Sanubari Teduh-378-Membangkitkan Hakikat Kebuddhaan
Saudara se-Dharma sekalian, waktu cepat berlalu. Empat musim juga terus berganti. Kita harus menggenggam waktu yang ada. Di tempat apa pun kita berada, kita harus senantiasa meningkatkan kualitas diri kita dan berusaha mengenal hakikat diri. Kita harus berangkat dari tataran makhluk awam menuju tataran kesucian. Ini sangatlah penting. Jadi, di samping empat musim, kita juga harus memperhatikan setiap detik. Kini kita harus tahu, saat musim dingin, cuaca sangat dingin. Karena itu, segala sesuatu bagai tertidur. Saat musim semi tiba, cuaca menghangat. Segala sesuatu mulai terbangun kembali. Bukan hanya tanaman, hewan pun demikian. Jadi, cuaca musim semi sangat sesuai bagi semua makhluk untuk memulai hidup baru. Angin semilir musim semi membawa kehidupan. Demikian pula manusia. Manusia juga termasuk makhluk hidup. Terutama bagi praktisi Buddhis, kita harus tahu bahwa kita memiliki hakikat sejati. Hanya saja, sebagai makhluk awam, kita bagai mengalami tidur musim dingin. Jadi, kita yang mempelajari ajaran Buddha bagaikan mengalami musim semi yang membuat hakikat sejati kita terbangkitkan. Ini bagai angin musim semi yang mengairi hakikat sejati kita. Kita harus membangkitkan hakikat sejati kita. Mengenai musim panas, kini kita terus membahas pemanasan global. Suhu udara terus meningkat dan sangat panas. Contohnya, saat para relawan pergi ke Iran. Di Iran kita juga membangun perumahan. Setelah relawan meninjau proyek, sepulangnya dari sana mereka berkata bahwa cuaca di sana sangat panas, mencapai 52 derajat Celsius. Benarkah sepanas itu? Relawan menjawab, Ponsel saya tertingal di atas meja, lalu saat saya ingin mengambilnya, ponsel itu sudah terbakar.” Cuacanya sangat panas. Sinar matahari di sana sangat terik.
Mungkin di Iran, saat musim panas tiba, matahari berada lebih dekat ke garis ekuator sehingga cuaca terasa lebih panas. Ini karena sinar matahari sangat terik. Cuaca pasti sangat panas. Namun, saat cuaca panas, segala tumbuhan mengalami masa berbuah. Seperti Kaisar Wu Zetian yang suatu saat ingin melihat bunga peoni di musim dingin. Bunga peoni mekar di musim panas, dalam suhu udara yang lebih hangat. Jadi, demi bisa melihat bunga peoni, dia meminta orang-orang memikirkan cara. Kemudian, orang-orang terpikir cara untuk menaruh bunga peoni di sebuah pondok dan di dalamnya diberikan api penghangat. Di sana bagai tiada perbedaan siang malam. Kondisinya bagai terus disinari cahaya matahari. Akhirnya, bunga peoni itu mekar. Dari sini bisa kita lihat bahwa panas matahari dapat membuat segala tumbuhan berbuah. Kini kita juga memahami bahwa berbagai sayuran dikembangkan dengan cara demikian. Sayuran tidak harus tumbuh pada musim tertentu. Manusia bisa melakukan rekayasa untuk mengatur panas. Demikian pula, berhubung hakikat kita sudah terbangkitkan, berhubung hakikat kita sudah terbangkitkan, maka kita bagai berada di musim semi. Setelah hakikat kebuddhaan terbangkitkan, kita harus menjaganya. Meski mengalami teriknya matahari musim panas, kita juga harus menganggapnya sebagai energi yang membuat kebijaksanaan berbuah. Jadi, matahari musim panas mematangkan kebijaksanaan. Bagaimana dengan musim gugur? Di musim gugur, udara lebih segar. Cahaya bulan pun lebih terang. Inilah kondisi musim gugur yang sejuk.
Alam terasa lapang dan luas. Malam hari di musim gugur langit terasa lebih cerah, bulan pun lebih terang. Jadi, kita harus tahu bahwa meski berada di musim gugur, kita tetap harus menjaga batin kita agar tetap bersih. Batin kita harus senantiasa bagaikan cahaya bulan musim gugur yang terang dan bersih. Mengenai musim dingin, musim dingin penuh pemandangan salju yang indah. Lihatlah di musim dingin, di mana turun salju, di sana orang-orang merasa senang. Mereka senang melihat salju karena salju menyelimuti tanah dengan warna putih yang bersih. Sungguh indah. Jadi, saat salju menutupi tanah, kita bisa merasakan kemurnian tanpa noda. Intinya, meski alam memiliki empat musim, baik angin musim semi, terik musim panas, maupun daun-daun berguguran di musim gugur, tetapi kita harus menganggap semuanya mengandung pesan dari alam. Meski musim dingin sangat dingin dan segala tumbuhan sudah gugur, tetapi di dalam hakikat sejati kita, kita harus mengembangkan keindahan. Batin kita harus penuh kehangatan. Tidak ada musim dingin. Namun, ia memiliki semangat cinta kasih tanpa noda. Kita harus dapat membangkitkan hakikat sejati di dalam empat musim ini hingga kebijaksanaan kita semakin murni dan mencapai kondisi tanpa noda. Inilah yang harus kita pertahankan di dalam empat musim sebagai praktisi.
Bagaimana pun kondisi di luar, meski ada ketidakselarasan unsur tanah, air, api, dan angin, tetapi batin para praktisi harus tetap selalu berusaha untuk membangkitkan hakikat sejati. Kapan pun, kita harus bijaksana. Kita harus menjaga kemurnian dan bebas dari noda. Inilah yang harus setiap saat kita jaga. Sebelumnya kita telah membahas tentang sila. Jika kita ada menjaga sila, maka kita akan dapat menjaga tata krama. Selain empat tata krama, ada pula tiga ribu peraturan dan delapan puluh ribu peraturan. Ini semua harus ada di dalam hati kita setiap saat. Kita harus menjaga pikiran kita. Dalam berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring, semua tak terlepas dari pelatihan diri kita. Jadi, setiap saat kita harus menjaganya. Dengan begitu, secara alami 80 ribu peraturan akan tercakup dalam keseharian kita. Di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, tadi baru kita bahas mengenai empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Di sini dikatakan, “Dalam delapan Hari Raja sepanjang tahun menciptakan berbagai karma buruk; menjalankan 16 jenis pekerjaan, menciptakan karma pelanggaran tata krama. Begitulah makhluk awam. Sebelumnya kita telah membahas pelanggaran sila, terlebih tiga ribu dan 80 ribu peraturan. Jika sampai melanggar semua tata krama ini, berarti kita tidak sepenuh hati melatih diri. Seperti yang kita bahas tadi, di dalam empat musim, Batin kita juga harus senantiasa dijaga agar tetap bangkit, bijaksana, bersih, dan bebas noda. Setiap saat batin kita harus demikian. Ini harus dijaga setiap saat. Dengan demikian, barulah kita tidak akan menciptakan karma buruk pada delapan Hari Raja sepanjang tahun.
Apa yang disebut delapan Hari Raja? Sesungguhnya, di sepanjang tahun ada delapan hari pergerakan musim. Di dalamnya termasuk awal musim semi. Ini menandakan dimulainya musim semi. Berikutnya adalah tengah musim semi. Ini menunjukkan bahwa kita sudah benar-benar maemasuki musim semi. Awal musim semi adalah peralihan antara musim dingin dan musim semi. Ini disebut awal musim semi. Di awal musim semi, hawa musim dingin masih terasa. Begitu tiba di tengah musim semi, cuaca sudah mulai hangat dan bersahabat. Jadi, di musim semi ada dua hari pergerakan musim, yaitu awal musim semi dan tengah musim semi. Di musim panas, ada awal musim panas dan puncak musim panas. Di awal musim panas, cuaca mulai agak panas. Di awal musim panas, cuaca mulai agak panas. Matahari akan mulai terik. Matahari akan mulai terik. Perlahan-lahan cuaca mulai memanas Perlahan-lahan cuaca mulai memanas hingga tibanya titik balik musim panas. Peralihan antara musim semi dan panas disebut awal musim panas. Titik balik musim panas ada di tengah musim. Saat itu cuaca sudah sangat panas. Berikutnya adalah awal musim gugur. Setelah melewati cuaca panas, perlahan-lahan musim gugur pun tiba. Suhu udara pun mulai menurun. Intensitas cahaya matahari ditentukan oleh jarak antara Bumi dan matahari. Pada musim gugur, matahari sudah menjauhi titik balik. Karena itu, di musim gugur, cuaca perlahan-lahan menjadi sejuk. Jadi, peralihan antara musim panas dan gugur disebut awal musim gugur.
Berikutnya, cuaca akan jelas terasa sejuk. Ini disebut tengah musim gugur. Pada saat itu, udara benar-benar sejuk, tidak seperti musim panas yang panas. Pada saat itu, udara sudah sejuk. Saat itu disebut tengah musim gugur. Selanjutnya, kita memasuki awal musim dingin. Setelah cuaca menjadi sejuk dan musim dingin tiba, cuaca akan kembali berubah dan perlahan-lahan akan menjadi dingin. dan perlahan-lahan akan menjadi dingin. Ini disebut puncak musim dingin. Di puncak musim dingin, kondisi musim dingin sudah amat jelas. Saat ini, cuaca sangat dingin. Ia disebut puncak musim dingin. Jadi, di dalam satu tahun, terdapat delapan pergerakan musim, yaitu awal musim semi, tengah musim semi, awal musim panas, puncak musim panas, awal musim gugur, tengah musim gugur, awal musim dingin, puncak musim dingin. Delapan hari ini disebut delapan Hari Raja. Delapan hari ini menandakan pergerakan musim. Dengan adanya delapan hari ini, pergantian musim ditandai dengan jelas. Musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin adalah empat musim dalam setahun. Pergantiannya ditandai dengan jelas agar kita paham bahwa kehidupan di bumi tak lepas dari empat musim. Sesungguhnya, mengenai musim di Bumi, saat kita mengalami musim panas di sini, maka di belahan yang lain adalah musim dingin. Bumi berevolusi mengelilingi matahari. Bumi memiliki rotasi dan revolusi. Ini menyebabkan pergantian musim.
Di Bumi yang sama, musim bisa berbeda-beda. Saat mengadakan pertukaran budaya atau menyalurkan bantuan bencana, insan Tzu Chi selalu bertanya apakah cuaca di negara tersebut dingin atau panas. Mereka juga akan memberi tahu saya, “Di sini sekarang adalah musim panas.” Beberapa hari kemudian, saat tiba di negara lain, mereka melapor bahwa di sana musim dingin. Saya lalu berkata, “Apakah kalian membawa baju dingin dan hangat?” Dalam beberapa hari, Dalam beberapa hari, mereka pergi ke beberapa negara mereka pergi ke beberapa negara dengan musim yang berbeda-beda. dengan musim yang berbeda-beda. Jadi, iklim di alam ini terbagi menjadi empat musim. Segala sesuatu di alam berproses mengikuti empat musim ini. Namun, tekad pelatihan diri dan hakikat kebuddhaan kita tetap abadi. Berhubung kita tahu bahwa kita memiliki hakikat kebuddhaan dan telah bertemu ajaran Buddha, maka kita bagaikan bertemu musim semi. maka kita bagaikan bertemu musim semi. Hakikat kebuddhaan kita harus dibangkitkan. Setelah hakikat kebuddhaan terbangkitkan, kita harus mengembangkan kebijaksanaan. Kita harus menjaga kemurnian. Kita harus selalu menjaga kemurnian setiap saat. Pikiran kita harus dijaga agar tetap bersih. Inilah yang harus dijaga oleh para praktisi Buddhis, terlebih kita terus membahas tentang sila. Sila atau vinaya ini sangat penting. Sila bagaikan benteng bagi pikiran kita. Empat musim terus berproses. Waktu juga terus berganti. Pikiran kita harus dijaga dengan baik. Jangan biarkan pikiran terus berubah mengikuti empat musim dalam setahun.
Pikiran makhluk awam mudah goyah dan tidak menaati sila. Karena itu, kita menciptakan karma buruk. Manusia juga menciptakan karma dari 16 pekerjaan. Apa yang dimaksud 16 jenis pekerjaan? Enam belas jenis pekerjaan buruk ini mencakup cara mencari nafkah yang melanggar lima sila, yaitu membunuh, mencuri, berbuat asusila, berdusta, mengonsumsi zat memabukkan. Selain itu, demi mencari nafkah, banyak orang memelihara babi, ikan, atau menjadi tukang jagal. Banyak pula pekerjaan lainnya. Jumlahnya ada 16 jenis. Jika ini dijabarkan satu persatu, sesungguhnya banyak pengusaha melanggarnya. Kita juga tak membahasnya terlalu banyak karena akan membuat orang-orang merasa tidak tenang. Namun, saya juga berharap kalian semua tahu. Di antara 16 pekerjaan yang tidak patut ini, bahkan ada pekerjaan pewarna kain. Ada apa dengan pekerjaan ini? Para relawan daur ulang kita mengumpulkan botol-botol plastik. Setelah dikumpulkan, botol-botol itu dapat diolah kembali menjadi selimut atau pakaian. Saat saya bertemu mereka, mereka berkata, “Master, jika kita menggunakan pewarna, maka akan timbul pencemaran.” maka akan timbul pencemaran.” Dari sini saya mengerti, ternyata ada masalah lingkungan di balik ini. Jadi, saya merasa Buddha sungguh bijaksana. Singkat kata, Di dalam ajaran Buddha, kita harus menjaga sila. Jika kita dapat menjaga tata krama, maka bayangkan, tiga ribu peraturan dan 80 ribu peraturan sudah tercakup di dalamnya. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus senantiasa bersungguh hati.