Sanubari Teduh-374-Sulit Melatih Diri Tanpa Pedoman Sila
Saudara se-Dharma sekalian, sesungguhnya mempelajari ajaran Buddha harus sesuai dengan pedoman. Kita berusaha agar berada di jalur yang benar dan dapat melangkah maju. Dengan begitu, tidak sulit mencapai kebuddhaan. Hanya saja, pikiran manusia kerap keluar jalur. Karena itu, Buddha menetapkan sila bagi kita. Jadi, sila bertujuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Ini adalah pedoman di dalam jalan pelatihan diri. Sila ditetapkan untuk kita praktikkan agar sebelum semua itu terlanggar, kita bisa melakukan pencegahan. Jika kita bisa mencegah kesalahan, maka kita tidak akan keluar jalur. Mencegah kesalahan berarti meminta kita menghentikan keburukan. Kita bisa keluar dari jalur karena pikiran membangkitkan niat jahat. Jadi, sebelum niat jahat ini timbul, kita harus mencegahnya. Jika niat itu sampai timbul, kita harus menghentikannya. Dengan begitu, tidak akan terwujud tindakan lewat tubuh. Jadi, sila adalah pedoman dalam pelatihan diri. Pedoman ini menunjukkan cara agar kita menapaki jalan ini dengan lurus dan tidak menyimpang sedikit pun. Inilah yang disebut sila. Jika lepas dari pedoman ini, kita sulit untuk berlatih sesuai Dharma. Jika tidak hati-hati, kita akan mudah menyimpang dari pedoman ini sehingga akan sulit untuk berjalan dengan benar dan selaras dengan Dharma. Jadi, kita tidak boleh keluar dari pedoman ini. Jika kita berjalan di arah yang keluar jalur, maka sulit untuk meluruskannya kembali. Jadi, dikatakan bahwa orang yang keluar jalur sulit untuk selaras dengan Dharma. sulit untuk selaras dengan Dharma. Jadi, sila ini berfungsi untuk melindungi kita, melindungi jiwa kebijaksanaan kita, mengembangkan tubuh Dharma kita. Jadi, kita harus memperhatikan sila ini. Dengan begitu, barulah kita bisa mendisiplinkan dan mengendalikan diri.
Harap semua orang tidak meremehkan sila. Kini kita membahas penggalan berikutnya. “Adakalanya menciptakan empat atau delapan pelanggaran berat yang merintangi jalan mulia.” Selain karma yang sebelumnya kita bahas, yaitu melawan dan tidak berbakti, kita juga mudah menciptakan empat atau delapan pelanggaran berat. Ini merintangi jalan mulia. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menuju jalan yang mendekat pada Buddha. Sebaliknya, 4 atau 8 pelanggaran berat merintangi pelatihan diri kita. Empat pelanggaran berat adalah membunuh, mencuri, berbuat asusila, berdusta. Ini adalah sila utama. Empat sila utama mengatur tentang empat pelanggaran berat. Delapan pelanggaran berat berlaku bagi para bhiksuni. Kalian yang pernah menerima sila bhiksuni pasti tahu apa itu 8 pelanggaran berat. Bagi umat perumah tangga, melanggar sila membunuh, mencuri, berbuat asusila, dan berdusta merupakan akar dari kelahiran di neraka. Semua ini berbuah kelahiran di neraka. Jika sila ini dijaga dengan sungguh-sungguh, Jika sila ini dijaga dengan sungguh-sungguh, maka akan menumbuhkan Bodhi dan jalan mulia. Empat pelanggaran ini ditambah minuman keras membentuk lima sila. Mengapa membunuh dianggap pelanggaran berat? Karena tiada yang lebih berharga dari kehidupan. Kehidupan mencakup semua makhluk. Makhluk hidup sekecil apa pun memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, makhluk hidup apa pun itu, selama ia bernyawa harus kita hargai. Pembunuhan membawa kontradiksi dalam hubungan antarsesama.
Pada saat jatuh cinta, manusia akan mengejar dan mengerahkan segala cara untuk mendapatkan. Namun, hati manusia dapat berubah. Terlebih lagi, sebagian orang tidak menjaga tata susila. Di awal kita sudah membahas ada anak yang membunuh orang tuanya. Begitu pula dalam kehidupan suami istri. Dalam siaran berita, saya melihat sebuah berita. Ada seorang pria yang menjalin kasih dengan seorang gadis. Namun, lama-kelamaan, perasaannya berubah. Dia lalu mengenal seorang gadis lain. Keluarga pria ini sangat senang dan mengaturkan pernikahan. Mereka akhirnya menikah dan membentuk keluarga yang bahagia. Pada saat itu, dalam suatu kesempatan pria ini kembali bertemu dengan kekasih lamanya. Cinta lama pun bersemi kembali. Sikapnya pun menjadi dingin terhadap istrinya di rumah. Namun, dia telah memiliki anak. Anaknya masih kecil. Hati sang suami telah berubah, sedangkan sang istri menjadi sering marah-marah. Dia sepertinya tahu perihal mantan kekasih suaminya itu. Keluarga ini akhirnya kehilangan kebahagiaan. Sejak saat itu, sang suami bukan hanya tak bertanggung jawab pada keluarga, tetapi juga berusaha menceraikan istrinya.
Namun, demi anaknya, sang istri mempertahankan rumah tangga mereka. Dia berharap anaknya mendapat kasih sayang yang lengkap. Jadi, dia berusaha ikhlas. Bagaimana pun, bertengkar sehebat apa pun, dia tidak mau bercerai. Oleh karena itu, sang suami bersama kekasihnya merencanakan pembunuhan terhadap sang istri itu. Hati manusia sungguh bisa berubah. Karena itu, Buddha berkata bahwa pikiran memiliki fase timbul, berlangsung, berubah, lenyap. Pikiran kita begitu mudah berubah. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, inilah yang disebut keluar jalur. Dengan begitu, tiada lagi antisipasi. Akibatnya, perbuatan buruk bisa tercipta. Jika perbuatan buruk tercipta, maka kesalahan yang terjadi sulit dikendalikan. Contohnya adalah pembunuhan. Jika pikiran manusia tidak berpegang pada sila, maka akan mudah menciptakan karma membunuh. Meski terhadap orang yang dekat dan dikasihi, saat pikiran tersesat, pelanggaran juga bisa dilakukan. Yang agak ringan contohnya adalah mengutil. Yang agak berat adalah mencuri. Yang agak berat adalah merampok. Mengutil adalah saat orang lain tidak melihat. Mencuri lebih berat daripada mengutil. Saat mencuri, juga mudah timbul niat membunuh. Kita sering mendengar berita seperti ini di masyarakat. Selain berpotensi melakukan karma membunuh, mencuri juga bisa membuat reputasi diri sendiri rusak. Di masyarakat, betapa banyak pengusaha yang bisnisnya sangat besar. Namun, apakah mereka merasa cukup? Belum. Akibat ketamakan, mereka mencari cara memperluas usaha. Mereka terus melakukan transaksi kosong hingga menyebabkan gelembung ekonomi.
Gelembung ekonomi adalah kondisi di mana sebuah usaha terlihat besar dari permukaan, tetapi di dalamnya adalah kosong dan lemah tetapi di dalamnya adalah kosong dan lemah serta dapat runtuh kapan saja. Saat runtuh, ia akan membawa efek domino. Ibarat kartu domino yang disusun berdiri berurutan, saat satu lembar kartu dijatuhkan, kartu yang lain akan ikut berjatuhan. kartu yang lain akan ikut berjatuhan. Ada orang yang menggunakan seluruh tabungannya, bahkan sampai berutang untuk berinvestasi. Akibat gelembung ekonomi ini, dia dapat bangkrut seketika. Ini juga dimulai dari ketamakan. Bisnis yang dijalankan tidak berwujud jelas. Dia menjalankan banyak usaha yang sangat berbahaya. Ini juga bisa mengarah pada pencurian. Jadi, kata mencuri di sini cakupannya amat luas. Mengambil yang bukan menjadi hak atau milik diri sendiri, ini disebut mencuri. Berikutnya adalah perbuatan asusila. Tadi kita sudah membahas satu contoh. Itulah perbuatan asusila. Umat perumah tangga menikah secara resmi dan membangun keluarga. Dalam membangun keluarga, suami istri harus saling bertanggung jawab. Suami harus bekerja demi keluarga. Istri harus menunaikan kewajiban di rumah dan bersama-sama mendidik anak-anak. Dengan demikian, keluarga akan bahagia. Jika salah satunya berkhianat terhadap pernikahan dan memiliki simpanan atau selingkuhan di luar, ini berarti melanggar sila perbuatan asusila. Inilah perbuatan asusila. Hubungan tak patut di luar suami istri disebut asusila.
Jadi, umat perumah tangga tidak boleh melanggar sila perbuatan asusila ini. Tentu, bagi praktisi pembina diri, sila ini harus dijaga dengan ketat. Kita harus menjaga kemurnian. Ini juga termasuk sila yang berat. Berikutnya adalah dusta atau ucapan tidak benar. Mengenai ucapan tidak benar, sepuluh karma buruk terdiri atas tiga karma lewat tubuh, empat lewat ucapan, dan tiga lewat pikiran. Empat karma buruk lewat ucapan adalah berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing, dan berkata-kata kasar. Berdusta berarti berkata yang tidak sebenarnya. Berkata-kata kosong adalah menjilat dengan kata-kata yang manis, tetapi juga tidak sesuai kenyataan. tetapi juga tidak sesuai kenyataan. Bergunjing berarti membicarakan orang lain. Ketika mendengar suatu berita, dia membicarakannya, bahkan menambahkan bumbu sehingga hubungan orang menjadi rusak. Dia menyebarkan gosip di mana-mana sehingga membawa banyak kerisauan. Semua ini karena ucapan dari mulut. Selain kata-kata kosong, ada pula kata-kata kasar. Kata-kata kasar adalah gemar memaki orang. Ucapannya sangat tidak enak didengar. Inilah yang disebut kata-kata kasar. Jadi, indra manusia yang paling tajam adalah telinga yang mendengar. Saat sesuatu yang didengar telinga merasuk ke dalam hati, akan timbul perasaan senang, marah, galau, benci, atau yang lainnya. Semua ini berawal dari pendengaran lewat telinga. Jadi, telinga adalah indra yang tajam. Jadi, telinga juga menjadi pendorong. Setelah mendengar sesuatu, kita terdorong untuk berbuat. Ini sudah kita bahas sebelumnya. Indra mata juga sangat tajam.
Saat melihat wajah orang atau melihat sesuatu, kita bisa merasa suka, tidak suka, atau yang lainnya. Semua ini dilihat oleh mata. Jadi, kita harus memperhatikan apa yang akan orang lain dengar dari mulut kita. Apakah kita akan bertutur kata baik ataukah bertutur kata buruk dan bohong? Tutur kata yang baik dapat menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Tutur kata yang buruk, gosip, kata-kata kosong yang menjilat, atau kata-kata bohong hanya akan menciptakan karma buruk dari ucapan. hanya akan menciptakan karma buruk dari ucapan. Ini adalah pelanggaran dari sila utama. “Saya hanya sekadar berucap, apakah ini menciptakan karma?” “Benarkah karmanya sangat berat?” Tadi kita sudah membahas bahwa ucapan yang masuk lewat telinga akan membuat perasaan orang bergejolak. Semua ini dimulai dari mendengar. Di sinilah letak beratnya karma ucapan. Jadi, kita harus bersungguh hati. Sila empat pelanggaran berat ini ditujukan bagi umat perumah tangga. Selain empat hal ini, masih ada sila tentang minuman beralkohol. Minuman keras dapat mengacaukan pikiran. Begitu minuman keras diminum dan pikiran kacau, maka pembunuhan, pencurian, dan dusta berpotensi untuk dilakukan. Jika ditelaah, minuman keras memang kelihatannya tidak buruk. Arak dibuat dari beras. Arak dibuat dari beras, buah-buahan, atau lainnya.
Memangnya mengapa jika diminum? Alkohol dapat membangkitkan gairah pikiran dan kekuatan yang besar. Bahkan, setelah minum arak dan mabuk, Bahkan, setelah minum arak dan mabuk, orang tak tahu lagi apa yang dirinya perbuat. Jadi, sila ini juga sangat penting. Jadi, selain empat pelanggaran berat, ditambah lagi satu sila khusus tentang minuman keras. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan semua orang karena jika pikiran sudah terpengaruh minuman keras, manusia berpotensi melakukan empat pelanggaran berat. Jadi, sila ini juga tetapkan dan melengkapi lima sila. Lima sila adalah sila dasar bagi umat perumah tangga, juga merupakan penyebab kelahiran di neraka. Jadi, Saudara sekalian, Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh berpegang pada sila. Sila bertujuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Ini adalah pedoman dalam jalan pelatihan diri. Jika dalam pelatihan ini kita keluar dari jalur, maka sulit untuk selaras dengan Dharma. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.