Sanubari Teduh-430-Pikiran Murni Kebijaksanaan Terpancar
Saudara se-Dharma sekalian, pikiran harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar. Jika pikiran jernih, kebijaksanaan akan memancar. Segala rupa atau wujud bermula dari pikiran. Kita harus menjaga kemurnian pikiran, jangan membuat pelanggaran ringan ataupun berat. Tentu, pikiran kita harus selalu dijaga. Jangan biarkan kegelapan batin mencemari pikiran kita. Jika kita sungguh-sungguh menjaga pikiran kita hingga selalu murni, maka kita tidak akan tercemar kondisi luar. Sebelumnya, di dalam teks tertulis ada orang yang sengaja menodai kesetiaan orang lain. Jadi, jika kita bisa menjaga diri sendiri, maka bagaimanapun kondisi di luar, kita tidak akan tergoda atau tercemar oleh lima nafsu keinginan. Jika dapat lebih berpuas diri, manusia tidak akan mudah tercemar oleh kondisi luar. Saat berkunjung ke unit gawat darurat, saya melihat seseorang yang tidak berpakaian dan tubuhnya penuh tato. Di sana dia terus marah-marah. Kita tahu bahwa dia sedang mabuk. Kita tahu bahwa dia sedang mabuk. Entah mengapa dia bisa terluka. Ada luka di kepalanya dan ada bekas darah.
Lukanya tidak parah, tetapi dia terus berteriak dengan keras. Kita yang melihatnya bertanya-tanya mengapa dia melukai diri sendiri. Tubuh ini adalah pemberian dari orang tua. Kita harus menjaga kebersihannya. Mengapa harus ditato hingga orang yang melihat merasa ngeri? Selain itu, dia juga mabuk. Begitu mabuk, orang kehilangan kesadaran. Setelah terluka dan dibawa ke rumah sakit, dia seharusnya membiarkan dokter merawatnya. Namun, dia tidak berbaring di tempat tidur, malah berkeliaran dan marah-marah, “Luka saya belum dijahit.” Saya bertanya kepada petugas di sana. Mereka menjawab, “Sudah, sekarang sedang dilakukan rontgen.” “Dia baru keluar.” “Sekarang sedang dalam proses.” Dia tidak duduk di kursi roda, juga tidak berbaring di tempat tidur. Pengaruh alkohol membuatnya tak bisa mengendalikan pikiran. Pikirannya tidak jernih sehingga tubuhnya dipenuhi banyak tato. Sesungguhnya, pembuatan tato juga menyakitkan. Saat tubuhnya ditato, orang itu merasa hebat. Sesungguhnya, dia melukai akhlak diri sendiri. Orang-orang yang melihatnya merasa takut. Manusia seharusnya membuat orang lain merasa senang dan penuh rasa hormat ketika melihatnya. dan penuh rasa hormat ketika melihatnya. Inilah akhlak yang baik.
Sebaliknya, dia membuat orang lain merasa ingin segera menjauh darinya dan menjaga jarak karena orang-orang takut terjadi sesuatu. Orang-orang tak berani berada di dekatnya. Lihatlah, entah mengapa dia terluka. Dia hanya terus marah-marah di sana. Siapa yang berani mendekat? Lukanya juga tidak terlalu parah, hanya berdarah sedikit. Jadi, jika kejernihan pikiran terus dijaga, Jadi, jika kejernihan pikiran terus dijaga, Jadi, jika kejernihan pikiran terus dijaga, Jadi, jika kejernihan pikiran terus dijaga, kita tidak akan melukai diri sendiri. Kita juga tidak akan melakukan sesuatu yang membuat orang lain merasa takut. Kita juga tak akan minum minuman keras dan tidak akan melukai diri sendiri. Jadi, kita harus menjernihkan pikiran agar kebijaksanaan memancar. Jika dapat mewujudkan hal ini, maka akan memengaruhi rupa. Rupa atau tampilan diri kita sebagai manusia akan terpengaruh saat pikiran kita bajik dan memahami kebenaran. Jadi, terhadap orang kita harus bertata krama.
Saat melihatnya, orang lain merasa dia ramah dan hangat. orang lain merasa dia ramah dan hangat. Ini yang disebut rupa berawal dari pikiran. Jadi, kita harus menjaga kejernihan batin. jangan membuat pelanggaran ringan ataupun berat. Pikiran harus selalu dijaga dengan baik. Kita harus menjaga kemurnian dan kesetiaan dan tidak ternoda. Kita harus menjaga tekad kita agar tidak melanggar sila ringan ataupun berat. Saat membahas sila, ada sila yang ringan dan yang berat. Jika hanya timbul niat tanpa terwujud ke dalam tindakan, ini belum termasuk pelanggaran sila, hanya saja pikiran sudah tertutup noda batin. hanya saja pikiran sudah tertutup noda batin. Berhubung kita belum melakukannya dan tidak merugikan atau melukai orang lain, Ini hanya menambah noda batin sendiri. Contohnya dalam hal perampokan atau pencurian. atau pencurian. Kesalahan ini dibedakan ringan atau beratnya.
Mencuri barang tak berharga tergolong ringan. Ini disebut mengutil. Ini lebih ringan. Ada pula perbuatan yang tak disengaja. Seorang petapa pergi ke rumah seorang teman. Dia ingin meminjam sedikit garam. Temannya ini tidak ada rumah. Dia merasa teman itu sudah akrab dengannya. Meski temannya tidak ada di rumah, dia tetap membuka tempat garam dia tetap membuka tempat garam dan mengambil sedikit. Dia lalu melupakan hal ini. Dia tidak mengabarkan temannya bahwa saat dirinya tidak ada, dia meminjam sedikit garam. Dia juga tidak mengatakan, “Saya mengambil garam di rumahmu.” Dia sendiri sudah lupa. Jadi, dia tidak mengatakan apa-apa. Jadi, dia tidak mengatakan apa-apa.
Berhubung dia adalah seorang petapa, saat bermeditasi, dia merasa heran karena begitu duduk dia langsung terbayang garam. Dia melihat garam bertebaran di tanah bagaikan gunung. “Apa yang sesungguhnya terjadi?” “Saya belum pernah mengalami hal ini.” “Mengapa bisa muncul fenomena ini?” Dia terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Dia berintrospeksi dan merenungkan kesalahan apa yang telah dia perbuat. Mengapa dia melihat banyak garam? Saat dia menenangkan batin dan berintrospeksi, dia menemukan penyebabnya. “Ya, beberapa waktu lalu saya meminjam garam dari teman saat dia tidak ada di rumah.” “Saya mengambil sesendok kecil garam.” “Benar, saya belum mengembalikannya dan belum melapor padanya.” Benda yang bertuan, tanpa memberi tahu si pemilik atau meminta izin, kita langsung mengambilnya, ini termasuk pelanggaran sila.
Dia segera ingin mengembalikannya Dia membeli sekereta garam karena dalam meditasinya, dia melihat tumpukan garam bagai gunung. Dia tidak meminta izin. Ini termasuk mencuri. Mencuri garam sesendok, dia harus mengembalikan sekereta. Temannya melihatnya, lalu bertanya, “Ada apa denganmu?” “Mengapa membawa garam sebanyak ini?” Dia lalu menceritakan kisahnya. Temannya lalu menjawab, “Kita sudah saling kenal, kamu tinggal bilang saja, tidak bilang pun tidak apa-apa.” “Justru karena tidak bilang, saya jadi termasuk mencuri.” “Saya telah melanggar sila pencurian.” “Saya telah melanggar sila pencurian.” “Saya adalah petapa.” “Sila telah meresap ke dalam kesadaran saya.” “Meski saya sudah lupa akan hal ini, tetapi benih karma telah tertanam di dalam kesadaran kedelapan.” “Jadi, saat bermeditasi, saya melihat fenomena ini dan segera mengembalikan garam padamu.” Temannya berkata, Kalau begitu, tak perlu banyak-banyak. “Kamu hanya mengambil satu sendok.” “Tidak bisa,” jawabnya. “Berhubung dalam meditasi saya melihat banyak garam, maka saya harus mengembalikan banyak.” Saya menceritakan kisah ini karena jika kita melanggar sila, meski kita berpikir kesalahan itu hanya sedikit, tetapi pelanggaran yang tidak diakui akan masuk ke dalam kesadaran kedelapan dan berlipat ganda. Inilah pengingat bagi para praktisi. Kita sedang melatih diri. Benih pelanggaran mulanya tidak ada di dalam kesadaran kita, tetapi berhubung kita sedang melatih diri, tetapi berhubung kita sedang melatih diri, maka saat kita mencuri sesuatu meskipun kecil, ia bagaikan sehelai kain putih yang ditetesi sedikit tinta. Saat setetes tinta mengenai kain putih, kain itu harus segera dicuci.
kain itu harus segera dicuci Setelah dicuci, ia akan bersih kembali. Buddha juga mengingatkan kita seperti ini. Apakah kalian ingat? Dahulu kita juga pernah membahas sebuah kisah. Ada seorang petani yang singgah di tepi kolam teratai milik orang lain. Dia menggali kolam lumpur itu dan mengambil teratai di dalamnya. Seorang petapa melihat tindakan petani itu. Dia merasa tidak nyaman. Dia menghampiri tepi kolam untuk mengagumi bunga teratai itu. Lalu, dewa pelindung sila muncul dan berkata kepadanya, “Wahai petapa, engkau adalah seorang bhiksu.” “Bagaimana boleh membangkitkan ketamakan dan mencuri bunga teratai?” Petapa ini berkata kepada dewa penjaga sila, “Yang mencuri bukan saya, melainkan petani yang tadi.” “Dialah yang mencuri teratai.” “Mengapa kau tidak menyalahkannya.” “Saya tidak mencuri, mengapa kamu menyalahkan saya?” Dewa pelindung sila ini berkata, “Karena kamu adalah petapa yang harus menaati sila.” “Tak boleh ada ketamakan dalam batinmu.”
“Saya mana ada ketamakan?” “Ada, kamu tamak terhadap rupa teratai.” “Kamu mengaguminya hingga tak beranjak.” “Waktu sangat berharga, tetapi kamu malah datang kemari untuk menikmati keindahan bunga teratai.” “Ini adalah nafsu keinginan di dalam batinmu.” “Ini adalah nafsu keinginan di dalam batinmu.” “Kamu tamak terhadap bunga teratai.” “Matamu tamak terhadap rupa.” “Matamu tamak terhadap rupa.” “Indra matamu menyerap objek itu.” “Indra penciumanmu tamak terhadap harumnya bunga teratai.” tamak terhadap harumnya bunga teratai.” “Saat melihat rupa bunga teratai dan mencium wanginya, timbul ketamakan dalam pikiranmu.” “Ini adalah pelanggaran sila.” Setelah mendengarnya, bhiksu ini merasa ini sangat masuk akal. “Saya adalah petapa.” “Saya tak boleh menyia-nyiakan waktu.” “Saya harus berlatih dan menenangkan pikiran.” “Saya tidak seharusnya membuang waktu dan menikmati keindahan di sini.” “Saya sudah bersalah.” “Indra penglihatan dan penciuman saya telah terbuai objek luar.” “Saya juga telah melanggar sila mencuri karena semua ini bukanlah milik saya.” Dia kembali bertanya kepada dewa, “Mengapa kau tak menghukum petani tadi?” Dewa itu menjawab, “Petani itu bagaikan sehelai kain kotor.” “Kain yang kotor itu memang sudah kotor sejak awal, sedangkan memang sudah kotor sejak awal, sedangkan dirimu bagai sehelai permadani putih dirimu bagai sehelai permadani putih yang mulanya tidak ternoda.” “Jadi, kau tak boleh membiarkan setetes noda pun mengotori dirimu.” “Segeralah membersihkan kotoran itu.” “Segeralah membersihkan kotoran itu.” Bagaimana caranya? Bertobat.
Pertobatan adalah pemurnian Kisah ini diceritakan Buddha kepada para bhiksu. Saudara sekalian, kita semua harus menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran murni, kebijaksanaan akan memancar. Dengan demikian, keluhuran juga akan tampak. Berkat sikap yang hangat dan ramah, orang-orang akan menaruh rasa hormat. Anda adalah praktisi. Anda adalah orang yang melatih diri. Jadi, tanggung jawab sebagai praktisi, baik perumah tangga maupun anggota Sangha, adalah menjaga pikiran kita. Kita harus menjaga kemurnian pikiran. Jangan biarkan pikiran tercemar. Jangan pula mencemari orang lain. Sila tidak boleh dilanggar, entah ringan ataupun berat. Saudara sekalian, pikiran harus dijaga dengan baik. Harap semua bersungguh hati. Batin yang murni tetap akan jernih meski berada di tengah kekeruhan. Kita bisa belajar dari setiap orang. Harap semua lebih bersungguh hati.