Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-373-Menghormati Orang Tua dan Guru

Saudara se-Dharma sekalian, semua makhluk terus diliputi kegelapan batin dan tidak meyakini hukum sebab akibat. Akibatnya, mereka terus membangkitkan kemelekatan. Dengan adanya kemelekatan, akan timbul pikiran keliru. Saat kekeliruan ini timbul, akan banyak penderitaan yang datang bertubi-tubi. Entah ini adalah akibat jalinan jodoh dari berapa kehidupan yang berbuah dalam bentuk kesulitan. Jadi, akibat kekeliruan, kita sulit bebas dari penderitaan. Bagaimana cara memutus penderitaan? Bagaimana terbebas dari jalinan jodoh yang tak membahagiakan? Sesuatu yang tidak sesuai harapan sungguh sulit dihindari. Namun, Buddha dengan belas kasih memberi ajaran agar semua makhluk yang meyakininya bebas dari rintangan. Kita harus meyakini belas kasih Buddha yang membuat Beliau datang ke dunia untuk mengajar dengan harapan ajaran-Nya dapat mengena dan dapat diterima semua makhluk. Jika semua makhluk meyakini hukum karma, maka tentu akan berbuat baik dan berbakti. Mereka tak akan melanggar hukum alam. Jadi, kita berharap semua makhluk berjodoh dengan Dharma. Jika sebaliknya, seperti yang kita bahas tentang “icchantika”, yaitu memiliki pandangan salah. Manusia kelihatannya pandai, tetapi malah mengarah pada kejahatan. Penyimpangan ini awalnya amat sedikit. Mulanya, dengan pemahaman dan kemampuan yang ada, mereka dapat mengembangkan kebajikan dan meyakini ajaran Buddha sehinga tindakan mereka tak akan menyimpang. Namun, begitu pandangan salah muncul, segala kebajikan akan terpengaruh pandangan salah ini sehingga manusia meninggalkan kebajikan. Inilah bagaimana kita dapat menyimpang dari jalan yang benar dan meninggalkan nilai moralitas yang benar. Ini yang disebut “icchantika”.

Ada begitu banyak pandangan salah yang tak dapat disebutkan satu per satu. Jadi, kita harus memperhatikan “icchantika” ini. Jangan biarkan sedikit pun pandangan salah muncul. Berikutnya kita membahas, “Tidak berbakti pada orang tua, menciptakan karma melawan.” Kedua orang tua adalah ayah dan ibu. Mengenai karma dari melawan, jika pikiran kita tersesat, maka kita akan melawan. Melawan berarti yang seharusnya berbakti menjadi tidak berbakti. Melawan berarti yang seharusnya berbuat baik menjadi berbuat jahat. Melawan berarti mengarah pada kenegatifan akibat kegelapan batin sehingga berbuat pelanggaran. Kegelapan batin bermula dari pikiran. Tindakan tercipta lewat tubuh. Inilah yang disebut karma dari melawan. Ada perbuatan berarti ada karma. Saat pikiran membangkitkan kegelapan batin, kita berpotensi melakukan lima karma celaka. Saat sebersit niat timbul, tubuh akan melakukan. Kita lihat di masyarakat banyak keluarga di mana sang ibu mengeluh, “Dahulu anak saya sangat patuh, tetapi entah mengapa, setelah beristri, dia berubah total.” “Mengapa sekarang dia tidak berbakti?” “Dahulu, jika saya memarahinya, dia menerimanya sambil tertawa.” “Kini, dia tidak bisa lagi dinasihati.” “Kini, dinasihati sedikit saja, dia akan membalas dengan suara keras.” “Sikapnya sangat buruk.” Saudara sekalian, di dalam masyarakat, terutama sebagai relawan Tzu Chi, di antara para donatur kita atau keluarga para penerima bantuan kita, ada yang keluarganya berantakan. Semua ini bermula dari pikiran yang menyimpang.

Dalam tatanan keluarga, Ayah dan anak memiliki peran masing-masing. Sebagai ayah, haruslah bertanggung jawab. Di masa lalu seseorang mungkin adalah suami yang baik dan ayah yang baik. Pekerjaan juga dijalankan dengan sangat baik. Berhubung bisnisnya berhasil, di luar dia mulai memiliki simpanan. Tanggung jawab terhadap anak dan istri perlahan mulai kendur. Bukan hanya itu, sikapnya pun berubah. Bukan hanya tidak mengasihi anak istri, dia bahkan selalu memaki orang di rumah. Dia selalu mencari kesempatan untuk pergi dari rumah dan membangun keluarga baru. Orang seperti ini juga ada. Jadi, bukan hanya anak yang tidak berbakti, ada juga ayah atau ibu yang tidak bertanggung jawab. Kasus seperti ini kini sepertinya sangat umum di masyarakat. Inilah karma dari melawan yang disebabkan pandangan salah. Bukan hanya tidak berbakti kepada orang tua dan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, tetapi juga, “Meremehkan para guru, menciptakan karma ketiadaan rasa hormat.” Kita telah melihat penggalan ini. “Satu hari sebagai guru, selamanya sebagai ayah.” Kita tentu harus berbakti kepada orang tua yang telah membesarkan kita. Inilah nilai tatanan keluarga. Berhubung orang tua telah melahirkan dan membesarkan kita, dan membesarkan kita, maka kita harus berbakti kepada orang tua. Namun, guru memberi pengetahuan. Dibutuhkan banyak pengetahuan untuk bertahan hidup. Untuk belajar keterampilan, orang zaman dahulu harus membantu pekerjaan gurunya. Berapa lama mereka harus belajar? Tiga tahun empat bulan. Di dalam waktu tiga tahun empat bulan ini, mereka tinggal dan bekerja di rumah guru.

Mereka menyapu lantai dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka bekerja dengan penuh rasa syukur karena sang guru mewariskan keterampilan yang bisa dia gunakan seumur hidup untuk menafkahi keluarga. Jadi, mereka sangat menghormati guru. Zaman sekarang kondisinya berbeda. Murid-murid sekarang belajar sesuai standar pendidikan nasional. Anak-anak di Taiwan sangat beruntung. Sejak di bangku taman kanak-kanak, guru bertindak bagaikan pengasuh yang menjaga mereka seperti boneka emas. Rasa hormat murid-murid masa kini terhadap guru sudah mulai pudar. Saat guru bersuara keras sedikit, mereka mengadu kepada orang tua di rumah. Orang tua pun memanjakan anak-anak, lalu membuat perhitungan dengan guru tersebut. Kini tidak ada sistem pendidikan menyeluruh yang dapat diandalkan oleh para guru. Jadi, jika orang tua menuntut mereka, para guru juga tidak berdaya. Karena itu, para guru zaman sekarang lebih memilih untuk menyembunyikan masalah. Para guru tidak berani mendidik dengan keras dan tidak berani memberi hukuman. Jadi, anak-anak merasa memiliki pelindung. Anak-anak yang tak mampu berpikir jauh tidak akan giat belajar. Namun, dengan kondisi persaingan di masyarakat kini, para guru menjadi serba salah. Anak-anak dituntut untuk belajar keterampilan sejak di sekolah dasar. Mereka dituntut untuk memiliki nilai tinggi. Bagaimana para guru harus mengajar? Banyak guru merasa tak tahu harus bagaimana karena anak-anak zaman sekarang tidak mengerti untuk menghormati guru. Jadi, kini para guru harus menggunakan berbagai cara untuk membuat anak-anak menjadi patuh dan dapat menerima ajaran serta memiliki keterampilan. Jadi, menjadi guru di masa kini sungguh sulit karena banyak orang meremehkan peran guru.

Di zaman Buddha, sikap seperti ini juga sudah umum. Zaman sekarang adalah zaman kemunduran Dharma. Kapankah zaman kemunduran Dharma? Saat inilah kemunduran Dharma. Saat ini dunia diliputi lima kekeruhan. Kemunduran Dharma berarti Dharma sudah mulai hilang. Apa maksudnya? Artinya, pikiran manusia perlahan-lahan semakin menjauh dari jalan Dharma. Mereka tidak lagi bertindak sesuai Dharma. Moralitas amat mudah dikacaukan. Jadi, di saat manusia seharusnya berjalan sesuai Dharma, Dharma ini malah mulai pudar dari diri manusia. Jadi, zaman kemunduran Dharma adalah masa di mana makhluk hidup dipenuhi kekeruhan. Kegelapan batin semua makhluk semakin tebal. Jadi, prinsip kebenaran semakin pudar. Baik nilai tatanan keluarga maupun pedoman dalam menghadapi orang dan masalah semakin lama semakin jauh dari yang seharusnya. Inilah yang disebut masa kemunduran Dharma. Masa kemunduran Dharma ini juga adalah masa-masa kalpa kerusakan. Bencana akan terus-menerus terjadi akibat karma kolektif semua makhluk. Pikiran semua makhluk sudah tidak sesuai prinsip kebenaran dan tidak sesuai hukum alam. Akibatnya, iklim dan cuaca pun berubah dan menjadi kacau. Hukum alam, pikiran, dan kebenaran haruslah selaras. Jika prinsip kebenaran dikacaukan, maka kondisi iklim dan geografis juga akan kacau. Kacaunya prinsip kebenaran berawal dari kacaunya pikiran manusia. Jika pikiran kacau, prinsip juga akan kacau. Dengan begitu, alam juga ikut kacau. Inilah mengapa tatanan masyarakat masa kini juga kacau. Ini yang berlaku di masa kemunduran Dharma.

Masa kemunduran Dharma adalah masa di mana alam mengalami perusakan. Lambat laun, kita akan melihat bencana terus-menerus terjadi. Kini iklim tidak selaras. Ini karena prinsip kebenaran yang tidak selaras. Lihatlah, pemanasan global terus meningkat. Temperatur terus meningkat. Orang-orang yang mati karena suhu panas dari tahun ke tahun semakin bertambah. Di luar negeri, kita sering mendengar berita terjadinya gempa bumi. berita terjadinya gempa bumi. Para ahli geologi dan klimatologi juga khawatir karena di Taiwan lama tidak terjadi gempa. Sesungguhnya, gempa terjadi hampir setiap hari, hanya saja kita tidak merasakannya. Namun, kini para ahli geologi dan klimatologi merasa bahwa belakangan ini, lempeng daratan terkesan stabil. Mereka sangat khawatir karena gempa berarti melepaskan energi panas. Jika tidak terjadi gempa, berarti tidak ada panas yang dilepas. Sama halnya, kulit tubuh kita bagai kulit Bumi. Manusia juga merupakan mikrokosmos. Kita kadang enggan berkeringat. Berkeringat sesungguhnya dapat melepaskan energi panas dari tubuh kita. Ada orang yang mengatakan bahwa berkeringat bagus untuk tubuh. Benar. Tubuh memang adakalanya perlu berkeringat. Meski begitu, tubuh juga memerlukan asupan air. Kita juga harus cukup minum. Dengan begitu, berkeringat baik untuk kesehatan. Bukankah begitu pula dengan Bumi ini? Bumi juga perlu melepaskan energi panas. Jika energi panas ini tidak dilepas, maka saat energi itu dilepas, gempa yang terjadi akan sangat besar dan membaw bencana. Jadi, empat unsur alam harus selaras. Tubuh kita bagaikan Bumi ini. Aliran darah kita bagaikan aliran air pada alam. Panas tubuh kita bagai energi panas Bumi.

Napas kita adalah energi angin atau udara. Lihatlah, kini empat unsur alam tidak selaras. Daerah yang tidak ada angin sangat panas. Cuaca di sana sangat panas, ditambah lagi tidak adanya angin. Saat unsur angin tidak selaras, dapat terjadi tornado, angin puyuh, atau topan. Semua ini berkekuatan besar. Jadi, ketidakselarasan unsur angin juga bisa membawa kerugian besar. Intinya, ini semua akibat ketidakselarasan. Banyak ketidakselarasan berawal dari pikiran. Saudara sekalian, jika pikiran kita tidak selaras, jika pikiran kita tidak selaras, maka prinsip kebenaran juga tidak akan selaras. Jika prinsip kebenaran tidak selaras, maka iklim dan kondisi bumi juga tidak selaras. Jadi, kita harus selaras dengan kebenaran. Jika pendidikan tidak dijalankan dengan baik, maka manusia tidak akan mengerti kebenaran. maka manusia tidak akan mengerti kebenaran. Dalam mengajar murid, guru harus mendidik agar murid mengerti untuk tahu malu dan bertata krama. Rasa hormat anak-anak terhadap guru kini semakin pudar. Ini juga sangat mengkhawatirkan. Namun, kita juga bersyukur insan Tzu Chi terus terjun ke sekolah-sekolah untuk membantu para guru dengan berperan sebagai ibu pendamping. Beberapa tahun ini, menjelang kelulusan, di sekolah digelar upacara penghormatan bagi guru. Para murid menyuguhkan teh bagi para guru sebagai wujud ungkapan terima kasih. Rasa syukur ini diungkapkan dengan berbagai cara. Benar, murid harus membalas budi guru bukan hanya pada saat upacara kelulusan. Para murid harus dibina agar saat bertemu guru, mereka mengerti untuk menunjukkan rasa hormat. Di zaman Jepang, saat anak-anak bertemu guru, mereka sudah menghentikan langkah dari jauh untuk memberi salam dengan sikap paling hormat sebagai wujud terima kasih. Ini dilakukan di seluruh sekolah, entah apakah guru itu ada mengajar kita atau tidak. Selama para murid tahu bahwa beliau adalah guru, maka mereka akan memberi hormat. Inilah cara menghormati guru. Sebaliknya, anak-anak zaman sekarang kerap meremehkan guru dan tidak memiliki rasa hormat.

Rasa hormat sudah hilang dari diri mereka. Karena itu, mereka bersikap meremehkan. Dengan begitu, mereka berani memarahi guru dan menjahili guru. Ini adalah sikap yang tidak hormat dan menciptakan karma buruk. Jadi, di dalam organisasi pelatihan diri, kita sering membahas enam keharmonisan. Kita harus menghormati saudara seperguruan. Jika tidak mengerti untuk menghormati orang yang lebih tua daripada kita, ini juga dapat menciptakan karma. Jadi penghormatan juga merupakan salah satu pintu Dharma dalam pelatihan diri. Jika kita memandang setiap orang dengan hati Buddha, maka setiap orang terlihat bagaikan Buddha, terlebih guru yang memberi kita pengetahuan dan membangkitkan kebijaksanaan kita. Kita tentu harus menghormati mereka. Berikutnya dikatakan, “Tidak memegang kepercayaan teman, menciptakan karma ketidaksetiaan.” Terhadap teman, kita harus percaya. Kita harus mengerti untuk memilih teman yang baik. Kita sendiri juga harus dapat dipercaya. Jadi Zeng Zi selalu berintrospeksi apakah dirinya telah berbakti pada orang tua, telah setia kepada majikan telah setia kepada majikan atau atasan, atau atasan, dan telah percaya dan setia kepada teman. Ini harus sering kita renungkan. Kita harus merenungkan, sudahkah kita berbakti pada orang tua? Sudahkah kita menghormati para guru? Sudahkah kita menjaga kepercayaan teman? Jangan sampai ucapan kita mengandung dusta, sesuatu yang tidak benar, atau sesuatu yang kasar. Semua ini menciptakan karma. Ada empat karma buruk lewat ucapan. Bergosip adalah berkata-kata tidak benar. Gosip adalah ucapan yang tidak bermanfaat. Jadi, di antara kata-kata kasar, dusta, omong kosong, dan gosip, adakah kita memiliki kebiasaan tersebut? Jika ada, berarti kita tidak baik dan setia pada teman. Saudara sekalian, kita sungguh harus berlaku baik terhadap orang tua, guru, dan teman. Ini adalah perilaku dasar sebagai manusia. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888