kita bukan hanya ada api kebencian, tetapi juga ada kebodohan. Pikiran kita juga harus selalu kita luruskan dengan Dharma agar selalu mengarah ke arah yang benar, sedikit pun tidak boleh menyimpang. Menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Pikiran dapat mengarah pada kebaikan dan kejahatan. Jika mengarah pada kejahatan sedikit saja, kita akan kehilangan niat baik. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menyucikan dan melenyapkan noda batin kebodohan. Begitu pula dengan api kebencian. Kita harus segera melenyapkannya. Untuk itu, dibutuhkan Dharma yang membawa angin pembebasan. Yang terpenting adalah kita harus mempraktikkan

Dharma agar memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Mengenai kehidupan di alam ini, kita pernah membahas penggalan yang berbunyi, “Membuat kesalahan yang memenuhi alam.” “Meski telah mengalami kematian dan kelahiran, kami tetap tidak sadar dan tidak mengetahuinya.” Manusia sungguh banyak menciptakan karma buruk yang banyaknya memenuhi alam. Dalam sehari saja, entah berapa kali kita membangkitkan niat buruk, entah berapa banyak orang yang menciptakan karma buruk dalam sehari. Dalam sehari saja, niat dalam pikiran kita bisa timbul pada setiap detik. Saya sering mengulas tentang jumlah detik dalam sehari. Untuk dapat melalui setiap detik dengan lancar tanpa sedetik pun kita membangkitkan kebencian atau kegelapan batin sangatlah sulit. Intinya, dalam sehari saja, entah sudah berapa banyak niat buruk yang timbul dalam pikiran kita dan membuat kita menciptakan karma buruk. Bayangkan, bukankah karma buruk yang kita buat memenuhi alam semesta> Dalam kehidupan ini saja, jumlah karma buruk yang kita ciptakan setiap hari tak dapat dihitung, terlebih lagi dalam beberapa siklus kelahiran dan kematian. Kematian sudah kita lalui dalam berbagai kehidupan lampau. Kelahiran juga terus kita jalani hingga masa depan. Setelah meninggal pada satu kehidupan, kita terlahir kembali. Kita terus mengalami kelahiran dan kematian dalam banyak kalpa yang tak terukur.

Selama itu kita terus menciptakan karma, dan kita tidak menyadari atau mengetahuinya. Kita sulit untuk mengetahuinya. Jadi, dikatakan bahwa kesalahan kita memenuhi alam. Kita tak dapat mengetahuinya dengan jelas. Jadi, sejak masa lampau yang tanpa awal, akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan, tubuh, ucapan, dan pikiran kita menciptakan banyak karma buruk. Karma buruk ini sungguh tak terhitung. Jika himpunan karma buruk ini memiliki wujud dan bentuk, memiliki wujud dan bentuk, maka ia akan memenuhi ruang angkasa. Kita sering mendengar tentang gas karbon dioksida. Saat berbincang dengan para profesor dan dokter, saya pernah mengungkit tentang hal ini. Saya bertanya kepada mereka bagaimana cara menghitung kadar karbon dioksida. Bagaimana bisa menghitung kadar karbon dioksida Bagaimana bisa menghitung kadar karbon dioksida dalam satuan berat seperti ton? Mereka menjelaskan, saat pembangkit listrik bekerja, akan menghasilkan gas buang yang bersifat panas dan kotor. Gas itu akan menyebar di udara. Berbagai industri, baik industri manufaktur maupun kimia, saat pabrik mereka beroperasi, akan menghasilkan gas buang yang disebut karbon dioksida. Gas ini akan menyebar di udara. Luas penyebaran gas inilah yang diukur. Dari luas penyebaran gas ini di udara, mereka bisa mengukur massa gas tersebut. Di dalam Bab Ikrar Bodhisattva Samantabhadra, ada sebuah penggalan yang menggambarkan sebagai berikut. Dalam penggalan ini dikatakan bahwa digambarkan bagaimana jika seandainya karma buruk memiliki wujud dan bentuk.

Karbon dioksida di udara juga tidak berbentuk dan sulit terlihat. Seberapa banyak kadar karbon dioksida? Jika dihitung dari luasnya angkasa, maka massanya sungguh sangat besar. Di sini dikatakan bahwa jika karma buruk berwujud, ia akan memenuhi ruang angkasa. Segala karma buruk yang kita ciptakan, jika memiliki wujud, maka akan memenuhi ruang angkasa. Kini bukankah kadar karbon dioksida di angkasa sudah bisa diukur? Dalam kehidupan kita setiap hari, siapakah yang dapat lepas dari barang kebutuhan sehari-hari? Yang paling sederhana adalah listrik. Jika saat ini kita tidak memiliki listrik, alat perekam video tidak akan berfungsi. Kalian juga tak dapat melihat saya dengan jelas. Suara saya pun hanya dapat terdengar dalam jarak tertentu. Jadi, kita semua adalah pencipta karma karena kita juga mengonsumsi listrik. Pasti ada sumber penyebab kita menciptakan karma buruk. Sumber penciptaan karma buruk tersebar pada barang kebutuhan yang kita gunakan. tersebar pada barang kebutuhan yang kita gunakan. Kita bisa menghitungnya dengan sains. Jika dirata-rata, orang Taiwan masing-masing menciptakan jejak karbon atau karbon dioksida dengan kadar yang besar. Saudara sekalian, ini menunjukkan bahwa pola hidup kita sangat boros. Sumber daya yang kita gunakan sangat banyak. Semakin banyak sumber daya yang dihamburkan, karma yang kita ciptakan juga semakin besar. Karena itu, dikatakan bahwa jika karma berwujud, maka ia akan memenuhi ruang angkasa.

Jika karma buruk semua orang dihimpun dan dihitung dalam satuan volume dan massa, maka ruang yang ada tak akan bisa menampungnya. Ini yang digambarkan dalam Sutra Avatamsaka bab Ikrar Samantabhadra. Sutra Avatamsaka bab Ikrar Samantabhadra. Para ahli lingkungan dan ilmuwan lainnya juga telah menuangkan kadar pencemaran ke dalam satuan angka yang terukur. Dari sini dapat dilihat karma yang kita ciptakan benar-benar telah memenuhi ruang angkasa. Penggambaran ini membuat kita lebih paham. Meski bumi ini begitu luas, tetapi sulit untuk dapat menampung kadar karma buruk yang manusia ciptakan. kadar karma buruk yang manusia ciptakan. Jadi, karma buruk lebih luas daripada alam ini. Terlebih lagi, dari kehidupan ke kehidupan, kita terus menciptakan karma. Tak heran jika Buddha berkata bahwa di masa depan, semua makhluk akan diliputi tiga bencana kecil dan tiga bencana besar yang akan terus membawa kerusakan bagi dunia. Dunia akan terus mengalami perusakan. Inilah yang telah Buddha katakan. Saudara sekalian, ilmu pengetahuan zaman sekarang semakin mendekati kebenaran yang dibabarkan Buddha. Ilmu pengetahuan telah membuktikan ajaran Buddha. Jadi, kita tak boleh tidak meyakini ajaran Buddha. Kita harus segera mempraktikkan Dharma.

Dapatkah kita membasahi batin manusia dengan air Dharma? Dapatkah kita membawa angin pembebasan? Dapatkah kita meredam pemanasan global? Dapatkah kita meredam pemanasan global? Jika iklim kembali normal, maka semua makhluk akan hidup lebih tenteram. Jadi, kedamaian dan kebahagiaan hanya dapat dicapai jika kita mempraktikkan segala kebajikan. Dengan begitu, semua makhluk juga akan damai dan bahagia. Harapan dari melatih diri adalah semua orang dapat damai dan tenteram, bukan hanya diri sendiri. Semua manusia tak bisa menghindar dari kondisi yang ada saat ini. Jadi, kita semua harus memiliki kesadaran. Di tengah banyaknya bencana yang menggemparkan, kita harus sadar dan mengambil hikmahnya. Ini harus kita lakukan sesegera mungkin. Berhubung karma buruk begitu besar dan kita tidak sadar karma buruk apa saja yang telah kita buat dari kehidupan ke kehidupan, maka selanjutnya dikatakan, “Adakalanya menciptakan belenggu kekeruhan yang tebal akibat lima karma celaka.” Dari penggalan singkat ini saja kita dapat mengetahui bahwa dari kehidupan ke kehidupan, atau bahkan saat ini, banyak manusia menciptakan lima karma celaka. Orang-orang zaman sekarang banyak yang melakukan lima karma celaka. Membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh Arhat, memecah belah Sangha, melukai seorang Buddha. Ini disebut lima karma celaka. Orang zaman sekarang  ada yang membunuh ayah atau ibu. Kita sering melihat dan mendengar laporan berita tentang ini. Berikutnya adalah membunuh Arhat dan memecah belah Sangha.

Memecah keharmonisan Sangha adalah salah satu dari lima karma celaka. Keharmonisan di dalam Sangha diperlukan untuk menyebarkan Dharma. Dunia ini membutuhkan ajaran Buddha. Untuk itu, dibutuhkan adanya Sangha yang mewariskan silsilah ajaran Buddha. Jika citra Sangha rusak, bagaimana Dharma bisa dibabarkan kepada umat perumah tangga? Jadi, dalam melatih diri, tubuh, ucapan, dan pikiran harus selaras. Para anggota Sangha berlatih bersama-sama. Untuk mewujudkan kebajikan, mereka berlatih di dalam Sangha. Jika keharmonisan rusak, maka Sangha juga akan rusak. Di dalam Sutra sering disebutkan bahwa di zaman Buddha ada enam kelompok bhiksu. Buddha sering membahas kesalahan mereka. Salah satunya adalah Devadatta. Dia bahkan menciptakan karma buruk yang menyebabkan kelahiran di neraka. Ini karena dia memecah belah Sangha. Perbuatan ini termasuk dalam lima karma celaka. Dia juga pernah melukai Buddha. Semua ini adalah kisah di dalam Sutra. Kita sering membaca kisah seperti ini. Ini disebut lima karma celaka. Membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh Arhat, memecah belah Sangha, melukai seorang Buddha. Ini disebut lima karma celaka. Untuk berniat melakukan lima karma celaka ini, sangat mudah bagi umat perumah tangga ataupun anggota Sangha. ataupun anggota Sangha. Saudara sekalian, dari kehidupan ke kehidupan, berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan? Kita tidak mengetahui masa lampau. Kini kita harus meningkatkan kewaspadaan. Dalam melatih diri, kita harus mempraktikkan Dharma. Dharma harus dijalankan, dan semua ini bermula dari pikiran. Jadi, senantiasalah bersungguh hati.

Leave A Comment