Bodhisattva Muncul di Tengah Makhluk yang Menderita
Akibat gempa Hualien kali ini, saya sungguh khawatir. Saya berterima kasih kepada CEO Yayasan Tzu Chi yang telah memimpin para staf untuk mengumpulkan data dan memahami kondisi korban bencana. Intinya, kita dapat melihat bahwa divisi pembangunan kita bekerja dengan menyeluruh. Untuk gempa kali ini, awalnya saya merasa sangat khawatir tentang apa yang terjadi karena tahu bahwa bencana itu tidak ringan. Namun, berkat adanya orang-orang yang menjalankan misi, saya menjadi merasa tenang.
Dalam hal administrasi, CEO, wakil CEO dan para staf bergerak bersama-sama. Divisi pembangunan kita juga terjun langsung ke daerah bencana. Di Taitung dan Yuli, insan Tzu Chi tidaklah banyak. Terlebih lagi, insan Tzu Chi di Taitung sebagian besar adalah lansia. Insan Tzu Chi di Guangfu dan Yuli sungguh tidak banyak. Untungnya, insan Tzu Chi dari Taiwan Utara, Tengah, dan Selatan turut mendedikasikan diri. Kita telah berusaha untuk gempa Hualien kali ini.
“Tepat setelah gempa, kami menggerakkan tim rekonstruksi dari seluruh Taiwan karena membutuhkan banyak orang. Terlebih lagi, kami tahu bahwa para korban berharap agar perbaikan dapat dilakukan dengan cepat. Berhubung gempa susulan terjadi lebih dari 100 kali, jika ingin memberikan ketenangan pada mereka, kita harus segera menyelesaikan pembangunan, bahkan sebagian rumah harus dibangun ulang,” kata Yan Bo-wen CEO badan misi amal Yayasan Tzu Chi.
Saya berterima kasih kepada insan Tzu Chi dari Taiwan Tengah, Utara, dan Selatan yang telah mendedikasikan diri, khususnya relawan dari Taiwan Tengah karena mereka melayani secara menyeluruh, tinggal paling lama di sana, dan sangat penuh perhatian.
Saya juga berterima kasih kepada para relawan perempuan yang telah menjadi pendukung dan pelindung Dharma. Mereka membuat hidangan hangat dan makanan ringan untuk tim. Begitulah seharusnya. Dengan hati seorang ibu, mereka pergi mengerahkan kekuatan cinta kasih. Sungguh banyak hal yang patut disyukuri.
“Saat datang ke rumah ini, kami memiliki cara untuk menyelesaikan perbaikan dalam waktu satu setengah hari. Ini adalah rumah seorang nenek. Kami memiliki 5 tim yang bekerja dalam satu waktu, termasuk pekerjaan semen, pembongkaran dinding, pengelasan, pengecatan, dan pertukangan. Kelima tim ini mampu bekerja sama dengan baik karena kami telah terbiasa saling berkomunikasi sehingga dapat bekerja dengan kesatuan dan keharmonisan,” kata Zhuang Yao-shun relawan Tzu Chi.
“Dalam proses pengerjaan, beberapa relawan perempuan bertanya bagaimana cara mengecat. Saya berkata kepada mereka, ‘Bukankah kalian senang merias wajah? Semuanya dapat merias wajah hingga cantik. Mengecat sama seperti menggunakan alas bedak. Kalian dapat melakukannya dengan sepenuh hati.’ Lalu, mereka mengambil kuas cat masing-masing dan mengecat dinding hingga terlihat sangat indah. Ketika melihat itu, kami semua merasa tenang. Ketika telah melakukan banyak proses, kami tidak tahu apakah sesuai dengan harapan nenek itu. Jadi, di setiap pertengahan proses, kami akan meminta Nenek datang untuk melihatnya agar dia merasa tenang,” lanjut Zhuang Yao-shun.
Kita telah mendengar kisah nenek tersebut. Ketika berbicara tentang daerah bencana itu, telah ada insan Tzu Chi yang terjun ke sana untuk memperhatikan, menenangkan, dan menghibur para korban bencana. Lihatlah, nenek itu yang paling banyak diceritakan. Saya yakin bahwa nenek itu merasa sangat diperhatikan dan bersyukur.
Meski dia memiliki putra dan cucu, mereka tidak tinggal bersamanya. Ada yang tinggal di Hualien dan di luar kota. Namun, seorang lansia selalu bersikeras untuk menetap di daerah tempat dia tinggal. Saat pergi ke Yuli, saya mendengar bahwa anak-anaknya ingin membawa nenek ini tinggal bersama. Namun, dia bersikeras untuk tetap tinggal di sana.
Saya merasa bahwa kita harus memberi tahu mereka jika anak-anak mereka tinggal di perkotaan dan ingin mereka tinggal bersama, lebih baik mereka ikut agar tidak membuat anak-anak mereka khawatir. Jika terjadi sesuatu pada mereka, anak-anak mereka akan merasa bersalah. Di dunia ini, mengenai cinta kasih dalam keluarga, kita harus hidup lebih dekat dengan keluarga kita dan anak-anak kita. Saya pikir inilah hal yang paling penting. Hal yang lebih berharga ialah Tzu Chi memiliki saudara se-Dharma.
Melihat kondisi saat ini, insan Tzu Chi harus tahu bahwa saudara se-Dharma tidak kalah dekat dengan saudara sedarah. Ketika anak-anak atau sanak saudara ingin segera datang membantu saat terjadi sesuatu, belum tentu mereka akan sampai dengan cepat. Namun, kita memiliki saudara se-Dharma di sekitar kita yang akan segera memperhatikan kita. Inilah yang saya rasakan dalam perjalanan kali ini. Hendaklah kita menghargai saudara se-Dharma serta menghargai dan mementingkan kekuatan cinta kasih. Ini sangatlah penting.
Menggerakkan kekuatan tim untuk pembangunan pascabencana
Bodhisattva muncul di tengah makhluk yang menderita
Saling mengasihi dan menghargai antarsaudara se-Dharma
Ceramah Master Cheng Yen tanggal 29 Januari 2023
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Heryanto
Ditayangkan tanggal 31 Januari 2023