Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-433-Menjalin Jodoh Baik dengan Ucapan Santun

Saudara se-Dharma sekalian, di dalam Sutra sering dikatakan, Ini sering muncul di dalam Sutra. Ini sering muncul di dalam Sutra. Sesungguhnya, di dalam sepuluh kejahatan, karma lewat mulut ada empat. Jika tidak berhati-hati, kita bisa menciptakan empat karma ini. Seperti dalam kisah Mahabhiksu Wu Da, Yuan Ang mengeksekusi Chao Cuo. Chao Cuo pun ingin membalas dendam. Namun, Yuan Ang terus melatih diri dan menjadi bhiksu agung di 10 kehidupan. Chao Cuo ingin membalas dendam dan mengikuti Yuan Ang selama 10 kehidupan. Bayangkan, betapa lamanya 10 kehidupan. Dalam waktu ratusan tahun, dia terus menanti kesempatan untuk membalas dendam. Dia terus menyimpan rasa dendamnya. Lihatlah, karma lewat mulut dan pikiran begitu berat. Tiada manfaat apa pun bagi siapa pun. Jadi, karma lewat mulut sangat berat dengan berbagai bunga karma. Ada contoh seperti ini. Adakalanya karma terus menanti untuk berbuah. Ada orang yang terlahir di dunia dan menerima buah karma buruk ucapan. Lihatlah, kini banyak orang yang mulutnya terasa tidak bersih, bahkan beraroma tidak sedap. Ini mungkin sejenis penyakit mulut. Ada orang yang ketika berbicara, suaranya sangat tidak enak didengar, bahkan tiada orang yang memercayainya.

Ada orang yang saat berbicara, orang lain tidak mau memercayainya. “Semua perkataannya tidaklah penting, tidak perlu dipercaya.” Orang lain mengabaikannya. Inilah buah karma ucapan dari orang yang menyulut pertikaian. Jika manusia saling beradu mulut, maka akan merusak hubungan baik. Ucapan buruk juga bisa merusak rumah tangga. Menantu dan mertua juga bisa tidak rukun. Masyarakat atau negara juga bisa kacau hanya karena ucapan atau kata-kata. Jika bukan karena ucapan yang membawa pertikaian, ada pula niat pikiran yang tidak lurus, membuat timbul pertikaian dalam negeri atau antarnegara. Semua ini diawali dari ucapan manusia. Sedikit saja tidak berhati-hati, manusia bisa menciptakan karma buruk. Jadi, karma lewat mulut sangat berat Dari sepuluh kejahatan, karma lewat mulut ada empat. Kita semua sudah tahu sepuluh kejahatan, tiga dari tubuh, empat ucapan, tiga pikiran. Jadi, kita sudah tahu dari mana saja karma buruk bisa tercipta. Kebanyakan karma tercipta lewat mulut.

Begitu pula, penyakit masuk lewat mulut. Bencana keluar lewat mulut. Saya teringat beberapa tahun lalu, ada sebuah kasus. Ada sebuah keluarga yang anaknya masih kecil. Tiga atau empat anak duduk di bangku SD. Ada yang duduk di kelas lima, ada yang di kelas empat, ada yang di kelas dua. Saat anak-anak ini berada di sekolah, guru-guru sangat kewalahan karena saat guru membaca dan murid lain mengulangi perkataan guru, anak-anak ini tidak mau bersuara. Guru tidak tahu lafal mereka benar atau tidak. Guru selalu memintanya membaca dan mengeluarkan suara, tetapi mereka tidak mau. Tiga ada di kelas dan jenjang yang berbeda, Tiga ada di kelas dan jenjang yang berbeda, semuanya tidak mau mengeluarkan suara. Si guru bertanya pada orang tua mereka. Sang ibu tidak bersedia untuk berbicara. Kakek dan nenek mereka yang berbicara. “Cucu-cucu saya bisa berbicara, hanya tidak suka berbicara, juga entah mengapa.” Saat ditanya, mereka hanya menjawab,  “Tahu.” “Tidak mau.” Hanya itu yang sering mereka ucapkan. Mereka bukan tidak bisa berbicara, hanya tidak mau berbicara. Guru mereka terus mencari penyebabnya. Mengapa anak-anak itu tak mau berbicara? Ketika sang guru bertanya pada sang ibu, mertuanya berkata, “Menantu saya sejak menikah bahkan tidak pernah menyapa kami.” “Apakah dia bisu?” “Seharusnya tidak.” “Di rumahnya, dia bisa berbicara.” “Entah mengapa, sejak masuk ke keluarga kami, dia tidak berbicara.” Si guru itu terus mencari cara untuk mendekati ibu dari anak-anak itu. Beliau ingin memahami mengapa ibu itu tidak berbicara. Jika sang ibu tidak berbicara, pengaruhnya tentu besar bagi anak-anak. Mungkin sang ibu memiliki masalah.

Sang guru melaporkan kisah ini kepada Tzu Chi. Relawan Tzu Chi lalu mengunjungi mereka. Mereka melakukan pendekatan kepada si ibu itu. Saat melihat insan Tzu Chi, dia tersenyum sebentar, lalu masuk ke rumah.

Berselang cukup lama, sang mertua juga tahu bahwa insan Tzu Chi datang untuk membantu menantunya. Jadi, dia ingin menjadi donatur. Dia terus mengobrol dengan relawan dan menceritakan banyak masalah keluarga. Berhubung relawan Tzu Chi mengetahui banyak kisah keluarga lain, terutama yang pernah dibantu Tzu Chi, seperti ada keluarga donatur seperti ada keluarga donatur yang mertua dan menantunya bermasalah atau ibu dan anaknya bermasalah. Mendengar kisah-kisah itu, si menantu perlahan-lahan mulai mendekat dan bisa ikut tersenyum. Relawan kita pun mencoba untuk mendekat dan duduk di sampingnya. Melihatnya tersenyum, relawan tahu bahwa ibu itu mendengarkan pembicaraan mereka. Jadi, relawan mulai selangkah demi selangkah mendekatinya dan menggandeng tangannya. Dengan lembut dia bertanya, “Mertuamu bilang masakanmu sangat lezat.” “Bagaimana kamu memasaknya?” “Apakah kamu berbelanja sendiri?” “Apakah kamu memilih sayuran sendiri di pasar dan menentukan sendiri mau masak apa?” Kadang dia menjawab, “Ya.” “Harga sayuran sekarang lebih mahal.” Relawan kita terus berbicara dan ibu itu semakin banyak merespons. “Eh, kamu bisa berbicara.” “Mengapa kamu tidak suka bicara?” “Tahukah anak-anakmu di sekolah…” Relawan menceritakan kondisi  tiga anaknya yang diceritakan sang guru. “Guru tidak dapat menguji kemampuan bahasa anak-anakmu.” “Jadi, ini sangat berpengaruh pada mereka.” Suatu hari, ibu ini bercerita  kepada relawan mengapa dia tidak suka berbicara. Dia berkata bahwa di hari pertama menikah, saat berbicara dengan suaminya, suaminya berkata, “Mengapa suaramu jelek sekali?” “Lebih baik kamu tidak usah bicara.” Suaminya mengatakan ini di hari pertama mereka menikah dan ibu ini memasukkannya ke dalam hati. Sejak saat itu, dia bahkan tidak menyapa mertuanya.

Setelah melahirkan anak, dia juga tidak berbicara pada anaknya. Kita tahu saat anak-anak lahir, ibunyalah yang terus berbicara ibunyalah yang terus berbicara dan mengajari mereka memanggil “Ayah” dan memanggil “Ibu”, “Kakek”, “Nenek”. Ibulah yang mengajari semua ini, baru anak-anak bisa mulai berbicara. Mereka belajar mengenal nama-nama benda. Mereka belajar mengenal nama-nama benda. Jika dibesarkan oleh ibu yang tidak suka berbicara, bagaimana mungkin si anak mau berbicara? Jadi, sejak saat itu, penyebabnya sudah diketahui. Relawan mulai membimbing ibu ini. Mereka berkata, “Suaramu baik-baik saja.” “Saat kami baru datang ke rumahmu, kamu tidak mau berbicara.” “Kami sungguh tidak berani datang.” “Lihatlah, sekarang saat kami berbicara, kamu merespons.” “Rumahmu jadi sangat hangat.” “Kami sangat suka datang kemari.” “Apakah kamu senang?” Dia berkata, “Saya senang mendengar kalian berbicara.” “Saya selalu mendengar cerita kalian.” “Kalau begitu kita berteman,” kata relawan. “Baik, ” katanya. “Mari sama-sama menjadi relawan Tzu Chi.” Sejak saat itu, ibu itu menjadi penggalang dana Tzu Chi. Anak-anaknya pun mengalami kemajuan. Ini adalah kisah bertahun-tahun yang lalu.

Apakah akhirnya ibu ini menjadi anggota komite, saya tidak tahu. Ini adalah kisah bertahun-tahun yang lalu. Mengenai karma ucapan, mungkin kita di kehidupan lampau pernah melakukannya. Kadang ucapan kita tidak menyenangkan sehingga yang mendengar tidak suka. Mungkin si suami tidak memperhatikan atau mungkin sedang mabuk dan tidak sengaja mengatakan hal itu kepada istrinya sehingga membuat keluarga dan anak-anak mereka juga terpengaruh. Jadi, kita harus hati-hati dalam berucap. Jadi, di dalam Sutra dikatakan, Burung hantu penglihatannya buruk pada siang hari. Gunung yang besar sekalipun tak dapat ia lihat dengan jelas. Namun, pada malam hari matanya sangat tajam. Benda sekecil apa pun tak luput dari penglihatannya. Serangga kecil juga dapat dimangsa olehnya di malam hari. Inilah hewan unggas. Ada juga burung beo. Kabarnya jika burung ini dipotong atau diasah lidahnya, ia bisa diajari untuk berbicara, tetapi suaranya tidak enak didengar. Manusia menyebutnya burung aneh. Saya belum pernah melihatnya. Singkat kata, di alam binatang banyak wujud hewan, baik yang terbang, berjalan, maupun berenang. Singkat kata, banyak makhluk terlahir di alam binatang dengan beragam jenis. Makhluk-makhluk itu, di alam manusia menciptakan karma yang berbeda-beda. Dari sepuluh kejahatan, empat di antaranya adalah lewat mulut. Makhluk yang terlahir di tiga alam rendah mungkin pernah melakukan karma itu. Meski kita tak bisa melihat neraka dan alam setan kelaparan, tetapi di alam manusia juga ada gambaran neraka dan alam setan kelaparan. dan alam setan kelaparan. Saya sering menggunakan perumpamaan ini. Apakah alam binatang kelihatan? Tentu saja. Binatang  adalah binatang, meliputi segala jenis hewan. Jadi, kita tahu sepuluh karma buruk membawa penderitaan yang tak terkira. Jikapun terlahir sebagai manusia,      Mereka mungkin terlahir sebagai manusia. Bukankah karma buruknya sudah habis diterima di tiga alam rendah? Sisa buah karma itu masih diterima di alam manusia. Jika buah karma itu belum habis diterima di tiga alam rendah, maka di alam manusia pun buah karma itu masih tetap harus diterima. Ada orang yang napasnya beraroma tidak sedap. Saat membuka mulut dan berbicara, selalu mengeluarkan aroma yang aneh. Mungkin dia memiliki penyakit mulut.

Kini dokter gigi mungkin bisa menanganinya, tetapi di zaman dahulu, saat kesehatan mulut belum begitu baik, mungkin itu disebabkan oleh tabiat buruk. Jadi, Mahabhiksu Wu Da menulis tentang orang yang aroma napasnya tidak baik. Orang lain tidak suka mendengarnya berbicara. Jika dia membuka mulut dan berbicara, orang akan mencium aroma tidak sedap. Aroma napasnya tidak sedap. Ada pula orang yang saat berbicara tidak dipercaya oleh orang lain. Terlebih lagi, ada keluarga yang sering ribut. Mereka terbiasa untuk berbicara dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Jika dinasihati, “Jangan bicara seperti itu, sampaikan maksudmu dengan ucapan yang lebih baik; mengapa harus bicara kasar begitu?” dia menjawab, “Memangnya kenapa?” “Saya sudah terbiasa.” Benar, manusia sering memupuk kebiasaan. Kita harus berbicara dengan lembut. Saya bahkan sering berkata kepada insan Tzu Chi agar berhati-hati saat berbicara. Bicaralah dengan menggunakan hati. Perhatikan mana yang tak patut diucapkan. Jika suatu kata tidak patut diucapkan, maka jangan diucapkan. Ungkapkanlah dengan cara yang lain. Ungkapkanlah dengan cara yang lain. Orang yang mendengar sangat bersungguh hati, tetapi yang berbicara bisa saja salah bicara karena tidak berhati-hati. Meski kalian terus dilatih untuk mengingatkan diri sendiri dan bertutur kata dengan lembut, tetapi untuk mengubah kebiasaan tidaklah semudah itu. Jadi, kita semua tahu bahwa melatih diri berarti memperbaiki tabiat. Kadang orang tidak menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang baik.

Jika sesuatu disampaikan dengan ungkapan yang lebih lembut atau lebih halus, bayangkan, apakah mungkin keluarga sering ribut? Dahulu ada seorang anggota komite berkata bahwa jika semua orang mengaku sebagai orang baik dan pihak yang benar, maka keluarga akan sering ribut. Jika setiap orang bisa mengaku bahwa sendirilah yang salah, bahwa sendirilah yang salah, maka tidak ada lagi keributan. Singkat kata, jika kita mengaku diri kita bersalah, kita akan berbicara dengan lebih lembut. Jika kita tidak pernah merasa diri kita salah, kita akan terus menganggap, “Saya berada di pihak yang benar, kamu yang salah.” “Mengapa saya tidak boleh bicara seperti itu?” Keluarga dibangun dari komunikasi. Jadi, berhubung kita adalah umat Buddha, maka kita harus selalu bertobat. Kadang, saat mendengar sepatah ucapan yang terdengar menyalahkan kita, kita harus berkata, “Terima kasih, kamu telah mengingatkan saya.” “Terima kasih.” “Ini memang salah saya.” Jika bisa demikian, ini juga termasuk pertobatan. Jadi, kita harus selalu waspada. Kita adalah umat Buddha. Kita sering mendengar pembabaran Sutra. Sutra selalu mengingatkan kita. Sutra selalu mengingatkan kita. Di sana sering dikatakan bahwa karma lewat mulut sangat berat. Berhubung kita adalah siswa Buddha, mengapa tidak meningkatkan kewaspadaan? Mengapa kita tidak taat dan tulus? Adakah kita menerima Dharma setelah mendengarnya? Jika hati ada menyerap Dharma, kita tidak akan terus mengulangi kesalahan.

 

Jadi, kita sendiri harus senantiasa mengingatkan diri sendiri dan senantiasa bertobat. Inilah pelatihan diri sepenuh hati. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.                                            

Leave A Comment