Turut Berempati Meringankan Beban Warga Korban Kebakaran di Kapuk Muara
Sebanyak 400 rumah warga di Jalan Kapuk Utara 2, Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, habis dilahap si jago merah pada hari Minggu, 30 Juli 2023. Hingga saat ini warga korban kebakaran mengungsi di dua titik posko yaitu di Kelurahan Kapuk muara dan posko di dekat lokasi kebakaran terjadi. Menurut beberapa korban, kebakaran terjadi diduga karena meledaknya gas dari salah satu rumah warga.
Kabar memilukan itu langsung terdengar oleh Tzu Chi. Para relawan langsung mensurvei ke lokasi untuk mengetahui apa saja yang mereka butuhkan di pengungsian. Tanggal 4 Agustus 2023, berlokasi di Kelurahan Kapuk Muara, Tzu Chi menyalurkan Paket Cinta Kasih sebanyak 350 paket terdiri dari paket bantuan kebakaran, beras 10kg, mi instan 1 dus, dan kelambu 1 set kepada warga korban kebakaran tersebut.
Dalam kesempatan kali ini PJ Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, juga ikut hadir dan membagikan bantuan kebakaran kepada warga yang menjadi korban kebakaran bersama relawan Tzu Chi.
“Tentunya pemerintah daerah bersama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi, memberikan perhatian, memberikan bantuan dan empati kepada masyarakat korban kebakaran yang terjadi pada hari Minggu. Kurang lebih masyarakat sebanyak 1.000 jiwa masih berada di pengungsian yang dibagi di dua lokasi. Mudah-mudahan ini tercukupi dan tentunya sekali lagi turut empati, turut prihatin atas kejadian kebakaran di Kapuk Muara,” kata Heru Budi Hartono, PJ Gubernur DKI Jakarta.
Jalinan jodoh yang sudah lama terjalin dengan warga Kapuk Muara membuat relawan Tzu Chi terus menyalurkan cinta kasihnya. Relawan pun dengan tulus memberikan bantuan dan perhatiannya kepada warga yang menerima bantuan, bahkan dengan senang hati membantu warga yang sudah lansia atau ibu yang membawa anak untuk membawakan paket bantuan mereka.
“Niat saya memang ingin sekali bersumbangsih dan meringankan sedikit beban mereka, jadi saat membantu mereka membawakan paket bantuan itu memiliki perasaan sangat sukacita karena saya punya kesempatan langsung membantu mereka,” ungkap Po Kim San relawan Tzu Chi.
“Kebetulan pada saat kejadian saya sedang bekerja sebagai tukang parkir di sekitar situ, tiba-tiba ada api besar saya langsung lari, teriak dan mengetuk rumah-rumah warga agar segera keluar soalnya masih banyak yang tidur itu kejadiannya pagi. Tanpa waktu lama semua langsung habis termasuk rumah saya juga,” cerita Abdul sampai meneteskan air mata.
Sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di rumahnya, kini ia harus menelan kekecewan rumahnya habis kebakar bahkan Abdul tidak sempat menyelamatkan satu barang pun dari rumahnya. Setiap mengingat kejadian itu membuatnya sangat sedih, tapi melihat banyak pihak termasuk Tzu Chi yang memberikan perhatian dan bantuan kepadanya dan juga warga lainnya mampu mengobati sedikit kesedihannya dan mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya.
“Makanya ada yang perhatian kaya gini ya kasih bantuan lengkap kaya Tzu Chi berikan ini melegakan hati saya, sangat beryukur dan terbantu sekali, Terima Kasih banyak,” ungkap Abdul dengan haru.
Kisah mengharukan dari warga korban kebakaran juga datang dari Nita (33) seorang ibu dari dua anak yakni Nabila (12) dan Raisa (5). Rumah yang sudah ia tinggali dari kecil sudah tidak berwujud lagi, rata dengan tanah. Pada saat kejadian suami Nita sedang mencari nafkah sebagai pengemudi ojek, di rumah hanya ada ia dan kedua putrinya yang masih tidur.
“Saya dengar teriakan di depan gang ‘kebakaran… kebakaran…’ saya langsung kaget, keluar rumah orang-orang sudah keluar berusaha memadamkan api tapi ternyata sudah enggak bisa lagi. Saya lari ke dalam rumah bangunkan anak terus lari keluar dengan hanya bawa baju yang dipakai aaja. Langsung telpon suami tapi enggak diangkat-angkat karena lagi narik pas dia datang rumah sudah rata enggak berbentuk lagi,” cerita Nita dengan mata berkaca-kaca.
Saat pertama kali melihat rumahnya sudah terbakar, Nita dan keluarganya hanya bisa menangis dan berusaha untuk tegar serta bersyukur anggota keluarganya semua selamat. Nita dan keluarganya mengungsi di posko pengungsian dekat lokasi kejadian. Di tenda mereka tinggal bersama beberapa warga lainnya yang sama-sama kehilangan rumah. Mereka saling menguatkan satu sama lain, Nita bahkan pelan-pelan mengiklaskan yang terjadi. Menurutnya terus menangis dan bersedih tidak membuat rumahnya bisa kembali.
“Sedih pasti, tapi mau bagaimana lagi harus mencoba ikhlas dan hanya bisa berharap siapa tahu nantinya akan dapat yang lebih baik lagi. Harus kuat juga di depan anak-anak agar mereka enggak terus sedih dan trauma yang paling penting, Alhamdulillah semua keluarga selamat,” kata Nita.
Mendapat bantuan paket cinta kasih dari Tzu Chi membawa sukacita di tengah penderitaan yang sedang Nita alami. Senyuman lebar terpancar di wajah Nita dan kedua putrinya saat membuka satu persatu bantuan dari Tzu Chi. Nita merasa semua yang diberikan Tzu Chi benar-benar berguna untuknya dan keluarga, juga membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi.
“Kalau malam di sini (pengungsian) banyak nyamuk, Alhamdulillah dari Tzu Chi dikasih kelambu, senang banget juga bisa dapat pakaian, sembako juga dikasih, sangat-sangat bersyukur dan terbantu dengan perhatian yang dikasih Tzu Chi. Terima kasih sebanyak-banyaknya,” ungkap Nita.
Rasa syukur dari penyaluran paket cinta kasih ini bukan hanya dirasakan oleh para korban kebakaran tetapi juga relawan Tzu Chi yang ikut berempati, dengan bantuan paket kebakaran ini. Para relawan Tzu Chi berharap bisa sedikit membantu dan menenangkan batin warga korban kebakaran.
“Ada perasaaan simpati dan empati, ada perasaan bahagia karena bisa sedikit meringankan penderitaan dari saudara-saudara kita yang menjadi korban kebakaran. Semoga kehidupan mereka bisa membaik dan segera bisa beraktivitas kembali,” kata Teksan Luis, relawan Tzu Chi.
Fotografer : Clarissa Ruth,
Editor : Khusnul Khotimah.