Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-436-Memurnikan Tiga Pintu Karma

Saudara se-Dharma sekalian, dalam keseharian kita harus menjaga tubuh, ucapan, dan pikiran kita. Setiap saat kita harus mengingatkan diri bahwa tubuh harus Apa yang harus dilakukan oleh tubuh agar bebas dari bencana? Kita harus melindungi kehidupan. Sejak dahulu orang berkata bahwa melepas satwa dapat membawa umur panjang dan kesehatan. Artinya, kita harus menghormati kehidupan. Ingin diri sendiri sehat, kita harus menanam benih sebab kesehatan. Benih kesehatan adlaah menyayangi makhluk hidup lain. Jadi, tentu kita tidak boleh membunuh. Kita memberi dan tidak mencuri. Kita lebih baik memberi kepada orang lain daripada berpikir untuk mencuri milik orang. Kita harus menjaga kemurnian tubuh ini. Jangan biarkan tubuh melakukan sesuatu yang mencemari diri sendiri dan orang lain. Sila yang berhubungan dengan tubuh harus dijaga dengan baik. Dengan demikian, tiga hal ini, yaitu pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, jika dapat dihindari, maka sesuai hukum sebab akibat, sebagaimana benih yang ditanam, begitulah buah yang akan dituai. Jika tubuh tak menciptakan karma buruk, maka tak akan ada bencana sebagai buah. Segala bencana cenderung tidak akan terjadi pada diri kita. Jadi, kita harus sungguh-sungguh mencegah tiga karma buruk lewat tubuh.  Bukan hanya itu, kita juga harus menjalankan kebajikan.

Demikianlah, segala bencana tidak dapat mendekat pada diri kita. Karma buruk lewat mulut meliputi kata-kata kasar, gosip, dusta, dan kata-kata kosong. Inilah empat karma buruk lewat ucapan. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak perlu pura-pura memuji orang, juga tidak perlu memfitnah orang. Segala kata-kata yang tidak benar atau tidak sesuai kenyataan janganlah disebarkan. Dalam Sutra Bunga Teratai kita juga diajarkan bahwa jika ada orang yang tidak begitu baik, tetapi kita puji bahwa dia sangat baik, maka ini juga tidak benar. Saat orang lain melakukan kesalahan kecil, lalu kita membesar-besarkan kesalahannya, ini juga tidak benar. Sutra Bunga Teratai mengajarkan kepada kita untuk berucap dengan benar. Jadi, kita juga tak perlu memuji berlebihan, juga tidak boleh memfitnah. Segala kesesatan ini tidaklah benar. Ini adalah ucapan palsu atau kosong. Semua yang tidak benar dan kosong belaka tidak boleh keluar dari mulut kita. Jika kita dapat menjaga mulut kita dan segala ucapan yang salah tidak keluar dari mulut kita, berarti karma lewat mulut sudah murni. Mulut akan bebas dari empat karma buruk. Bagaimana dengan pikiran? Jangan biarkan pikiran kita penuh noda ketamakan , kebencian, dan kebodohan. Di dalam batin kita, semua ini tidak akan timbul. Batin kita sangat murni.

Ini yang disebut kekotoran batin dimurnikan. Segala kotoran di dalam batin kita sedikit pun tidak ada lagi dan tidak akan bangkit. Batin kita hening dan jernih. Kondisi batin kita begitu hening dan jernih, sangat bersih. Jika demikian, batin dipenuhi kebajikan. Tiga karma lewat tubuh, empat karma ucapan, dan tiga karma pikiran semuanya bersih. Semuanya mengarah pada kebajikan. Tiadanya kejahatan sama dengan kebajikan. Jadi, kita harus yakin; yakin bahwa kebajikan membawa berkah. Kita terus mengatakan bahwa kita harus yakin pada sebab, pada kondisi, pada buah, dan pada akibat. Inilah hukum sebab akibat. Dengan adanya sebab dan kondisi yang baik, maka akan ada buah dan akibat yang baik pula. Inilah berkah. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu waspada terhadap perbuatan, ucapan, dan pikiran kita. Berikutnya dikatakan, Ini mengenai pertobatan atas kata-kata kasar. Sebelumnya kita juga sudah membahas orang baik, perempuan yang menjaga kesetiaan, atau orang terpelajar yang jujur. Adakalanya terhadap diri mereka, terhadap nama baik mereka, terhadap kesetiaan mereka, kita malah melakukan fitnah. Semua ini adalah ucapan yang buruk. Ini mungkin dilakukan di depan mereka atau secara diam-diam di belakang mereka. atau secara diam-diam di belakang mereka. Semua ini menciptakan karma buruk. Ucapan yang tidak baik sama dengan ucapan buruk. Kita harus tahu bahwa kesalahan ini adalah karma buruk.

Berhubung telah menciptakan karma buruk yang entah berapa banyak jumlahnya, mungkin tanpa batas, kini mulai hari ini kita dengan tulus bertobat atas semuanya. Ya, setiap hari kita harus bertobat dan meningkatkan kewaspadaan agar tak melakukan kesalahan. Berikutnya dikatakan, Di awal kita membahas kata-kata kasar. Kata-kata kasar diawali dari pikiran yang penuh kebencian. Berhubung kita memiliki kebencian, saat melihat keberhasilan orang lain dan ada yang memujinya, kita malah merasa tidak senang dan menciptakan karma lewat ucapan. Ini dipicu oleh kebencian. Jadi, kita mengeluarkan kata-kata kasar. Selain itu, dusta dipicu oleh ketamakan. Pemicu ini telah kita bahas sebelumnya. Pemicu sama dengan dorongan. Ada lima kecenderungan tajam dan lima kecenderungan tumpul. Kecenderungan inilah yang mendorong pikiran kita untuk mengeluarkan tindakan dan ucapan. Jadi, kebencian mendorong kita. Kebencian membuat kita berkata kasar. Berikutnya adalah dorongan ketamakan. Didasari ketamakan, kita berdusta. Dusta dilakukan demi nama dan keuntungan.

Demi nama dan keuntungan, kita mengucapkan dusta atau kata-kata yang tidak sesuai kenyataan. Yang ada kita katakan tidak ada hanya demi menyenangkan hati orang. Dari sisi Konfusius, beliau berkata, “Kaya secara tidak bajik, bagi saya bagaikan awan.” Kekayaan dan kemuliaan sesungguhnya bukan terletak pada materi. Ada orang yang kaya, tetapi miskin batinnya. Ada orang yang kaya, tetapi merasa miskin. Kita sering melihat hal ini di masyarakat. Ada juga orang yang tidak begitu kaya, tetapi sangat dihormati orang. Ada orang yang kaya, tetapi tidak murah hati. Orang seperti ini, sekaya apa pun dia, orang lain tidak akan menghormatinya. Tidak dihormati berarti tidak mulia. Ini karena dia tak menyayangi diri sendiri. Dia kaya, tetapi tidak murah hati dan melakukan banyak hal yang tak seharusnya. Dia menghasilkan banyak uang. Orang seperti ini, meski banyak harta, bagi Konfusius hanya bagaikan awan. Orang yang melatih diri dengan baik akan berpikir seperti itu. Orang yang baik akan mengandalkan usaha dan kontribusi sendiri. Mereka mencari uang dengan halal dan tidak mengambil dari yang tak seharusnya. Jadi, kita harus mencari uang dengan halal. Berikutnya dikatakan, Menutupi berarti menyembunyikan. Menutupi berarti menyembunyikan. Kita juga memutarbalikkan fakta. Semua ini mengabaikan hati nurani. Kita menutupi hati nurani sendiri.

Dari zaman dahulu hingga saat ini banyak orang seperti ini. Mendengar orang lain berbicara tentang hal baik yang dilakukan oleh orang tertentu, yang dilakukan oleh orang tertentu, kita malah berkata, “Bukan dia.” “Bukan dia yang melakukannya.” “Sesungguhnya, sayalah yang melakukannya.” Kenyataan bahwa orang lain yang melakukannya malah kita putar balik menjadi kita yang melakukan. Dahulu ada sebuah drama berjudul Putra Mahkota Ditukar Rakun. Kisah ini juga sudah lama. Hakim Bao yang terkenal pernah menangani kasus ini. Siapa yang berhak menjadi permasisuri? Orang yang melahirkan putra mahkota. Jadi, ada dua wanita yang bersaing. Lalu, salah satunya melahirkan lebih dahulu. Wanita yang satunya lalu bersiasat. Dia mencari tahu bayi yang dilahirkan laki-laki atau perempuan. Dia mencari cara untuk menukarnya. Cerita ini sangat terkenal di Tiongkok. Cerita ini sangat terkenal di Tiongkok. Selir yang melahirkan lebih dahulu melahirkan putra mahkota. Selir satu lagi menukar bayi itu dengan rakun dan menyebutnya sebagai anak yang dilahirkan selir pertama. Inilah cerita “Putra Mahkota Ditukar Rakun”. Saya tak perlu menceritakan cerita ini. Inilah yang disebut menutupi kenyataan. Orang lain bertindak baik, tetapi kita malah memutarbalikkannya. Ini adalah masalah besar. Ada orang yang mengklaim kebaikan orang lain sebagai perbuatannya sendiri. Meski kebaikan itu dilakukan bersama, tetapi orang lainlah yang berinisiatif. Dia malah menganggap dirinya yang berjasa. Dia menutupi jasa orang lain dan malah membanggakan diri sendiri. Banyak orang memutarbalikkan fakta seperti ini. Mereka mengklaim jasa dari perbuatan orang lain. Ada juga orang yang melindungi orang lain dengan menutupi kenyataan. Saat orang lain melakukan kesalahan, mereka mengatakan tidak.

Mereka menutupi kenyataan dengan berbagai ucapan. Mereka menciptakan kebohongan dan dusta. Ini berarti mengabaikan hati nurani. Ini adalah kesalahan besar. Mereka engucapkan kata-kata yang tidak benar dan bohong. Mereka tidak memedulikan kenyataan. Bagaimana jika terbongkar? Mereka tidak menyayangi diri sendiri dan tidak memiliki rasa malu. Mengklaim jasa orang lain sebagai jasa diri sendiri adalah kesalahan. Jika orang lain berkata, “Bukan kamu, melainkan dia,” entah mau ditaruh di mana wajahnya. Mereka tidak memikirkan itu. Jadi, sungguh, kita harus berkata jujur; jangan hanya mementingkan nama dan keuntungan pribadi, lalu mengklaim jasa orang lain. lalu mengklaim jasa orang lain. Ada pula orang yang menutupi jasa orang lain hanya demi melindungi orang lain lagi. Singkat kata, kita mengatakan yang tidak ada sebagai ada. Semua ini adalah kesalahan. Ini adalah kebohongan. Yang tidak ada kita katakan ada. Yang tidak dilakukan kita katakan dilakukan. Yang dilakukan tidak kita akui.

Semua ini adalah memutarbalikkan fakta dan merupakan ucapan salah. Berikutnya, Ini juga ucapan yang tidak benar. Anda jelas-jelas melihatnya, tetapi Anda berkata, “Tidak.” “Sesungguhnya, si A yang melakukan ataukah si B?” Anda jelas-jelas tahu si B berbohong. Jelas-jelas si A yang melakukannya. Anda melihatnya langsung. Namun, saat di B berbohong, Anda juga tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Jadi, Anda berkata, “Tidak, saya tidak melihatnya.” “Saya tidak tahu.” Anda jelas-jelas tahu, lalu mengapa bilang tidak tahu? Anda seharusnya membela kebenaran. “Salah, si A-lah yang benar.” Inilah “melihat tetapi mengaku tak melihat”. Anda jelas-jelas melihat bahwa yang menolong orang adalah si A, bukan si B. Anda jelas-jelas melihatnya. Namun, saat si B berbohong, Anda ikut berbohong dan berkata, “Saya tidak melihatnya.” “Apakah Anda mendengarnya?” “Apakah Anda mendengarnya?” Anda mengatakan yang tidak sebenarnya. Anda mungkin mendengar yang sebenarnya.

“Apakah hal ini benar atau tidak?” Anda jelas-jelas mendengar si A yang melakukannya. Orang lain berbohong dan mengatakan si B-lah yang melakukannya. Sampai pada tahap ini, Anda diminta untuk mengatakan yang sebenarnya. “Bagaimana yang Anda dengar sebenarnya?” Saat itu, Anda masih menjawab, “Saya tidak mendengarnya.” Inilah “mendengar tetapi mengaku tak mendengar” atau “tak mendengar tetapi mengaku mendengar”. Anda jelas-jelas tidak mendengarnya. Saat ada orang lain berbohong dan  mengatakan bahwa si B yang melakukannya, meski Anda jelas-jelas tidak mendengarnya, tetapi Anda mengaku mendengarnya. “Ya, saya tahu.” “Saya dengar dia bilang dia melakukannya.” Ini juga tidak benar. Saat kita mendengar hal yang sebenarnya, Saat kita mendengar hal yang sebenarnya, kita harus mengatakannya. Saat orang lain mengatakan kebenaran, kita juga harus mendengarnya dengan sepenuh hati.

Saat orang lain bertanya, “Apakah Anda mendengarnya?” “Apakah hal itu benar?” Anda jelas jelas-jelas tahu itu benar, tetapi Anda bilang tidak benar. Jelas-jelas hal itu benar dan Anda merasa itu memang masuk akal, lalu juga ingin berbagi tentang prinsip kebenaran itu. Namun, adakalanya di antara dua orang, salah satu ingin mengatakan kebenaran, tetapi membuat orang yang lain mengatakan hal yang tidak benar. Saat semua orang mendengarnya, mereka menganggap kebenaran itu baik, tetapi bertanya-tanya mengapa orang yang satu yang mendengar dari sumber yang sama malah menyampaikan yang tidak benar. Jika demikian, akan menyesatkan orang lain. Dalam Sutra Bunga Teratai, ini disebut kebohongan besar. Dari sisi kebenaran, kebohongan bukan semata-mata melihat, tetapi mengaku tidak. Menyesatkan orang lain secara sengaja juga merupakan kebohongan besar. Adakalanya setelah melihat atau mendengar ajaran, kita mengaku sudah memahaminya. Kita mengaku sudah memahami kebenaran dan menyerapnya ke dalam hati. Kita mengaku mencapai pencapaian spiritual, padahal belum. Ini juga kebohongan besar. Jadi, setelah tahu mengenai ajaran, itu baru sebatas tahu. Kita memang telah mendengar kebenaran.

Jika hanya mengatakan yang benar, kita tidak akan menciptakan karma buruk ucapan. Kebohongan sangatlah halus. Jadi, kita harus bersungguh hati dalam berbicara. Ucapan benar barulah cerminan praktisi pelatihan diri. Kita tidak boleh berbohong. Atau diatakan, Prinsipnya mirip. Jelas-jelas kita sudah tahu kebenarannya, tetapi mengaku tidak tahu. Kita telah mendengar banyak ajaran, tetapi saat orang lain memohon petunjuk, kita tidak mau berbagi. Orang lain berkata, “Namun, saya dengar kebenaran dari Prajna adalah kebenaran dari kebijaksanaan.” Jika Anda pernah dengar, Anda harus berbagi. “Saya tidak tahu.” “Namun, saya dengar orang lain bilang Anda pernah dengar.” “Kabarnya Anda sudah mendalami kebenaran ini.” “Anda juga sudah membuat catatan.” “Anda mencatat semuanya.” “Bolehkah saya lihat sebentar agar saya lebih paham?” “Tidak ada, saya tidak tahu.” Kita lalu membuat banyak alasan. Saat orang lain memohon petunjuk tentang kebenaran dan berharap kita dapat meneruskan kebenaran ini, kita malah berkata tidak tahu. Ini juga tidak benar. Manusialah yang dapat menyebarkan kebenaran, bukan sebaliknya. Jika tahu, kita tak boleh mengaku tidak tahu.

Jika tak tahu, kita tak boleh mengaku tahu. Jika kita tidak tahu, kita harus mengatakan tidak tahu. Inilah yang sebenarnya. Konfusius juga mengajarkan demikian. Saat tidak mengetahui dengan jelas, kita tidak boleh sembarang bicara kepada orang lain. Ini juga tidak benar. Suatu hal yang kita tahu, jelas-jelas kita telah mendengarnya, saat orang lain meminta petunjuk, kita malah tidak memberi tahu. Ini juga tidak benar. Tidak tahu, tetapi mengaku tahu juga tidak benar. Tahu, tetapi mengaku tidak tahu juga tidak benar. Kebenaran harus diungkapkan. Yang tidak benar jangan kita katakan. Ada pula “melakukan, tetapi mengaku tidak melakukan”. Jelas-jelas Anda melakukan hal itu. Kesalahan tentu harus ditanggung.

 

 “Tidak melakukan, tetapi mengaku melakukan”. Bukan kita yang melakukan perbuatan baik, tetapi kita malah mengakuinya. Perbuatan jahat kita yang melakukan, tetapi kita tidak mengakuinya. Semua ini berarti “menipu orang bijak dan suci serta menyesatkan orang awam”. Semua ini termasuk ucapan dusta. Jadi, karma ucapan dapat tercipta kapan saja. Kata-kata kasar adalah karma buruk. Dusta juga adalah karma buruk. Menipu orang adalah demi nama dan keuntungan. Kita mencatut nama orang lain demi diri sendiri. Kita memahami suatu prinsip, tetapi tidak mau berbagi. Semua ini berkaitan dengan ucapan. Anda jelas-jelas mampu menjelaskan, tetapi tidak mau. Anda jelas-jelas mampu melakukan, tetapi tidak mau bersumbangsih. Anda jelas-jelas tidak melakukannya, tetapi mengaku melakukan. Masih banyak lagi. Tadi kita sudah membahasnya Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, saat berkata-kata, kita harus bertutur kata baik dan berbagi tentang kebenaran. Kita juga melakukan hal yang baik. Dengan demikian, barulah kita disebut praktisi pelatihan diri. Pikiran tidak boleh penuh noda, harus hening dan jernih. Perbuatan kita juga harus murni. Inilah berkah. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.                                                   

Leave A Comment