Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-432-Karma Buruk Ucapan Sulit Dihindari

Saudara se-Dharma sekalian, kita sering membahas sepuluh kejahatan; tiga dari tubuh, empat dari mulut, tiga dari pikiran. Sebelumnya kita juga pernah membahas dari tubuh ada pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila Ini sudah pernah kita bahas dalam waktu yang lama. Kita juga diajak untuk terus bertobat. Kini, berikutnya dibahas tentang empat jenis karma, yaitu karma melalui mulut atau ucapan. Karma lewat mulut ada empat, sedangkan lewat tubuh ada tiga, yaitu membunuh, mencuri, berbuat asusila. Karma lewat mulut meliputi berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing, dan berkata kasar. Inilah empat karma buruk lewat mulut. Jadi, bayangkan, di dalam sepuluh kejahatan, karma buruk lewat mulut ada empat. Yang berikutnya adalah dari pikiran, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Manakah karma yang tak berawal dari pikiran? Namun, perbuatan dapat terealisasi, selain melalui tubuh dengan tiga tindakan, masih ada empat melalui ucapan. Jadi, ucapan paling mudah menciptakan karma. Sangat mudah untuk menciptakan karma, cukup membuka mulut dan berucap, karma sudah tercipta. Ini karena pikiran kita sering diliputi kebencian.

Begitu kebencian timbul, karma lewat ucapan langsung tercipta. karma lewat ucapan langsung tercipta. Bukankah kita sering mendengar orang yang sangat suka memaki orang lain? Begitu kata-kata terucap ke luar, ia sangat mudah terdengar oleh orang lain dan pikiran orang lain akan bereaksi. Dalam batin mereka akan timbul kebencian, lalu membalas ucapan itu. Begitu ucapan itu keluar, orang lain akan bereaksi. Ucapan akan sampai pada telinga orang, lalu masuk ke dalam pikiran. Jadi, suara ucapan sangat mudah tersebar. Pikiran pun mudah bereaksi atasnya sehingga terucaplah kata-kata kasar. Begitu kata-kata kasar terucap, orang lain akan cepat mendengarnya. Mereka juga akan bereaksi. Dari sini bisa dilihat bahwa segala perselisihan antarmanusia, masalah antarmanusia, dan prasangka antarmanusia bisa timbul dan tersebar dari ucapan. Jadi, terhadap karma lewat ucapan, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Kadang kita mendengar suatu hal yang membuat kita tidak senang atau mendengar orang lain bergosip atau membicarakan kita. Dalam pikiran kita akan timbul rasa benci. Kita merasa tidak senang dan mulai mengumpat. Orang lain membuat gosip dan mengatakan hal buruk tentang kita. Kita berkata, “Baiklah, lihat saja lain kali.” Kata “lain kali” ini sesungguhnya ada di kehidupan sekarang ataukah kehidupan mendatang? Jadi, mengenai karma lewat ucapan, jika kebencian kita simpan dalam hati, karma ini tentu akan berbuah. Jadi, kita harus waspada terhadap karma lewat ucapan. Dalam segala ucapan, baik atau buruk bergantung pada kebiasaan. Ucapan adalah kebiasaan. Kebiasaan berawal dari pikiran. Sebelumnya kita bertobat atas karma buruk lewat tubuh.

Berikutnya, Tubuh dan pikiran kita harus murni. Kita menghormati Tiga Permata dengan hati yang tulus. Berikutnya dikatakan, Kini, berikutnya kita mau kembali bertobat atas empat karma buruk. Bertobat haruslah disertai hati yang tulus. Kita harus sungguh-sungguh berikrar untuk mengubah masa lalu dan membina masa depan. Dahulu kita sudah memupuk tabiat buruk. Perkataan kita sangat tidak pantas. “Apakah orang itu memiliki pembinaan yang baik?” “Ada, orang itu tutur katanya sangat baik.” “Pembinaan dirinya sangat baik.” “Orang itu pembinaan dirinya tidak baik.” “Dia suka memaki orang.” “Kata-katanya sangat kasar.” Intinya, orang yang memiliki pembinaan diri atau tidak bisa dilihat dari tutur katanya. Orang lain akan cepat menilai baik buruknya. Jadi, kita harus hati-hati dalam bertutur kata. Di dalam Sutra dikatakan, Karma buruk ucapan juga merupakan penyebab kelahiran di alam rendah. Dengan adanya benih karma buruk ini, manusia bisa jatuh ke alam neraka, setan kelaparan, atau binatang. Mengenai alam neraka dan setan kelaparan, ada orang berkata, “Saya tidak bisa melihat adanya alam itu.” “Di manakah neraka?” “Di mana alam setan kelaparan?” Saya sering mengutarakan perumpamaan. Gambaran neraka ada di alam manusia. Alam setan kelaparan juga demikian, terlebih lagi alam binatang. Di alam binatang, kita bisa melihat berbagai jenis hewan.

Selain manusia, masih banyak makhluk hidup lain. Asalkan mata masih bisa melihat atau telinga bisa mendengar, kita bisa mendengar kicauan burung. Burung juga termasuk binatang. Saat berjalan di lahan pertanian, kita mudah menemukan kerbau. Kita juga bisa melihat anjing dan binatang lainnya. Semua itu sangat dekat dengan manusia dan tenaga mereka sering dimanfaatkan oleh manusia. Contohnya kerbau. Kerbau dimanfaatkan tenaganya oleh manusia untuk membajak sawah dan menarik pedati. Kerbau dan kuda, semua termasuk makhluk alam binatang. Wujud binatang sungguh beragam dan sulit disebutkan satu per satu. Berbagai jenis binatang juga terlahir akibat karma. Jadi, mereka terlahir dalam wujud binatang. Saya teringat sepenggal kisah di dalam Sutra. Buddha bercerita berkalpa-kalpa yang lalu, ada sebuah kota kecil. Pemimpinnya bernama Vatsa. Suatu hari, dia berkeliling di kota itu. Suatu hari, dia berkeliling di kota itu. Ada seekor lembu yang baru lahir di sana. Hidung lembu itu belum dicocok dan lembu itu belum diminta bekerja.

Namun, tiba-tiba kembu itu seakan mengamuk. Saat melihat Raja Vatsa, ia menyerang ke arah perutnya. Raja Vatsa meninggal saat itu juga. Setelah Raja Vatsa terbunuh oleh lembu ini, si pemilik lembu takut dihukum. Jadi, dia menjualnya dengan harga murah. Si pembeli membawa lembu yang dibelinya dengan harga murah itu. Saat menggiring lembunya pulang, di tengah jalan dia merasa haus dan ingin minum air sebelum melanjutkan perjalanan. Saat dia ingin minum air di tepi sungai, lembu itu menerjangnya dari belakang. Orang itu pun mati tenggelam. Mendengar kabar ini, anak si pembeli tadi sangat marah melihat lembu itu. Lembu itulah yang membunuh ayahnya dengan mendorongnya ke sungai. Dia tak ingin memelihara lembu itu. Dia kembali menjualnya dengan harga murah untuk disembelih. Setelah lembu ini disembelih dan dipotong-potong, bagian yang paling murah adalah kepalanya. Seseorang membeli kepada lembu ini, mengikatnya, lalu memikulnya. Dia membawa kepala lembu itu seorang diri. Saat dia berjalan, dia merasa lelah karena jauhnya perjalanan. Kebetulan di sana ada sebatang pohon. Dia menggantung kepala lembu itu pada ranting pohon. Dia sendiri duduk di bawah pohon untuk beristirahat. Ranting itu tak kuat menahan beban sehingga patah dan kepala lembu itu jatuh dan tanduknya tepat menusuk kepala orang itu. Orang itu pun mati seketika. Satu kepala lembu memakan korban tiga orang.

Apakah sebabnya? Berita tentang kepala lembu yang memakan korban tiga orang ini terdengar oleh Raja Bimbisara. Apakah penyebab semua itu? Berhubung Raja Bimbisara adalah seorang umat Buddha yang taat, beliau meyakini hukum karma. Jadi, beliau bertanya kepada Buddha. Beliau menceritakan kejadian itu. Setelah mendengarnya, Buddha tersenyum simpul. Buddha menjawab, “Jalinan jodoh ini bermula pada masa yang telah lama berlalu.” Pada kehidupan lampau, ada tiga orang pedagang yang sedang berdagang. Mereka pergi ke sebuah desa di luar kota. Mereka menyewa sebuah rumah di sana. Pemilik rumah itu adalah seorang nenek. Dia mengandalkan uang sewa untuk bertahan hidup. Tiga orang pedagang itu tinggal lama di rumah itu. Suatu hari, si tuan rumah bertemu mereka dan berkata, “Kalian belum bayar uang sewa.” Mereka bertiga malah berkata, “Kamu sudah tua, ingatanmu lemah.” “Kami sudah bayar.” “Mengapa masih ditagih?” Mereka terus mengomeli nenek tua itu. Mereka mengatai si nenek gila, hilang ingatan, tamak, dan sebagainya. Mereka mengucapkan kata-kata kasar. Mereka terus memaki nenek itu. Jadi, nenek yang seharusnya  mendapat uang untuk hidup tidak mendapat haknya dan sangat dirugikan. Dia masih dimaki oleh tiga orang tadi. Dia masih dimaki oleh tiga orang tadi. Di dalam hatinya timbul kebencian. Dia berkata, “Baiklah, saya sudah tua.” “Saya tak bisa mengalahkan kalian.” “Saya bersumpah akan membalas kalian di kehidupan mendatang.” Nenek ini terus menyimpan kebenciannya dan terus mengeluarkan kutukan setiap hari. Dia bersumpah akan membalas dendam.

Kemudian, nenek ini meninggal dunia. Tiga pedagang itu juga meninggal dunia. Berselang waktu yang sangat lama, entah berapa kehidupan sudah dilalui si nenek di alam binatang atau alam manusia. Ketiga pedagang tadi juga demikian. Hingga akhirnya, salah seorang dari mereka terlahir sebagai Raja Vatsa, seorang lainnya adalah si pembeli lembu yang hendak minum di tepi sungai, dan yang satu lagi terlahir sebagai pembeli yang menggantung kepala kerbau di ranting. Pada kehidupan lampau, tiga orang ini adalah pedagang. Mereka akhirnya terlahir di alam manusia dan yang lebih beruntung menjadi raja di kota kecil. Yang sedang-sedang saja menjadi petani atau orang biasa. Mereka akhirnya di waktu hampir bersamaan mati karena kepala lembu tadi. Lembu tadi adalah nenek itu. Karena rasa dendam, nenek itu ingin membalas dendam. Jadi, pada saat itu, dendamnya telah terbalas.

 

Buddha menceritakan kisah ini kepada Raja Bimbisara. Para bhiksu juga mendengarnya. Semua orang sangat prihatin. Karma dari ucapan sungguh menakutkan. Buahnya pun tak terhindarkan. Jadi, kita harus menjaga ucapan kita. Terlebih lagi, ketamakan tidak boleh ada. Jadi, sesuai hukum sebab akibat, banyak orang saling merasa dendam dan ingin membalas. Jalinan jodoh ini terus terpupuk. Cinta dan benci terus terpupuk dari kehidupan ke kehidupan. Ini adalah penderitaan yang tak terkira. Saudara sekalian, kita juga pernah membahas niat pada pikiran, juga pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, dusta, kata-kata kasar, dan sebagainya. Semua ini terus berlanjut dan tak kunjung selesai. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, setelah mendengar dan memahami Dharma, kita harus senantiasa bertobat dan meningkatkan kewaspadaan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.                         

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28