Sanubari Teduh-435-Berhati Lapang dan Berpikiran Murni
Saudara se-Dharma sekalian, jika pikiran dan emosi hendaknya tenang, dunia akan terasa penuh kebahagiaan. Dengan bersikap pengertian dan lapang dada, dunia akan terasa luas. Saya sering merasa bahwa jika hati kita senantiasa tenang dan emosi kita stabil, bukankah hubungan antarmanusia akan penuh kebahagiaan? Apa lagi yang membuat kita risau di dunia ini? Bagaimana agar pikiran dan emosi bisa tenang sehingga dunia terasa penuh kebahagiaan? Caranya hanya satu, berpengertian dan lapang dada. Jika setiap orang di dalam hatinya dapat mengembangkan sikap penuh pengertian dalam segala hal dan terhadap setiap orang, bukankah tidak ada lagi masalah atau pertikaian? Jadi, sikap pengertian dan lapang dada sangatlah penting. Jika bisa mewujudkannya, hati kita akan sangat lapang; pikiran kita akan sangat murni. Dengan demikian, dunia terasa luas. Hidup di dunia ini, sesungguhnya tempat mana yang tak dapat mengakomodasi kita? Dunia ini begitu luas sehingga kita bisa bergerak bebas. Jadi, jika batin setiap orang selaras, iklim pun juga akan selaras. Segala sesuatu akan berkembang dengan baik. Semua harus dimulai dari sikap tulus dan mawas diri. Dengan demikian, dunia akan bebas dari bencana. Kita hendaknya selalu berhati tulus dan mawas diri dalam tindakan. Janganlah keluar batas, jangan melanggar sila; tidak bertikai dengan manusia, tidak berselisih atas masalah, dan tidak berseteru dengan dunia. Dengan begini, bukankah manusia, masalah, dan dunia akan tenteram? Bukankah dengan begini dunia akan harmonis dan bebas dari bencana? Pikiran haruslah kita jaga dengan baik. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa jika pikiran tidak dijaga dengan baik dan dibiarkan bergejolak, maka ia akan bereaksi terhadap suara dan pemandangan luar.
Saat ada suara yang tidak menyenangkan, timbullah kebencian yang memicu keluarnya kata-kata kasar. Jika pikiran dipenuhi ketamakan, kebencian, dan kebodohan, manusia mungkin bergunjing, berdusta, dan berkata-kata kosong. Semua ini bermula dari pikiran. Jadi, pikiran sungguh harus dikendalikan. Ada orang yang saat berbicara dapat membuat orang lain merasa benci seumur hidup, bahkan menyimpan dendam dari kehidupan ke kehidupan. Jadi, pikiran kita harus dikendalikan. Kita harus mawas diri dan tulus. Selain itu, kita harus menunaikan kewajiban kita. Janganlah kita melanggar sila. Sila bertujuan untuk menghentikan kesalahan dan mencegah kejahatan. Kita sudah mengetahuinya. Jika lingkungan kita aman dan damai, ini adalah berkah bagi semua orang. Jangan menghasut lewat ucapan, jangan pula memicu lewat tindakan. Kejahatan tidak boleh sampai terjadi. Berikutnya dikatakan, Akibat karma ucapan kita, entah itu menghina orang, berkata-kata cabul, atau memfitnah, ada orang yang berhati baik dan tak berdaya, tetap menyimpan dendam. Begitu di dalam batinnya ada rasa dendam, Begitu di dalam batinnya ada rasa dendam, jalinan jodoh buruk ini akan terus berlanjut.
Mengapa dunia ini tidak damai? Antarsesama manusia, mengapa ada jalinan jodoh buruk? Mengapa manusia saling bertikai tanpa henti? Semua ini tak lepas dari hukum karma. “Di kehidupan lampau kamu memfitnah saya, memaki saya, mencemari nama baik saya, dll.” Ini membuat hati manusia menyimpan benih kebencian dan dendam. Karena itu, malapetaka terus berlanjut. Karena itu, malapetaka terus berlanjut. Jika tidak, bagaimana dunia ini bisa penuh bencana? Ini akibat akumulasi jalinan jodoh buruk dan kebencian. Saat bencana terjadi, hati semua orang tak bisa tenang. Rasa dendam dan kebencian antarmanusia kembali berlipat ganda. Jadi, kapankah rangkaian malapetaka bisa berhenti? Ini tidak memiliki batas dan tidak memiliki akhir. Bencana dan kebencian terus terangkai tanpa batas dan tanpa akhir. Bukan hanya itu, dari mulut, empat karma buruk bisa tercipta dan menjadi malapetaka berantai yang terus membelenggu. Rasa dendam dan kebencian Rasa dendam dan kebencian terus berlanjut dari masa kini hingga masa depan. Masa kini adalah kelanjutan dari masa lampau. Hingga saat ini, rasa senang, marah, sedih, bahagia, cinta, benci, sayang, dan dendam masih terus terbawa. Adakalanya di satu saat manusia mengasihi, tetapi rasa sayang berubah menjadi benci.
Adakalanya manusia menyayangi, tetapi rasa itu berubah menjadi dendam. Mengapa belenggu ini tidak pernah berhenti? Ini karena manusia penuh kesesatan dan mudah menyimpan rasa dendam. Saat mengalami ketidakadilan, jika dapat berpikiran terbuka dan mengalah selangkah, dunia akan terasa luas. Saat orang lain mengatakan sesuatu, mungkin sulit bagi kita untuk tidak risau. Namun, jika durasi risau ini bisa lebih pendek dan kita dapat segera berpikiran terbuka, dan kita dapat segera berpikiran terbuka, maka rasa dendam juga akan terurai. maka rasa dendam juga akan terurai. Jika kita tidak terus berpikir bahwa orang lain berbuat tidak adil terhadap kita atau seberapa banyak kita telah tersakiti, maka rasa dendam tidak akan muncul. Dengan sikap pengertian dan lapang dada, bagaimanapun perlakuan orang, kita tetap bersyukur. Tanpa melewati satu masalah, kebijaksanaan tak akan bertumbuh. Setelah melewati masalah, kita dapat memperoleh pemahaman lebih. Kita menerima pelajaran ini dengan baik. Saya melihat sebuah berita.
Pada judulnya ada kata “Tzu Chi”. Ternyata, berita itu tentang seorang ibu yang ikut kegiatan Tzu Chi di AS. Dia menyebut dirinya “insan Tzu Chi”. Dia juga memiliki kekayaan di Taiwan. Kadang, dia masih pulang ke Taiwan untuk mengurus urusan bank. Selama beberapa tahun ini, dia semakin tua. Orang lain berkata kepadanya, “Kamu tak perlu datang sendiri ke bank.” “Saya bisa membantumu.” Orang ini berbicara lewat telepon. Dia memberi tahu cara mengakali bunga, juga memberi tahu bank mana yang memiliki tawaran bunga lebih baik. Selama beberapa tahun, ibu ini memakai jasa orang itu. Dia ini memercayai penelepon itu. Jumlah transaksi sudah mencapai lebih dari sepuluh juta dolar NT. Suatu hari, saat si penjual jasa ini ingin mengambil uang di bank, seorang pegawai bank merasa aneh. Dia merasa orang tersebut sering bolak-balik ke bank dan sepertinya mengurusi banyak rekening. dan sepertinya mengurusi banyak rekening.
Terlebih lagi, dari rekening ibu tadi, terlihat bahwa si ibu yang berusia lanjut itu sering melakukan transaksi. Banyak transaksi dilakukan dari rekeningnya, tetapi si pemilik tidak pernah kelihatan. Jadi, si pegawai bank terpikir untuk lapor polisi. Di bank ada polisi. Saat polisi datang, si penjual jasa itu langsung pergi dengan sigap. Jadi, pihak bank melapor kepada polisi dan meminta polisi memeriksa orang itu. dan meminta polisi memeriksa orang itu. Setelah polisi memeriksa, ternyata dia adalah anggota kelompok penipu. Pihak kepolisian pun menelepon ibu itu. Namun, ibu itu malah mengira telepon dari polisi itu adalah penipuan. telepon dari polisi itu adalah penipuan. Dia malah percaya pada si penipu dan tidak percaya pada telepon polisi. Sampai pada saat polisi mengumpulkan bukti dan datang ke rumah ibu itu, barulah dia percaya. Saat itu kebetulan dia berada di Taiwan. Dia benar-benar melihat polisi yang datang dengan mobil polisi.
Saat itu, barulah dia sadar bahwa dia ditipu oleh si penjual jasa lewat telepon itu. Dia sudah mentransfer banyak uang dan sudah menyerahkan rekeningnya untuk diurus oleh si penjual jasa. Berapakah kerugiannya? Sepertinya mencapai 12 juta dolar NT. Siapakah ibu itu sebenarnya? Saya juga tidak tahu, tetapi dia mengaku sebagai relawan Tzu Chi. Berdasarkan pengakuannya, dia diminta untuk mentransfer 6 juta dolar lagi. Dia sudah ingin mentransfer, tetapi pihak bank terus memberi peringatan. Uang itu rencananya akan dipindahkan dari satu bank ke bank lain. Pihak bank asal uang itu terus memberi peringatan. Ibu ini tetap tidak mau dengar sampai polisi benar-benar datang. Uang 6 juta dolar ini belum sempat dikirim. Beruntung, 6 juta dolar belum ditransfer. Apakah ibu ini merasa dendam? Saya tidak tahu. Dia hanya mengaku sebagai relawan Tzu Chi. Judul dari berita itu adalah//”Penipu Menipu Insan Tzu Chi”. Judul ini cukup menggemparkan. Karena itu, saya melihatnya. Ibu ini telah tertipu 10 juta dolar lebih. Jika saya mengenal ibu ini dan beliau datang kepada saya dan berkata, “Saya merasa dendam; saya sangat menderita,” saya akan berkata kepadanya, “Yang berlalu biarlah berlalu.”
“Anggap saja uang itu sudah disumbangkan.” “Uang sebanyak itu//mengapa tidak disumbangkan?” “Jika disumbangkan,//bukankah akan membawa kebahagiaan?” “Anda mengira penipu sebagai orang benar dan memercayainya.” “Anda malah tak percaya kepada polisi.” “Anda bagai dituntun oleh setan.” “Ajaran Buddha tidak mau Anda dengar.” “Mau bagaimana lagi?” Berhubung peristiwa itu telah terjadi, kita hanya bisa bersikap penuh pengertian dan berlapang dada. Jika terus tak dapat mengikhlaskan, mungkin hati ibu ini akan sangat sedih. Dia sudah tertipu sepuluh juta dolar lebih. Namun, dia masih beruntung. Jika dia masih bersikap pengertian dan positif, dia akan merasa beruntung karena uang enam juta dolarnya belum terkirim. “Terima kasih, untung ada polisi yang melindungi saya.” Jadi, meski penipu bersalah, tetapi orang yang ditipu juga harus berintrospeksi karena kita memiliki ketamakan dan kebodohan. Berhubung peristiwa itu telah terjadi, perasaan terzalimi harus dilepaskan. Dengan begitu, rasa dendam tak akan muncul. Jadi, ada ungkapan berbunyi, “Untuk mengurai dendam, harus terlebih dahulu melenyapkan rasa terzalimi.” Dengan begitu, tiada lagi kebencian. Kesedihan sesaat pasti ada.
Kita harus mempersingkat waktunya. Dengan begitu, batin tak akan terus terbelenggu oleh rasa dendam. Belenggu ini tak akan terus mengikat. Tanpa kebencian dan dendam, tiada belenggu. Kenyataannya, dari masa lalu hingga masa depan, belenggu ini tetap tak terbatas. Dengan adanya rasa dendam dan benci, belenggu akan terus berlanjut dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Belenggu ini menjadi tak terbatas dan tiada akhir. Ia dimulai dari suatu peristiwa dan berlanjut hingga membawa dendam. Ada orang yang gemar mengeluh. Kadang orang lain berniat baik dan menasihatinya untuk berpaling, seperti pihak bank dan polisi tadi. Saat dua pihak itu menelepon ibu tadi, dia malah tidak percaya dan menaruh rasa curiga bahwa mereka adalah penipu. Dia malah mengeluh dan membenci. Saat menerima telepon penipu, dia malah senang. Inilah kondisi batin ibu tadi. Manusia mengeluhkan banyak hal. Tidak perlu jauh-jauh.
Setiap kali turun hujan, jika cuaca kering tentu kita merasa turun hujan sungguh baik. turun hujan sungguh baik. turun hujan sungguh baik. Namun, jika hujan terus turun tanpa henti, Namun, jika hujan terus turun tanpa henti, kita juga bisa mengeluh. “Mengapa cuacanya seperti ini?” Saat hujan turun tanpa henti, kita juga bisa mengeluh. Saat cuaca kering dan hujan tak kunjung turun, Saat cuaca kering dan hujan tak kunjung turun, orang-orang juga menderita. Mereka juga akan mengeluh dan memaki. Singkat kata, kita sebagai manusia harus bijaksana. Tanpa kebijaksanaan, batin kita akan sangat menderita. Jadi, jagalah selalu kedamaian batin. Dengan begitu, dunia akan penuh kebahagiaan. Jika bisa berpengertian dan lapang dada, dunia akan terasa luas. Saudara sekalian, ingatlah untuk mawas diri dan tulus agar dunia bebas dari bencana. Pikiran ini harus selalu ada. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.